Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAcara NasionalRabu, 5 Agustus 2026

Kultum — "Merdeka, Bukan Sekadar Hari Libur"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمْنَ نِعْمَةً عُظْمٰى لِعِبَادِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, dua belas hari lagi kita akan merayakan 17 Agustus. Tapi sebelum umbul-umbul dan lomba tujuh belasan itu ramai di sekitar kita, izinkan saya mengajak kita berhenti sejenak malam ini, dan bertanya jujur pada diri sendiri: apakah kita benar-benar bersyukur, atau baru sekadar senang karena libur?

Coba kita bayangkan sebentar. Bagaimana rasanya kalau besok pagi kita bangun, dan negeri ini tiba-tiba dijajah lagi? Tidak bebas ke mana-mana, hasil kerja diambil paksa, bicara saja harus was-was. Ngeri, ya? Justru dari bayangan itu kita bisa mulai benar-benar merasakan nikmat yang sedang kita duduki sekarang, yang selama ini terasa biasa saja karena tidak pernah hilang.

Al-Qur'an menggambarkan bagaimana penghuni surga kelak mengenang kembali ketakutan yang pernah mereka rasakan semasa di dunia, lalu bersuka cita karena Allah telah melepaskan mereka darinya. Allah berfirman:

فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَىٰهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ

"Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka." (QS. At-Tur: 18)

Beberapa ayat berikutnya, Allah menggambarkan mereka mengenang masa lalunya yang penuh kekhawatiran:

فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." (QS. At-Tur: 27)

Perhatikan urutannya, jamaah: mereka bersuka ria dulu — nikmat yang dirasakan sekarang — baru kemudian mengenang azab yang pernah mengancam — ketakutan yang dulu dirasakan. Rasa syukur yang paling dalam sering justru muncul setelah kita mengingat-ingat apa yang pernah tidak kita miliki. Itu sebabnya kakek-nenek kita yang mengalami zaman penjajahan biasanya jauh lebih mudah menangis haru saat mendengar lagu kemerdekaan, dibanding generasi kita yang lahir sudah dalam keadaan aman. Bukan karena mereka lebih cengeng — tapi karena mereka tahu persis apa yang dulu tidak mereka miliki.

Saya punya usul kecil untuk kita semua malam ini: pekan ini, sebelum 17 Agustus tiba, coba luangkan waktu dua puluh menit saja untuk duduk dengan orang tua atau kakek-nenek di rumah, dan tanyakan bagaimana rasanya hidup di zaman yang belum merdeka — atau kalau mereka sudah tidak ada, cari cerita dari buku atau video sejarah yang terpercaya. Bukan untuk sekadar tahu fakta, tapi supaya rasa syukur kita punya alasan yang konkret, bukan sekadar ucapan basa-basi belaka. Cerita semacam ini, kalau kita perhatikan, jauh lebih jarang muncul di keluarga kita dibanding cerita tentang macet atau harga cabai naik — padahal cerita perjuangan itu jauh lebih dekat dengan kehidupan kita daripada yang kita sadari, karena tanpanya, mungkin kita tidak sedang duduk dengan tenang seperti sekarang ini.

Yang kedua, mari kita jaga nikmat aman ini dengan hal paling sederhana yang bisa kita lakukan sendiri: menjaga lisan agar tidak menyulut permusuhan, menjaga tangan agar tidak berbuat zalim kepada tetangga yang berbeda pandangan. Sebab nikmat aman yang paling mudah rusak justru bukan oleh musuh dari luar, tapi oleh kita sendiri yang lupa saling menjaga.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, bukan hanya saat nikmat itu masih ada, tapi juga sadar penuh sepanjang nikmat itu bersama kita.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا هٰذِهِ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً. أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan