Pekan ini, ketika ada yang bercerita soal utang yang menumpuk dan harga-harga yang bikin resah, ada satu detail kecil dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang jarang diangkat orang. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang Tawadhu' Rasulullah ﷺ menghimpun sejumlah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu tentang bagaimana manusia paling mulia di muka bumi menjalani hari-harinya. Salah satu riwayat itu menyimpan sebuah fakta yang, kalau direnungkan, mengubah cara memandang kesempitan rezeki.
Suatu hari di Madinah, seorang lelaki mengetuk pintu rumah kecil itu. Undangan makan. Bukan jamuan mewah — hanya roti gandum kasar dan lemak yang sudah agak berubah baunya karena disimpan terlalu lama. Rasulullah ﷺ datang. Beliau duduk. Beliau makan apa yang dihidangkan, tanpa mengeluh, tanpa mengangkat alis.
Anas bin Malik, pelayan setia yang selalu berada di dekat beliau, memperhatikan ini berkali-kali. Bukan sekali dua kali Rasulullah ﷺ menerima undangan semacam ini. Roti kasar. Lemak yang mulai basi. Makanan yang, kalau ditawarkan kepada kebanyakan pemimpin, akan ditolak dengan sopan, atau bahkan dengan kemarahan.
Tetapi Rasulullah ﷺ bukan pemimpin kebanyakan. Beliau adalah orang yang menaklukkan hati seluruh Jazirah Arab, yang namanya disebut lima kali sehari di setiap sudut yang mengenal Islam, yang para sahabatnya bersedia mati untuknya. Dan beliau makan roti kasar tanpa protes.
Anas mengingat satu detail lain, dari hari-hari yang lebih genting. Ketika pasukan mengepung Bani Quraizhah, Rasulullah ﷺ tidak menaiki kuda perang yang gagah.
وكان يوم بني قريظة على حمار مخطوم بحبل من ليف وعليه إكاف من ليف
"Pada hari [pengepungan] Bani Quraizhah, beliau menaiki seekor keledai — tali kendalinya dari sabut kasar, dan pelananya juga dari sabut." Bukan emas. Bukan sutra. Sabut.
Tapi detail yang paling menohok datang dari sebuah kalimat pendek yang Anas sampaikan, hampir seperti catatan pinggir yang mudah terlewat begitu saja.
