Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Ribut Soal Receh, Diam Soal Gunung"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini lini masa kita penuh dengan video warga menghakimi pelaku kejahatan kecil di tempat, viral dalam hitungan jam — sementara kabar tentang uang negara yang diduga digelapkan hanya lewat sebentar, dibaca judulnya saja, lalu kita gulir ke video berikutnya tanpa kemarahan yang sama besarnya. Padahal, kalau ditimbang dengan jujur, kerusakan mana yang sebenarnya lebih besar? Malam ini saya ingin mengajak kita bicara soal itu, dengan hati yang terbuka untuk introspeksi, bukan untuk menyalahkan siapa pun selain diri kita sendiri dulu.

Pernah tidak kita sadari, kita lebih emosi melihat orang memalak di pinggir jalan daripada membaca kabar dugaan korupsi anggaran yang jumlahnya ratusan kali lebih besar? Al-Qur'an punya satu ayat yang menggambarkan persis pola sebaliknya — bukan tentang kejahatan yang berteriak di jalan, tapi tentang kejahatan yang bekerja diam-diam, terorganisir, dan justru karena itu lebih berbahaya.

وَكَانَ فِى ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍۢ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

QS. An-Naml: 48 — "Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan."

Sembilan orang ini bukan preman jalanan yang bisa langsung kita kenali. Mereka adalah tokoh kota yang dihormati, yang justru dari posisi terhormat itu diam-diam merencanakan makar terhadap Nabi Shalih 'alaihissalam. Tidak ada yang tersinggung melihat mereka lewat, tidak ada yang merekam mereka, tidak ada yang berseru "kawal, jangan biarkan mereka berkeliaran" — karena kerusakan mereka tidak terlihat sampai rencana itu benar-benar dijalankan.

Ini bukan berarti kemarahan kita pada pemalak di jalan itu salah. Memalak pedagang kecil memang jahat, dan warga yang emosi melihatnya adalah manusia normal, saya juga begitu. Yang ingin saya ajak renungkan malam ini bukan soal benar-salahnya kemarahan itu, tapi soal proporsinya. Kita marah cepat dan keras pada kejahatan yang terlihat, viral, dan kecil skalanya — tapi kejahatan yang tersembunyi, terorganisir, dan besar skalanya sering hanya lewat sebagai berita biasa, dibaca judulnya saja, lalu kita lanjut menggulir layar.

Coba kita tanya diri sendiri malam ini: berapa lama kita marah setelah menonton video pemalak dihadapi warga di tempat? Mungkin semalam, mungkin sampai besok pagi kita masih membahasnya dengan tetangga sambil ngopi. Sekarang bandingkan: berapa lama kita marah setelah membaca berita operasi tangkap tangan pejabat, atau kabar anggaran daerah yang dipertanyakan penggunaannya? Kebanyakan dari kita, kalau jujur, marahnya hanya sepanjang waktu membaca judul beritanya. Setelah itu, hidup jalan seperti biasa, seolah tidak ada yang terganggu.

Saya sendiri begitu, jujur saja. Kadang saya lebih hafal detail video orang berkelahi di pasar daripada hafal nominal anggaran yang sedang dipertanyakan penggunaannya di daerah saya sendiri. Ada semacam candu dalam menonton kejahatan yang berwajah jelas — ada tokoh yang disalahkan, ada tokoh yang dibela, ada akhir cerita yang memuaskan dalam satu menit tontonan. Korupsi tidak punya alur cerita yang serapi itu. Prosesnya panjang, bertahun-tahun, dan sering tidak berakhir dengan kepuasan yang sama. Wajar otak kita lebih tertarik pada yang cepat dan jelas — tapi wajar tidak berarti benar.

Kenapa bisa begitu? Karena kejahatan jalanan punya wajah, punya korban yang kita lihat langsung, punya durasi singkat yang mudah dicerna dalam satu video pendek. Sementara korupsi anggaran itu abstrak — kita tidak melihat siapa korbannya secara langsung, padahal korbannya sebenarnya adalah kita semua: jalan yang tidak diperbaiki, sekolah yang atapnya bocor, layanan kesehatan yang seadanya. Kerusakan yang sembilan orang dalam ayat tadi rencanakan juga abstrak sampai rencana itu dijalankan — dan itulah yang membuatnya lebih berbahaya, bukan lebih ringan.

Ibarat rayap dan kebakaran. Kebakaran langsung kelihatan, orang datang membantu memadamkan, videonya viral, semua orang bersimpati. Rayap bekerja diam-diam di dalam kayu, tidak ada yang panik, sampai suatu hari tiang rumah ambruk begitu saja dan orang bertanya-tanya kenapa bisa runtuh tanpa tanda-tanda. Korupsi anggaran, penyalahgunaan amanah jabatan, kasus-kasus yang sengaja dibiarkan menggantung tanpa kejelasan — itu semua rayap. Kita baru panik ketika bangunannya sudah ambruk, padahal tanda-tandanya sudah ada sejak lama, hanya kita tidak cukup peduli untuk memperhatikannya.

Saya tidak sedang meminta kita berhenti peduli pada kejahatan jalanan. Saya justru mengajak kita menambah porsi kepedulian pada kejahatan yang lebih senyap, supaya kepedulian kita tidak pilih-pilih berdasarkan mana yang paling seru untuk dibagikan ulang. Kepedulian yang konsisten itu tandanya iman yang matang; kepedulian yang hanya menyala saat videonya viral, itu tandanya kita masih digerakkan oleh algoritma lini masa, bukan oleh timbangan yang benar.

Maka malam ini, sebelum tidur, coba satu hal sederhana: buka lagi berita korupsi atau anggaran yang pekan ini lewat begitu saja di lini masa kita, baca sampai selesai, bukan cuma judulnya. Kalau ada laporan resmi atau kanal pengawasan yang bisa didukung, dukung. Kalau tidak ada yang bisa dilakukan langsung, cukup doakan agar terungkap dengan jelas. Dan besok, ketika ada kabar kejahatan jalanan lagi yang viral, ingat untuk menyalurkan kemarahan itu lewat laporan ke aparat, bukan tangan sendiri — supaya kemarahan kita tidak berubah menjadi kerusakan baru yang justru kita benci.

Jamaah yang saya hormati, keadilan yang kita rindukan di negeri ini tidak akan datang hanya dari menghukum pemalak di pinggir jalan, sepuas apa pun rasanya menyaksikan itu. Keadilan yang utuh datang ketika kepedulian kita terhadap yang kecil dan yang besar, yang terlihat dan yang tersembunyi, sama besarnya. Itulah mizan yang sesungguhnya — dan itulah yang Allah minta dari kita, bukan sekadar kepuasan sesaat di lini masa.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحِبُّ الْعَدْلَ وَيَسْعٰى إِلَيْهِ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ، صَغِيْرِهِ وَكَبِيْرِهِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاكْفِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan