Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumInspirasi & Kisah PribadiKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Jangan Berhenti Sujud Karena Pernah Jatuh"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini saya membaca satu unggahan sederhana yang justru menempel lama di kepala saya: seseorang menulis rasa gemasnya melihat orang yang tetap rajin beribadah, padahal baru saja melakukan kekhilafan. Bukan sindiran, bukan cemoohan — justru rasa gemas yang hangat, semacam kelegaan melihat orang lain tidak menyerah pada rasa bersalahnya sendiri. Malam ini saya ingin kita renungkan bersama, kenapa justru pemandangan sesederhana itu begitu menyentuh banyak orang.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surah At-Takwir:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

"Maka ke manakah kamu akan pergi?" (QS. At-Takwir: 26)

Ayat ini turun dalam konteks menegur orang yang berpaling dari kebenaran setelah kebenaran itu jelas di depan matanya. Tapi coba kita bawa ke pengalaman kita sendiri: setelah kita khilaf, setelah kita berbuat dosa yang membuat wajah kita malu di hadapan cermin sendiri, ke manakah sebenarnya kita hendak pergi? Sebagian dari kita memilih menjauh dari sajadah, seolah dosa itu mencabut hak kita untuk kembali bersujud. Padahal justru itulah tipu daya yang paling halus — bukan dosa itu sendiri yang membinasakan, melainkan keputusan berhenti mendekat kepada Allah setelah dosa itu terjadi.

Kita semua pernah berada di titik itu. Selesai melakukan sesuatu yang kita tahu keliru, muncul bisikan: "sudahlah, kamu kan sudah kotor, ngapain sholat, ngapain baca Qur'an, kan percuma." Bisikan itu terdengar seperti kerendahan hati, padahal ia adalah putus asa yang dibungkus rapi. Justru saat itulah kita paling butuh sujud, bukan paling pantas menjauh darinya. Rasa gemas yang dibagikan warganet pekan ini sebetulnya adalah pengakuan diam-diam dari banyak orang: kita ingin menjadi seperti itu, tetap melangkah ke masjid meski baru saja tersandung, tetap membuka mushaf meski hati sedang kotor.

Ada satu untaian doa dari kitab nasihat para ahli ibadah yang, menurut saya, menggambarkan pergulatan ini dengan sangat jujur. Seorang ahli ibadah pernah bermunajat kepada Allah:

إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي، فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang mendorong pada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku menuju maksiat. Maka tolonglah aku, wahai sebaik-baik penolong bagi yang meminta pertolongan, sebab jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?" (Nashaihul Ibad)

Coba dengarkan lagi, jamaah — ini bukan doa orang yang merasa dirinya sudah suci. Ini doa seorang ahli ibadah, orang yang sudah sangat dekat dengan Allah, yang tetap jujur mengakui angan-angannya menipu, nafsunya menyeret, pergaulannya kadang membantunya berbuat salah. Tapi lihat apa yang ia lakukan setelah mengakui semua itu: ia tidak berhenti, ia tidak menjauh, ia justru berlari kepada Allah dan berkata "kalau bukan Engkau yang merahmatiku, siapa lagi?" Inilah bedanya orang yang jatuh lalu bangkit dengan orang yang jatuh lalu menyerah — keduanya sama-sama pernah salah, tapi hanya satu yang tahu ke mana harus kembali.

Pekan ini saya juga membaca komentar lain yang, sekilas, tampak tidak berhubungan: seseorang mempertanyakan kenapa harus repot-repot umrah menghabiskan uang kalau bisa jalan-jalan keliling dunia saja. Saya tidak ingin menghakimi siapa pun yang berkomentar seperti itu — barangkali itu hanya obrolan santai, tanpa maksud serius. Tetapi kalau kita jujur, komentar seperti ini menunjukkan sesuatu yang juga sedang kita bahas malam ini: bagi sebagian dari kita, ibadah masih ditimbang seperti pilihan gaya hidup, yang nilainya bisa dibandingkan dan bisa ditukar dengan kesenangan lain yang setara harganya. Padahal ibadah, sekecil apa pun bentuknya, punya nilai yang tidak sepadan dengan kesenangan dunia mana pun — bukan karena ibadah itu mahal secara materi, tetapi karena ia adalah bentuk penghambaan yang tidak tergantikan oleh kenyamanan apa pun. Orang yang gemetar hatinya kembali bersujud setelah khilaf, sebagaimana yang kita bahas tadi, sebenarnya sedang menunjukkan pemahaman yang lebih dalam tentang ini dibanding orang yang menganggap ibadah sekadar salah satu opsi liburan.

Maka malam ini, kalau ada di antara kita yang pekan ini merasa terlalu kotor untuk mendekat kepada Allah, terlalu banyak salah untuk pantas berdoa, izinkan saya sampaikan dengan tegas: justru itulah alasan untuk semakin cepat kembali, bukan semakin jauh menjauh. Bukalah sajadah malam ini juga. Ucapkan istighfar sebelum tidur, walau hati masih berat. Kirimkan satu pesan maaf yang selama ini kita tunda karena malu. Sujud yang kita lakukan setelah khilaf, dengan hati yang gemetar dan jujur mengakui kesalahan, bisa jadi jauh lebih dicintai Allah daripada sujud orang yang merasa dirinya sudah bersih dari dosa.

Rasa gemas yang kita rasakan melihat orang lain tetap rajin beribadah meski baru khilaf, semoga menjadi cermin untuk diri kita sendiri malam ini. Jangan biarkan rasa bersalah menjadi alasan berhenti; jadikan ia justru alasan untuk berlari lebih cepat kembali kepada Allah.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضَعْفَنَا وَاغْفِرْ ذَنْبَنَا، وَلَا تَجْعَلْ خَطَايَانَا سَبَبًا لِبُعْدِنَا عَنْكَ، بَلِ اجْعَلْهَا سَبَبًا لِرُجُوْعِنَا إِلَيْكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan