Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumTeknologi & AIKamis, 30 Juli 2026

Kultum — "Bertanya kepada yang Tak Pernah Keliru"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di tengah kabar yang sampai ke kita tentang mesin-mesin pintar yang katanya bisa menjawab apa saja — bahkan ada yang sampai menempuh jalur hukum karena merasa disesatkan oleh nasihat sebuah mesin percakapan — ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini. Pertanyaannya begini: kalau kita bingung, kepada siapa sebenarnya kita bertanya?

Saudara-saudara sekalian, ini bukan pertanyaan sepele. Kita hidup di zaman ketika jawaban begitu murah. Ketik satu kalimat, dan dalam sekejap layar memberi kita paragraf yang rapi, meyakinkan, dan terdengar bijak. Masalahnya, "terdengar bijak" dan "benar" adalah dua hal yang sangat berbeda. Mari kita dengar peringatan Allah:

وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَ

"Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Ash-Shu'araa: 151)

Ayat ini mengajarkan sebuah prinsip yang tidak pernah usang: jangan sembarang menyerahkan tuntunan hidupmu kepada sumber yang tidak layak menuntun. Di zaman Nabi Shalih, "orang yang melampaui batas" itu berwajah manusia. Di zaman kita, ia bisa berwujud arus tren yang paling ramai, atau bahkan sebuah mesin yang paling fasih menyusun kalimat. Sekali lagi — kita boleh memakainya sebagai alat, tetapi jangan menjadikannya imam.

Coba kita renungkan, jamaah. Mengapa mesin bisa salah dengan begitu meyakinkan? Karena ia tidak benar-benar tahu apa yang benar; ia hanya tahu apa yang sering muncul. Ia tidak punya rasa takut kepada Allah, tidak punya rasa malu, tidak punya tanggung jawab. Ia tidak akan berdiri di padang mahsyar untuk dimintai pertanggungjawaban atas nasihat yang ia berikan. Sementara seorang guru yang benar, seorang alim yang bertakwa, ketika ia menuntun kita, ia menuntun dengan gemetar — karena ia tahu ilmu adalah amanah dan setiap kata akan ditimbang.

Pekan-pekan ini kita juga mendengar hal yang lebih menyayat: banyak remaja lebih memilih curhat kepada mesin daripada kepada manusia, sampai para dokter anak turun tangan mengingatkan. Kenapa? Bukan karena mesin itu hebat, tetapi karena kita — orang-orang di sekitar mereka — sering terasa tidak hadir. Kita sibuk, kita cepat menghakimi, kita jarang benar-benar mendengar. Ini teguran untuk kita semua, termasuk saya. Anak-anak kita tidak butuh kita menjadi ensiklopedia; mereka butuh kita menjadi telinga.

Lalu ke mana sebenarnya kita mengarahkan hati yang gelisah? Para ulama akhlak mengajarkan satu kebiasaan yang mahal harganya:

فَإِيَّاكَ أَنْ تُخْلِيَ لَيْلَكَ وَنَهَارَكَ عَنْ وَقْتٍ تَخْلُو فِيهِ لِمَوْلَاكَ وَتَتَلَذَّذُ مَعَهُ بِمُنَاجَاتِكَ لَهُ

"Berhati-hatilah, jangan sampai engkau biarkan malam dan siangmu berlalu tanpa satu waktu yang engkau khususkan untuk berkhalwat bersama Tuhanmu, dan engkau menikmati munajat kepada-Nya." Inilah tempat curhat yang tak pernah keliru, yang selalu ada, yang mendengar tanpa jeda, tanpa server sibuk, tanpa salah paham. Bedanya dengan mesin: mesin memantulkan kata-kata kita kembali; Allah mendengar, memahami, dan menenangkan.

Saudara-saudara, jujur pada diri kita masing-masing: kapan terakhir kali kita benar-benar mengadu kepada Allah, bukan sekadar membaca doa cepat, tetapi berbicara dari hati? Kita mungkin lebih lancar mengetik keluhan ke layar daripada mengangkat tangan kepada Yang Maha Mendengar. Malam ini, mari kita ukur diri sendiri. Kita semua pernah merasa sepi di tengah keramaian, pernah merasa tidak ada yang mengerti. Justru di saat itulah pintu munajat terbuka paling lebar.

Maka izinkan saya menutup dengan tiga ajakan sederhana yang bisa kita mulai malam ini juga. Pertama, sebelum tidur nanti, sisihkan lima menit untuk berbicara kepada Allah dengan bahasa kita sendiri — bukan hafalan, tetapi isi hati. Kedua, besok pagi, sebelum tangan meraih ponsel, dahulukan dzikir; jadikan nama Allah kalimat pertama hari kita. Ketiga, dalam pekan ini, carilah satu orang muda di sekitar kita — anak, keponakan, tetangga — dan benar-benar dengarkan dia tanpa langsung menasihati. Boleh jadi, kehadiran kita malam itu lebih berharga daripada seribu jawaban mesin.

Marilah kita satukan hati pada satu kesimpulan: di zaman ketika jawaban begitu melimpah, yang langka justru tuntunan yang benar dan telinga yang tulus. Keduanya tidak akan kita temukan pada mesin. Keduanya ada pada Allah dan pada sesama manusia yang mau hadir. Kembalikan hatimu ke sana.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَاجْعَلْ أُنْسَنَا فِي مُنَاجَاتِكَ، وَاهْدِنَا وَأَهْلِيْنَا وَشَبَابَنَا إِلَى الْحَقِّ، وَاصْرِفْ عَنَّا وَحْشَةَ الْقُلُوبِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan