Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوٰى، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang terasa seperti ditulis untuk zaman kita, meski turun empat belas abad lampau. Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Allah berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 28, yang artinya: "Dan janganlah engkau mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya melampaui batas."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kita hidup di pekan yang penuh suara. Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa lini masa dipenuhi video-video tentang ketegangan Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz — satu video mengklaim satu pihak sudah "menyerah" sekaligus menuduh pihak lain menolak segala tawaran damai, video lain menggambarkan pejabat-pejabat sebuah negara "bersatu menuntut" penyelesaian karena dana yang menipis. Klaim-klaim ini beredar bersamaan, saling bertentangan, dan sama-sama dibungkus judul yang meneriakkan kepastian. Kabar yang sampai kepada kita bahkan menyebut sebuah kedutaan besar negara yang terlibat konflik itu, yang berkantor di Jakarta, sampai harus "buka suara" secara resmi — pertanda kebingungan publik sudah cukup besar untuk memancing klarifikasi diplomatik.
Di saat yang sama, ramai diperbincangkan pekan ini kabar dari Gaza dan solidaritas untuk Palestina — namun dengan nada yang jauh lebih senyap dibanding hiruk-pikuk Selat Hormuz. Sebagian kabar itu berupa tayangan yang menoleh ke belakang, menelisik ulang misteri ledakan besar di Beirut pada tahun 2020 yang disebut belum sepenuhnya terungkap hingga hari ini. Sebagian lain menyoroti korban militerisme di Papua sebagai cermin kekerasan struktural yang lebih luas, jauh dari Gaza secara geografis namun dekat secara nasib. Dan ada satu pertanyaan jujur yang muncul dari seorang warganet, yang layak kita renungkan bersama: mengapa seruan boikot yang kita gaungkan kadang salah sasaran — menghantam usaha kecil yang tidak ada kaitan langsung dengan penjajahan, sementara banyak orang di sekitar kita justru menggantungkan penghidupannya pada usaha itu?
Jamaah yang dirahmati Allah, dua rangkaian kabar ini — yang riuh soal Selat Hormuz dan yang senyap soal Gaza — sesungguhnya menunjuk pada satu penyakit yang sama: begitu mudahnya hati kita "melampaui batas" (فُرُطًا) dalam merespons dunia. Kita melampaui batas ketika membagikan klaim yang belum jelas kebenarannya hanya karena judulnya menggetarkan. Kita melampaui batas ketika marah pada usaha kecil yang tak bersalah, sementara diam pada persoalan yang sesungguhnya jauh lebih besar. Ayat yang kita baca di pembuka khutbah ini bukan sekadar peringatan untuk generasi awal Islam yang bergaul dengan orang-orang munafik di Madinah — ia adalah cermin abadi untuk setiap zaman yang dipenuhi suara-suara yang "hatinya dilalaikan dari mengingat Allah", yang "menuruti hawa nafsunya", dan yang "urusannya melampaui batas". Suara semacam itu selalu ada di setiap zaman; yang berubah hanyalah kecepatan dan jangkauannya.
Pertanyaannya bagi kita hari ini, di Indonesia tahun 2026: siapa yang kita ikuti ketika dunia bergejolak? Apakah kita mengikuti suara yang paling keras, atau suara yang paling jujur? Apakah kita mengikuti akun yang paling dramatis, atau sumber yang paling bisa dipertanggungjawabkan? Ayat ini mengajarkan kita bahwa mengikuti bukan perkara netral — ada pertanggungjawaban di baliknya, karena siapa yang kita ikuti akan membentuk arah hati kita.
Inti Khutbah
Ma'asyiral muslimin yang berbahagia, mari kita perdalam persoalan ini dengan tiga dalil tambahan yang akan menuntun sikap kita pekan ini.
