KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَيْعَ حَلَالًا وَحَرَّمَ الرِّبَا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ فِي كُلِّ مِيزَانٍ وَمُعَامَلَةٍ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ كُلَّ دِرْهَمٍ فِي أَيْدِيكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْهُ يَوْمَ تَقُومُ الْأَشْهَادُ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah pada kesempatan yang mulia ini kita menundukkan hati untuk mendengar satu ayat pendek yang Allah letakkan di tengah kisah Nabi Syu'aib 'alaihissalam kepada kaumnya, penduduk Madyan, yang dikenal piawai berdagang tetapi curang dalam menimbang. Allah berfirman:
وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ
"Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus." (QS. Ash-Shu'araa: 182)
Ayat ini turun di tengah kisah panjang tentang sebuah kaum yang binasa bukan karena kekurangan harta, melainkan karena mempermainkan neraca. Allah mengutus Nabi Syu'aib 'alaihissalam kepada penduduk Madyan, pedagang-pedagang ulung yang kejujurannya jauh tertinggal dari kepiawaian mereka berniaga. Nabi Syu'aib tidak menegur mereka soal ibadah semata; beliau menegur cara mereka menimbang, cara mereka mengambil hak orang lain lewat neraca yang dicurangi sedikit demi sedikit — sedikit yang, bila dijumlahkan dari ribuan transaksi, menjadi kekayaan besar dan kezaliman yang besar pula. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun bukan sekadar catatan sejarah tentang satu kaum purba. Ia adalah cermin yang terus relevan setiap kali manusia berniaga — dan pekan ini, cermin itu kembali kita hadapi dengan wajah yang lebih modern.
Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, obrolan publik dipenuhi kecemasan tentang harga — harga emas yang terus bergerak, harga bahan bakar, pergerakan indeks saham, serta bayang-bayang kemiskinan dan pengangguran yang menyertainya. Ini bukan obrolan tentang satu peristiwa besar yang mengejutkan; ini obrolan yang lebih dalam dan lebih luas — kegelisahan yang menyebar tipis di banyak rumah tangga, tentang apakah penghasilan bulan ini akan cukup, tentang apakah tabungan yang ada akan tetap bernilai, tentang apakah anak-anak kita akan mendapat pekerjaan yang layak setelah lulus nanti. Jamaah, kegelisahan semacam ini wajar dari makhluk yang diberi akal dan tanggung jawab mengelola rezeki. Tetapi ia juga pintu masuk bagi godaan untuk menghalalkan segala cara — menimbun barang, memainkan harga, atau menipu sedikit demi sedikit karena beralasan "semua orang juga susah."
Berdampingan dengan kecemasan itu, pekan ini juga ramai konten yang membahas seberapa kaya sesungguhnya orang-orang paling kaya di dunia, sementara di sisi lain muncul pertanyaan yang lebih sederhana dari warga biasa: jurusan kuliah apa yang sekarang mudah mendapat pekerjaan. Dua pertanyaan ini, jamaah, sebenarnya berbicara tentang hal yang sama dari dua ujung berbeda — tentang jarak yang terasa semakin lebar antara mereka yang berkecukupan dan mereka yang masih berjuang mencari pijakan. Islam tidak melarang kita menjadi kaya; banyak sahabat Nabi yang berkecukupan dan dermawan. Tetapi Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukan ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah, dan kesempitan rezeki sementara bukan aib yang harus disembunyikan. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana rezeki itu didapat, dan bagaimana rezeki itu dibagikan.
Kabar lain yang sampai kepada kita menyangkut wacana tentang susunan pemerintahan alternatif yang diperbincangkan sejumlah pengamat, serta sorotan media asing terhadap pemimpin negeri kita. Jamaah, saya tidak akan membawa kita masuk ke ranah politik praktis di mimbar ini — itu bukan tempatnya. Tetapi satu hal layak kita renungkan bersama: wacana semacam ini biasanya muncul justru ketika publik merasa perlu membayangkan alternatif, karena yang berjalan sekarang dirasa belum menjawab harapan mereka, khususnya harapan tentang kesejahteraan ekonomi. Ini pengingat bahwa kepercayaan publik terhadap pengelola ekonomi negeri — siapa pun mereka — adalah amanah yang harus terus dijaga lewat hasil nyata, bukan lewat pencitraan semata.
Kabar yang lain lagi menyangkut program bantuan pangan untuk anak-anak sekolah kita, yang pekan ini disorot bersamaan dengan sebuah putusan Mahkamah Konstitusi, sampai pimpinan lembaga yang menjalankannya tampak gerah menanggapi omongan publik. Muncul pula desakan sebagian warganet agar seorang perwira yang kini menduduki posisi sipil dikembalikan ke tugas kemiliteran — sebuah pengingat bahwa publik ingin memastikan setiap pos yang mengurus kepentingan mereka diisi orang yang tepat dan diawasi dengan benar. Jamaah, program bantuan pangan ini lahir dari niat yang sangat baik: memastikan anak-anak bangsa tidak belajar dengan perut kosong. Tetapi niat baik saja tidak cukup; setiap amanah besar, begitu masuk ke ranah pelaksanaan harian, langsung berhadapan dengan pertanyaan paling klasik dalam ekonomi umat — siapa yang memegang kendali, dan apakah kendali itu dijaga dengan cermat sebagaimana mestinya.
Jamaah, sesungguhnya persoalan kepercayaan ini bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Setiap kali sebuah program besar diluncurkan untuk kepentingan rakyat, ia akan selalu diuji oleh dua hal: kualitas niat di awal, dan kualitas pengawasan sepanjang perjalanannya. Niat baik yang tidak diiringi pengawasan yang cermat mudah tergelincir menjadi celah bagi segelintir pihak untuk mengambil keuntungan pribadi. Ini bukan hanya persoalan pemerintah; ini juga persoalan kita sebagai jamaah, sebagai pengurus masjid, sebagai pengelola dana pengajian sekecil apa pun — bahwa niat baik yang kita bawa saat memulai sebuah program harus terus dijaga dengan pengawasan yang jujur, bukan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pertanggungjawaban.
Ada juga kabar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Pekan ini ada yang bercerita mengalami penipuan online untuk pertama kalinya seumur hidup; ada yang menyoroti betapa kecilnya bayaran yang diterima pemain sepak bola kampung dibanding jerih payah mereka; ada pula mahasiswa baru yang mengeluhkan aturan kampus yang membatasi akses mereka ke fasilitas dasar seperti kantin. Jamaah, tiga kabar kecil ini mungkin tidak akan pernah jadi headline utama di mana pun, tetapi ia menggambarkan wajah ekonomi yang sesungguhnya dialami kebanyakan umat: pendapatan yang tipis dan rentan, aturan yang kadang terasa sepihak, dan kepercayaan yang mudah disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ma'asyiral muslimin, dari rangkaian kabar ini kita bisa menarik satu benang yang sama dengan kaum Madyan di zaman Nabi Syu'aib: ekonomi yang terasa berat selalu membuka dua jalan bagi manusia. Jalan pertama adalah jalan curang — menimbang dengan neraca yang dimainkan, mengambil kesempatan dari kesempitan orang lain. Jalan kedua adalah jalan yang Allah perintahkan dalam ayat yang kita baca tadi: tetap menimbang dengan lurus, apa pun kondisi ekonomi di sekitar kita. Izinkan saya mengajak kita menelusuri jalan kedua ini lebih dalam pekan ini, dengan tiga dalil tambahan yang saling menguatkan.
Dalil pertama datang bukan dari ayat atau hadits secara langsung, melainkan dari penjelasan ulama fikih tentang bagaimana Islam menjaga pasar dari kezaliman kolektif — sesuatu yang sangat relevan dengan kecemasan harga yang kita bicarakan tadi.
الترخيص فيه عند الحاجة إليه: على أن التجار إذ ظلموا وتعدوا تعديا فاحشا يضر بالسوق وجب على الحاكم أن يتدخل ويحدد السعر صيانة لحقوق الناس، ومنعا للاحتكار، ودفعا للظلم الواقع عليهم من جشع التجار
Fiqh as-Sunnah — dijelaskan bahwa penetapan harga oleh penguasa dibolehkan ketika benar-benar dibutuhkan: sebab apabila para pedagang berbuat zalim dan melampaui batas secara nyata sehingga merugikan pasar, wajib bagi penguasa turun tangan menetapkan harga demi menjaga hak-hak masyarakat, mencegah praktik penimbunan, dan menolak kezaliman yang menimpa mereka akibat keserakahan sebagian pedagang.
Jamaah, penjelasan ini penting kita pahami dengan jernih: Islam bukan agama yang membiarkan pasar bergerak liar tanpa kendali, dan Islam juga bukan agama yang mendukung intervensi sewenang-wenang. Ada garis yang jelas — intervensi harga hanya dibenarkan ketika ada kezaliman nyata yang merugikan orang banyak, bukan sekadar karena harga naik akibat sebab yang wajar seperti biaya produksi atau permintaan pasar. Ketika kita mendengar harga emas bergerak, harga bahan bakar naik, atau harga kebutuhan pokok melonjak pekan ini, pertanyaan pertama yang harus kita ajukan bukan "siapa yang harus disalahkan" secara membabi buta, melainkan "apakah ada kezaliman nyata di baliknya, atau ini pergerakan pasar yang wajar yang harus kita hadapi dengan sabar dan perencanaan yang baik." Membedakan dua hal ini adalah bagian dari kedewasaan iman kita dalam bermuamalah.
Sebelum kita melangkah ke dalil berikutnya, izinkan saya mengingatkan satu sisi dari kehidupan Rasulullah ﷺ sendiri yang jarang disorot: bahwa sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau adalah seorang pedagang. Sejak muda, penduduk Makkah mengenal beliau dengan gelar Al-Amin — yang dipercaya — karena kejujurannya dalam berdagang begitu terkenal, sampai Khadijah radhiyallahu 'anha, seorang pengusaha kaya di Makkah, memilih mempercayakan barang dagangannya untuk dibawa berniaga ke negeri Syam. Bukan kekuatan fisik, bukan garis keturunan bangsawan, yang membuat orang-orang mempercayakan harta mereka kepada seorang pemuda — melainkan reputasi kejujuran yang dibangun transaksi demi transaksi, tahun demi tahun. Jamaah, inilah yang layak kita renungkan: jauh sebelum risalah kenabian diturunkan, Allah sudah mempersiapkan Rasul-Nya lewat dunia perniagaan, sebuah dunia yang menuntut kejujuran diuji setiap hari, bukan sesekali. Kalau keteladanan tertinggi umat ini dibangun sebagian dari reputasi dagang yang jujur, maka menjaga kejujuran dalam pekerjaan dan usaha kita bukan perkara sepele yang bisa dinomorduakan dari ibadah-ibadah lain — ia adalah salah satu jalan paling nyata untuk meneladani akhlak Nabi kita ﷺ.
Ma'asyiral muslimin, izinkan saya membawa kita mundur empat belas abad, ke masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Beliau dikenal memiliki kebiasaan rutin berkeliling pasar Madinah sendiri, memeriksa langsung takaran dan timbangan para pedagang, memastikan tidak ada kecurangan yang merugikan pembeli. Beliau tidak menunggu laporan sampai ke istananya; beliau turun langsung ke pasar, berbicara langsung dengan pedagang dan pembeli, karena beliau memahami bahwa kezaliman kecil dalam neraca, jika dibiarkan, akan menumpuk menjadi kezaliman besar yang menggerogoti kepercayaan seluruh pasar. Jamaah, perhatikan: seorang kepala negara yang wilayahnya terbentang luas, yang bisa saja hanya duduk menerima laporan, memilih turun sendiri ke pasar. Itulah wajah amanah ekonomi yang sesungguhnya — bukan sekadar membuat aturan di atas kertas, tetapi memastikan aturan itu benar-benar dirasakan di lapangan, oleh pedagang kecil dan pembeli biasa.
Dari sinilah kita masuk ke dalil kedua yang ingin saya bawakan, yang justru bukan berbicara soal hukum pasar, melainkan tentang sikap hati orang yang berakal ketika berhadapan dengan kekayaan dan kemiskinan.
وعن ابن عباس رضي الله عنهما: حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع: الفقر على الغني، والذل على العز، والتواضع على الكبر، والجوع على الشبع، والغم على السرور، والدون على المرتفع، والموت على الحياة.
Nashaihul Ibad — Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh atas tujuh: kefakiran atas kekayaan, kehinaan atas kemuliaan, ketawadhuan atas kesombongan, kelaparan atas kekenyangan, kesedihan atas kesenangan, kerendahan atas ketinggian kedudukan, dan kematian atas kehidupan."
Jamaah, nasihat Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma ini terdengar berat, bahkan mungkin terasa asing bagi telinga zaman kita yang setiap hari disodori konten tentang seberapa kaya orang-orang paling kaya di dunia. Tetapi renungkanlah maksudnya dengan jernih: nasihat ini bukan perintah untuk mencari kemiskinan atau menolak rezeki yang halal. Banyak sahabat Nabi yang kaya dan dermawan, dan Islam menganjurkan kita bekerja keras mencari rezeki. Yang diajarkan di sini adalah sikap hati — seorang yang berakal tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran harga dirinya, sehingga imannya tidak goyah hanya karena melihat orang lain lebih kaya, dan ia juga tidak sombong hanya karena Allah memberinya kelapangan. Pekan ini, ketika konten tentang kekayaan orang-orang superkaya bersanding dengan pertanyaan warga biasa soal susahnya mencari kerja, nasihat ini menjadi penawar yang tepat: ukuran keberhasilan bukan seberapa jauh kita mengejar standar hidup orang lain, melainkan seberapa istiqamah kita menjaga kejujuran dan syukur di posisi kita masing-masing.
Dalil terakhir yang ingin saya bawakan pekan ini datang dari Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Bidayatul Hidayah, yang memakai bahasa perniagaan untuk menjelaskan hubungan antara amal wajib dan amal sunnah — bahasa yang sangat dekat dengan kita yang bergelut dengan dunia usaha.
فالفرض رأس المال، وهو أصل التجارة وبه تحصل النجاة، والنفل هو الربح وبه الفوز بالدرجات
Bidayatul Hidayah — Imam al-Ghazali rahimahullah menjelaskan: "Amal yang fardhu itu ibarat modal pokok (ra'sul mal), yaitu dasar dari perniagaan, dan dengannya diraih keselamatan; sedangkan amal sunnah itu ibarat keuntungan (al-ribh), dan dengannya diraih derajat-derajat yang tinggi."
Jamaah, perumpamaan ini indah dan sangat relevan dengan kita yang setiap hari berpikir tentang modal dan laba dalam usaha kita. Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa dalam neraca akhirat, amal wajib kita — shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, menjaga amanah, menjauhi riba dan penipuan — adalah modal pokok yang harus dijaga dahulu. Tanpa modal pokok ini, tidak ada usaha yang bisa berjalan, apalagi menghasilkan laba. Amal sunnah — sedekah tambahan, shalat malam, dzikir yang panjang — adalah laba yang menambah derajat kita, tetapi ia baru bermakna setelah modal pokok itu aman. Berapa banyak dari kita, jamaah, yang sibuk mengejar "laba" akhirat dalam bentuk amalan-amalan tambahan, sementara "modal pokok" kita sendiri — kejujuran dalam berdagang, ketepatan membayar utang, kejujuran dalam menimbang — justru bocor dan tidak terjaga? Di Indonesia hari ini, di tengah ekonomi yang terasa berat, godaan mengorbankan modal pokok demi laba jangka pendek semakin besar: menunda membayar utang karena "sedang susah", menimbang sedikit lebih ringan karena "semua orang juga begitu", atau menyebarkan klaim ekonomi yang belum jelas kebenarannya karena "biar dilihat banyak orang." Semua ini adalah kebocoran modal pokok yang, jika dibiarkan, akan menggerogoti keselamatan kita sendiri, betapa pun banyak laba tambahan yang kita kumpulkan.
Sebagai catatan tambahan, jamaah, Islam bahkan sudah mengatur kewajiban zakat dari hasil perniagaan itu sendiri — sebuah pengingat bahwa modal usaha yang kita putar setiap hari bukan sepenuhnya hak pribadi kita; ada bagian di dalamnya yang menjadi hak orang-orang yang berhak menerima zakat. Kewajiban ini sering terlewat oleh pelaku usaha kecil yang sibuk memikirkan modal dan laba, padahal justru di sinilah letak keberkahan yang sesungguhnya — bukan pada besarnya laba yang tersisa, melainkan pada bersihnya harta itu dari hak orang lain yang belum ditunaikan.
Jamaah, ada satu keseimbangan lagi yang perlu kita jaga di tengah kecemasan ekonomi ini: keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Islam tidak mengajarkan kita berserah diri secara pasif, menunggu rezeki datang tanpa usaha; Islam juga tidak mengajarkan kita bekerja membabi buta seolah rezeki sepenuhnya ditentukan oleh seberapa keras kita berusaha, tanpa menyisakan tempat bagi takdir Allah. Ikhtiar yang benar adalah bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan cerdas — sementara hati tetap menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah. Ketika hasil usaha kita pekan ini terasa kurang dari yang diharapkan, itu bukan tanda bahwa Allah tidak sayang kepada kita; itu adalah bagian dari ujian yang harus dijawab dengan sabar dan evaluasi diri, bukan dengan jalan pintas yang melanggar neraca kejujuran.
Jamaah, mari kita juga jujur mengakui bahwa sebagian dari kecemasan pekan ini datang bukan dari kekurangan yang nyata, melainkan dari perbandingan yang terus-menerus kita lihat di layar. Ketika kita menyaksikan gaya hidup yang jauh di luar jangkauan kita, sementara di sisi lain mendengar kesulitan orang lain mencari kerja, dua arus informasi ini bisa membuat hati goyah tanpa alasan yang benar-benar berdasar pada kondisi kita sendiri. Cobalah sesekali menutup layar itu, dan bertanya dengan jujur: apakah kecemasan yang kita rasakan ini lahir dari kebutuhan nyata di rumah kita, atau dari bayangan tentang kehidupan orang lain yang belum tentu utuh ceritanya.
Jamaah, ayat dan dalil-dalil yang kita bahas pekan ini juga mengungkap sesuatu tentang sifat dasar manusia: kita cenderung menganggap kecurangan kecil sebagai hal yang bisa dimaafkan, terutama ketika kondisi ekonomi terasa berat. Kita berkata pada diri sendiri, "ini hanya sedikit, tidak akan berpengaruh besar." Tetapi Allah mengajarkan lewat kisah Madyan bahwa kezaliman yang terus-menerus dianggap kecil, pada akhirnya menumpuk menjadi struktur ketidakadilan yang besar dan mengakar dalam masyarakat. Struktur masyarakat yang adil tidak dibangun dari satu keputusan besar, melainkan dari ribuan keputusan kecil yang jujur, yang diulang setiap hari oleh setiap orang yang terlibat dalam perniagaan — pedagang, pembeli, pengelola dana, bahkan penyebar informasi ekonomi di media sosial.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kembali kepada ayat yang kita baca di awal khutbah — "wazinu bil qistasil mustaqim", timbanglah dengan timbangan yang lurus. Perintah ini bukan hanya tentang neraca fisik yang dipakai pedagang di pasar. Ia adalah perintah untuk menimbang segala sesuatu dengan lurus: menimbang kata-kata yang kita sebarkan, menimbang keputusan yang kita ambil ketika ekonomi terasa sempit, menimbang antara modal pokok ibadah kita dan laba tambahan yang kita kejar. Kaum Madyan binasa bukan karena Allah membenci perniagaan mereka, melainkan karena mereka membiarkan neraca mereka dimainkan sedikit demi sedikit sampai menjadi kebiasaan yang mengakar. Semoga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, hanya dengan wajah yang lebih modern.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, dari seluruh yang kita bahas pekan ini, izinkan saya mengajak kita menutup dengan beberapa langkah praktis yang bisa kita bawa pulang. Pertama, periksa satu transaksi yang kita lakukan pekan ini — jual beli, penagihan utang, atau laporan keuangan usaha kecil kita — apakah neracanya benar-benar lurus, atau ada yang kita mainkan sedikit karena merasa kondisi sedang sulit. Kalau ada yang perlu dikoreksi, koreksi hari ini juga, sebelum kebiasaan itu mengakar dan sulit dihentikan. Kedua, sebelum menyebarkan klaim tentang harga, kebijakan, atau kabar ekonomi yang belum jelas sumbernya, tahan sejenak dan pastikan kebenarannya — jangan ikut memperkeruh kecemasan yang sudah cukup berat dipikul jamaah kita. Satu klaim yang kita sebar tanpa verifikasi bisa membuat puluhan orang lain ikut cemas atau ikut mengambil keputusan yang keliru. Ketiga, bagi yang memiliki kelapangan rezeki, alokasikan sebagian untuk membantu tetangga atau kerabat yang usahanya sedang berjuang — bukan dengan menghakimi, melainkan dengan bantuan konkret seperti modal kecil atau sekadar mendengarkan. Bantuan semacam ini tidak harus besar; yang penting konsisten, dan tidak membuat penerimanya merasa direndahkan. Keempat, bagi pelaku usaha kecil, luangkan waktu memastikan hak zakat perdagangan sudah ditunaikan dengan benar — jangan biarkan kesibukan usaha membuat kita lupa bahwa sebagian dari harta itu adalah hak orang lain. Kalau belum pernah menghitungnya, pekan ini adalah waktu yang baik untuk belajar, sekalipun sekadar bertanya kepada yang lebih memahami. Kelima, jadikan kajian rutin di lingkungan kita sebagai tempat membahas fikih muamalah sederhana — cara berdagang yang jujur, cara menghindari riba, cara menetapkan harga yang adil — supaya ilmu ini bukan hanya milik para ustadz, melainkan milik setiap pedagang dan pembeli di pasar kita. Semakin banyak jamaah yang memahami dasar-dasar ini, semakin kuat pula daya tahan ekonomi lingkungan kita terhadap godaan curang. Keenam, luangkan waktu mendoakan para pemimpin dan pengelola program bantuan agar Allah memudahkan mereka menjalankan amanahnya dengan jujur — mengomentari tanpa mendoakan hanya menambah kegaduhan, tanpa mengubah keadaan.
Demikianlah khutbah pertama yang bisa saya sampaikan pekan ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya memperdalam satu hal yang sudah kita bahas: bahwa menimbang dengan lurus bukan hanya soal pasar, melainkan soal bagaimana kita memperlakukan setiap orang yang bergantung pada keputusan kita. Setiap kali kita punya kendali atas sesuatu — sekecil menentukan harga jualan, sebesar mengelola dana bersama — kita sedang memegang neraca yang akan ditanya di hari perhitungan.
Kita hidup di zaman ketika informasi tentang ekonomi bergerak secepat kabar itu disebarkan, kadang lebih cepat daripada kebenarannya bisa diverifikasi. Klaim tentang krisis, tentang kebijakan, tentang siapa yang layak dipercaya, silih berganti muncul di layar kita setiap hari. Jamaah, kejujuran menimbang informasi sama pentingnya dengan kejujuran menimbang barang dagangan — karena kabar yang kita sebarkan, benar atau salah, ikut membentuk keputusan orang lain.
Saya juga ingin mengingatkan, jamaah, bahwa kecemasan ekonomi yang kita rasakan pekan ini bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Rasa cemas boleh hadir sebagai bagian dari naluri manusia, tetapi ia harus disalurkan menjadi usaha yang lebih gigih dan doa yang lebih tulus, bukan menjadi alasan untuk menghalalkan kecurangan atau menyerah pada pesimisme.
Terakhir, mari kita jadikan pekan ini sebagai titik mulai — bukan menunggu ekonomi membaik dahulu sebelum kita jujur, melainkan menjaga kejujuran justru ketika ekonomi terasa berat, karena di situlah nilai sesungguhnya dari iman kita diuji.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ سَكِيْنَتَكَ وَرَحْمَتَكَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَصْلِحْ بِهِمُ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ تِجَارَتِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَنِ الْحَرَامِ وَالرِّبَا وَالظُّلْمِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ الْمِيْزَانَ وَلَا يُخْسِرُوْنَهُ، وَإِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
