أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ النَّاسَ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, di tengah kabar yang sampai kepada kita tentang seorang muslimah yang dianiaya di negeri jauh sambil dibentak "kembali ke negaramu", ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Bukan tentang mereka yang jauh di sana, melainkan tentang cermin yang jarang kita tengok — yaitu diri kita sendiri.
Mari kita mulai dari satu ayat yang menggetarkan. Allah berfirman tentang diri-Nya:
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ
Artinya: "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiyaa: 23)
Renungkan, saudara-saudara. Hanya Allah yang tidak akan ditanya. Selain Dia — kita semua — akan ditanya. Ditanya tentang apa? Tentang setiap sikap kita, termasuk sikap kita kepada orang yang berbeda. Kita begitu mudah geram membaca berita seorang perempuan dipukul karena identitasnya. Dan kemarahan itu wajar, bahkan tanda hati kita masih hidup. Tapi izinkan saya bertanya pelan: siapa di antara kita yang pekan-pekan ini pernah, entah sadar atau tidak, ikut menyebar kabar buruk tentang satu kelompok tanpa memeriksa kebenarannya? Siapa yang pernah menatap tetangga baru yang beda logat, beda cara berpakaian, beda kampung asal, lalu diam-diam menaruh curiga?
Inilah yang ingin saya ajak kita renungkan. Intoleransi yang besar dan brutal itu tumbuh dari benih yang kecil dan halus: prasangka. Pemukul di jalan itu tidak lahir tiba-tiba; ia dibesarkan oleh bertahun-tahun kabar yang menakut-nakuti tentang "orang-orang seperti mereka". Dan benih yang sama, saudaraku, bisa jadi sedang kita siram tanpa sadar di grup percakapan kita sendiri. Kita mengecam kebencian di layar, sambil sesekali menanamnya di beranda.
Ada kabar lain pekan ini yang seolah tak berkaitan, tetapi sebenarnya satu urat. Seorang tokoh umat mengingatkan bahwa harta hasil kecurangan akan dipikul pelakunya di hari kiamat bila ia tak bertobat. Kenapa ini berkaitan dengan toleransi? Karena keduanya bersumber dari satu penyakit: merasa boleh melampaui hak orang lain. Orang yang berani mengambil hak publik dengan curang, pada dasarnya sedang berkata "aku lebih berhak dari yang lain". Dan orang yang merendahkan pemeluk agama lain juga sedang berkata hal yang sama. Akar keduanya adalah lupa bahwa kita akan ditanya, sementara Allah tidak.
Para ulama terdahulu punya cara menjaga hati mereka tetap lembut. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi menghimpun sebuah munajat seorang ahli ibadah yang layak kita jadikan cermin:
إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي
Artinya: "Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, dan nafsu yang memerintahkan keburukan telah menghalangiku dari kebenaran." Lihatlah, saudara-saudara, ahli ibadah pun tidak sibuk menuding orang lain; ia sibuk memeriksa dirinya. Ia menyebut nafsunya sendiri sebagai penghalang dari kebenaran. Inilah kedewasaan iman yang hilang dari zaman kita: keberanian untuk mencurigai diri sendiri sebelum mencurigai orang lain.
Kalau kita jujur, sebagian dari kita lebih ringan lidahnya mengucap keburukan orang yang berbeda daripada memeriksa niatnya sendiri. Padahal timbangan di akhirat tidak menanyakan seberapa keras kita mengecam kesalahan orang lain; ia menanyakan seberapa bersih tangan dan lisan kita sendiri. Seorang mukmin yang matang tahu bahwa membela yang teraniaya di luar sana dan membersihkan prasangka di dalam hati adalah satu paket, bukan dua pilihan.
Maka sebelum kita pulang malam ini, ada dua-tiga hal kecil yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, buka kembali pesan atau unggahan yang tadi hendak kita sebar tentang suatu kelompok — tahan dulu, tanyakan: benarkah ini, dan apa manfaatnya? Kedua, pilih satu tetangga atau kenalan yang selama ini kita curigai tanpa alasan jelas, lalu sapa ia dengan tulus besok pagi. Ketiga, di setiap kali kita hendak menghakimi orang lain, ganti dengan satu kalimat istighfar untuk diri sendiri. Cermin dulu, saudaraku, baru menunjuk keluar.
Sebagai penutup, marilah kita berdoa.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُنْصِفُ النَّاسَ مِنْ نَفْسِهِ.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
