Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah pada kesempatan Jumat yang mulia ini kita perbarui rasa takwa — takwa yang bukan sekadar menjaga hubungan kita dengan Allah, tetapi juga menjaga cara kita memperlakukan sesama makhluk-Nya. Sebab agama ini tidak pernah memisahkan keduanya. Iman yang benar akan tampak pada wajah kita saat berhadapan dengan orang yang berbeda dari kita: berbeda suku, berbeda pandangan, bahkan berbeda keyakinan. Di sanalah takwa diuji.
Allah berfirman dalam Kitab-Nya, menutup surah yang berbicara tentang batas yang jelas antara tauhid dan kekufuran:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya: "Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." (QS. Al-Kaafiroon: 6)
Hadirin yang berbahagia, ayat ini sering disalahpahami dari dua arah. Sebagian membacanya sebagai izin untuk mencampuradukkan keyakinan seolah semua agama sama saja — padahal surah ini justru menegaskan garis akidah yang tidak boleh kabur: ibadah kita hanya untuk Allah, dan kita tidak akan menyembah selain Dia. Sebagian lain membacanya sebagai izin untuk memusuhi dan merendahkan pemeluk agama lain — padahal ayat ini turun sebagai penutup yang tenang, bukan sebagai seruan perang. Yang diajarkan ayat ini adalah sikap yang matang: teguh memegang keyakinan sendiri, sekaligus lapang membiarkan orang lain menanggung pilihannya. Kita tidak melebur, tetapi kita juga tidak menindas. Inilah wajah koeksistensi yang berakar pada tauhid — bukan koeksistensi yang lahir dari sikap tidak peduli, melainkan dari keyakinan yang justru cukup kokoh untuk tidak merasa terancam oleh perbedaan.
Mari kita tautkan prinsip ini dengan beberapa kabar yang sampai kepada kita pekan ini. Dari negeri yang jauh, kita mendengar berita yang menyayat: seorang perempuan muslimah dianiaya hingga babak belur di hadapan anaknya, sambil dibentak dengan kalimat kasar agar ia "kembali ke negaranya". Ia diserang bukan karena berbuat salah, melainkan semata-mata karena identitasnya terlihat berbeda. Namun ada sisi lain dari kabar itu yang tidak boleh kita lewatkan: publik di negeri itu justru marah, membela korban, dan mengecam pelakunya. Artinya, intoleransi memang selalu ada bibitnya di mana pun, tetapi rasa keadilan pun tumbuh di mana pun — bahkan di kalangan yang berbeda agama dengan korban. Ini pelajaran penting: membela martabat orang yang teraniaya bukanlah monopoli satu golongan.
Kabar kedua yang sampai kepada kita adalah penegasan bahwa keberpihakan pada bangsa yang tertindas, seperti saudara-saudara kita di Palestina, adalah sikap yang tidak bisa ditawar. Ini bukan urusan blok politik, melainkan urusan nurani: ketika ada yang dizalimi, seorang mukmin tidak boleh diam. Dan kabar ketiga, yang tampaknya berbeda arah, adalah pengingat dari seorang tokoh umat bahwa harta yang dikumpulkan lewat jalan curang tidak akan menyelamatkan pemiliknya — bila ia tak bertobat, ia justru akan memikul beban itu di hari perhitungan. Ketiga kabar ini seolah berserakan, tetapi sebenarnya menunjuk ke satu inti: masyarakat yang rukun hanya bisa berdiri di atas keadilan. Di mana ada penindasan — entah karena agama, karena bangsa, atau karena harta — di situ kerukunan sedang digerogoti dari dalam.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khatib membawa kita lebih dalam. Salah satu akar kekerasan atas nama identitas adalah sikap berlebih-lebihan — ghuluw — yang membuat seseorang merasa golongannya begitu tinggi sehingga yang lain layak diinjak. Menariknya, penyakit ini pernah diperingatkan langsung oleh Rasulullah ﷺ terhadap umatnya sendiri. Beliau bersabda:
Artinya: "Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم)
Perhatikanlah, hadirin. Rasulullah ﷺ — manusia paling mulia — justru memagari umatnya dari sikap mengkultuskan. Beliau tidak berkata "puji aku setinggi-tingginya", tetapi "aku hanyalah hamba". Inilah rahasia besar: kerendahan hati adalah benteng dari kekerasan. Orang yang merasa dirinya dan golongannya hanya hamba di hadapan Allah tidak akan mudah merasa berhak menghakimi nyawa dan martabat orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang menempatkan golongannya di atas kemanusiaan, di situlah lahir tangan yang memukul perempuan di jalan sambil berteriak "kembali ke negaramu". Ghuluw selalu berujung pada kezaliman.
Maka teladan tawadhu' Nabi ﷺ adalah obat langsung bagi penyakit pekan ini. Beliau, yang seluruh Madinah mencintainya, tidak mau berdiri diagungkan; beliau menerima undangan seorang budak; beliau menjenguk orang sakit dan mengantar jenazah; bahkan baju besinya tergadai pada seorang Yahudi dan tidak sempat beliau tebus hingga wafat. Lihatlah, beliau bermuamalah dengan pemeluk agama lain dalam urusan sehari-hari secara adil dan jujur, tanpa merendahkan mereka dan tanpa pula mengorbankan akidahnya. Keteguhan dan kelapangan berjalan bersama dalam diri beliau. Itulah yang harus kita warisi.
Hadirin, mari kita perdalam lagi dengan satu prinsip tentang batas. Rasulullah ﷺ bersabda:
Artinya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya; menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kalian melampauinya; mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggar kehormatannya; dan mendiamkan beberapa perkara sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencari-carinya." (Riyad as-Salihin 1832)
Betapa indahnya hadits ini, hadirin. Di dalamnya ada pelajaran adab yang jarang kita sadari: sebagian ruang sengaja Allah diamkan sebagai rahmat, agar kita tidak saling memaksa dan saling menyelidiki. Betapa banyak permusuhan lahir justru karena kita memaksakan pendapat pada wilayah yang lapang, mengubah perkara ijtihadiyah menjadi ajang saling mengkafirkan, atau sibuk mengorek-ngorek keyakinan orang lain yang sebenarnya bukan urusan kita. Menjaga batas berarti tahu kapan harus tegas — pada perkara yang jelas fardhu dan jelas haram — dan tahu kapan harus melapangkan hati — pada perkara yang Allah sendiri lapangkan. Inilah kematangan beragama yang menjadi tanah subur bagi kerukunan.
Lalu bagaimana dengan penindasan yang nyata? Di sinilah agama tidak boleh diam. Allah berfirman menggambarkan kaum-kaum terdahulu yang binasa karena kesewenang-wenangan:
ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ
Artinya: "(yaitu) orang-orang yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri." (QS. Al-Fajr: 11)
Hadirin yang dirahmati Allah, Allah menyebut sebab kehancuran umat-umat besar bukan karena mereka berbeda agama, melainkan karena mereka thagha — melampaui batas, menindas yang lemah, dan berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Maka baik pemukul perempuan tak berdaya di negeri seberang, maupun tangan yang diam-diam menggerogoti harta rakyat di negeri sendiri, keduanya berbagi akar yang sama: kesewenang-wenangan. Tugas kita bukan memilih salah satu untuk dikecam sambil memaklumi yang lain. Seorang mukmin membela keadilan secara utuh — menolak intoleransi terhadap muslim di luar negeri, sekaligus menolak ketidakadilan yang mungkin kita lakukan sendiri terhadap yang berbeda di dalam negeri.
Para ulama dalam kitab Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم mengingatkan satu prinsip yang jarang kita kaitkan dengan tema kerukunan: bahwa Allah mengutus seluruh rasul sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan, dan bahwa setiap manusia pasti akan dibangkitkan lalu dimintai pertanggungjawaban atas amalnya. Sebagai dalilnya, Allah berfirman:
Artinya: "Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. At-Taghabun: 7)
Hadirin yang dimuliakan Allah, kesadaran akan hari kebangkitan adalah rem paling kuat bagi tangan yang hendak berbuat zalim. Orang yang benar-benar yakin bahwa ia kelak berdiri di hadapan Allah dan ditanya tentang setiap ucapan dan perbuatannya, tidak akan gampang menghina keyakinan orang lain, tidak akan mudah mengambil hak sesama, dan tidak akan tega memukul yang lemah. Di sinilah letak hubungan yang erat antara akidah dan akhlak: iman pada hari akhir melahirkan kehati-hatian dalam bermuamalah dengan siapa pun, seorang muslim maupun yang bukan muslim. Semakin kokoh iman seseorang pada hisab, semakin lembut ia kepada makhluk.
Marilah pula kita belajar dari cara Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah. Ketika beliau tiba di kota itu, penduduknya sangat beragam: kaum Muhajirin, kaum Anshar, berbagai kabilah Arab, dan komunitas Yahudi dengan beberapa sukunya. Beliau tidak memaksa semua menjadi seragam. Beliau justru menyusun sebuah kesepakatan hidup bersama yang menjamin hak dan kewajiban tiap kelompok — sebuah piagam yang mengatur bagaimana warga yang berbeda keyakinan bisa hidup berdampingan dalam satu kota dan saling menjaga dari ancaman luar. Beliau bermuamalah dengan tetangga Yahudinya secara jujur; bahkan, seperti telah kita sebut, baju besi beliau tergadai pada seorang Yahudi hingga akhir hayat. Dan ketika rombongan Nasrani dari Najran datang untuk berdialog, beliau menyambut mereka dengan hormat. Semua itu beliau lakukan tanpa sedikit pun menggeser tauhidnya. Inilah teladan koeksistensi yang berakar pada iman, bukan pada sikap tidak peduli.
Renungkanlah betapa dalam pelajaran ini, hadirin. Justru karena tauhid kita kokoh, kita tidak perlu merasa terancam oleh keberadaan orang yang berbeda. Orang yang imannya rapuh cenderung gelisah, mudah curiga, dan cepat memusuhi — seolah keberadaan orang lain akan meruntuhkan keyakinannya. Sebaliknya, orang yang imannya kokoh berdiri tenang: ia tahu persis di mana batas akidahnya, sehingga ia sanggup berlapang dada dalam urusan kemanusiaan. Keteguhan melahirkan ketenangan, dan ketenangan melahirkan kelapangan. Itulah rahasia mengapa surah Al-Kaafiroon, yang paling tegas memisahkan tauhid dari kekufuran, justru ditutup dengan kalimat yang paling damai: "untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku".
Maka wajah Islam yang harus kita tampilkan bukanlah wajah yang garang dan mudah tersinggung, melainkan wajah yang penuh rahmat dan hikmah. Allah mengutus Nabi-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam — bukan hanya bagi kaum muslimin. Dan hikmah menuntut kita bijak menempatkan sikap: tegas melawan kezaliman, tetapi lembut terhadap manusia; keras pada penyimpangan dalam diri sendiri, tetapi sabar dalam mengajak orang lain. Umat ini disebut umat pertengahan — umat yang tidak berlebihan sampai memaksa dan menindas, tetapi juga tidak lemah sampai kehilangan jati diri. Di tengah dunia yang gampang terbelah oleh kebencian, umat yang seimbang seperti inilah yang paling dibutuhkan untuk menjadi jembatan, bukan tembok.
Kabar tentang perempuan yang dianiaya itu, hadirin, sesungguhnya menyimpan dua pelajaran sekaligus. Pelajaran pertama, bahwa sebagian saudara kita di berbagai belahan dunia masih menghadapi ujian karena identitas mereka, dan itu menuntut solidaritas serta doa dari kita. Tetapi pelajaran kedua tidak kalah penting: bahwa banyak manusia dari latar yang berbeda ternyata masih memiliki nurani yang menolak kezaliman, terbukti dari kemarahan publik yang membela korban. Kalau kita hanya memungut pelajaran pertama, kita akan tumbuh menjadi umat yang penuh rasa terancam dan curiga kepada semua orang. Tetapi bila kita juga memungut pelajaran kedua, kita akan tumbuh menjadi umat yang berpengharapan — yang percaya bahwa kebaikan masih bisa ditemukan dan dirawat melintasi batas keyakinan.
Maka, hadirin, apa yang bisa kita bawa pulang dari mimbar ini? Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai. Pertama, kita jaga lisan dan jempol kita: berhenti menyebarkan kabar yang belum jelas tentang kelompok lain, apalagi yang memancing kebencian. Kedua, kita rawat tetangga kita apa pun latar belakangnya; pastikan tidak ada seorang pun di lingkungan kita yang merasa diperlakukan sebagai orang asing. Ketiga, kita didik anak-anak kita bahwa teguh dalam iman tidak sama dengan kasar kepada yang berbeda; keduanya justru berlawanan. Keempat, kita perbaiki lebih dulu keadilan di rumah kita sendiri — dalam harta, dalam ucapan, dalam sikap — sebelum sibuk menuding keburukan orang lain. Kelima, kita doakan saudara-saudara kita yang teraniaya di mana pun mereka berada, dan kita doakan pula agar hati yang keras dilembutkan. Doa adalah senjata orang beriman yang tidak pernah kehabisan peluru.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini khatib ingin menegaskan tiga sisi dari pesan tadi agar ia melekat sampai kita keluar dari masjid ini. Sisi pertama: keteguhan dan kelapangan bukanlah dua hal yang bertengkar, melainkan dua sayap dari satu burung. Banyak orang mengira bahwa untuk menghormati orang lain kita harus melunturkan keyakinan sendiri, atau sebaliknya, untuk menjaga keyakinan kita harus memusuhi orang lain. Keduanya keliru. Rasulullah ﷺ menunjukkan keduanya bisa hidup bersama dalam satu dada: akidah yang tidak bergeser sekaligus akhlak yang tidak melukai.
Sisi kedua: musuh sejati kerukunan adalah kesewenang-wenangan, bukan sekadar perbedaan. Perbedaan agama, suku, dan pandangan sudah menjadi sunnah kehidupan sejak dahulu, dan Allah membiarkannya tetap ada. Yang membuat masyarakat retak bukanlah keberadaan perbedaan itu, melainkan hadirnya tangan yang menindas dan lidah yang merendahkan. Maka fokus dakwah kita bukan menyeragamkan manusia, melainkan mengikis kezaliman — di mana pun ia bersembunyi, termasuk di dalam diri dan kelompok kita sendiri.
Sisi ketiga: cermin harus lebih dulu kita hadapkan ke wajah sendiri. Mudah sekali kita geram pada pemukul perempuan di negeri seberang, sementara kita lupa pada prasangka yang kita simpan terhadap tetangga yang berbeda, atau pada nada meremehkan yang kita lontarkan di grup percakapan. Iman yang sehat membuat kita cepat introspeksi dan lambat menghakimi. Semoga Allah menjadikan kita umat yang teguh imannya, lapang hatinya, dan adil sikapnya kepada seluruh makhluk.
Dan hendaklah kita ingat, hadirin, bahwa dakwah yang paling menyentuh bukanlah dakwah yang paling nyaring, melainkan dakwah yang paling indah akhlaknya. Betapa banyak orang tertarik pada Islam bukan karena argumen yang memenangkan perdebatan, melainkan karena menyaksikan seorang muslim yang jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, dan lembut kepada tetangganya. Sebaliknya, betapa banyak yang menjauh bukan karena membenci ajarannya, melainkan karena terluka oleh sikap sebagian pemeluknya. Maka tanggung jawab kita besar: setiap sikap kita kepada orang yang berbeda sedang menulis kesan tentang agama ini di hati mereka. Jadikanlah kesan itu kesan yang memuliakan, bukan yang menjauhkan.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan memperbanyak doa, memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat.