Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah pada siang yang berkah ini kita menata ulang satu pertanyaan yang sering kita hindari karena terasa menusuk: ketika kita sujud, ketika kita mengangkat tangan berdoa, ketika kita menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah — untuk siapa sesungguhnya semua itu kita lakukan? Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Ia adalah pertanyaan setua ibadah itu sendiri. Tetapi ia menemukan bentuk barunya pekan ini, di ruang-ruang digital tempat kita semua, tanpa kecuali, menghabiskan begitu banyak waktu.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyina: 5)
Perhatikan, jamaah sekalian, betapa ringkas dan betapa dalam ayat ini menata urutan sebuah perintah. Allah tidak berfirman "mereka diperintahkan mendirikan shalat dan menunaikan zakat" sebagai kalimat pembuka. Allah mendahulukan "mukhlishina lahud din" — memurnikan ketaatan hanya untuk-Nya — sebelum menyebut shalat dan zakat sebagai wujud lahiriahnya. Ini bukan urutan kebetulan. Ini adalah peta prioritas: keikhlasan adalah ruh, sementara shalat dan zakat adalah jasad. Jasad tanpa ruh hanya akan bergerak sesaat, lalu kaku, lalu ditinggalkan begitu tekanan yang memaksanya bergerak itu hilang.
Kita membawa ayat ini ke tengah pekan yang baru saja kita lalui, karena pekan ini membawa dua kabar yang, jika kita renungkan bersama, sebenarnya berbicara tentang satu hal yang sama.
Kabar pertama datang dalam bentuk sindiran ringan yang beredar luas dan dibaca jutaan pasang mata: sebuah pengamatan jenaka tentang orang-orang yang terlihat tiba-tiba rajin beribadah, tidak lama setelah mereka lepas dari sebuah kebiasaan buruk. Nadanya bukan kebencian. Nadanya lebih dekat ke gemas bercampur geli — semacam "lucu juga ya, manusia itu". Tetapi di balik nada ringan itu, ada pertanyaan yang sesungguhnya cukup serius sedang diajukan oleh masyarakat kita sendiri: apakah ibadah yang muncul setelah kekhilafan itu benar-benar pertobatan, ataukah ia semacam penebusan sesaat — cara jiwa menenangkan rasa bersalahnya sebelum, mungkin, kembali ke pola yang sama?
Kabar kedua datang dalam bentuk yang berbeda tapi menuju arah yang sama: keraguan terbuka tentang nilai ibadah yang membutuhkan biaya besar. Ada yang bertanya, kurang lebih begini bunyinya, kenapa orang-orang rela menghabiskan uang untuk beribadah ke tanah suci, padahal jumlah yang sama bisa dipakai untuk berkeliling dunia dan menikmati kesenangan yang, kata mereka, terasa lebih nyata. Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan tentang uang. Sesungguhnya ia adalah pertanyaan tentang nilai — pertanyaan tentang apa yang membuat sebuah perjalanan spiritual, sejauh apa pun dan semahal apa pun ongkosnya, sepadan dengan yang dikorbankan untuknya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dua kabar ini, bila kita jujur, bukan datang dari orang-orang yang bermaksud jahat kepada agama. Ia datang dari kegelisahan yang wajar, kegelisahan yang bisa hinggap pada siapa saja termasuk kita yang duduk di masjid ini pada hari Jumat. Sebab siapa di antara kita yang berani bersumpah bahwa setiap sujudnya, tanpa kecuali, murni untuk Allah semata, tanpa secuil pun keinginan dilihat baik oleh tetangga, dilihat taat oleh mertua, atau dianggap saleh oleh rekan kerja? Pertanyaan yang muncul di linimasa itu sesungguhnya adalah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada diri kita sendiri jauh lebih sering daripada yang kita lakukan selama ini.
Ada kabar ketiga yang bergerak ke arah berbeda namun tetap dalam wilayah yang sama: ketika agama disentuh sebagai bahan candaan, muncul kemarahan yang cepat dan keras dari banyak orang, menuntut agama diperlakukan dengan hormat dan tidak dipermainkan. Ini menunjukkan sesuatu yang menenangkan hati — bahwa penghormatan terhadap yang suci belum padam dari masyarakat kita. Namun bersanding dengannya, ada pula perdebatan yang jauh lebih tenang, yang mempertanyakan apakah kebaikan akhlak seseorang benar-benar bergantung pada agama yang dianutnya — bahwa orang baik, kata sebagian orang, akan tetap baik meski tanpa agama, dan orang jahat akan tetap jahat meski memiliki agama.
Jamaah yang dimuliakan Allah, empat kabar ini — sindiran tentang ibadah dadakan, keraguan tentang nilai umrah, kemarahan atas candaan agama, dan perdebatan tentang perlunya agama bagi akhlak — sesungguhnya adalah empat wajah dari satu pertanyaan besar yang sama: apa yang membuat keberagamaan seseorang itu nyata, dan bukan sekadar penampilan? Pada pertanyaan itulah khutbah ini akan berhenti dan merenung bersama jamaah sekalian.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ibadah adalah sekumpulan gerakan tanpa jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
"Islam dibangun di atas lima (pilar): bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ﷺ, menunaikan salat, membayar zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan." (Sahih al-Bukhari 8)
Perhatikan kata "dibangun", jamaah sekalian — bukan "dikumpulkan" atau "ditumpuk". Sebuah bangunan punya fondasi, punya tiang, punya susunan yang bertingkat, dan yang paling menopang seluruhnya adalah fondasi yang tidak terlihat: syahadat, yaitu pengakuan tauhid dari hati sebelum diucapkan lisan. Shalat, zakat, puasa, dan haji adalah tiang-tiang yang berdiri di atas fondasi itu. Kalau fondasinya keropos — kalau syahadat hanya kata yang diucapkan tanpa keyakinan yang menghunjam — maka tiang-tiang di atasnya, sekokoh apa pun kelihatannya dari luar, sesungguhnya sedang berdiri di atas tanah yang rapuh.
Inilah jawaban pertama kita untuk pertanyaan tentang umrah dan haji yang beredar pekan ini. Haji bukan pilihan wisata alternatif yang bisa dibandingkan untung-ruginya dengan liburan keliling dunia, karena keduanya tidak berada dalam kategori yang sama. Liburan mencari kesenangan diri. Haji adalah pemenuhan salah satu tiang bangunan yang menopang seluruh identitas keislaman seseorang — sebuah perjalanan yang di dalamnya seorang hamba melepaskan pakaian keseharian, melepaskan status sosial, melepaskan kenyamanan, semata untuk berdiri kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Nilainya tidak diukur dari kesenangan yang didapat, karena memang bukan itu yang dicari. Ia diukur dari sejauh mana perjalanan itu berhasil menundukkan hati yang keras dan membangunkan kesadaran yang tertidur.
Tetapi, jamaah sekalian, bangunan yang sama juga mengajarkan kita hal kedua yang lebih menusuk: kelima tiang itu bisa saja tegak berdiri, terlihat sempurna dari luar, sementara fondasinya justru sedang retak diam-diam. Berapa banyak orang menunaikan shalat lima waktu dengan gerakan yang benar tapi hati yang melayang ke mana-mana? Berapa banyak orang menunaikan haji dan pulang dengan gelar yang disandang bangga, namun akhlaknya tidak berubah setitik pun? Ini bukan tuduhan kepada siapa pun secara khusus. Ini adalah cermin yang Islam sodorkan kepada setiap kita, termasuk khatib yang berdiri di mimbar ini.
Untuk memahami di mana letak fondasi yang sesungguhnya, mari kita dengarkan apa yang diajarkan dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim tentang husnu an-niyyah, keindahan niat, yang meskipun aslinya berbicara tentang niat menuntut ilmu, prinsipnya berlaku untuk seluruh amal seorang hamba:
حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة، وتنوير قلبه وتحلية باطنه والقرب من الله تعالى يوم القيامة
Dijelaskan bahwa niat yang baik dalam menuntut ilmu adalah dengan meniatkannya untuk wajah Allah semata, untuk mengamalkannya, untuk menghidupkan syariat, untuk menerangi hati dan memperindah batin, serta untuk mendekat kepada Allah pada hari Kiamat — bukan untuk mengejar kedudukan, gengsi, atau harta dunia. Bahkan Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, salah seorang ulama besar generasi tabi'in, mengaku dengan jujur:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي
"Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku sendiri."
Camkan baik-baik ucapan ini, jamaah sekalian. Yang berkata demikian bukan orang awam yang baru belajar agama. Ini seorang ulama besar, seorang yang namanya dikenal sepanjang sejarah keilmuan Islam, dan ia mengakui bahwa perkara paling berat dalam hidupnya bukan menghafal dalil, bukan berdebat dengan ahli bid'ah, bukan menahan lapar saat puasa — melainkan menjaga niatnya sendiri tetap murni. Kalau seorang Sufyan ats-Tsauri saja mengaku niat adalah pekerjaan seumur hidup yang tidak pernah selesai, bagaimana mungkin kita, yang ilmu dan mujahadahnya jauh di bawah beliau, merasa aman dan yakin bahwa niat kita sudah otomatis lurus tanpa perlu diperiksa ulang setiap hari?
Di sinilah letak jawaban untuk sindiran tentang "ibadah dadakan" yang viral pekan ini. Islam sama sekali tidak mengajarkan kita untuk mencurigai setiap orang yang baru kembali kepada ibadah setelah tergelincir. Justru sebaliknya — pintu tobat selalu terbuka, dan siapa pun yang kembali kepada Allah, kapan pun momennya, disambut dengan rahmat, bukan dengan sinisme. Yang perlu kita jaga bukan kecurigaan kepada orang lain, melainkan kejujuran pada diri sendiri: apakah kembalinya kita kepada ibadah adalah awal dari perjalanan yang menetap, ataukah ia hanya jeda sesaat sebelum kita kembali ke pola lama begitu rasa bersalah itu mereda? Yang membedakan keduanya bukan seberapa dramatis momen kembalinya, melainkan seberapa konsisten langkah-langkah kecil sesudahnya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita bawa perenungan ini satu lapis lebih dalam, kepada pondasi yang menopang seluruh bangunan tadi: aqidah itu sendiri. Perdebatan yang muncul pekan ini, tentang apakah agama benar-benar diperlukan untuk seseorang menjadi baik, sesungguhnya adalah pertanyaan lama yang telah dijawab tuntas oleh para ulama sejak abad-abad silam, meski ia terasa baru setiap kali muncul kembali di generasi yang berbeda. Dalam kitab 'Aqidat al-'Awam, kitab yang mengajarkan dasar-dasar tauhid kepada masyarakat umum, dibuka dengan bait:
أَبْـدَأُ بِاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْمٰنِ ۩ وَبِالـرَّحِيْمِ دَائِمِ الْإِحْسَانِ
فَالْـحَـمْـدُ لِلهِ الْـقَدِيْمِ الْأَوَّلِ ۩ الْآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلَا تَـحَـوُّلِ
"Aku memulai dengan menyebut nama Allah dan ar-Rahman, serta ar-Rahim yang senantiasa berbuat ihsan. Maka segala puji bagi Allah Yang Maha Qadim, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Kekal tanpa berubah." ('Aqidat al-'Awam — بيت 1-5)
Kenapa sebuah kitab pengajaran dasar untuk masyarakat awam justru dibuka bukan dengan daftar perbuatan baik yang harus dilakukan, melainkan dengan penetapan siapa Allah? Karena akhlak yang baik tanpa mengenal kepada siapa akhlak itu dipersembahkan hanya akan menjadi kebaikan yang mengambang, kebaikan yang berubah-ubah mengikuti selera zaman, mengikuti apa yang dianggap "baik" oleh mayoritas hari itu. Betul, jamaah sekalian, bahwa banyak orang tanpa agama bisa berlaku baik — jujur dalam berdagang, menyayangi keluarganya, menolong tetangganya. Islam tidak pernah menutup mata dari kenyataan ini. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam bukan "bisakah orang baik tanpa agama", melainkan "apa yang menjamin kebaikan itu tetap berdiri ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak menguntungkan, ketika seluruh dunia mengatakan sebaliknya adalah benar?" Bagi seorang mukmin, jawabannya jelas: karena kebaikan itu berakar pada keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat, bukan pada kesepakatan sosial yang bisa berubah kapan saja.
Inilah sebabnya kemarahan yang meletup ketika agama dijadikan bahan candaan, meski wajar sebagai naluri membela yang dicintai, perlu kita salurkan dengan bijak. Marah karena mencintai agama adalah fitrah yang sehat. Tetapi cara terbaik menjaga kehormatan aqidah bukanlah dengan kemarahan yang meledak di kolom komentar, melainkan dengan pemahaman aqidah yang begitu kokoh sehingga candaan sekeras apa pun tidak sanggup menggoyahkan keyakinan kita, dan sebaliknya, kita mampu menjelaskan dengan tenang mengapa yang disentuh itu adalah sesuatu yang suci.
Allah Ta'ala menutup gambaran orang-orang yang bertakwa dengan susunan yang lengkap, sebagaimana firman-Nya:
ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al-Baqara: 3)
Perhatikan tiga unsur yang disebutkan berurutan dalam ayat ini, jamaah sekalian: iman kepada yang ghaib — inilah aqidah, keyakinan hati; mendirikan shalat — inilah ibadah ritual, hubungan vertikal dengan Allah; dan menafkahkan rezeki — inilah amal sosial, hubungan horizontal dengan sesama manusia. Ketiganya disebut dalam satu tarikan napas, tidak dipisah, tidak dipertentangkan satu sama lain. Islam tidak pernah mengajarkan iman tanpa amal, dan tidak pernah pula mengajarkan amal sosial yang berdiri sendiri tanpa akar keyakinan. Inilah jawaban paling utuh untuk perdebatan tentang perlunya agama bagi akhlak: bukan karena orang tanpa agama mustahil berbuat baik, melainkan karena Islam menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kebaikan yang berdiri sendiri — ia menawarkan kebaikan yang berakar pada keyakinan, disirami oleh ibadah, dan berbuah dalam kepedulian sosial yang konsisten meski musim berganti.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari seluruh perenungan ini, izinkan khatib mengajak jamaah sekalian kepada beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai sejak pekan ini juga.
Pertama, biasakan sejenak muhasabah niat sebelum menjalankan ibadah besar — sebelum berangkat umrah, sebelum menyumbang dalam jumlah besar, sebelum menerima pujian atas kebaikan yang kita lakukan. Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur, karena Allah pun ingin sekali kejujuran itu.
Kedua, jaga konsistensi ibadah kecil harian kita, bukan hanya semangat sesaat yang menyala setelah sebuah kejadian mengguncang hati. Shalat lima waktu yang dijaga setiap hari jauh lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada semangat ibadah yang meledak-ledak sepekan lalu kemudian padam.
Ketiga, ketika mendapati agama disentuh sebagai bahan candaan, latih diri merespons dengan penjelasan yang tenang dan berwibawa, bukan amarah yang justru menampilkan Islam sebagai agama yang mudah tersulut, padahal Islam mengajarkan kesabaran dan hikmah.
Keempat, mulai atau lanjutkan kebiasaan mengajarkan dasar-dasar aqidah kepada anak-anak dan anggota keluarga kita secara rutin, dengan bahasa yang hangat, bukan hafalan yang menakutkan, agar fondasi keimanan mereka kokoh sebelum arus keraguan digital sempat menyentuhnya.
Kelima, jaga ibadah-ibadah yang tidak terlihat orang lain — shalat malam yang sunyi, dzikir yang diucapkan sendirian, sedekah yang dirahasiakan — karena di situlah cermin paling jujur tentang untuk siapa sesungguhnya kita beribadah.
Keenam, jangan mudah menghakimi orang lain yang ibadahnya terlihat baru mekar setelah masa kelamnya. Sambut mereka dengan hangat, karena bisa jadi mereka sedang berjuang lebih keras daripada yang kita bayangkan, dan boleh jadi husnuzhan kita kepada mereka adalah bagian dari dakwah yang paling bekas.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Marilah kita perdalam sekali lagi satu hal yang telah kita bicarakan pada khutbah pertama: bahwa niat bukan sesuatu yang cukup diluruskan sekali lalu selesai untuk selamanya. Sufyan ats-Tsauri, yang ilmunya sudah diakui sepanjang zaman, mengaku niatnya adalah perkara yang paling berat ia obati sepanjang hidupnya. Maka bagi kita yang masih jauh dari ketinggian ilmu beliau, memeriksa niat bukan pekerjaan yang dilakukan sesekali saat hendak berangkat haji atau menyumbang dalam jumlah besar. Ia adalah pekerjaan harian, seperti wudhu yang harus diperbarui setiap kali batal, seperti nafas yang harus ditarik lagi setiap kali habis.
Kita juga perlu merenungkan sekali lagi bagaimana seharusnya kita menjaga kehormatan aqidah di ruang publik yang kian ramai dan kian mudah tersulut. Kemarahan yang lahir dari cinta kepada agama adalah fitrah yang baik, namun cinta yang baik perlu dipandu oleh ilmu agar penyalurannya tidak justru menampilkan wajah Islam yang keras dan gampang emosi. Jamaah sekalian, seringkali pembelaan yang paling berbekas bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling tenang penjelasannya, sebab ketenangan itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa keyakinan kita berdiri di atas fondasi yang kokoh, tidak goyah oleh candaan siapa pun.
Rumah kita, jamaah sekalian, adalah benteng pertama sebelum anak-anak kita berhadapan dengan berbagai keraguan yang beredar di layar telepon mereka. Sebuah bangunan aqidah yang dipelajari sejak kecil dengan bahasa yang hangat dan penuh kasih akan jauh lebih kokoh menghadapi gelombang keraguan, dibandingkan aqidah yang baru diperkenalkan tergesa-gesa setelah keraguan itu lebih dulu singgah di hati mereka. Maka menyisihkan waktu mengobrol tentang keimanan bersama anak-anak, sesederhana apa pun obrolannya, adalah investasi yang nilainya baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian.
Pada akhirnya, jamaah yang dimuliakan Allah, seluruh perenungan hari ini kembali kepada satu kesadaran yang sederhana namun berat untuk terus dijaga: bahwa kita beribadah bukan untuk dilihat baik oleh sesama manusia, betapapun menyenangkannya pujian itu, melainkan untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Semoga Allah memampukan kita menjaga kejujuran itu, di setiap sujud yang tidak terlihat siapa pun kecuali Dia.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَأَخْلِصْ نِيَّاتِنَا فِيْ عِبَادَتِنَا لَكَ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ خَالِصَةً مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالظُّلْمَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقٰى، وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَحَصِّنْ عَقِيْدَةَ أَبْنَائِنَا مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تَعْرِضُ لَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِدِيْنِنَا سُوْءًا فَاشْغَلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِيْ نَحْرِهِ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِيْ الدَّعْوَةِ إِلَيْكَ وَالرِّفْقَ فِيْ بَيَانِ الْحَقِّ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
