Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIKamis, 30 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Mizan Hati di Zaman Mesin Pintar"

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, khutbah kali ini mengajak kita menimbang satu perubahan yang berlangsung begitu cepat sehingga banyak dari kita belum sempat menamainya. Kita hidup di zaman ketika sebuah mesin bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik, menyusun kalimat yang rapi dan meyakinkan, bahkan menirukan nada seorang penasihat yang bijak. Nikmat ini besar, dan kita tidak akan mengingkarinya. Tetapi setiap nikmat yang besar selalu datang dengan ujian yang sepadan. Maka mari kita buka dengan firman Allah yang meletakkan seluruh persoalan ini pada tempatnya.

QS. Ar-Rahmaan: 8

أَلَّا تَطْغَوْا۟ فِى ٱلْمِيزَانِ

"Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu." (QS. Ar-Rahmaan: 8)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun dalam surah yang berulang kali menyebut nikmat-nikmat Allah. Di tengah gemuruh karunia, Allah menegakkan satu kata: mizan — neraca, takaran, keseimbangan. Alam ini ditegakkan di atas keseimbangan, dan Allah memerintahkan agar manusia tidak merusaknya, tidak melampaui batas. Para ulama memahami mizan ini bukan hanya timbangan pedagang di pasar, tetapi keseimbangan dalam seluruh urusan: keseimbangan antara ucapan dan diam, antara mengambil dan menahan, antara dunia dan akhirat, antara alat dan tujuan. Dan di zaman kita, ujian terhadap mizan itu datang dari arah yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya: layar yang menawarkan segalanya tanpa batas.

Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, kita mendengar tiga peristiwa yang seolah berbeda, tetapi sebenarnya satu. Yang pertama, seorang tokoh agama di sebuah negeri menempuh jalur hukum terhadap pengembang sebuah mesin percakapan, karena mesin itu memberinya nasihat yang keliru dan menyesatkan. Yang kedua, publik dikejutkan oleh kenyataan bahwa banyak remaja kini lebih memilih menumpahkan keluh-kesah mereka kepada mesin daripada kepada manusia, sampai para dokter anak merasa perlu mengingatkan agar mesin jangan dijadikan pengganti pendamping yang sesungguhnya. Yang ketiga, seorang pemimpin daerah, ketika meresmikan sebuah tempat belajar, menyempatkan diri mengingatkan bahwa di era kecerdasan buatan, karakterlah yang justru harus diperkuat.

Tiga kabar, satu benang: manusia sedang bergeser menyerahkan hal-hal paling dalam dalam dirinya — tuntunan, kesedihan, dan pembentukan jiwa — kepada sesuatu yang tidak memiliki hati, tidak memiliki tanggung jawab, dan tidak akan berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban. Inilah bentuk baru dari melampaui batas dalam mizan: bukan mengurangi takaran gandum, tetapi mengaburkan takaran antara alat dan tuan, antara sarana dan sandaran.

Para ulama mengajarkan bahwa syariat ini datang untuk menjaga lima perkara pokok pada diri manusia: agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya, dan hartanya. Perhatikanlah, hadirin, betapa ujian teknologi hari ini menyentuh langsung tiga di antaranya sekaligus. Ketika mesin memberi nasihat keliru tentang agama, yang terancam adalah penjagaan agama. Ketika akal kita dibanjiri kabar yang benar dan yang palsu sampai tak bisa kita bedakan, yang terancam adalah penjagaan akal. Dan ketika jiwa anak-anak muda kita menjadi rapuh karena kesepian yang dalam, yang terancam adalah penjagaan jiwa. Menjaga ketiganya di zaman digital bukanlah urusan sampingan; ia adalah bagian dari amanah kita sebagai khalifah di muka bumi, sebuah kewajiban bersama yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari perhitungan. Bila cukup di antara kita menunaikannya, ringanlah beban yang lain; bila kita semua lalai, kita menanggung dosanya bersama-sama.

Hadirin yang dirahmati Allah, mari kita mulai dari persoalan pertama: kepada siapa kita bertanya. Sebuah mesin bisa menyusun jawaban yang terdengar seperti fatwa, tetapi ia tidak memiliki ilmu; ia hanya memiliki pola. Ia tidak tahu mana yang benar; ia hanya tahu mana yang sering diucapkan. Ketika kita memperlakukan keluaran seperti itu sebagai tuntunan agama, kita sedang membangun rumah iman di atas pasir. Allah memperingatkan kita agar tidak menjadikan sembarang suara sebagai pemandu:

QS. Ash-Shu'araa: 151

وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَ

"Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Ash-Shu'araa: 151)

Ayat ini semula berbicara tentang kaum yang menolak nabi mereka, tetapi prinsipnya berlaku sepanjang zaman: jangan serahkan ketaatan dan tuntunanmu kepada sumber yang tidak layak menuntun. Di zaman kita, "orang-orang yang melampaui batas" bisa hadir dalam wujud yang tak berwajah — arus konten yang paling ramai, algoritma yang paling agresif, atau mesin yang paling fasih. Semua itu boleh kita gunakan sebagai alat, tetapi tidak boleh kita jadikan sebagai imam. Imam kita dalam beragama tetaplah wahyu yang dijelaskan oleh para ulama pewaris nabi; imam kita dalam kejiwaan tetaplah manusia berilmu yang bertanggung jawab; dan sandaran kita dalam segala hal tetaplah Allah.

Perlu kita camkan, hadirin, bahwa bahaya terbesar dari nasihat yang keliru bukanlah ketika ia datang dari sumber yang jelas-jelas buruk — sebab yang seperti itu mudah kita tolak. Bahaya terbesar justru ketika kebatilan datang dengan kemasan yang rapi, bahasa yang santun, dan nada yang seolah penuh hikmah. Mesin masa kini sangat mahir dalam kemasan; ia sanggup keliru dengan sangat meyakinkan, tanpa sedikit pun ragu, sebab ia memang tidak mengenal keraguan maupun rasa malu bila salah. Di sinilah pentingnya kita memiliki timbangan batin — ilmu yang benar dan hati yang hidup — untuk menakar mana yang haq dan mana yang sekadar terdengar haq. Tanpa timbangan itu, kita akan menelan apa saja yang disajikan dengan indah, seperti orang lapar yang menyantap makanan beracun hanya karena piringnya bersih dan tampilannya menggoda.

Maka renungkanlah, hadirin, betapa berbedanya ilmu yang sejati dari sekadar informasi yang melimpah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

"Para ulama itu adalah pewaris para nabi." Dan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu menasihati kita:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لَهُ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ

"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula untuknya sikap tenang (sakinah) dan kewibawaan (waqar)." Perhatikanlah, jamaah: ilmu yang benar tidak datang telanjang. Ia datang membawa sakinah — ketenangan hati, dan waqar — kewibawaan jiwa. Sebuah mesin bisa menumpahkan seribu paragraf, tetapi ia tidak bisa mewariskan sakinah, tidak bisa menurunkan waqar, tidak bisa memindahkan rasa takut kepada Allah dari hati ke hati. Karena ilmu yang mewariskan itu bukan sekadar data yang berpindah, melainkan cahaya yang menyala dari dada seorang guru ke dada muridnya. Inilah yang hilang ketika kita mengganti majelis ilmu dengan mesin pencari: bukan informasinya, tetapi adab, ketawadhuan, dan hening hati yang menyertai ilmu yang benar.

Dan di sinilah, hadirin, letak persoalan yang lebih dalam: bukan pada alatnya, tetapi pada niat yang menggerakkannya. Para ulama akhlak menuntun kita agar meluruskan niat dalam menuntut ilmu — hendaknya kita mencarinya untuk mengharap wajah Allah, untuk mengamalkannya, dan untuk menghidupkan syariat, bukan untuk mengejar kedudukan, ketenaran, atau harta. Betapa relevan tuntunan ini hari ini. Alat yang sama persis bisa dipakai untuk menimba ilmu yang menyelamatkan, dan bisa pula dipakai untuk memburu pujian dan sensasi. Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, seorang ulama besar dari generasi terbaik, pernah mengakui, "Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku." Bila seorang alim sebesar beliau mengaku niat adalah perkara paling sulit dijaga, apa lagi kita yang setiap detik digempur oleh dorongan untuk tampil, untuk diakui, untuk menjadi viral. Maka sebelum kita bertanya "alat apa yang saya pakai," tanyakanlah lebih dahulu "untuk apa saya memakainya." Sebab alat itu netral; yang menentukan selamat atau celakanya adalah hati yang memegangnya.

Persoalan kedua, hadirin, adalah kesepian di balik layar. Sungguh menyayat bahwa anak-anak muda kita memilih berbicara kepada mesin karena merasa tidak ada manusia yang mau mendengar. Ini bukan pertama-tama masalah teknologi; ini masalah kehadiran. Mesin menang bukan karena ia bijak, tetapi karena ia ada — ada pada pukul dua pagi, ada tanpa menghakimi, ada tanpa menyela. Dan di titik ini, marilah kita jujur pada diri sendiri: seberapa sering kita, para orang tua, para tetangga, para pemuka, benar-benar hadir untuk mereka? Rasulullah ﷺ mengajarkan kita betapa mahalnya sebuah kebersamaan. Diriwayatkan bahwa beliau ﷺ pernah memungut dua ranting siwak, yang satu bengkok dan yang lain lurus. Beliau memberikan yang lurus kepada sahabatnya dan menahan yang bengkok untuk diri beliau sendiri. Ketika sahabatnya berkata bahwa beliaulah yang lebih berhak atas yang lurus, beliau ﷺ bersabda:

مَا مِنْ صَاحِبٍ يَصْحَبُ صَاحِبًا وَلَوْ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ إِلَّا وَسُئِلَ عَنْ صُحْبَتِهِ، هَلْ أَقَامَ فِيهَا حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ أَضَاعَهُ

"Tidaklah seseorang menemani sahabatnya walau sesaat di siang hari, kecuali ia akan ditanya tentang persahabatan itu: apakah ia menegakkan hak Allah di dalamnya, atau ia menyia-nyiakannya." Lihatlah, jamaah, betapa Islam menghargai kehadiran — bahkan pertemanan sesaat pun dicatat dan akan ditanya. Kalau menemani sesaat saja punya bobot sebesar itu, bagaimana dengan anak kita sendiri yang setiap malam merasa sendirian di rumah yang penuh manusia? Mesin tidak akan pernah ditanya tentang persahabatannya, karena ia bukan sahabat. Tetapi kita akan ditanya. Maka kehadiran kita — duduk, diam, mendengar tanpa buru-buru menghakimi — adalah ibadah yang sedang menunggu untuk kita tunaikan.

Betapa lembutnya teladan dalam kisah dua ranting siwak itu, hadirin. Manusia paling mulia memilih yang bengkok untuk diri beliau dan menyerahkan yang lurus kepada sahabatnya — sebuah kebaikan kecil yang mengajarkan bahwa memuliakan orang di sekitar kita adalah bagian dari agama, bukan sekadar sopan santun. Bayangkan seandainya kelembutan seperti ini hidup di rumah-rumah kita: seorang ayah yang mendahulukan mendengar anaknya sebelum memeriksa layar ponselnya, seorang ibu yang menatap mata anaknya sebelum membalas pesan di grup. Kehadiran yang tulus semacam itu tidak membutuhkan perangkat apa pun; ia hanya membutuhkan kesediaan hati untuk sejenak berhenti dan benar-benar ada bagi orang lain. Justru inilah yang paling dirindukan oleh generasi muda kita, dan justru inilah yang paling mampu kita berikan — jika kita mau.

Persoalan ketiga, hadirin, adalah penjagaan diri di tengah banjir. Ketika segala sesuatu tersedia di ujung jari, ujian terberat bukanlah mendapatkan, melainkan menahan. Para ulama akhlak merumuskan sebuah kaidah penjagaan diri yang sangat relevan hari ini:

وَلَا تَصِلُ إِلَى حِفْظِ الْفَرْجِ إِلَّا بِحِفْظِ الْعَيْنِ عَنِ النَّظَرِ، وَحِفْظِ الْقَلْبِ عَنِ التَّفَكُّرِ، وَحِفْظِ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبْهَةِ وَعَنِ الشِّبَعِ

"Engkau tidak akan sampai pada penjagaan kehormatan kecuali dengan menjaga mata dari memandang, menjaga hati dari pikiran yang membangkitkan syahwat, dan menjaga perut dari yang syubhat serta dari kekenyangan." Betapa dalamnya kaidah ini di zaman layar. Menjaga kehormatan hari ini dimulai dari menjaga mata dari apa yang kita gulir, menjaga hati dari apa yang kita biarkan menetap di sana, dan menjaga "perut" konsumsi digital kita dari kekenyangan yang tak terkendali. Alat yang sama yang bisa mengantarkan ilmu juga bisa mengantarkan racun; yang membedakan bukan alatnya, melainkan penjagaan penggunanya.

Renungkanlah, hadirin, bagaimana para salaf menjaga hati mereka jauh sebelum ada layar. Mereka menakar dengan cermat setiap yang masuk ke mata dan telinga, karena mereka paham bahwa hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh — bila ia baik, baiklah seluruhnya, dan bila ia rusak, rusaklah seluruhnya. Hari ini, pintu-pintu menuju hati terbuka lebih lebar daripada kapan pun dalam sejarah manusia. Dalam satu genggaman tangan, kita bisa mengunjungi seluruh penjuru dunia — yang baik maupun yang buruk — tanpa beranjak dari tempat tidur. Kemudahan ini adalah nikmat sekaligus fitnah: nikmat bila kita yang mengendalikannya, fitnah bila ia yang mengendalikan kita.

Dan kita di negeri ini, hadirin, tidak kebal dari ujian tersebut. Bangsa kita termasuk pengguna gawai dan media sosial paling aktif di dunia. Anak-anak kita tumbuh bersama layar sejak usia dini, sering kali lebih fasih bercakap dengan mesin daripada bertegur sapa dengan tetangga sebelah rumah. Bila kita — para orang tua, guru, dan pengurus masyarakat — tidak hadir untuk menuntun mereka, maka layar dan mesinlah yang akan menuntun; dan kita telah mendengar sendiri bagaimana mesin bisa keliru. Ini sekali lagi bukan ajakan untuk takut kepada teknologi, melainkan ajakan untuk merebut kembali peran kita sebagai pembimbing. Sebab jika kita mundur, ruang itu tidak akan tinggal kosong — ia akan segera diisi oleh sesuatu yang tidak memiliki hati dan tidak akan pernah mencintai anak-anak kita.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah ini menawarkan beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai begitu turun dari mimbar ini. Pertama, kembalikan pertanyaan agama kepada ahlinya — jadikan mesin sebagai alat mencari alamat majelis ilmu, bukan sebagai mufti. Kedua, tegakkan mizan waktu: tetapkan satu batas harian yang jelas, misalnya satu jam sebelum tidur bebas dari gawai, dan kembalikan waktu itu untuk keluarga dan munajat. Ketiga, hadir untuk yang muda: sisihkan waktu tetap setiap pekan untuk benar-benar mendengar anak dan remaja di sekitar kita, tanpa langsung menceramahi. Keempat, jaga mata dan hati: sebelum membuka layar di pagi hari, dahulukan dzikir; jadikan menyebut nama Allah sebagai kalimat pertama, bukan notifikasi. Kelima, latih diri menahan jari: sebelum menyebarkan kabar apa pun, terutama soal agama, berhenti sejenak untuk memastikan kebenarannya. Keenam, tanamkan karakter pada anak lebih dulu daripada keterampilan teknis: anak yang jujur dan punya rasa malu akan aman memegang alat apa pun, sedangkan anak yang kehilangan keduanya akan berbahaya walau hanya memegang pena.

Semua langkah ini bermuara pada satu kesadaran: menjaga akal, agama, dan jiwa umat di era digital bukanlah pilihan tambahan, melainkan amanah kolektif kita sebagai khalifah di muka bumi. Bila cukup di antara kita menunaikannya, gugurlah beban dari yang lain; bila kita semua lalai, kita menanggung dosanya bersama, dan kita akan ditanya tentangnya di hari perhitungan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin yang berbahagia, di khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan beberapa sisi lebih dalam. Pertama, kemajuan teknologi bukan musuh kita, dan menolaknya bukan kesalehan. Yang diminta dari kita adalah menjadi tuan atas alat, bukan hamba baginya — memegang kendali mizan, bukan larut melampaui batas. Umat ini pernah memimpin peradaban ketika ia memegang ilmu dengan adab; ia akan tersungkur ketika ia memegang alat tanpa akhlak.

Kedua, kesepian generasi muda adalah panggilan bagi yang tua. Ketika seorang anak lebih nyaman berbicara kepada mesin, itu adalah cermin yang jujur tentang kehadiran kita. Perbaikan tidak dimulai dari melarang gawai, tetapi dari menghadirkan telinga yang sabar dan hati yang tidak tergesa menghakimi. Kehadiran adalah dakwah yang paling sunyi dan paling kuat.

Ketiga, penjagaan diri di era layar adalah jihad harian yang tak terlihat. Setiap kali kita memalingkan mata dari yang tak pantas, menahan jari dari menyebar yang belum pasti, dan mendahulukan dzikir atas notifikasi, kita sedang menegakkan mizan dalam diam. Amal-amal kecil yang konsisten inilah yang akan memberatkan timbangan kita kelak.

Keempat, marilah kita jadikan rumah dan komunitas kita sebagai tempat di mana kebenaran masih bisa ditemukan pada wajah manusia, bukan hanya pada layar. Hidupkan majelis ilmu, hidupkan silaturahmi, hidupkan waktu tanpa gawai bersama keluarga — karena di sanalah cahaya iman berpindah dari hati ke hati, sesuatu yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh mesin secanggih apa pun.

Dan yang kelima, hadirin, marilah kita ingat bahwa segala yang kita lakukan — bahkan yang tersembunyi di balik layar, yang kita kira tak seorang pun melihat — sesungguhnya tercatat dengan rapi. Tidak ada pesan yang terkirim, tidak ada jejak yang tertinggal, kecuali diketahui oleh Allah dan dicatat oleh para malaikat-Nya yang tak pernah lengah. Kesadaran inilah rem yang paling kuat, jauh melampaui segala pengaturan privasi dan kata sandi. Seorang mukmin yang benar-benar meyakini bahwa dirinya diawasi akan menjaga jarinya sebagaimana ia menjaga lisannya, dan menjaga apa yang ia buka sebagaimana ia menjaga langkah kakinya. Maka jadikanlah muraqabah — kesadaran akan pengawasan Allah — sebagai penjaga yang selalu menyala di dalam dada kita, ke mana pun layar membawa kita.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَآمِنْ خَوْفَهُمْ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي عُلَمَائِنَا، وَاحْفَظْ شَبَابَنَا وَشَابَّاتِنَا.

اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْ فِيمَا سَخَّرْتَ لَنَا مِنَ الْآلَاتِ فِتْنَةً لِقُلُوبِنَا.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَهُمْ مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَلَا تَجْعَلْ رَاحَتَهُمْ وَأُنْسَهُمْ فِي غَيْرِكَ، وَاصْرِفْ عَنْهُمْ وَحْشَةَ الْقُلُوبِ وَقَلَقَهَا.

اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا أَدَبًا مَعَ الْعِلْمِ وَسَكِينَةً وَوَقَارًا.

اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan