Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kita membuka khutbah ini dengan menghadirkan salah satu wahyu paling awal yang turun kepada Rasulullah ﷺ. Sesudah perintah pertama "bacalah dengan nama Tuhanmu", Allah menyebutkan siapa sesungguhnya sumber segala ilmu.
QS. Al-Alaq: 4
ٱلَّذِىْ عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
"Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam."
QS. Al-Alaq: 5
عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dua ayat ini menanamkan fondasi seluruh pandangan Islam tentang pendidikan. Ilmu bukan milik manusia; ia titipan dari Allah yang mengajar dengan pena dan mengajar manusia apa yang sebelumnya gelap tak ia ketahui. Maka setiap kali kita duduk belajar, mengajar anak, atau membimbing seorang murid, kita sedang menyalurkan pemberian Allah — bukan memamerkan milik kita sendiri. Kesadaran ini yang membuat seorang penuntut ilmu tetap rendah hati dan seorang guru tetap amanah. Sebab siapa yang merasa ilmunya adalah miliknya, ia mudah sombong; siapa yang sadar ilmunya titipan, ia menjaganya dengan takwa.
Perhatikanlah pula, hadirin, bahwa Allah tidak menyebut diri-Nya mengajar dengan lisan semata, melainkan dengan perantaraan kalam — dengan pena. Di sinilah Islam memuliakan tulisan, catatan, dan ilmu yang direkam lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap mushaf yang kita baca, setiap kitab yang kita buka, setiap buku pelajaran yang dibawa pulang anak kita, adalah mata rantai dari kemuliaan kalam yang Allah sebut dalam ayat ini. Maka menghormati ilmu berarti menghormati seluruh prosesnya: guru yang menuliskannya dengan sabar, murid yang mencatatnya dengan tekun, dan waktu yang dicurahkan untuk menuntutnya. Bukanlah kebetulan bahwa umat yang wahyu pertamanya berbunyi "bacalah" justru adalah umat yang paling ditantang hari ini untuk menjaga anak-anaknya tetap membaca — membaca yang benar, dari sumber yang benar, dengan adab yang benar. Kalam yang dahulu memuliakan kita bisa berbalik menjadi ujian bila kita lalai menuntun ke mana ia mengalir.
Namun kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini memaksa kita bertanya: sudahkah ruang-ruang tempat kita menitipkan anak benar-benar menjaga titipan Allah itu? Publik dikejutkan oleh potret yang berulang. Dari dunia sekolah, kita mendengar keprihatinan tentang perundungan yang belum reda dan bahkan ancaman terhadap rasa aman di lingkungan pendidikan. Kita juga mendengar dugaan pelecehan yang menimpa sekelompok siswi ketika mereka menjalani praktik kerja lapangan — anak-anak yang seharusnya dilatih keterampilan, malah terpapar bahaya. Di beberapa daerah, sejumlah anak menjadi korban kekerasan seksual dan kini harus menjalani pemulihan trauma dengan pendampingan. Kabar-kabar ini datang dari tempat dan pelaku yang berbeda, tetapi menunjuk pada satu luka yang sama: anak-anak kita sering berada di titik paling rapuh justru di ruang yang kita anggap paling terlindungi.
Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam kelembutan kepada yang lemah. Beliau dikenal menyayangi anak-anak, memuliakan mereka, dan tidak pernah sekali pun menggunakan kekuatan atau kedudukannya untuk menakut-nakuti orang yang tak berdaya. Kasih sayang itu bukan sifat tambahan yang menempel pada kenabian, melainkan bagian dari inti risalah yang beliau bawa ke dunia. Ketika kita membaca kabar tentang anak-anak yang justru terluka di tangan orang dewasa yang seharusnya menjaga, kita sedang menyaksikan kebalikan yang sempurna dari akhlak beliau. Mengembalikan umat ini kepada kelembutan Nabi ﷺ terhadap anak — di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan di majelis mengaji — adalah bagian nyata dari makna menghidupkan sunnah, bukan sekadar menghafal riwayatnya.
Hadirin yang berbahagia, dalam timbangan syariat, menjaga anak bukan urusan sampingan. Ia menyentuh dua sumbu maqashid sekaligus — hifz an-nafs, menjaga jiwa, dan hifz an-nasl, menjaga keturunan. Menjaga akal anak agar tumbuh berilmu adalah hifz al-'aql. Ketiganya adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah mengingatkan kita tentang sikap yang benar terhadap anak yang lemah dan kehilangan pelindung.
QS. Ad-Dhuhaa: 9
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
"Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang."
Ayat ini turun kepada Nabi ﷺ yang sendiri tumbuh sebagai anak yatim. Larangan berlaku sewenang-wenang di sini mencakup setiap anak yang lemah dan tak berdaya membela dirinya — dan tidak ada yang lebih tak berdaya daripada seorang anak di hadapan orang dewasa yang menyalahgunakan kepercayaan. Bila Allah melarang kita menghardik anak yatim dengan kata-kata, betapa lebih besar lagi larangan melukai anak dengan tangan dan mengkhianati kepercayaan yang dititipkan orang tua. Maka tugas kita pekan ini bukan sekadar mengutuk dari jauh, melainkan menutup celah di lingkungan kita sendiri: memastikan tidak ada anak yang ditinggal sendirian bersama orang dewasa tanpa pengawasan, dan memastikan setiap anak tahu ke mana harus mengadu.
Bahkan, hadirin, syariat tidak berhenti pada larangan menyakiti anak; ia menjanjikan ganjaran yang besar bagi siapa yang menjaga dan mengasuh mereka. Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Sahih Muslim 2631
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتّٰى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ
"Barangsiapa mengasuh dua anak perempuan hingga keduanya dewasa, maka pada hari Kiamat ia datang bersamaku," — dan beliau merapatkan jari-jarinya, mengisyaratkan betapa dekatnya. Lihatlah timbangan ini, hadirin: menjaga dan membesarkan anak perempuan sampai dewasa — dengan segala biaya, kesabaran, dan penjagaan kehormatannya — mengangkat seorang hamba ke kedudukan sedekat itu dengan Rasulullah ﷺ di hari Kiamat. Maka jika ganjaran menjaga anak sedemikian tinggi, betapa besar pula bahaya mengkhianati atau melukainya. Kabar tentang para siswi yang diduga dilecehkan saat justru sedang menuntut ilmu, dan anak-anak yang menjadi korban lalu kini dipulihkan trauma-nya, memaksa kita menautkan kembali dua sisi yang tak terpisah: ganjaran dan tanggung jawab. Setiap kita yang dititipi seorang anak sedang memegang salah satu jalan tercepat menuju surga — atau, bila lalai, salah satu celah paling berbahaya yang akan kita pertanggungjawabkan.
Ma'asyiral muslimin, jika benang pertama adalah keselamatan, benang kedua yang ramai diperbincangkan adalah pergeseran cara generasi muda mencari ilmu dan sandaran hati. Kabar yang sampai kepada kita menyebutkan remaja yang lebih memilih mencurahkan isi hatinya kepada mesin penjawab daripada kepada manusia, sampai kalangan medis anak perlu mengingatkan agar teknologi tidak menggantikan pendamping yang sesungguhnya. Kita juga mendengar seruan agar pembentukan karakter tidak dikalahkan oleh kecanggihan alat, dan polemik ketika sebuah layanan kecerdasan buatan dinilai memberi nasihat yang keliru. Semua ini menandai satu hal: zaman kita berlimpah jawaban, tetapi miskin guru.
Di sinilah Islam menegaskan bahwa ilmu tidak pernah terpisah dari sosok yang mengajarkannya dengan adab. Para ulama kita menegaskan kedudukan mulia ini.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثاني
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Para ulama itu adalah pewaris para nabi." Dan disebutkan pula perkataan 'Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه:
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لَهُ السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula untuknya sikap tenang (sakinah) dan kewibawaan (waqar)." Perhatikanlah, hadirin — ilmu di sini datang berpasangan dengan sakinah dan waqar. Artinya, yang kita wariskan dari para nabi bukan hanya kumpulan informasi, melainkan cara membawa diri: ketenangan hati, kewibawaan akhlak, kelapangan memaafkan. Sebuah mesin bisa menyodorkan jawaban dalam sekejap, tetapi ia tidak bisa menurunkan sakinah, tidak bisa memberi teladan sabar, tidak bisa menatap mata seorang anak yang sedang gelisah lalu berkata dengan hangat, "Aku di sini bersamamu." Inilah yang tak tergantikan, dan inilah yang harus kita rebut kembali: kehadiran guru sebagai manusia utuh, bukan sekadar sumber jawaban.
Mari kita perjelas, hadirin, apa beda informasi dan ilmu. Informasi adalah kepingan data yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengubah siapa pun yang menyimpannya. Sedangkan ilmu, dalam tradisi kita, adalah cahaya yang mengubah pemiliknya — ia melahirkan rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan tanggung jawab. Sebuah mesin dapat menyimpan seluruh isi perpustakaan dunia, tetapi ia tidak pernah menjadi lebih bertakwa karenanya. Seorang anak yang menghafal seribu jawaban dari layar belum tentu memiliki satu pun adab. Di sinilah kedudukan seorang murabbi — pendidik yang bukan sekadar memindahkan materi, melainkan menularkan cara hidup. Ia menegur dengan kasih, memberi teladan sebelum memerintah, menunggu dengan sabar ketika muridnya tertatih, dan hadir di saat sang murid jatuh. Fungsi ini tidak bisa didelegasikan kepada alat mana pun, secanggih apa pun ia dirancang, karena akhlak hanya menular dari hati yang hidup ke hati yang hidup.
Hadirin yang dimuliakan Allah, benang ketiga justru melegakan. Di tengah kegelisahan, kita menyaksikan geliat pendidikan keagamaan yang menguat — langkah penguatan pendidikan Al-Qur'an di daerah, derasnya kajian dan tafsir yang diikuti banyak orang, serta perhelatan permusyawaratan besar salah satu organisasi Islam kita. Ini pertanda bahwa masyarakat kita masih haus pada bimbingan yang berakar. Tugas kita adalah memastikan kehausan ini disambut dengan ilmu yang benar niatnya, bukan yang mengejar kedudukan dan pujian semata. Para ulama kita begitu keras menjaga pintu niat ini.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني
Imam penulis kitab ini menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِيْ
"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku." Lihatlah, seorang ulama sekaliber Sufyan ats-Tsauri mengakui bahwa yang paling sulit dijaga dari seluruh perjalanan ilmunya adalah niat. Beliau mengajarkan bahwa menuntut ilmu hendaknya diniatkan untuk wajah Allah, untuk diamalkan, untuk menghidupkan syariat, dan untuk mendekat kepada Allah pada hari Kiamat — bukan untuk meraih kedudukan, kemasyhuran, dan harta. Jika ini yang paling berat bagi seorang Sufyan, betapa ia menjadi pekerjaan seumur hidup bagi kita yang jauh di bawah beliau. Maka pendidikan yang kita bangun untuk anak-anak kita harus memulai dari pertanyaan yang benar: bukan hanya "kelak jadi apa", tetapi "kelak menjadi manusia seperti apa, dan untuk siapa ilmunya".
Dan niat yang lurus itu, hadirin, tidak boleh berhenti di dalam dada — ia harus turun menjadi amal. Ilmu yang tidak diamalkan, kata para ulama, seperti pohon rindang yang tidak berbuah: indah dipandang, tetapi tidak menghidupi siapa pun. Betapa banyak di antara kita yang tahu persis bagaimana seharusnya mendidik anak, menjaga lisan, dan menemani keluarga — tetapi pengetahuan itu tersimpan rapi tanpa pernah dikerjakan. Maka pendidikan sejati mengikat empat simpul sekaligus: mengetahui, lalu mengamalkan, lalu mengajarkan, lalu bersabar atas kesulitan di jalannya. Dan perlu kita ingat baik-baik: anak-anak belajar bukan terutama dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang mereka lihat kita kerjakan. Seorang ayah yang jujur mengajarkan kejujuran tanpa satu ceramah pun; seorang ibu yang sabar menanamkan kesabaran lewat setiap tindakannya. Inilah kurikulum yang tak tertulis di rapor mana pun, tetapi paling dalam membekas di jiwa seorang anak.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari mimbar ini, marilah kita bawa pulang beberapa langkah nyata pekan ini. Pertama, jadikan rumah kita madrasah pertama — luangkan waktu tetap setiap hari, meski hanya lima belas menit, untuk membaca, bercerita, dan mendengarkan anak. Kedua, pastikan tidak ada anak di lingkungan kita yang belajar atau mengaji tanpa pengawasan orang dewasa yang terpercaya, dan ajari anak-anak untuk berani berkata "tidak" serta melapor bila merasa tidak nyaman. Ketiga, hadirkan diri sebagai guru yang mau mendengar bagi remaja di sekitar kita, agar mereka tidak lari ke tempat lain untuk mencari telinga. Keempat, dampingi anak dan remaja saat menggunakan teknologi, jelaskan bahwa alat boleh membantu tetapi tidak menggantikan guru dan orang tua. Kelima, sebelum menuntut atau mengajarkan ilmu apa pun, perbaiki dan perbarui niat, agar ilmu yang kita cari menjadi cahaya, bukan beban di akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهٰى عَنْهُ وَزَجَرَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah kedua ini memperdalam satu sisi yang mudah terlewat. Kita sering menyangka bahwa melindungi anak cukup dengan memasang pagar, kamera, atau aturan tertulis. Padahal penjagaan yang paling kuat adalah kehadiran orang dewasa yang peduli dan mata yang tidak lengah. Anak-anak yang menjadi korban di berbagai kabar itu bukan karena kurang aturan, melainkan karena ada celah kehadiran — ada saat ketika mereka sendirian bersama orang yang salah, tanpa satu pun orang dewasa yang menjaga. Maka tugas kita adalah menutup celah itu dengan tubuh dan waktu kita sendiri, bukan sekadar dengan imbauan.
Sisi kedua, tentang niat dan adab. Kita hidup di zaman ketika keberhasilan pendidikan diukur dengan angka: nilai, peringkat, gelar, dan kelak gaji. Semua itu tidak salah, tetapi bila menjadi satu-satunya ukuran, kita telah menyempitkan makna ilmu. Warisan para nabi adalah sakinah dan waqar — ketenangan dan kewibawaan akhlak — yang tak pernah muncul di rapor mana pun. Anak yang pandai tetapi tidak jujur, cerdas tetapi tidak penyayang, adalah kegagalan tarbiyah meski nilainya sempurna.
Sisi ketiga, tentang guru sebagai manusia. Di tengah godaan menyerahkan bimbingan kepada mesin, kita diingatkan bahwa keteladanan hanya menular dari hati ke hati. Seorang anak belajar sabar dengan melihat gurunya sabar, belajar rendah hati dengan melihat orang tuanya rendah hati. Tidak ada algoritma yang bisa mewariskan itu. Maka kehadiran kita sebagai orang tua, guru, dan tetangga yang peduli adalah kurikulum yang paling menentukan.
Sisi keempat, tentang rumah sebagai madrasah pertama. Sebelum anak mengenal bangku sekolah, ia telah belajar dari cara kita berbicara, dari nada suara kita ketika marah, dan dari bagaimana kita memperlakukan tetangga serta orang tua kita sendiri. Rumah yang di dalamnya Al-Qur'an dibaca, kejujuran dijaga, dan kasih sayang dibagikan, akan membentuk anak yang berbeda dari rumah yang kosong dari semua itu — sekalipun keduanya menyekolahkan anak di tempat yang sama. Maka memperbaiki pendidikan bangsa ini tidak bisa hanya dituntut dari kurikulum dan kebijakan; ia dimulai dari ruang tamu dan meja makan kita masing-masing.
Sisi kelima, tentang tanggung jawab bersama. Menjaga anak-anak umat bukan semata urusan orang tua kandung mereka. Dalam pandangan syariat, ini adalah fardh kifayah — kewajiban kolektif yang menjadi dosa kita semua bila terbengkalai. Ketika ada satu anak di kampung kita yang terlantar, satu remaja yang kehilangan tempat mengadu, atau satu ruang belajar yang tidak aman, maka pertanyaannya bukan hanya "di mana orang tuanya", tetapi juga "di mana kita". Masjid, majelis taklim, dan tetangga yang peduli adalah jaring pengaman yang Allah titipkan di tengah masyarakat. Menghidupkan kembali jaring itu adalah wujud paling nyata dari ihsan kepada generasi yang kelak akan meneruskan agama ini.
Akhirnya, marilah kita tutup dengan memperbanyak doa, memohon agar Allah menjaga anak-anak kita, meluruskan niat kita, dan memberkahi ilmu yang kita cari.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا وَطُلَّابَنَا وَبَنَاتِنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ وَبُيُوْتِهِمْ، وَاجْعَلْ رِيَاضَ الْعِلْمِ لَهُمْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَقِهِمْ شَرَّ كُلِّ ظَالِمٍ وَمُعْتَدٍ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
