Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsAqidah & IbadahKamis, 6 Agustus 2026

Kisah Pendek — "Dzikir Terakhir Sebelum Beliau ﷺ Terlelap"

Kalau ibadah yang dilihat orang saja bisa dicurigai ketulusannya, bagaimana dengan ibadah yang benar-benar tidak dilihat siapa pun — tepat sebelum seseorang tertidur, ketika tidak ada lagi yang menonton? Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang sifat tidur Rasulullah ﷺ menghimpun beberapa riwayat kecil tentang malam-malam Nabi ﷺ, dari saat beliau merebahkan tubuh sampai saat beliau bangun kembali.

Malam di Madinah turun pelan-pelan. Rumah kecil itu sudah gelap, hanya suara angin dan derap unta dari kejauhan. Rasulullah ﷺ merapatkan kedua telapak tangannya, lalu meniupkan napas ke dalamnya. Beliau membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas ke telapak yang menangkup itu.

Setelah itu, beliau mengusapkan kedua telapak tangan ke tubuhnya sendiri — dimulai dari kepala, wajah, lalu bagian depan tubuh yang terjangkau. Diulang tiga kali. Tidak ada yang menyaksikan selain 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istrinya, yang kelak menceritakan kebiasaan ini kepada orang-orang.

Beliau lalu berbaring. Telapak tangan kanan diselipkan di bawah pipi kanan. Bibirnya bergerak pelan, mengucap doa yang tidak ditujukan untuk siapa pun mendengar:

رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

"Ya Tuhanku, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu."

Ada riwayat lain yang menyebut doa itu sedikit berbeda bunyi penutupnya — "pada hari Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu" — tapi maknanya sama: seorang yang akan tertidur, sendirian, memikirkan hari ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali.

Pada malam yang lain, Hudzaifah radhiyallahu 'anhu menceritakan kebiasaan yang serupa namun kalimatnya berbeda. Setiap kali Rasulullah ﷺ hendak merebahkan diri, beliau berucap singkat:

بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

"Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup."

Kalimat itu pendek saja, hanya lima kata dalam bahasa Arab. Tapi coba dengarkan artinya baik-baik: setiap kali beliau tertidur, beliau menyebutnya sebagai kematian kecil. Tidur bukan sekadar istirahat bagi beliau — ia adalah latihan menyerah kepada Allah setiap malam, tanpa jaminan bisa membuka mata lagi esok pagi.

Dan ketika Rasulullah ﷺ terbangun, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan keluhan tentang kurang tidur, bukan pula rencana hari itu. Beliau mengucap:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami kembali dibangkitkan."

Malam-malam Rasulullah ﷺ tidak selalu tenang seperti yang dibayangkan orang. Suatu malam, tidurnya begitu lelap sampai terdengar dengkuran halus. Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu, yang kebetulan berada di dekat beliau malam itu, mendengarnya sendiri. Nafas Rasulullah ﷺ naik turun teratur, tanda tidur yang dalam, sampai kemudian dari luar terdengar suara Bilal radhiyallahu 'anhu memanggil, mengabarkan bahwa waktu shalat sudah tiba.

Rasulullah ﷺ bangkit. Tidak ada suara gerutu karena dibangunkan. Beliau bangkit, lalu langsung berdiri untuk shalat — tanpa berwudhu ulang. Ini bukan kelalaian. Ini adalah satu keistimewaan yang hanya dimiliki beliau seorang: tidurnya tidak membatalkan wudhunya, sebab hatinya, kata para ulama, tidak pernah benar-benar "tidur" seperti hati manusia lain. Matanya terpejam, tapi kesadarannya kepada Allah tidak ikut terpejam.

Sebelum malam itu ditutup dengan tidur, ada satu ucapan lagi yang biasa beliau lafalkan, sebagaimana diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, mencukupi kami, dan memberi kami tempat berlindung — betapa banyak orang yang tidak punya siapa pun yang mencukupinya dan tidak punya tempat berlindung."

Bahkan di rumahnya sendiri, dengan atap yang sederhana, Rasulullah ﷺ masih menyisihkan pikirannya untuk orang-orang yang malam itu tidak punya atap sama sekali.

Kebiasaan menjaga waktu ini juga terbawa ketika beliau bepergian. Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa jika Rasulullah ﷺ berhenti untuk beristirahat di tengah malam dalam perjalanan, beliau berbaring miring ke sisi kanan. Namun jika beliau baru berhenti istirahat menjelang subuh — waktu yang tersisa untuk tidur sudah sedikit — beliau hanya menegakkan lengannya dan menyandarkan kepala di atas telapak tangan, sebentar saja, sekadar cukup untuk tidak kehilangan kesadaran sebelum bangun shalat Subuh.

Pelajaran

Yang membuat malam-malam Rasulullah ﷺ istimewa bukan karena penuh dengan ibadah yang panjang dan berat — justru sebaliknya, yang direkam di sini hanya kalimat-kalimat pendek dan kebiasaan-kebiasaan kecil: telapak tangan yang ditiup lalu diusap ke tubuh, doa lima kata sebelum mata terpejam, pujian singkat begitu mata terbuka lagi. Tidak ada yang menyaksikan sebagian besar dari kebiasaan ini selain istri beliau sendiri, dan sebagian lagi tidak disaksikan siapa pun kecuali Allah. Di situlah letak ketulusannya — ibadah yang tidak dirancang untuk dilihat, karena memang tidak ada yang akan melihatnya. Kebiasaan mengucap dzikir sebelum tidur dan begitu bangun ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu perlu momen besar; ia bisa dijaga di celah paling sunyi dalam hari kita, tepat sebelum lampu dimatikan dan tepat setelah mata terbuka kembali, saat tidak seorang pun sedang menilai kita selain Dia.

Sumber Asli

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 38- باب ما جاء في صفة نوم برسول الله صلى الله عليه وسلم

حدثنا محمد بن المثنى. حدثنا عبد الرحمن بن مهدي. حدثنا اسرائيل عن أبي إسحاق عن عبد الله بن يزيد عن البراء بن عازب: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أخذ مضجعه وضع كفه اليمنى تحت خده الأيمن وقال: رب قني عذابك يوم تبعث عبادك» . حدثنا محمد بن المثنى حدثنا عبد الرحمن حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن أبي عبيدة عن عبد الله مثله وقال: يوم تجمع عبادك.

حدثنا محمود بن غيلان. حدثنا عبد الرزاق. حدثنا سفيان عن عبد الملك بن عمير عن ربعي بن حراش عن حذيفة قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أوى إلى فراشه قال اللهم باسمك أموت وأحيا، وإذا استيقظ قال الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور» .

حدثنا قتيبة بن سعيد. حدثنا المفضل بن فضالة عن عقيل، أراه عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أوى إلى فراشه كل ليلة جمع كفيه فنفث فيهما وقرأ فيهما قل هو الله أحد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس ثم مسح بهما ما استطاع من جسده يبدأ بهما رأسه ووجهه وما أقبل من جسده، يصنع ذلك ثلاث مرات» .

حدثنا محمد بن بشار. حدثنا عبد الرحمن بن مهدي. حدثنا سفيان عن سلمة بن كهيل عن كريب. عن ابن عباس: «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نام حتى نفخ وكان إذا نام نفخ فأتاه بلال فآذنه بالصلاة فقام وصلى ولم يتوضأ» وفي الحديث قصة.

حدثنا إسحاق بن منصور. حدثنا عفان. حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس بن مالك: «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا أوى إلى فراشه قال: الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وكفانا وآوانا. فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي» .

حدثنا الحسين بن محمد الحريري. حدثنا سليمان بن حرب حدثنا حماد بن سلمة عن حميد عن بكر بن عبد الله المزني عن عبد الله بن رباح عن أبي قتادة: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا عرّس بليل اضطجع على شقه الأيمن، وإذا عرّس قبيل الصّبح نصب ذراعه ووضع رأسه على كفه» .

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan