Di tengah pekan yang penuh kabar tentang orang-orang yang menyebut angka besar dengan ringan dan tampak santai setelah dituding, ada satu sifat lama yang terasa hilang dari ruang publik: rasa malu. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam kitabnya Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah pada bab tentang sifat malu Rasulullah ﷺ, menghimpun kesaksian para sahabat tentang sifat itu pada diri manusia terbaik.
Madinah di siang hari. Majelis Nabi ﷺ penuh oleh para sahabat yang duduk melingkar. Udara hangat, dan wajah-wajah menghadap ke satu arah — ke wajah beliau ﷺ. Ada yang berbeda dari cara mereka memandang. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata beliau; mereka membaca wajahnya.
Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari mereka. Bertahun-tahun ia duduk dekat Rasulullah ﷺ. Dan ada satu hal yang tak pernah ia lupa: betapa pemalunya beliau.
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا
"Beliau ﷺ lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya."
Bayangkanlah. Seorang gadis yang dipingit, yang menundukkan pandangan, yang tak sanggup mengeraskan suara — begitulah, bahkan lebih, rasa malu Rasulullah ﷺ. Padahal beliau seorang pemimpin. Beliau memimpin pasukan, memutuskan perkara, menerima utusan raja-raja. Tetapi kekuasaan tidak pernah mencabut rasa malunya. Justru rasa malu itulah yang menjaga kekuasaannya tetap bersih.
Lalu bagaimana para sahabat tahu kalau beliau tidak menyukai sesuatu? Beliau tidak berteriak. Beliau tidak mempermalukan orang di depan umum. Abu Sa'id menuturkan tanda yang halus itu:
وَكَانَ إِذَا كَرِهَ شَيْئًا عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ
"Dan apabila beliau membenci sesuatu, kami mengetahuinya dari wajahnya."
Cukup dari wajah. Ekspresi beliau berubah sedikit, dan para sahabat yang mencintainya langsung paham. Tidak perlu bentakan, tidak perlu makian, tidak perlu unjuk kuasa. Rasa malu dan wibawa beliau begitu besar sampai wajahnya saja sudah menjadi bahasa. Alangkah jauhnya potret ini dari mereka yang justru mengumbar kesalahan dengan suara paling keras dan wajah paling tebal.
Kesaksian kedua datang dari balik tirai rumah tangga beliau. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang paling tahu kehidupan pribadi Nabi ﷺ, memberi kesaksian tentang kesucian dan rasa malu beliau yang terjaga bahkan dalam urusan yang paling pribadi sekalipun — sebuah rasa malu yang tidak dibuat-buat di depan orang lalu hilang saat sendirian, melainkan menyatu dalam dirinya di setiap keadaan.
Inilah haya yang sejati: bukan malu-malu di depan kamera lalu berani berbuat curang di belakang layar, melainkan rasa malu yang hidup di dalam, yang menahan tangan sebelum tangan itu mengambil yang bukan haknya, dan menahan lisan sebelum lisan itu menyebut yang tidak pantas.
Pelajaran
Rasa malu, dalam kisah ini, bukan kelemahan — ia justru sumber kekuatan seorang pemimpin. Rasulullah ﷺ yang paling pemalu adalah juga yang paling amanah; wajahnya yang berubah halus ketika tidak suka lebih ditakuti dan dicintai daripada seribu bentakan. Ketika haya dicabut dari hati seseorang, tidak ada lagi rem yang menahannya berbuat apa saja — termasuk mengambil milik orang banyak sambil tersenyum. Maka di pekan ketika kita menyaksikan begitu banyak wajah yang terlihat tenang setelah dituding mengkhianati amanah, kisah ini mengembalikan kita pada satu ukuran lama yang sederhana: seseorang yang masih punya rasa malu kepada Allah tidak akan tega mengkhianati yang dititipkan padanya, sekecil apa pun titipan itu. Menjaga rasa malu, dimulai dari hal-hal kecil yang tak terlihat orang, adalah cara kita menjaga agar tangan kita tetap bersih.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 48- باب ما جاء في حياء رسول الله صلى الله عليه وسلم
الشمائل المحمدية للترمذي ط إحياء التراث 48- باب ما جاء في حياء رسول الله صلى الله عليه وسلم 341- حدثنا محمود بن غيلان. حدثنا أبو داود. حدثنا شعبة عن قتادة قال: سمعت عبد الله بن أبي عتبة يحدّث عن أبي سعيد الخدري قال: «كان صلى الله عليه وسلم أشدّ حياء من العذراء في خدرها. وكان إذا كره شيئا عرفناه في وجهه».
342- حدثنا محمود بن غيلان. حدثنا وكيع. حدثنا سفيان عن منصور عن موسى بن عبد الله بن يزيد الخطمي عن مولى لعائشة قال: «قالت عائشة: ما نظرت إلى فرج رسول الله صلى الله عليه وسلم — أو قالت: ما رأيت فرج رسول الله صلى الله عليه وسلم قطّ».
