Di tengah pekan yang penuh bicara tentang guru, sekolah, dan cara memuliakan manusia, ada satu potret lama yang layak dihidupkan kembali: potret manusia paling mulia yang justru paling merunduk. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ menghimpun riwayat-riwayat tentang kerendahan hati beliau. Salah satunya sederhana, hampir tanpa kejadian besar — hanya seorang perempuan, sebuah jalan, dan sepatah janji.
Madinah siang itu terik. Debu tipis melayang di udara pasar. Orang-orang lalu-lalang, dan di antara mereka berjalan seorang lelaki yang paling dicintai penduduk kota itu. Bukan karena ia memakai mahkota — ia tidak punya. Bukan karena pengawal berjejal di sekelilingnya — tidak ada. Orang mengenalinya dari ketenangan wajahnya.
Beliau adalah orang yang menolak dibesar-besarkan. Suatu kali para sahabat hendak memuji beliau berlebihan, dan beliau menahannya dengan tegas:
لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan utusan-Nya."
Ia menolak digelari lebih dari "hamba". Padahal ialah pemimpin, guru, dan panutan seluruh kota. Maka apa yang terjadi berikutnya menjadi masuk akal — dan sekaligus mengharukan.
Seorang perempuan menghampiri beliau di tengah jalan. Ia perempuan biasa. Riwayat menyebut ia dari kalangan Anshar, dan ada yang menuturkan ia membawa seorang anak kecil. Ia berdiri di hadapan lelaki yang paling sibuk dan paling dihormati di Madinah, lalu berkata dengan lugas:
إِنَّ لِيْ إِلَيْكَ حَاجَةً
"Sesungguhnya aku punya satu keperluan kepadamu."
Bayangkan seorang pembesar mana pun di zaman itu. Seorang perempuan biasa menghadang di jalan, meminta waktu. Betapa mudahnya menjawab, "Nanti saja," atau "Temui sekretarisku," atau sekadar melewatinya dengan sopan. Tetapi beliau tidak melakukan satu pun dari itu. Beliau berhenti. Dan jawabannya menjadi salah satu kalimat tawadhu' yang paling dikenang:
اجْلِسِيْ فِيْ أَيِّ طُرُقِ الْمَدِيْنَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
"Duduklah di jalan Madinah mana saja yang engkau suka, aku akan duduk bersamamu (untuk menyelesaikan keperluanmu)."
Pilihlah jalan mana saja yang engkau suka. Keputusan diserahkan kepada perempuan itu, bukan kepada beliau. Ia yang menentukan tempat, ia yang menentukan kapan cukup. Riwayat menuturkan beliau lalu menepi bersamanya di salah satu sudut jalan, dan tetap di sana sampai perempuan itu selesai dengan seluruh keperluannya. Tidak tergesa, tidak melirik-lirik ingin cepat pergi, tidak memotong. Tujuannya menepi bukan untuk menjaga jarak, melainkan agar keluhan perempuan itu tidak terdengar orang lain — sebuah kelembutan yang menjaga kehormatannya.
Orang-orang yang mengenal beliau tahu, ini bukan kejadian sekali. Ia yang menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menaiki keledai, dan memenuhi undangan seorang budak. Pada hari yang genting sekalipun, ia terlihat di atas keledai berkekang tali serabut, dengan pelana dari serabut pula. Ia menerima undangan makan roti gandum kasar dan lauk sederhana. Kemuliaannya tidak pernah ia pakai untuk meninggikan diri di atas orang kecil.
Dan justru karena itulah orang-orang mencintainya melebihi siapa pun. Namun — inilah yang menakjubkan — kecintaan sebesar itu tidak ia biarkan berubah menjadi pengkultusan. Riwayat menyebut bahwa ketika beliau datang, para sahabat tidak berdiri menyambut, karena mereka tahu beliau tidak menyukai hal itu. Dicintai sepenuh hati, tetapi menolak diperlakukan bak berhala. Ditinggikan Allah, tetapi memilih duduk di pinggir jalan bersama seorang perempuan yang punya keperluan.
Pelajaran
Kisah ini menaruh sebuah cermin di depan setiap orang yang punya sedikit "kelebihan" — ilmu, jabatan, atau nama. Manusia paling mulia sepanjang sejarah adalah manusia yang paling mudah dihampiri oleh orang paling lemah. Ia tidak memakai kesibukan sebagai tembok, tidak memakai kedudukan sebagai jarak. Ketika seorang perempuan biasa berkata "aku punya keperluan", ia menyerahkan pilihan tempat kepada perempuan itu dan duduk sampai selesai. Di pekan ketika begitu banyak anak dan orang lemah justru kesulitan menemukan orang dewasa yang mau berhenti dan mendengar, teladan ini terasa sangat dekat. Seorang guru, orang tua, atau pemimpin sejati diukur bukan dari berapa banyak orang menunduk kepadanya, melainkan dari berapa mudah orang terkecil bisa menghampirinya dan didengarkan sampai tuntas. Kerendahan hati bukan kelemahan; ia adalah puncak dari ilmu dan akhlak.
Sumber Asli
Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: إِنَّ لِيْ إِلَيْكَ حَاجَةً. فَقَالَ: اجْلِسِيْ فِيْ أَيِّ طُرُقِ الْمَدِيْنَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُوْدُ الْمَرِيْضَ وَيَشْهَدُ الْجَنَائِزَ وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ وَيُجِيْبُ دَعْوَةَ الْعَبْدِ.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانُوْا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُوْمُوْا لِمَا يَعْلَمُوْنَ مِنْ كَرَاهَتِهِ لِذٰلِكَ.
