Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَوَهَبَهُ الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا يُدْرِكُ قَدْرَهَا إِلَّا مَنْ فَقَدَهَا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلٰى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ
(QS. Al-Qiyaama: 29) — "dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),"
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat yang baru kita baca ini menggambarkan satu momen yang pasti akan tiba pada setiap kita — momen ketika betis kiri dan betis kanan bertaut, ketika tubuh yang selama ini kita gerakkan dengan bebas tiba-tiba menyerah, dan ruh bersiap meninggalkan jasad. Para ahli tafsir menjelaskan ayat ini sebagai gambaran sakratul maut — detik-detik ketika sehat yang selama ini kita anggap hal biasa, ternyata adalah nikmat yang sedang menghitung hari untuk direnggut. Kita hidup hari ini dengan tubuh yang bisa berjalan, bernapas, bekerja, dan beribadah — tetapi ayat ini mengingatkan kita bahwa itu semua adalah titipan yang bersifat sementara, bukan hak yang kita miliki selamanya.
Pekan ini, dari berita yang sampai kepada kita, percakapan tentang kesehatan justru sangat ramai — namun ramainya bukan karena kabar baik semata. Ada dorongan besar untuk mengedukasi masyarakat awam soal mitos dan fakta kesehatan, tanda bahwa masih banyak dari kita yang bingung membedakan mana nasihat kesehatan yang benar dan mana yang sekadar sangkaan. Ramainya pertanyaan-pertanyaan sederhana soal kesehatan ini sebetulnya menunjukkan sesuatu yang dalam: kita ingin merawat tubuh ini dengan benar, tetapi sering tidak tahu harus percaya kepada siapa.
Pada saat yang sama, ada juga kabar yang sampai kepada kita tentang keluhan-keluhan seputar layanan kesehatan — soal birokrasi jaminan kesehatan, soal tenaga kesehatan, soal pendidikan dokter yang sedang disorot. Keluhan semacam ini bukan hal baru, tetapi pekan ini terasa lebih ramai dari biasanya. Ada juga yang menoleh ke belakang, mengingat program-program kesejahteraan publik dari masa lalu yang manfaatnya masih dirasakan sampai sekarang — pengingat bahwa kepercayaan pada sebuah sistem layanan kesehatan itu dibangun bertahun-tahun, dilalui dengan konsistensi, bukan didapat dalam semalam.
Kabar lain yang sampai kepada kita adalah soal program pemberian makanan bergizi untuk masyarakat, yang pekan ini memasuki masa sorotan publik yang lebih ketat. Pengelola program ini pekan ini bahkan menanggapi secara terbuka ketika namanya kembali disebut-sebut di media sosial — tanda bahwa program pangan skala besar semacam ini kini hidup di bawah perhatian yang terus-menerus. Bersamaan dengan itu, ada pula keluhan yang jauh lebih kecil dari lingkungan kampus, tentang mahasiswa baru yang dibatasi aksesnya ke fasilitas dasar seperti kantin. Dua kabar ini, meski berbeda skala, sama-sama berbicara tentang satu hal: siapa yang berhak mendapat makanan yang layak, dan siapa yang bertanggung jawab memastikan itu terjadi.
Namun ma'asyiral muslimin, di antara kabar-kabar besar itu, ada juga kabar-kabar kecil yang justru menghangatkan hati. Pekan ini kita mendengar seorang penjual es krim yang sepi pembeli di depan sebuah sekolah, mendapat perhatian dan bantuan dari orang yang bahkan tidak dikenalnya. Kita mendengar seorang pemalak pedagang kaki lima yang langsung ditindak oleh warga sekitar tanpa menunggu aparat datang. Kita mendengar pengakuan-pengakuan jujur tentang kelelahan mengurus rumah tangga yang membuat banyak orang merasa tidak sendirian. Dan kita mendengar sebuah kota yang dilaporkan lumpuh oleh bencana alam, sementara di tempat lain, sekelompok mahasiswa tetap menempuh perjalanan jauh ke pelosok negeri untuk mengabdi lewat program kuliah kerja nyata mereka.
Semua kabar ini — besar dan kecil, kebijakan dan keseharian — sebetulnya berbicara tentang satu hal yang sama dengan ayat yang kita baca di awal: kehidupan dan kesehatan adalah amanah yang bersifat sementara, dan bagaimana kita menjaganya — untuk diri sendiri maupun untuk sesama — adalah ukuran keimanan kita yang sesungguhnya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kalau kesehatan dan kehidupan adalah amanah yang bersifat sementara, pertanyaan berikutnya adalah: amanah ini dijaga oleh siapa, dan dengan cara apa? Islam memberi jawaban yang sangat jelas — dan jawaban itu tidak berhenti di level individu, tetapi meluas ke level umat.
Riyad as-Salihin 897 mencatat sabda Rasulullah ﷺ yang menyusun tiga kewajiban sosial dalam satu tarikan napas. Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَعَنْ أَبِيْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عُوْدُوا الْمَرِيْضَ، وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَفُكُّوا الْعَانِيَ» (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
"Jenguklah orang yang sakit, berilah makan orang yang lapar, dan bebaskanlah orang yang tertawan (dalam kesulitan)." (Riwayat Al-Bukhari)
Tiga perintah ini — menjenguk orang sakit, memberi makan orang lapar, membebaskan orang yang kesusahan — bukan anjuran yang berdiri sendiri-sendiri. Rasulullah ﷺ menyatukannya dalam satu hadits karena ketiganya adalah satu wajah dari amanah yang sama: menjaga jiwa manusia (hifz an-nafs) dalam tiga kondisi paling rentan — ketika sakit, ketika lapar, dan ketika terjerat dalam kesulitan yang tidak bisa ia selesaikan sendiri.
Kalau kita bawa hadits ini ke konteks pekan ini, kita akan melihat betapa relevannya. Ketika kita mendengar keluhan tentang layanan kesehatan yang terasa jauh dan berjarak, hadits ini menegaskan bahwa menjenguk orang sakit bukan tugas rumah sakit semata — itu tugas setiap Muslim yang mendengar tetangganya sakit. Ketika kita mendengar tentang program pemberian makanan bergizi yang sedang disorot, hadits ini menegaskan bahwa memberi makan orang lapar bukan tugas satu lembaga semata — itu tugas kolektif yang gugur dari kita semua hanya jika benar-benar sudah cukup orang yang menanganinya, dan menjadi dosa bersama bila terbengkalai. Dan ketika kita mendengar cerita tentang warga yang menanggung kesulitan sendirian, hadits ini mengajarkan bahwa membebaskan orang dari kesusahannya adalah ibadah, bukan sekadar kebaikan opsional.
Kalau kita bertanya, mengapa tiga hal ini begitu ditekankan, jawabannya ada di hadits berikutnya yang justru lebih menggetarkan. Sahih Muslim 2569 mencatat hadits qudsi — sabda Rasulullah ﷺ yang mengabarkan firman Allah 'Azza wa Jalla langsung, disampaikan pada Hari Kiamat:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ…
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi ini: "Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku." Hamba itu menjawab, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?" Allah berfirman, "Tidak tahukah engkau bahwa hamba-Ku fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidak tahukah engkau, seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau…" (Riwayat Muslim, hadits qudsi)
Perhatikan konstruksi hadits ini, ma'asyiral muslimin. Allah — Yang Maha Suci dari sakit, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu — memilih untuk mengidentifikasikan diri-Nya dengan hamba-Nya yang sakit. Bukan karena Allah membutuhkan dijenguk, tetapi karena Allah ingin mengangkat derajat perbuatan menjenguk orang sakit setinggi mungkin di mata kita — setinggi seolah kita menjenguk Allah sendiri. Ini bukan bahasa kiasan yang ringan; ini adalah cara Allah mengajarkan bahwa jarak antara kita dan Allah, dalam banyak hal, diukur dari jarak kita dengan hamba-Nya yang sedang lemah.
Kita hidup di zaman yang membuat "menjenguk" menjadi kata yang mudah diucapkan tapi jarang dipraktikkan. Kesibukan, jarak, rasa tidak enak, atau sekadar lupa — semua alasan itu terasa wajar bagi kita, tapi hadits ini menolak semua alasan itu dengan satu pertanyaan yang tajam: bukankah kau tahu hamba-Ku sedang sakit? Pertanyaan itu ditujukan bukan kepada pemerintah, bukan kepada rumah sakit, bukan kepada BPJS — pertanyaan itu ditujukan kepada kita, secara pribadi, satu per satu.
Supaya kita tidak menganggap ini hanya teori, mari kita lihat bagaimana Rasulullah ﷺ sendiri mempraktikkannya. Sahih Muslim 1616a mencatat kesaksian Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu:
قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَرِضْتُ فَأَتَانِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ يَعُوْدَانِيْ مَاشِيَيْنِ، فَأُغْمِيَ عَلَيَّ فَتَوَضَّأَ…
"Aku pernah sakit, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar datang menjengukku dengan berjalan kaki. Aku sampai pingsan. Beliau lalu berwudhu, kemudian menyiramkan sisa air wudhunya kepadaku, hingga aku tersadar. Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, bagaimana aku harus memutuskan tentang hartaku?' Beliau tidak menjawab hingga turun ayat tentang pembagian warisan."
Perhatikan detail dalam riwayat ini: dua orang paling penting dalam sejarah Islam — Rasulullah ﷺ, pemimpin umat, dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, sahabat terdekatnya — datang menjenguk seorang sahabat yang sakit dengan berjalan kaki. Bukan mengutus orang lain, bukan sekadar mengirim pesan, bukan mendelegasikan. Mereka datang sendiri, menempuh jarak dengan kaki mereka sendiri.
Ketika Jabir pingsan, Rasulullah ﷺ tidak menunggu prosedur atau perantara — beliau langsung mengambil tindakan sederhana yang tersedia saat itu, menyiramkan air wudhunya sendiri. Dan ketika Jabir, dalam kondisi lemahnya, bertanya soal hartanya kelak, Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan pertanyaan itu sebagai hal sepele di tengah kondisi darurat — beliau menunggu sampai Allah menurunkan jawaban yang tuntas lewat ayat warisan. Sirah ini mengajarkan kita bahwa menjenguk orang sakit bukan basa-basi lima menit sambil membawa buah tangan, tetapi kehadiran penuh yang siap merespons apa pun yang dibutuhkan orang yang sedang lemah, termasuk kebutuhan yang tampak tidak mendesak sekalipun.
Tetapi ma'asyiral muslimin, hadits-hadits di atas berbicara tentang bagaimana kita menjaga orang lain. Bagaimana kalau gilirannya jatuh pada diri kita sendiri — ketika kita yang sakit, kita yang lemah, kita yang menanggung beban pekan ini? Nashaihul Ibad menghimpun nasihat dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang tujuh perkara yang, bagi orang berakal, lebih baik dipilih daripada lawannya:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلٰى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوْعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُوْرِ، وَالدُّوْنَ عَلَى الْمُرْتَفَعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ.
"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, rendah atas tinggi kedudukan, dan mati atas hidup."
Nasihat ini bukan ajakan untuk mencari-cari kesulitan, ma'asyiral muslimin. Ini adalah cara Ibnu 'Abbas mengajarkan kita mengubah cara pandang terhadap keadaan yang tidak nyaman — termasuk sakit, termasuk lemah, termasuk beban yang sedang kita tanggung pekan ini. Ketika sakit membuat kita "rendah" dan "sedih" dibanding hari-hari sehat kita, nasihat ini mengingatkan bahwa orang berakal, dalam pandangan syariat, justru memilih untuk tidak menjadikan kondisi rendah itu sebagai bencana yang harus disesali habis-habisan — melainkan tempat ia menemukan kembali ketergantungannya kepada Allah.
Kita mendengar pekan ini pengakuan-pengakuan jujur tentang kelelahan mengurus rumah tangga, kita mendengar kota yang lumpuh karena bencana, kita mendengar keluhan panjang soal birokrasi kesehatan. Semua itu nyata dan sah untuk dirasakan beratnya. Tetapi nasihat Ibnu 'Abbas ini menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar "bersabarlah" — ia menawarkan cara memandang bahwa justru di titik terendah itulah kita paling dekat dengan pengakuan tauhid yang sesungguhnya: bahwa kita bukan pemilik kesehatan, bukan pemilik kekuatan, dan segala yang kita punya adalah titipan yang bisa diambil kapan saja oleh Pemiliknya yang sebenarnya.
Empat dalil ini, kalau kita rangkai, membentuk satu lingkaran penuh: kita wajib menjenguk dan merawat sesama yang sakit dan lapar (Riyad as-Salihin 897), karena Allah sendiri mengangkat derajat perbuatan itu setinggi kedekatan dengan-Nya (Sahih Muslim 2569), karena Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkannya dengan kehadiran penuh, bukan sekadar delegasi (Sahih Muslim 1616a), dan karena ketika giliran kita yang lemah, kita dipanggil untuk memandang kelemahan itu sebagai jalan mendekat kepada Allah, bukan sekadar beban yang harus dikeluhkan (Nashaihul Ibad). Empat dalil, satu amanah: menjaga jiwa — jiwa sendiri dan jiwa sesama — adalah ibadah yang tidak pernah selesai, dan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sistem, kepada kebijakan, atau kepada lembaga mana pun, walau sistem yang baik tetap kita perlukan dan kita dukung bersama sebagai bagian dari fardhu kifayah menjaga maslahah umat.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari semua yang telah kita renungkan, mari kita turunkan menjadi langkah nyata untuk pekan ini.
Pertama, buat daftar sederhana: siapa di sekitar kita — tetangga, kerabat, rekan kerja — yang sedang sakit atau baru sembuh, dan belum kita jenguk. Jadwalkan kunjungan singkat pekan ini, walau hanya sepuluh menit.
Kedua, bagi yang memiliki kelebihan makanan atau rezeki, salurkan kepada satu keluarga yang kita tahu sedang kesulitan pangan — tidak perlu menunggu program besar, cukup mulai dari yang kita kenal langsung.
Ketiga, kalau ada anggota keluarga atau tetangga yang mengeluh kelelahan mengurus rumah tangga atau anak, jangan hanya mendengarkan sambil lalu — tawarkan bantuan konkret, sekecil menemani sejam atau membantu satu tugas rumah.
Keempat, untuk urusan kesehatan yang membingungkan — mana yang mitos, mana yang fakta — jangan malu bertanya kepada yang lebih paham, dan jangan mudah menyebarkan informasi kesehatan yang belum kita pastikan kebenarannya.
Kelima, kalau di lingkungan kita ada warga lanjut usia atau yang sakit menahun dan tinggal sendirian, ajak dua atau tiga tetangga membuat jadwal bergilir untuk mengecek kondisinya setiap pekan.
Keenam, jadikan doa untuk kesembuhan saudara-saudara kita yang sakit — di mana pun mereka — sebagai bagian tetap dari doa harian kita, bukan hanya diucapkan ketika mendengar kabar dukanya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوٰى.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita renungkan sekali lagi: kesehatan yang kita nikmati hari ini, yang membuat kita bisa duduk di sini menjalankan shalat Jumat, adalah nikmat yang sedang menghitung hari. Bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk membuat kita menghargai setiap hari sehat sebagai kesempatan beramal yang tidak akan berulang dua kali.
Kita juga perlu jujur pada diri sendiri: berapa banyak dari kita yang lebih sering mengeluhkan sistem kesehatan yang jauh, dibanding bergerak menjenguk tetangga yang dekat? Sistem yang baik memang kita perjuangkan dan kita dukung sepenuhnya, tetapi amanah menjenguk orang sakit tidak menunggu sistem itu sempurna dulu. Amanah itu ada di tangan kita, sejak hari ini.
Begitu pula dengan program pemberian makanan bergizi yang sedang disorot pekan ini. Sebagai umat, sikap kita bukan sekadar menonton dari jauh sambil mengkritik atau memuji — melainkan bertanya, apa yang bisa kita lakukan di lingkungan kita sendiri untuk memastikan tidak ada tetangga yang lapar malam ini?
Dan kepada siapa pun di antara kita yang pekan ini sedang sakit, sedang lelah, atau sedang menanggung beban berat — ingatlah nasihat Ibnu 'Abbas: keadaan rendah yang sedang kita alami bukan tanda Allah meninggalkan kita, melainkan panggilan untuk kembali mendekat kepada-Nya dengan lebih sungguh-sungguh.
Semoga Allah menjadikan pekan ini sebagai pekan di mana kita lebih banyak menjenguk daripada mengeluh, lebih banyak memberi daripada menuntut, dan lebih banyak bersyukur atas sehat yang masih Allah titipkan kepada kita hari ini — sebab kesehatan yang bertahan hingga sore ini pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersujud syukur.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَلَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَنَفِّسْ كُرْبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحِيْمِيْنَ بِالضُّعَفَاءِ وَعَادِلِيْنَ فِي التَّوْزِيْعِ.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا وَكِبَارَ سِنِّنَا، وَاغْفِرْ لِمَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الصِّحَّةَ فِي الْأَبْدَانِ، وَالْعَافِيَةَ فِي الْقُلُوْبِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَشْكُرُوْنَ نِعْمَتَكَ بِالْعَمَلِ لَا بِاللِّسَانِ فَقَطْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ عَلٰى نِعْمَةِ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
