Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Panggilan bagi Yang Tak Berdaya"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ يُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَيُدَبِّرُ شُؤُوْنَ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ عَلَّمَنَا التَّوَاضُعَ وَالِاعْتِدَالَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini linimasa kita dipenuhi video yang saling klaim tentang Amerika dan Iran, sementara di sudut lain dunia saudara kita di Gaza bertahan dalam kesunyian yang jauh lebih berat dari sekadar judul video. Ada satu doa kecil yang ingin saya bagikan malam ini — doa yang ditulis bukan oleh orang besar, tapi oleh seorang ahli ibadah yang merasa kecil di hadapan dunia yang terlalu besar untuk dipikul sendiri.

Doa itu berbunyi begini:

فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِيْنَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِيْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَرْحَمُنِيْ غَيْرُكَ

Artinya kira-kira: "Maka tolonglah aku, wahai penolong bagi orang-orang yang memohon pertolongan. Jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?" Doa ini tercatat dalam Nashaihul Ibad, salah satu kitab nasihat yang akrab dibaca di majelis-majelis kita. Saya suka doa ini karena ia jujur — ia tidak berpura-pura kuat, ia mengakui dirinya kecil, dan justru dari titik itu ia menemukan Allah.

Coba kita akui bersama: pekan ini, banyak dari kita merasa tidak berdaya. Tidak berdaya melihat video-video yang saling klaim tentang siapa menang siapa kalah di Selat Hormuz, tanpa tahu mana yang benar. Tidak berdaya mendengar kabar tentang Gaza yang terus berat, sementara jarak kita begitu jauh dan kemampuan kita begitu terbatas. Bahkan ada di antara kita yang sampai mempertanyakan diri sendiri — sudah benar belum cara saya bersolidaritas, jangan-jangan yang saya lakukan cuma menyakiti orang yang salah, seperti pertanyaan yang muncul pekan ini tentang boikot yang katanya sering salah sasaran.

Ketidakberdayaan semacam ini bukan tanda iman yang lemah. Justru sebaliknya — ketidakberdayaan yang kita sadari dan kita bawa kepada Allah, itulah awal dari doa yang paling tulus. Rasulullah ﷺ sendiri, dalam sebuah doa yang beliau ucapkan setiap bangun dari rukuk pada rakaat terakhir, menyebut nama-nama orang lemah yang tertindas satu demi satu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ

Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya Allah, selamatkanlah 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah" — lalu beliau melanjutkan menyebut nama sahabat lain yang tertindas satu per satu, hingga menutup doanya dengan permohonan untuk seluruh orang-orang mukmin yang lemah. Bukan menyebut mereka sebagai statistik, tapi sebagai manusia yang punya nama. Kalau Nabi ﷺ, manusia paling mulia, masih menyebut nama satu per satu dalam doanya untuk yang lemah, siapa kita untuk merasa doa kita "terlalu kecil" untuk menolong Gaza dari sini?

Yang menarik dari doa Nashaihul Ibad ini, ia tidak berhenti di "aku tidak berdaya". Ia melanjutkan dengan permohonan konkret — "maka tolonglah aku". Ada gerak dari mengakui kelemahan menuju memohon dengan sungguh-sungguh. Ini pelajaran penting buat kita: rasa tidak berdaya boleh kita akui, tapi jangan berhenti di situ. Bawa rasa itu jadi doa yang aktif, bukan keputusasaan yang pasif.

Jadi malam ini, sebelum kita pulang, saya mau titip tiga hal kecil. Pertama, baca doa ini malam ini sebelum tidur, sungguh-sungguh, sambil membayangkan saudara kita yang sedang kesulitan. Kedua, sebelum membagikan video atau kabar tentang konflik dunia besok, tanya dulu pada diri sendiri — apakah ini akan menenangkan atau justru menambah kegaduhan? Ketiga, kirim satu pesan kepada satu orang terdekat — bukan untuk berdebat soal siapa benar siapa salah, tapi untuk mengajaknya sama-sama mendoakan yang tertindas malam ini.

Semoga Allah mendengar doa kita yang kecil ini, dan menjadikannya bagian dari pertolongan yang lebih besar yang sedang Dia rencanakan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْعَلْ لَهُمْ فَرَجًا قَرِيْبًا.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan