Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAqidah & IbadahKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Ibadah yang Menetap, Bukan Numpang Lewat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai sekali orang membicarakan satu hal yang kelihatannya receh tapi sebenarnya dalam: kenapa ya, ada orang yang baru saja lepas dari kebiasaan buruknya, tiba-tiba jadi rajin sekali ibadahnya. Ada yang bilang gemas, ada yang bilang lucu, ada yang cuma senyum-senyum sendiri baca ceritanya. Malam ini saya tidak mau kita sibuk menilai orang lain dalam cerita itu. Saya justru mau kita tanya jujur ke diri sendiri.

Coba kita lihat malaikat sebentar. Dalam kitab 'Aqidat al-'Awam disebutkan sifat mereka:

وَالْمَلَكُ الَّذِيْ بِلَا أَبٍ وَأُمّْ، لَا أَكْلَ لَا شُرْبَ وَلَا نَوْمَ لَهُمْ

"Dan malaikat — yang tercipta tanpa ayah dan ibu — tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur." ('Aqidat al-'Awam — بيت 21-25)

Ibadah malaikat itu lurus terus, tidak pernah bolong, tidak pernah naik-turun semangatnya. Kenapa? Karena mereka tidak punya nafsu yang menarik-narik, tidak punya rasa malas, tidak punya rasa bosan. Kita? Beda cerita, jamaah. Kita diciptakan justru dengan nafsu itu, dengan rasa malas itu, dengan godaan yang naik-turun itu. Jadi ibadah kita, secara alami, memang akan naik-turun. Yang jadi soal bukan naik-turunnya — itu manusiawi — tapi apakah setelah turun, kita punya niat sungguh-sungguh untuk naik lagi, atau kita cuma menunggu sampai ada dorongan dari luar seperti rasa bersalah sesaat.

Ada lagi kabar yang sampai ke kita pekan ini, tentang keraguan orang soal manfaat ibadah yang menghabiskan biaya besar — kenapa harus jauh-jauh dan mahal-mahal beribadah, kalau uangnya bisa dipakai untuk kesenangan yang lebih terasa. Saya paham kenapa pertanyaan itu muncul. Karena dari luar, ibadah memang kelihatan seperti pengeluaran tanpa hasil yang bisa dipegang. Tapi coba kita balik pertanyaannya: kesenangan yang "lebih terasa" itu, terasa sampai kapan? Sampai foto di galeri hp penuh, lalu apa lagi? Ibadah punya rasa yang berbeda — ia tidak selalu "terasa" di saat itu juga, tapi ia menetap, mengendap, dan pelan-pelan mengubah cara kita memandang hidup.

Dalam kitab Nashaihul Ibad, ada munajat seorang ahli ibadah yang jujur sekali isinya, dan saya kira banyak dari kita akan merasa "ini gue banget" saat mendengarnya:

إِلَهِي طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِيْ، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِيْ، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِيْ، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِيْ، وَقَرِيْنُ السُّوْءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِيْ، فَأَغِثْنِيْ يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِيْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَرْحَمُنِيْ غَيْرُكَ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku dalam kemaksiatan. Maka tolonglah aku, wahai sebaik-baik penolong bagi yang meminta pertolongan, karena jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau." (Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3))

Dengarkan baik-baik, jamaah. Yang bermunajat seperti ini bukan orang jauh dari agama. Ini disebut sebagai ahli ibadah — orang yang sudah rajin, sudah tekun — tapi tetap jujur mengakui bahwa angan-angan panjang, cinta dunia, godaan setan, dan nafsu masih bisa menariknya sewaktu-waktu. Kalau seorang ahli ibadah saja masih bermunajat sejujur ini, maka wajar kalau kita yang ibadahnya naik-turun juga masih terus bergumul dengan hal yang sama. Bedanya cuma satu: apakah kita mau sejujur itu mengakuinya di hadapan Allah, atau kita sibuk menjaga citra bahwa kita "sudah baik-baik saja".

Allah juga mengingatkan kita, dalam firman-Nya:

وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّٰجِدِينَ

"Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud." (QS. Ash-Shu'araa: 219)

Allah melihat setiap gerak kita saat sujud, bukan hanya melihat hasil akhirnya. Itu artinya, jamaah, Allah tahu persis mana sujud yang khusyuk dan mana yang terburu-buru karena mau cepat pulang. Ini bukan untuk membuat kita takut, tapi untuk membuat kita lega — karena kalau yang menilai ibadah kita hanya Allah yang Maha Tahu isi hati, kita tidak perlu lagi capek-capek menjaga penilaian orang lain tentang seberapa saleh kita kelihatannya.

Maka malam ini, sebelum kita pulang, coba lakukan tiga hal kecil. Pertama, periksa satu ibadah yang belakangan mulai kita lakukan setengah hati, dan niatkan ulang dengan sungguh-sungguh malam ini juga. Kedua, kalau kita sedang dalam masa "baru kembali" seperti yang disindir orang-orang pekan ini, jangan minder — teruskan saja, dan jangan berhenti hanya karena takut dibilang dadakan. Ketiga, kalau ada yang mengejek soal ibadah orang lain, ganti komentar sinis kita dengan doa baik untuknya, karena bisa jadi dia sedang berjuang lebih keras dari yang kita kira.

Ibadah yang menetap itu bukan yang paling ramai dibicarakan orang, jamaah, melainkan yang paling konsisten dijaga walau tidak ada yang menonton. Semoga Allah menjadikan ibadah kita menetap di hati, bukan sekadar numpang lewat.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِيْ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ حَتّٰى نَلْقَاكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan