Pekan ini banyak orang mencari tahu tentang sosok-sosok yang mereka kagumi — lewat unggahan, lewat cerita orang lain, lewat apa saja yang bisa menyambung rasa ingin tahu itu. Ada satu kisah lama yang bicara tentang rasa ingin tahu yang jauh lebih personal: dua cucu Rasulullah ﷺ yang tidak sempat lama bersama kakek mereka, lalu diam-diam mencari tahu siapa sebenarnya beliau, lewat orang-orang yang masih mengingatnya. Kisah ini dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ.
Al-Hasan bin Ali masih kecil ketika kakeknya wafat. Begitu juga adiknya, Al-Husain. Keduanya tumbuh dengan bayangan samar tentang sosok yang paling dicintai umat ini — cerita orang lain, potongan ingatan yang tidak utuh. Suatu hari, Al-Hasan mendatangi pamannya dari pihak ibu, Hind bin Abi Hala. Hind dikenal sangat pandai menggambarkan sesuatu dengan kata-kata.
"Ceritakan padaku tentang rupa Rasulullah ﷺ," pinta Al-Hasan. Ia benar-benar ingin tahu, bukan sekadar bertanya basa-basi.
Hind menatapnya sebentar, lalu mulai bercerita panjang. "Rasulullah ﷺ itu agung dan penuh wibawa," katanya. "Wajahnya bersinar seperti cahaya bulan purnama di malam keempat belas." Ia terus bercerita, detail demi detail, sampai gambaran itu terasa hidup di kepala Al-Hasan.
Al-Hasan menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Ia tidak segera membaginya kepada Al-Husain, adiknya. Entah kenapa — mungkin ia ingin merasakannya sendiri dulu, mungkin ia menunggu waktu yang tepat. Barulah setelah beberapa lama, ia menceritakan semuanya kepada Al-Husain.
Yang terjadi selanjutnya mengejutkan Al-Hasan. Ternyata Al-Husain sudah lebih dulu mencari tahu sendiri — bahkan lebih jauh. Ia tidak bertanya kepada paman mereka, tetapi langsung kepada sumber yang paling dekat: ayah mereka sendiri, Ali bin Abi Thalib. Al-Husain sudah menanyakan segalanya — bagaimana Rasulullah ﷺ ketika berada di rumah, bagaimana ketika keluar menemui orang banyak, bagaimana caranya duduk dan berbicara. Tidak ada satu pun yang ia lewatkan.
Al-Husain lalu bercerita kepada kakaknya apa yang ia dapat. "Aku bertanya kepada Ayah tentang bagaimana Rasulullah ﷺ ketika berada di rumahnya," katanya. Ali telah menjawab panjang: "Apabila beliau pulang ke rumahnya, beliau membagi waktunya menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarganya, dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Kemudian bagian untuk dirinya sendiri itu ia bagi lagi antara dirinya dan orang-orang yang membutuhkan, sehingga apa yang ia sampaikan kepada orang-orang dekatnya juga sampai kepada orang banyak — tidak ada yang ia sembunyikan dari mereka."
Ali melanjutkan gambarannya tentang majelis Rasulullah ﷺ. Setiap kali beliau duduk bersama orang-orang, majelis itu selalu diisi dengan ilmu, dengan kesabaran, dengan rasa malu yang menjaga adab, dan dengan amanah yang terjaga. Tidak ada suara yang dikeraskan di sana. Tidak ada aib seseorang yang dibongkar di depan orang lain. Semua orang diperlakukan setara, kecuali dalam soal takwa — itu yang membedakan derajat mereka di matanya. Beliau menghormati yang tua, menyayangi yang muda, mendahulukan orang yang sedang membutuhkan, dan menjaga orang asing yang datang kepadanya.
Dua cucu itu, tanpa saling memberi tahu lebih dulu, ternyata sama-sama sedang mencari hal yang sama: siapa sebenarnya kakek mereka. Satu bertanya kepada paman yang pandai bercerita. Satu lagi diam-diam pergi langsung kepada ayahnya sendiri, orang yang paling lama hidup berdampingan dengan Rasulullah ﷺ.
Pelajaran
Al-Hasan dan Al-Husain kehilangan kakek mereka sebelum sempat benar-benar mengenalnya sebagai orang dewasa yang bisa mereka ingat sendiri. Yang mereka lakukan bukan berhenti pada rasa kehilangan itu, melainkan mencari — bertanya kepada siapa saja yang masih menyimpan ingatan tentang beliau, mengumpulkan kepingan demi kepingan sampai gambaran itu terasa utuh. Ada sesuatu yang hangat dari cara mereka melakukannya masing-masing, diam-diam, tanpa pamer, tanpa menunggu yang lain memulai lebih dulu. Bagi siapa pun hari ini yang ingin anak-cucunya mengenal bukan hanya nama atau capaian mereka, melainkan juga akhlak dan kebiasaan baik yang mereka jalani, kisah ini adalah pengingat sederhana: ceritakanlah, sebelum ingatan itu hanya tinggal pada orang-orang yang perlahan juga akan pergi.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
حدثنا سفيان بن وكيع. حدثنا جميع بن عمر بن عبد الرحمن العجلي أنبأنا رجل من بني تميم من ولد أبي هالة زوج خديجة يكنى أبا عبد الله عن ابن أبي هالة عن الحسن بن علي قال: سألت خالي هند بن أبي هالة، وكان وصافا عن حلية رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأنا أشتهي أن يصف لي منها شيئا فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم فخما مفخّما، يتلألأ وجهه تلألؤ القمر ليلة البدر… قال الحسن: فكتمتها الحسين زمانا، ثم حدّثته فوجدته قد سبقني إليه. فسأله عما سألته عنه، ووجدته قد سأل أباه عن مدخله ومخرجه وشكله فلم يدع منه شيئا.
قال الحسين: فسألت أبي عن دخول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: كان إذا أوى إلى منزله جزّأ دخوله ثلاثة أجزاء لله، وجزءا لأهله، وجزءا لنفسه. ثم جزّأ جزأه بينه وبين الناس فيردّ ذلك بالخاصة على العامة، ولا يدّخر عنهم شيئا… مجلسه مجلس علم وحلم وحياء، وأمانة وصبر، لا ترفع فيه الأصوات ولا تؤبن فيه الحرم، متعادلين، بل كانوا يتفاضلون فيه بالتقوى، متواضعين، يوقّرون فيه الكبير ويرحمون فيه الصغير، ويؤثرون ذا الحاجة ويحفظون الغريب.
