Ketika dunia sibuk memperdebatkan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang layak dibentak "kembali ke tempatmu", ada satu potret tentang seorang pemimpin yang justru rela merendah untuk seorang perempuan tak dikenal. Kisah ini dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم, bab yang khusus mengumpulkan riwayat-riwayat tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ.
Siang itu Madinah berdebu. Matahari menggantung tinggi, dan jalan-jalan kota dipenuhi orang yang lalu-lalang. Di salah satu sudutnya, orang paling mulia di seluruh kota itu berjalan — Rasulullah ﷺ. Ke mana pun beliau melangkah, mata orang mengikuti. Beliau pemimpin Madinah. Kalau beliau mau, seluruh kota akan berhenti untuknya.
Lalu datanglah seorang perempuan. Riwayat menyebut ia dari kalangan Anshar, dan dalam satu riwayat ia membawa serta anaknya. Ia bukan bangsawan. Ia bukan tokoh. Ia hanya seorang perempuan biasa dengan sebuah keperluan di hatinya.
Ia mendekat, lalu berkata terus terang.
إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً
"Aku punya satu keperluan denganmu."
Kalimat itu sederhana. Tidak ada basa-basi, tidak ada gelar panjang. Hanya seorang manusia kecil yang datang kepada manusia besar. Dan bayangkan — di zaman mana pun, betapa mudah bagi orang sebesar itu untuk berkata, "nanti saja", atau "temui saja orang lain", atau sekadar mengangguk sambil terus berjalan.
Tetapi Rasulullah ﷺ tidak melakukannya. Beliau berhenti. Beliau menjawab dengan kalimat yang membuat kita tertegun sampai hari ini:
اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
"Duduklah di jalan Madinah mana pun yang engkau mau, aku akan duduk bersamamu."
Perhatikan pilihan katanya. Bukan "datanglah ke rumahku pada waktu tertentu". Bukan "tunggu antrianmu". Beliau menyerahkan pilihan tempat kepada perempuan itu — jalan mana saja yang ia suka. Seakan beliau berkata: keperluanmu cukup penting untuk kudatangi, dan aku tidak keberatan duduk di pinggir jalan mana pun demi mendengarmu.
Dan begitulah yang terjadi. Dalam riwayat yang lain disebutkan, beliau menyendiri bersamanya di salah satu jalan sampai perempuan itu selesai menyampaikan keperluannya. Beliau menjauh dari keramaian — bukan untuk gengsi, melainkan agar tidak ada orang lain yang mendengar urusan perempuan itu selain beliau sendiri. Martabat perempuan itu beliau jaga sampai ke detailnya. Ia datang membawa beban; ia pulang dengan beban yang telah didengar, dan harga dirinya utuh.
Bayangkan pemandangan itu. Di bawah terik Madinah, seorang nabi duduk di tepi jalan berdebu, menekuk lututnya, menyimak seorang perempuan biasa dengan penuh perhatian, seolah tidak ada urusan lain yang lebih penting di dunia saat itu. Tidak ada pengawal yang mengusir. Tidak ada wajah yang memandang rendah. Hanya kesabaran, hanya kelembutan, hanya penghormatan kepada seorang manusia karena ia manusia.
Inilah manusia yang sama, yang di lain waktu memperingatkan umatnya dengan tegas:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ
"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Ibnu Maryam; sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba."
Ia menolak diagungkan melebihi haknya, dan pada saat yang sama ia mengagungkan martabat orang yang paling lemah di hadapannya. Dua sikap itu ternyata satu akar: kerendahan hati yang tulus.
Pelajaran
Yang membuat kisah ini menusuk adalah kontrasnya dengan dunia kita. Kita hidup di zaman ketika orang berebut merasa paling tinggi — sampai ada yang tega memukul perempuan asing di jalan hanya karena ia berbeda. Tetapi manusia paling mulia sepanjang sejarah justru memilih duduk di pinggir jalan demi seorang perempuan yang tak punya nama besar. Tawadhu' beliau bukan kelemahan; ia adalah puncak kekuatan jiwa. Orang yang benar-benar besar tidak perlu merendahkan siapa pun untuk merasa tinggi. Dari sini kita belajar bahwa menghormati martabat manusia — siapa pun ia, apa pun latar belakangnya — adalah bagian dari akhlak nabawi, bukan sekadar sopan santun tambahan. Kalau hari ini kita ingin melawan intoleransi, kita tidak perlu menunggu panggung besar. Cukup mulai dengan meniru beliau: berhenti sejenak, menekuk lutut, dan sungguh-sungguh mendengar orang kecil yang datang kepada kita — tetangga, pekerja, atau siapa pun yang selama ini kita lewati begitu saja.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
313- عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ».
314- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً. فَقَالَ: اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ».
(Bab ini berlanjut dengan riwayat-riwayat lain tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, nomor 315–321.)
