Di tengah pekan yang dipenuhi kabar tentang mereka yang lemah dan tak didengar, ada satu kisah kecil dari kota Madinah yang layak diceritakan ulang. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah pada bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, mencatat sebuah adegan sederhana yang terjadi di jalan-jalan berdebu Madinah — sebuah adegan tentang seorang perempuan biasa, sebuah keperluan yang tak ia sebutkan, dan seorang pemimpin umat yang memilih untuk duduk mendengarkannya.
Madinah siang itu terik. Debu tipis mengambang di udara ketika kaki-kaki melintasi lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah tanah liat. Di kota ini tinggal seorang lelaki yang paling dicintai penduduknya, namun tak pernah mau diperlakukan istimewa. Ia menolak dipuja berlebihan. Suatu ketika, saat orang-orang mulai memuji-mujinya melampaui batas, ia menegur mereka dengan tegas:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
"Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya."
Lelaki itu adalah Rasulullah ﷺ. Ia yang menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, menunggangi keledai, dan tak segan memenuhi undangan seorang hamba sahaya. Kebesarannya tidak pernah membuatnya berjarak dari orang-orang kecil.
Pada suatu hari, seorang perempuan dari kalangan Anshar mendekatinya. Dalam sebuah riwayat, ia datang membawa serta anaknya yang masih kecil. Ia bukan bangsawan, bukan istri pembesar. Ia perempuan biasa dengan sebuah keperluan di dadanya. Ia berhenti di hadapan Rasulullah ﷺ, mengumpulkan keberanian, lalu berkata bahwa ia memiliki suatu keperluan yang ingin ia sampaikan.
Bayangkan sejenak apa yang biasa terjadi pada orang-orang besar. Pengawal akan menghalau. Ajudan akan berkata, "Nanti saja, beliau sibuk." Yang lemah akan disuruh menunggu di ujung antrean panjang. Tetapi hari itu, di lorong Madinah, tidak ada yang seperti itu. Rasulullah ﷺ tidak menyuruhnya pergi, tidak menundanya, tidak menganggap keperluannya remeh. Beliau justru berkata kepadanya:
