اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَسْبَغَ مِنْ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dua belas hari lagi, bangsa ini akan memperingati delapan puluh satu tahun kemerdekaannya. Di gang-gang perumahan, umbul-umbul mulai dipasang; di sekolah-sekolah, lomba-lomba mulai disusun; di kantor kelurahan, panitia tujuh belasan mulai rapat. Semua itu wajar, dan tidak ada yang keliru darinya. Tetapi hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan di tengah kesibukan menyiapkan perayaan: sudahkah kita benar-benar mensyukuri kemerdekaan ini sebagai nikmat dari Allah, bukan sekadar merayakannya sebagai hari libur biasa?
Allah berfirman dalam surah Adh-Dhuha:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan." (QS. Ad-Dhuhaa: 11)
Ayat ini turun dalam konteks nikmat pribadi yang diterima Rasulullah ﷺ, namun kandungannya berlaku universal: setiap nikmat yang Allah berikan — kecil maupun besar, pribadi maupun kolektif sebagai satu bangsa — menuntut untuk disebut, diakui, dan disyukuri, bukan didiamkan seolah ia datang dengan sendirinya. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah salah satu nikmat besar itu. Ia bukan sekadar produk kebetulan sejarah, bukan pula semata hasil kecerdikan diplomasi atau keberanian di medan perang — ia, di atas segala usaha manusia itu, adalah nikmat yang Allah izinkan untuk terjadi.
Bayangkan, jamaah sekalian, tiga setengah abad lamanya leluhur kita hidup di tanah sendiri tanpa merasakan tanah itu sebagai milik sendiri. Hasil bumi diangkut paksa. Kerja paksa dibebankan tanpa upah yang layak. Beribadah dipersulit di sebagian wilayah, pendidikan dibatasi, dan suara rakyat kecil jarang didengar. Ketakutan menjadi udara yang dihirup sehari-hari. Kondisi itu, kalau kita renungkan, tidak jauh berbeda dari yang dirasakan kaum muslimin generasi pertama di Makkah sebelum hijrah — hidup di kampung halaman sendiri, tetapi dirundung ketakutan, disiksa karena keyakinan, dan kehilangan rasa aman yang paling mendasar. Maka ketika Allah kemudian membukakan jalan hijrah ke Madinah dan memberi mereka negeri yang aman, para sahabat tidak merayakannya sebagai kemenangan politik semata — mereka menerimanya sebagai nikmat dari Allah yang harus dijaga dan disyukuri.
Tentang nikmat aman inilah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda dalam riwayat yang dihimpun Imam At-Tirmidzi dan dicantumkan dalam Riyad as-Salihin:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا
"Barangsiapa di antara kalian di pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan untuknya dunia seluruhnya." (Riyad as-Salihin 510)
Perhatikan, jamaah, betapa sederhana ukuran kebahagiaan yang disebut Rasulullah ﷺ dalam hadits ini: aman di tempat tinggal, sehat badan, dan cukup makan untuk hari itu. Tiga hal yang hari ini kita nikmati begitu saja, sering tanpa sadar, padahal jutaan manusia di berbagai belahan dunia — termasuk sebagian saudara kita sesama muslim — masih memperjuangkan tiga hal sederhana ini setiap hari. Delapan puluh satu tahun lalu, bangsa ini pun belum memilikinya secara penuh. Rasa aman untuk pulang ke rumah tanpa takut digeledah, untuk berjualan tanpa takut hasil buminya dirampas, untuk beribadah tanpa harus sembunyi — itu semua adalah bagian dari "dunia seluruhnya" yang disebutkan hadits ini, dan itu pula yang direbut kembali oleh perjuangan generasi 1945.
Di sinilah kita perlu mengenang peran ulama dan santri yang sering luput dari catatan sejarah populer. Setelah proklamasi dibacakan, kemerdekaan itu belum sepenuhnya aman — kekuatan asing masih berupaya kembali menguasai negeri ini. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, menyerukan kepada umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan air mata. Seruan itu turut menggerakkan santri dan arek-arek Surabaya dalam pertempuran besar sepuluh November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Bagi para ulama itu, mempertahankan negeri bukan perkara yang terpisah dari agama — keduanya menyatu dalam satu semangat amanah untuk menjaga nikmat aman yang telah Allah berikan agar tidak direbut kembali.
Nikmat aman yang kita bicarakan ini tidak hanya berupa bebas dari penjajah asing. Ia juga berarti aman dari gangguan sesama warga sendiri — aman dari lisan yang menyakiti, aman dari tangan yang berbuat zalim. Bangsa ini terlalu majemuk untuk bertahan tanpa persatuan; ratusan suku, bahasa, dan cara pandang hidup berdampingan di satu wilayah, dan perbedaan itu, jika tidak dijaga dengan akhlak yang baik, bisa menjadi celah perpecahan yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman dari luar. Rasulullah ﷺ mengajarkan ukuran keislaman yang paling mendasar justru berkaitan dengan hal ini. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, ia berkata:
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?' Beliau ﷺ menjawab, 'Yaitu (keislaman) orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.'" (Sahih Muslim 42a)
Sebuah bangsa yang merdeka secara politik, tetapi warganya saling menyakiti lewat lisan dan tangan — di media sosial, di ruang publik, di antara tetangga yang berbeda pandangan — sesungguhnya belum sepenuhnya merdeka dari penjajahan yang lebih halus: penjajahan ego dan permusuhan antar sesama. Persatuan bukan slogan yang cukup diucapkan sekali setahun setiap tanggal 17 Agustus; ia adalah amal harian yang justru diuji setiap kali kita berhadapan dengan perbedaan.
Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, di penghujung khutbah pertama ini, mari kita renungkan bersama satu ayat yang diulang berkali-kali dalam surah Ar-Rahman, sebagai peringatan yang tidak pernah usang bagi setiap generasi:
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahmaan: 77)
Ayat ini mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap generasi: setelah segala nikmat yang Allah berikan — termasuk nikmat aman, nikmat merdeka, nikmat persatuan di tengah keberagaman — nikmat mana yang hendak kita dustakan dengan cara mengabaikannya, tidak mensyukurinya, atau bahkan menyalahgunakannya? Kecintaan kepada tanah air adalah fitrah yang sehat dan dibenarkan syariat, selama ia tidak menggeser kedudukan tauhid sebagai poros utama kehidupan kita. Kemerdekaan yang sejati bukan hanya bebas dari penjajah, melainkan juga bebas untuk sepenuhnya tunduk kepada Allah semata, tanpa terbelenggu oleh berhala-berhala baru berupa kebanggaan kosong, fanatisme buta, atau perpecahan yang mengatasnamakan golongan.
Nikmat aman dan merdeka yang sedang kita bicarakan ini juga bukan nikmat yang berhenti pada generasi 1945. Ia diwariskan, dan warisan itu membawa amanah untuk diteruskan, bukan sekadar dinikmati habis oleh satu generasi. Anak cucu kita kelak akan mewarisi negeri ini dalam kondisi seperti apa, banyak ditentukan oleh bagaimana kita menjaganya hari ini — apakah kita menjaga persatuan atau justru membiarkannya retak karena perbedaan kecil, apakah kita menunaikan amanah kecil di tangan kita atau justru menganggapnya remeh karena tidak ada yang mengawasi. Amanah menjaga negeri, dalam pengertian ini, bukan hanya tugas tentara atau aparat, melainkan tugas setiap rumah tangga, setiap tempat kerja, setiap majelis yang kita hadiri.
Maka izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata menjelang 17 Agustus ini. Pertama, luangkan waktu bersama keluarga untuk menghitung nikmat konkret yang kita nikmati hari ini — rumah yang aman, makanan yang cukup, kebebasan beribadah — dan ucapkan alhamdulillah dengan sadar, bukan sekadar basa-basi. Kedua, jadikan momen 17 Agustus sebagai kesempatan mempererat silaturahmi dengan tetangga yang berbeda suku atau pandangan, bukan ajang membanding-bandingkan siapa yang paling meriah rayakannya. Ketiga, tunaikan amanah kecil yang ada di tangan kita masing-masing — pekerjaan, jabatan RT, kepercayaan yang dititipkan orang lain — sebagai bagian nyata dari menjaga negeri, karena negeri ini dijaga bukan hanya oleh aparat di perbatasan, tetapi juga oleh setiap warga yang jujur di posnya masing-masing. Keempat, jaga lisan dan tangan kita dari menyakiti sesama warga bangsa, terutama di media sosial yang mudah memantik perpecahan. Kelima, kenalkan kepada anak-anak kita bahwa kemerdekaan ini juga diperjuangkan oleh para ulama dan santri, agar mereka tumbuh dengan kebanggaan yang berakar pada iman, bukan sekadar simbol kosong.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur atas nikmat aman dan merdeka ini, dan menjaganya hingga generasi setelah kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita perdalam sedikit lagi apa yang telah kita renungkan bersama tadi. Nikmat aman yang kita bahas bukanlah nikmat yang otomatis abadi begitu diraih sekali. Ia adalah nikmat yang harus terus dijaga, sama seperti kesehatan yang harus terus dirawat, bukan hanya disyukuri sekali lalu diabaikan. Bangsa yang lupa bersyukur, sejarah mengajarkan kita, cenderung kehilangan apa yang pernah dimilikinya — bukan karena Allah mencabutnya secara tiba-tiba, melainkan karena kelalaian manusia sendiri dalam menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya.
Kita juga perlu meluruskan kembali makna cinta tanah air di tengah gegap gempita perayaan yang akan datang. Cinta tanah air yang sehat tidak pernah bertentangan dengan iman — keduanya justru saling menguatkan, selama cinta itu tidak berubah menjadi pengkultusan berlebihan terhadap simbol atau tokoh tertentu yang mengesampingkan kedudukan Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dahulu tidak pernah menempatkan perjuangan itu di atas tauhid — mereka berjuang justru karena tauhid, karena keyakinan bahwa menjaga negeri dari kezaliman adalah bagian dari ibadah kepada Allah semata.
Maka, jamaah yang dirahmati Allah, mari jadikan dua belas hari ke depan ini sebagai persiapan batin menuju 17 Agustus — bukan hanya persiapan lomba dan hiasan, tetapi persiapan hati untuk bersyukur dengan lebih sadar, dan persiapan amal untuk menunaikan amanah menjaga negeri ini dengan lebih sungguh-sungguh.
Marilah kita tundukkan hati, mengangkat tangan, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذِهِ الْبِلَادَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ، وَرُدَّ إِلَيْهِمُ الْأَمْنَ وَالطُّمَأْنِيْنَةَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِحِفْظِ الْأَمْنِ وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ فِيْ هَذَا الْبَلَدِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ، الذَّاكِرِيْنَ لِفَضْلِكَ، الْقَابِلِيْنَ لِمَزِيْدِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمِ الْعُلَمَاءَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ حِفْظِ هَذِهِ الْبِلَادِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
