"(Dialah) yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Alaq: 4–5)
Ayat yang baru saja kita dengar berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan pekan yang baru kita lewati: tentang ilmu, tentang pena, tentang Allah yang mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak ia ketahui. Pekan ini, dari berbagai penjuru, kabar tentang pendidikan dan ilmu menjadi salah satu benang yang paling sering muncul dalam percakapan kita bersama.
Kita mendengar kabar tentang peresmian sebuah sekolah rakyat yang baru, tempat anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapat kesempatan belajar yang selama ini sulit mereka jangkau. Dalam peresmian itu, anak-anak yang hadir diajak menyampaikan rasa terima kasih kepada pemimpin negeri yang mendukung berdirinya sekolah tersebut. Ma'asyiral muslimin, tidak ada yang salah dengan rasa terima kasih kepada sesama manusia — Islam sendiri mengajarkan akhlak berterima kasih kepada siapa pun yang berjasa dalam hidup kita. Tetapi ada satu urutan yang tidak boleh terbalik: sebelum kita mengajarkan anak-anak berterima kasih kepada pejabat, kepada kepala sekolah, kepada guru, kita wajib menanamkan lebih dulu bahwa sekolah itu berdiri, gedung itu ada, kesempatan belajar itu terbuka, semata karena izin dan karunia Allah 'Azza wa Jalla. Manusia hanyalah perantara; Allah-lah yang menganugerahkan sebab-sebabnya.
Khutbah Jumat — "Ilmu, Niat, dan Ke Mana Kita Melangkah" · Dakwah-Lens
Di lini masa yang lain, kita menyaksikan kekaguman publik yang begitu besar kepada seorang mahasiswi Institut Teknologi Bandung — pujian tentang kecerdasan, tentang pencapaian akademik yang dianggap langka dan membanggakan. Kekaguman semacam ini wajar; Islam sendiri sangat memuliakan orang yang berilmu. Tetapi kita perlu bertanya jujur kepada diri kita sendiri: ketika kita mengagumi capaian ilmu seseorang, apakah yang paling kita puji sekadar kecerdasannya semata, ataukah kita juga mengingat bahwa ilmu itu, sebagaimana ayat yang baru kita baca, adalah sesuatu yang Allah ajarkan? Setiap akal yang cerdas, setiap hafalan yang kuat, setiap kemampuan memahami yang tajam, semuanya adalah 'allama al-insana ma lam ya'lam — Allah yang mengajarkan manusia apa yang tidak ia ketahui. Bukan semata hasil kerja manusia sendiri, walau kerja keras tetap menjadi sebab yang harus ditempuh.
Pekan ini pula kita menyaksikan pertanyaan yang lebih cemas berseliweran: jurusan kuliah apa yang paling mudah mengantarkan lulusannya bekerja. Pertanyaan ini jujur, dan tidak ada yang keliru dengan memikirkan masa depan pekerjaan — Islam mengajarkan kita mengambil sebab, bukan berpangku tangan tanpa ikhtiar. Namun ma'asyiral muslimin, ketika "jurusan apa yang gampang kerja" menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memilih jalan ilmu, ada sesuatu yang mulai bergeser: ilmu yang semula jalan mengenal Allah dan memakmurkan bumi, mulai direduksi semata menjadi alat mencari nafkah. Keduanya penting, tetapi urutannya harus tetap dijaga.
Kita juga melihat pekan ini bagaimana masyarakat begitu haus akan informasi kesehatan yang benar — pertanyaan tentang mitos dan fakta kesehatan dijawab satu per satu, disambut antusias oleh warganet. Ini menunjukkan sesuatu yang indah: manusia pada dasarnya punya rasa ingin tahu yang besar, punya dahaga akan ilmu yang benar untuk menjaga dirinya dan keluarganya. Dahaga ini sesungguhnya fitrah yang Allah tanamkan sejak ayat pertama yang diturunkan-Nya adalah perintah membaca. Namun fitrah ingin tahu ini juga perlu kita jaga arahnya. Di tengah lautan informasi yang begitu deras, tidak semua yang tersebar adalah ilmu yang benar; sebagian hanya kabar yang terdengar meyakinkan tapi keliru, atau nasihat yang lahir dari opini pribadi tanpa dasar yang kuat. Kewajiban kita bukan hanya rajin mencari tahu, tetapi juga rajin memeriksa dari siapa dan dari mana ilmu itu kita ambil — persis seperti para ulama kita dahulu yang sangat berhati-hati memilih dari siapa mereka boleh belajar, karena ilmu yang keliru sumbernya akan menyesatkan langkah yang mengikutinya.
Jamaah Jumat yang berbahagia, empat kabar ini — sekolah rakyat, kekaguman pada mahasiswi berprestasi, kecemasan memilih jurusan, dan dahaga akan ilmu kesehatan — jika kita rangkai menjadi satu benang, semuanya bicara tentang hal yang sama: kita sangat menghargai ilmu, tetapi jarang berhenti sejenak bertanya, untuk apa dan untuk siapa ilmu itu kita kejar. Pertanyaan inilah yang ingin kita renungkan bersama pada khutbah pekan ini: ilmu, niat, dan ke mana sebenarnya semua ini akan membawa kita.
Islam tidak pernah melarang kita mencari ilmu untuk kebutuhan dunia. Yang Islam jaga ketat adalah niat yang menyertainya. Dalam kitab adab menuntut ilmu, disebutkan sebuah sabda Nabi ﷺ yang begitu agung kedudukannya:
العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
"Para ulama itu adalah pewaris para nabi." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
Bayangkan, jamaah sekalian, betapa tinggi kedudukan yang Rasulullah ﷺ berikan kepada orang berilmu — disandingkan dengan warisan para nabi, bukan warisan harta, bukan warisan jabatan. Ini berarti orang yang menuntut ilmu dengan niat benar sedang mengambil bagian dari tugas kenabian dalam skala kecil: tugas menyampaikan kebenaran, tugas menerangi kegelapan, tugas membimbing manusia lain. Tugas semulia ini tidak bisa dijalankan dengan niat yang murahan — sekadar mengejar ijazah, sekadar mengejar gaji, sekadar mengejar validasi di media sosial. Kalau ilmu adalah warisan kenabian, niat menuntutnya pun harus setinggi warisan itu.
Dalam kitab yang sama, disebutkan pula perkataan sahabat mulia 'Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula untuknya sikap tenang (sakinah) dan wibawa (waqar)." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
'Umar tidak berkata "pelajarilah ilmu dan pelajarilah untuk mendapat pengakuan". Beliau berkata: pelajarilah untuknya sakinah dan waqar — ketenangan batin dan kewibawaan yang lahir dari dalam, bukan dari sorotan orang lain. Ini pesan yang sangat relevan dengan apa yang kita saksikan pekan ini: kekaguman kepada mahasiswi berprestasi yang begitu ramai di media sosial, kecemasan tentang jurusan yang menjanjikan pekerjaan. Semua itu sah sebagai bagian dari kehidupan, tetapi jangan sampai ilmu yang kita kejar hanya menghasilkan validasi dan kecemasan, tanpa menghasilkan sakinah dan waqar dalam diri kita. Tanyakan pada diri kita: apakah ilmu yang sedang kita tuntut membuat hati kita makin tenang dan makin dekat kepada Allah, ataukah justru makin gelisah mengejar pengakuan orang lain?
Para sahabat Nabi ﷺ dikenal luas dalam sejarah sebagai generasi yang menuntut ilmu dengan kesungguhan luar biasa — bukan untuk kedudukan di mata manusia, melainkan karena mereka tahu ilmu itu akan mereka pertanggungjawabkan dan mereka wariskan kepada generasi setelah mereka. Semangat itulah yang coba diwariskan oleh ulama-ulama kita lewat kitab-kitab adab menuntut ilmu — bahwa proses belajar bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan jiwa.
Jamaah yang dimuliakan Allah, dalam pandangan syariat, menjaga akal dan ilmu umat adalah bagian dari amanah besar yang dipikul manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bukan kebetulan bahwa wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah membaca, bukan perintah shalat atau puasa. Ini menunjukkan betapa Allah menempatkan akal yang tercerahkan sebagai pondasi sebelum syariat-syariat lain ditegakkan. Maka setiap upaya membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang selama ini tersisih — termasuk yang kita saksikan lewat peresmian sekolah rakyat pekan ini — sesungguhnya adalah bagian dari fardhu kifayah menjaga akal umat, kewajiban kolektif yang gugur dari sebagian kita hanya jika ada cukup orang yang menegakkannya, dan akan menjadi dosa bersama jika kita biarkan terbengkalai. Yang perlu kita jaga bersama bukan hanya gedung dan kurikulumnya, tetapi ruh niat di baliknya — supaya akses yang terbuka ini benar-benar mengantarkan anak-anak kita kepada Allah, bukan sekadar kepada ijazah.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hubungan antara ilmu dan akhirat ini juga ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam riwayat yang masyhur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini terlaknat, dan terlaknat pula segala yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Ta'ala dan apa yang menyertainya, serta orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu." (Riyad as-Salihin 477)
Perhatikan, jamaah sekalian, betapa istimewanya kedudukan orang berilmu dan orang menuntut ilmu dalam hadits ini. Dari sekian banyak hal yang ada di dunia — harta, jabatan, ketenaran, kesenangan — hanya dzikrullah dan ilmu yang dikecualikan dari laknat itu. Ini bukan berarti bekerja mencari nafkah itu tercela; Islam justru memuliakan usaha yang halal. Yang ditegaskan hadits ini adalah bahwa ilmu punya kedudukan istimewa yang tidak dimiliki kesibukan dunia lainnya — selama ilmu itu ditempatkan pada posisinya yang benar, sebagai jalan mengenal Allah, bukan sebagai jalan mengejar dunia semata. Inilah jawaban atas kegelisahan anak-anak muda kita yang bertanya "jurusan apa yang gampang cari kerja": carilah ilmu yang bermanfaat, ambillah sebab-sebab dunia yang halal, tetapi jangan biarkan pertanyaan itu satu-satunya yang menentukan arah hidup. Sebab ilmu yang dikecualikan dari laknat dunia bukan ilmu yang paling menguntungkan secara finansial, melainkan ilmu yang mendekatkan hamba kepada Rabb-nya.
Prinsip ini juga berlaku bagi kita yang berperan sebagai pendidik — baik guru di sekolah rakyat, dosen di kampus, ustadz di majelis taklim, maupun orang tua di rumah. Ketika negeri ini bersungguh-sungguh membuka akses sekolah bagi anak-anak yang selama ini tertinggal, tugas kita sebagai umat bukan berhenti pada rasa bangga melihat gedung baru berdiri. Tugas kita adalah memastikan apa yang diajarkan di dalamnya menumbuhkan bukan sekadar kecakapan, tetapi juga sakinah dan waqar yang tadi kita bicarakan. Sekolah bisa dibangun oleh pemerintah, tetapi ruh yang mengisinya adalah tanggung jawab kita bersama — guru yang mengajar dengan ikhlas, orang tua yang menjaga niat anaknya tetap lurus, dan masyarakat yang tidak menyamakan keberhasilan pendidikan semata dengan angka dan gelar.
Tanggung jawab menjaga ilmu ini, jamaah sekalian, bukan hanya tugas individu, melainkan tugas bersama sebagai satu jamaah. Seorang anak yang belajar dengan niat lurus tetap bisa terseret arus jika lingkungan di sekitarnya — keluarga besar, tetangga, kelompok pertemanan — justru menomorsatukan gengsi dan hasil akhir. Maka menjaga niat dalam menuntut ilmu adalah kerja kolektif: orang tua menjaga niat di rumah, guru menjaga niat di sekolah, dan masyarakat menjaga suasana agar prestasi tidak menjadi ajang pamer, melainkan ajang saling mendoakan dan saling menguatkan. Ketika satu keluarga di lingkungan kita berhasil menyekolahkan anaknya dengan susah payah, tugas kita bukan sekadar mengagumi dari jauh, melainkan ikut mendoakan dan bila mampu, ikut membantu meringankan jalannya.
Dan di sinilah kita sampai pada pertanyaan paling mendasar, jamaah yang dimuliakan Allah. Semua ilmu yang kita kejar, semua gelar yang kita banggakan, semua jurusan yang kita pilih dengan penuh perhitungan, pada akhirnya akan bermuara ke satu titik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surah At-Takwir:
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
"Maka ke manakah kamu akan pergi?" (QS. At-Takwir: 26)
Ayat pendek ini, jamaah sekalian, adalah pertanyaan yang seharusnya menemani setiap langkah kita mengejar ilmu dan karier. Ke manakah sebenarnya ilmu ini membawa kita? Ke manakah kekaguman kita pada prestasi orang lain ini mengarahkan hati — pada rasa syukur dan semangat meniru kebaikan, ataukah pada rasa iri dan minder yang menjauhkan kita dari mensyukuri jalan sendiri? Ke manakah kecemasan tentang masa depan pekerjaan ini bermuara — pada ikhtiar yang disertai tawakal, ataukah pada kepanikan yang melupakan Allah sama sekali? Setiap kali kita merasa hidup hanya berputar mengejar nilai, mengejar validasi, mengejar keamanan finansial semata, ayat ini hadir menegur dengan lembut: fa ayna tadzhabun, ke manakah sebenarnya kamu akan pergi?
Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, pertanyaan ini punya makna yang sangat konkret. Kita hidup di tengah masyarakat yang sedang bersemangat membangun akses pendidikan, sedang bangga pada anak-anak muda yang berprestasi, sekaligus sedang cemas menghadapi ketidakpastian ekonomi. Ketiga hal ini nyata dan sah. Tetapi sebagai umat yang berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah, kita punya kewajiban menjadi pengingat — kepada anak-anak kita, kepada murid-murid kita, kepada diri kita sendiri — bahwa di balik setiap ijazah, di balik setiap prestasi, di balik setiap pilihan jurusan, ada pertanggungjawaban di hadapan Allah tentang untuk apa ilmu itu kita gunakan.
Ada satu bahaya lain yang perlu kita waspadai bersama dari budaya membanding-bandingkan prestasi di media sosial, sebagaimana yang kita saksikan pada sosok mahasiswi berprestasi pekan ini. Kekaguman yang wajar bisa dengan cepat berubah menjadi dua penyakit hati yang berlawanan arah: pada sebagian orang ia menjelma ujub dan bangga diri berlebihan bagi yang merasa dirinya juga berprestasi, dan pada sebagian yang lain ia menjelma rasa rendah diri serta putus asa bagi yang merasa dirinya jauh tertinggal. Islam mengajarkan jalan tengah: setiap kelebihan yang kita lihat pada orang lain adalah karunia Allah yang patut disyukuri lewat doa dan teladan, bukan lewat perbandingan yang melahirkan iri atau minder. Anak-anak dan remaja kita hari ini tumbuh di tengah arus perbandingan yang jauh lebih deras daripada generasi sebelumnya — tugas kita sebagai orang tua dan pendidik adalah membekali mereka dengan kesadaran bahwa jalan ilmu setiap orang berbeda, dan yang dinilai Allah bukan seberapa tinggi kita dibanding orang lain, melainkan seberapa jujur niat dan seberapa sungguh usaha kita pada jalan yang Allah tetapkan bagi kita masing-masing.
Maka jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah pekan ini kita jadikan momentum memperbaiki niat dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Bukan hanya anak-anak yang perlu diajarkan berterima kasih kepada Allah lebih dulu sebelum kepada manusia — kita sendiri, orang dewasa, perlu memperbarui niat setiap kali duduk di bangku belajar, setiap kali membaca buku, setiap kali mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Ilmu yang diwariskan para nabi tidak boleh direduksi menjadi sekadar alat mencari dunia; ia harus tetap menjadi jalan menuju sakinah, menuju waqar, menuju keridhaan Allah.
Ada beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang dari mimbar ini pekan ini. Pertama, setiap kali anak-anak kita pulang dari sekolah — entah karena baru masuk sekolah baru, entah karena menghadapi MPLS atau orientasi kampus — luangkan waktu semalam bertanya kepada mereka: "kepada siapa dulu kita berterima kasih atas kesempatan belajar ini?" Biarkan jawaban pertama yang keluar dari mulut mereka adalah Allah, baru kemudian orang tua, guru, dan siapa pun yang menjadi sebab. Ulangi percakapan ini beberapa kali sepanjang tahun ajaran, bukan hanya sekali di hari pertama, supaya urutan syukur ini benar-benar mengendap menjadi kebiasaan berpikir mereka.
Kedua, bagi kita yang sedang atau akan memilih jalur pendidikan — untuk diri sendiri atau untuk anak — jangan jadikan "gampang cari kerja" satu-satunya kriteria. Tambahkan pertanyaan: ilmu ini, kalau saya kuasai, bisa saya gunakan untuk apa selain menafkahi diri? Bisa saya wariskan kepada siapa? Tuliskan jawabannya, sesederhana apa pun, supaya niat itu punya jejak yang bisa kita tengok kembali ketika semangat belajar mulai kendur.
Ketiga, ketika kita mengagumi prestasi orang lain di media sosial pekan ini, ubah kekaguman itu menjadi doa — "Ya Allah, mudahkan pula jalan ilmu bagi diriku dan anak-anakku" — bukan menjadi bibit iri atau rendah diri. Latih diri untuk mengucapkan doa ini secara sadar setiap kali jari kita berhenti sejenak pada unggahan prestasi orang lain.
Keempat, bagi para pendidik dan orang tua, biasakan mengingat kalimat "al-'ulama warathatul anbiya" setiap kali merasa lelah mengajar — bahwa yang sedang kita jalani adalah tugas yang pernah dipikul para nabi. Tempelkan kalimat ini di ruang belajar atau di meja kerja sebagai pengingat harian yang sederhana namun menguatkan.
Kelima, luangkan lima menit setiap malam pekan ini bertanya pada diri sendiri: fa ayna tadzhabun, ke manakah sebenarnya arah hidupku hari ini membawaku? Jika jawabannya menjauh dari Allah, inilah saatnya membelokkan arah sebelum terlalu jauh. Jadikan pertanyaan ini penutup hari, sesederhana beberapa detik jeda sebelum tidur, supaya arah hidup kita terus dikoreksi dari waktu ke waktu, bukan disadari setelah bertahun-tahun berlalu.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya mempertegas satu hal: ilmu yang paling berharga bukan yang paling tinggi gelarnya, melainkan yang paling dekat mengantarkan pemiliknya kepada Allah. Seorang lulusan sekolah rakyat yang menuntut ilmu dengan niat karena Allah, kedudukannya di sisi Allah bisa jauh lebih tinggi daripada siapa pun yang menuntut ilmu semata demi gengsi.
Kekaguman kita kepada anak-anak muda yang berprestasi hendaknya berbuah dua hal: doa untuk mereka, dan introspeksi bagi diri kita sendiri. Jangan sampai kekaguman itu berhenti sebagai kekaguman semata sementara ilmu agama kita, ilmu yang menjaga rumah tangga dan masyarakat kita, justru terbengkalai.
Bagi orang tua yang hadir di sini, ingatlah bahwa anak-anak kita akan meniru arah pandangan kita. Jika kita hanya bersemangat membicarakan rangking dan gaji, mereka akan tumbuh menganggap ilmu semata alat dunia. Tetapi jika kita rutin mengaitkan setiap pencapaian dengan rasa syukur kepada Allah, merekalah generasi yang akan menjaga arah ilmu ini tetap lurus setelah kita tiada.
Demikian pula program-program pendidikan yang dibangun untuk meringankan beban keluarga kurang mampu, seperti sekolah rakyat yang kita bicarakan tadi, layak kita sambut dengan doa dan dukungan, bukan dengan sikap curiga maupun sebaliknya, pemujaan berlebihan kepada pihak yang membangunnya. Cukup bagi kita mendoakan agar setiap sekolah yang berdiri, siapa pun yang meresmikannya, benar-benar menjadi ladang tumbuhnya ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang lurus, dan agar anak-anak yang belajar di dalamnya kelak menjadi generasi yang mengingat Allah lebih dulu di atas segala kebaikan yang mereka terima.
Dan bagi kita semua, pertanyaan fa ayna tadzhabun yang telah kita renungkan tadi bukan pertanyaan yang cukup dijawab sekali lalu dilupakan. Ia adalah pertanyaan yang harus terus kita ulang, setiap kali hidup mulai berjalan tanpa arah yang jelas kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan setiap ilmu yang kita dan anak-anak kita tuntut pekan ini, dari bangku sekolah rakyat hingga ruang kuliah, dari buku pelajaran hingga informasi kesehatan yang kita cari untuk keluarga, sebagai ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan bukan menjauhkan, yang menenangkan bukan menggelisahkan. Semoga Allah juga menjaga niat kita agar tidak tergelincir menomorsatukan pengakuan manusia di atas keridhaan-Nya, dan menjaga hati kita agar tetap bersyukur ketika sebab-sebab kebaikan datang lewat tangan sesama manusia, tanpa pernah lupa bahwa Allah-lah pemilik dan pemberi sesungguhnya di balik setiap sebab itu.