بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai kita dengar kabar seputar layanan kesehatan — mulai dari keluhan soal BPJS dan tenaga kesehatan, sampai program makan bergizi yang sedang disorot publik. Tapi malam ini saya tidak ingin bicara soal sistem. Saya ingin bicara soal sesuatu yang jauh lebih dekat: bagaimana kita, secara pribadi, memperlakukan sehat yang masih Allah titipkan kepada kita sampai detik ini.
Coba jawab jujur dalam hati masing-masing: kapan terakhir kali kita benar-benar sadar bahwa sehat itu nikmat, bukan default? Biasanya kita baru sadar ketika sudah jatuh sakit, ketika badan sudah menyerah duluan. Allah menggambarkan momen itu dengan sangat tajam dalam Al-Qur'an:
وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ
(QS. Al-Qiyaama: 29) — "dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),"
Ayat ini berbicara tentang detik-detik terakhir kehidupan seseorang — ketika tubuh yang selama ini bisa digerakkan sesuka hati, tiba-tiba tidak bisa apa-apa lagi. Ayat ini turun bukan untuk menakut-nakuti kita soal kematian semata, tetapi untuk membuat kita bertanya balik ke hari ini: kalau betis kita bertaut besok, sudahkah sehat hari ini kita pakai untuk sesuatu yang berarti? Atau kita hanya memakainya untuk mengeluh soal hal-hal yang sebenarnya bisa kita syukuri?
Jamaah, saya ingin ajak kita masuk ke satu riwayat dari zaman Nabi ﷺ yang menurut saya sangat pas untuk pekan seperti ini, ketika kita mudah sekali mengeluh soal kesehatan — baik kesehatan diri sendiri maupun soal betapa ribetnya urusan berobat. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ pernah menjenguk seorang Muslim yang sakitnya begitu parah sampai badannya kurus lemah seperti anak burung. Nabi ﷺ bertanya kepadanya, apakah dulu ia pernah berdoa memohon sesuatu kepada Allah. Orang itu menjawab, dulu ia biasa berdoa begini:
"Ya Allah, hukuman apa pun yang akan Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah untukku di dunia ini."
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ langsung menegurnya: "Subhanallah, engkau tidak akan mampu menanggungnya…" (Sahih Muslim 2688a)
Jamaah, coba kita bayangkan niat orang ini. Sebenarnya niatnya kelihatan baik — ia berpikir, daripada nanti disiksa di akhirat yang kekal, lebih baik disegerakan saja di dunia yang sebentar. Kedengarannya logis. Tapi Rasulullah ﷺ justru menegurnya. Kenapa? Karena doa itu, walau niatnya kelihatan saleh, sebenarnya adalah bentuk putus asa yang menyamar jadi kepasrahan. Ia lupa bahwa Allah punya opsi ketiga yang jauh lebih baik daripada "disiksa di dunia" atau "disiksa di akhirat" — yaitu diampuni sepenuhnya, di dunia maupun di akhirat.
Saya kira banyak dari kita, saat sakit atau saat hidup sedang berat — entah karena urusan kesehatan yang berbelit, entah karena beban rumah tangga yang menumpuk — diam-diam berdoa dengan pola yang sama: "sudahlah Ya Allah, cepat selesaikan saja, saya sudah capek." Doanya terdengar pasrah, tapi sebenarnya lebih dekat ke putus asa daripada tawakal. Padahal yang diajarkan Nabi ﷺ bukan begitu. Yang diajarkan adalah kita boleh capek, boleh mengadu kepada Allah — tapi ujung doa kita harus tetap meminta 'afiyah, bukan meminta dipercepat penderitaan.
Kalau pekan ini kita sedang lelah dengan urusan kesehatan — entah antre BPJS, entah menunggu kabar keluarga yang sakit, entah sekadar capek fisik dan mental mengurus rumah tangga — jangan biarkan doa kita diam-diam berubah jadi "cepat selesaikan saja hidup ini." Ubah menjadi: "Ya Allah, kuatkan aku menjalani ini, dan sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak menyisakan sakit." Itu doa yang jauh lebih sehat — secara iman maupun secara jiwa. Malam ini, sebelum tidur, coba periksa ulang isi doa-doa keluhan kita pekan ini — apakah masih mengarah ke harapan, atau diam-diam sudah bergeser ke putus asa.
Jamaah yang saya hormati, izinkan saya menutup dengan satu titik: sehat itu bukan hak yang kita tuntut dari negara semata, dan sakit itu bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Keduanya adalah dua sisi ujian yang sama-sama menuntut kita kembali kepada-Nya — yang sehat bersyukur dengan menjaga dan berbagi, yang sakit bersabar dengan tetap berharap kesembuhan, bukan menyerah.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا عَافِيَةً لَا يُعَقِّبُهَا سَقَمٌ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ عَلٰى نِعْمَةِ الصِّحَّةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