Dalil pertama berkenaan dengan kata yang paling sering disalahpahami dalam perbincangan tentang konflik dunia Islam: jihad. Dalam kitab Fath al-Qarib, salah satu rujukan fikih yang dipelajari luas di pesantren-pesantren Nusantara, dijelaskan mengenai syarat-syarat wajibnya jihad:
وَكَانَ الْأَمْرُ بِهِ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْهِجْرَةِ فَرْضَ كِفَايَةٍ
Dijelaskan bahwa perintah jihad pada masa Rasulullah ﷺ, setelah hijrah, berkedudukan sebagai fardhu kifayah — kewajiban kolektif, bukan kewajiban setiap individu secara terpisah. Artinya, jika sudah ada pihak yang memenuhi kewajiban itu melalui jalur yang sah dan sesuai syariat, gugurlah kewajiban itu dari yang lain; namun jika seluruh umat mengabaikannya, dosanya ditanggung bersama. Ma'asyiral muslimin, ini adalah koreksi penting di tengah kebingungan istilah yang beredar di media: jihad dalam kerangka fikih bukan tindakan perorangan yang bebas ditafsirkan siapa saja, apalagi dijadikan alasan kekerasan sembarangan. Ia terikat syarat, terikat otoritas yang sah, dan yang paling penting bagi kita di Indonesia hari ini — ia bisa ditunaikan lewat jalur yang sama sekali tidak melibatkan senjata: dukungan dana kemanusiaan yang tersalur lewat lembaga terpercaya, doa yang tak putus, dakwah yang menjelaskan duduk perkara dengan jujur, dan tekanan diplomatik yang disalurkan lewat jalur yang sah. Kewajiban kolektif ini gugur dari kita masing-masing hanya jika cukup banyak dari kita yang benar-benar menunaikannya — bukan dengan diam menonton dari kejauhan sambil sekali-sekali membagikan video yang menggetarkan hati tanpa tindak lanjut apa pun.
Dalil kedua membawa kita pada sisi lain dari persoalan ini: bagaimana syariat memperlakukan ibadah orang yang hidup dalam bahaya. Fath al-Qarib juga menjelaskan tentang shalat khauf — shalat yang dilakukan dalam kondisi ketakutan atau bahaya, dengan tata cara yang disesuaikan:
فَيُفَرِّقُهُمُ الْإِمَامُ فِرْقَتَيْنِ
Disebutkan bahwa imam membagi jamaah menjadi dua kelompok: satu kelompok berdiri menghadapi ancaman sambil menjaga, kelompok lain shalat bersama imam, lalu mereka bertukar posisi hingga kedua kelompok menyelesaikan shalatnya. Jamaah yang dimuliakan Allah, renungkanlah kedalaman rahmat di balik hukum ini. Islam tidak pernah menyuruh umatnya meninggalkan shalat karena bahaya — sebaliknya, syariat justru turun tangan mengatur ulang tata caranya agar shalat tetap bisa ditegakkan, sekecil apa pun kondisinya. Ini adalah gambaran tentang bagaimana saudara-saudara kita yang hidup di tengah wilayah berbahaya di berbagai penjuru dunia, termasuk di Gaza, tetap dalam pengaturan rahmat Allah bahkan dalam ibadah mereka. Ketika kita mendengar kabar tentang saudara yang shalat di tengah ancaman, kita tidak sedang mendengar kisah keterpaksaan semata — kita sedang menyaksikan bagaimana syariat memang dirancang untuk menyertai manusia dalam kondisi paling sulit sekalipun, bukan meninggalkannya.
Dalil ketiga menuntun kita pada adab bersikap terhadap tokoh-tokoh dunia yang kini memenuhi linimasa — dipuja oleh sebagian, dibenci habis oleh sebagian yang lain. Dalam kitab Ash-Syama'il al-Muhammadiyyah, diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارٰى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian berlebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya." Ma'asyiral muslimin, perhatikanlah — manusia paling agung yang pernah hidup, yang paling berhak dipuji di antara seluruh makhluk, justru melarang keras pujian yang melampaui batas kepada dirinya sendiri. Maka bagaimana mungkin kita, umatnya, membiarkan hati kita mengkultuskan atau sebaliknya mendemonisasi tokoh-tokoh politik dan militer dunia — yang tidak satu pun dari mereka maksum, tidak satu pun bebas dari kesalahan — hingga seolah-olah nasib dunia bertumpu mutlak di pundak mereka seorang? Ketokohan dunia boleh kita cermati, boleh kita kritisi, boleh pula kita dukung kebijakannya yang baik. Tetapi hati kita harus tetap berpijak pada satu keyakinan: Allah yang mengatur pergantian keadaan, bukan satu tokoh pun yang berdiri sendiri mengendalikan takdir umat manusia.
Jamaah Jumat yang berbahagia, ketiga dalil ini — fardhu kifayah dalam jihad, rahmat dalam shalat khauf, dan larangan berlebihan memuji — sesungguhnya menuju satu titik yang sama: sikap pertengahan (wasathiyyah) yang menjadi ciri umat ini. Kita tidak dipanggil untuk apatis terhadap penderitaan saudara seiman di manapun mereka berada, tetapi kita juga tidak dipanggil untuk bersikap gegabah, ekstrem, atau larut dalam kultus terhadap tokoh dan narasi yang belum jelas kebenarannya. Di antara dua kutub itulah letak jalan yang lurus.
Marilah kita bertanya pada diri masing-masing: berapa banyak dari kita yang lebih hafal nama-nama jenderal dan pejabat asing yang viral pekan ini, dibanding hafal nama saudara sendiri di RT yang sedang kesulitan? Berapa banyak dari kita yang lebih cepat marah pada berita luar negeri yang belum tentu benar, dibanding cepat menolong tetangga yang benar-benar membutuhkan uluran tangan hari ini? Inilah saatnya menata ulang timbangan perhatian kita — bukan mengabaikan dunia, tetapi meletakkan porsi hati yang wajar bagi setiap persoalan, sesuai bobotnya di sisi Allah, bukan sesuai kerasnya volume yang diteriakkan algoritma.
Penutup Khutbah Pertama — Amal Pekan Ini
Jamaah yang dirahmati Allah, dari mimbar ini kita mengajak diri kita sendiri untuk menunaikan beberapa langkah konkret pekan ini:
Pertama, biasakan tabayyun sebelum membagikan kabar tentang konflik dunia. Tunggu sehari, cek dua sumber, baru putuskan apakah pantas dibagikan.
Kedua, alihkan sebagian perhatian kita dari drama yang belum jelas kebenarannya menuju Gaza dan Palestina yang jelas membutuhkan doa dan bantuan nyata — sisihkan sedekah lewat lembaga kemanusiaan yang kredibel pekan ini.
Ketiga, jaga adab saat isu dunia dibahas di grup keluarga atau RT — hentikan perdebatan yang mulai memanas, bukan dengan diam menghindar, tetapi dengan mengarahkan pada fakta dan doa.
Keempat, tahan diri dari memuja atau mencaci tokoh dunia secara berlebihan di depan anak-anak kita — mereka belajar dari cara kita bersikap terhadap tokoh yang mereka lihat di layar.
Kelima, jadikan doa qunut untuk saudara yang tertindas sebagai kebiasaan tetap, bukan hanya saat viral.
Keenam, dukunglah lembaga dakwah dan kemanusiaan yang menunaikan fardhu kifayah ini secara terorganisir, alih-alih merasa cukup dengan sekali membagikan status.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah kedua ini memperdalam tiga sisi dari apa yang telah kita renungkan bersama.
Pertama, tentang disiplin informasi. Kita hidup di zaman ketika satu genggaman tangan bisa menyebarkan kabar ke ribuan orang dalam hitungan detik — sebuah kemampuan yang tidak dimiliki generasi mana pun sebelum kita, dan karena itu menuntut kehati-hatian yang juga belum pernah dituntut sebesar ini sebelumnya. Menahan diri untuk tidak membagikan sesuatu yang belum jelas bukan tanda lemah iman; ia justru tanda kematangan iman, karena orang yang bertakwa tahu bahwa lisannya — dan jarinya di atas keyboard — akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kedua, tentang doa sebagai penyeimbang. Betapa pun rumit dan jauhnya sebuah konflik dari genggaman kita, doa selalu berada dalam jangkauan setiap hamba, kapan pun, di mana pun. Jangan biarkan rasa tidak berdaya menghadapi berita dunia membuat kita berhenti berdoa; justru di situlah doa menemukan maknanya yang paling dalam.
Ketiga, tentang kerendahan hati terhadap kekuasaan dunia. Kekuasaan yang paling besar sekalipun di muka bumi ini akan berakhir, sementara Allah tetap kekal mengatur seluruh urusan. Menyandarkan harapan sepenuhnya pada satu kekuatan dunia — siapa pun itu — adalah kekeliruan yang sama besarnya dengan menyerah pada keputusasaan. Harapan seorang mukmin senantiasa bersandar pada Allah lebih dahulu, baru kemudian pada ikhtiar manusia.
Marilah kita tundukkan hati dan angkat tangan, memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى مَنْ ظَلَمَنَا، وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ مَخْرَجًا.
اَللّٰهُمَّ انْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ وَغَزَّةَ، اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَاشْدُدْ أَزْرَهُمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ أَمْرِهِمْ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ وَنِسَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِلصُّلْحِ وَالْعَدْلِ لَا سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ وَالشِّقَاقِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
