Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 6 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Api yang Mengingatkan, Amanah yang Diuji"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوٰى، وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah pada Jumat ini kita membuka hati dengan satu ayat yang, sekilas, terasa aneh dan menantang akal — sebuah sumpah Allah tentang laut, benda yang selalu kita bayangkan sebagai lambang kesejukan dan ketenangan.

وَٱلْبَحْرِ ٱلْمَسْجُورِ

"Dan laut yang di dalam tanahnya ada api," (QS. At-Tur: 6)

Ayat ini adalah satu dari rangkaian sumpah yang Allah ucapkan di pembukaan Surat At-Tur — sumpah yang mengarahkan perhatian kita pada tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersembunyi di balik apa yang tampak biasa. Laut yang kita kira hanya berisi air ternyata, dalam firman-Nya, menyimpan api di dalamnya. Ketenangan yang kita anggap pasti ternyata bisa menyimpan bahaya yang tidak kita duga. Kita akan kembali kepada makna ayat ini beberapa kali sepanjang khutbah, karena ia adalah kunci untuk memahami apa yang terjadi pada pekan ini. Sumpah ini bukan sekadar keindahan sastra Al-Qur'an, melainkan undangan untuk memperhatikan dengan lebih saksama bahwa ciptaan Allah selalu menyimpan lapisan yang tidak tampak oleh mata biasa.

Kita hidup di sebuah pekan di mana bumi ini, sekali lagi, mengetuk perhatian kita dengan berbagai cara. Dari pemantauan resmi cuaca dan kebencanaan, kita mengetahui bahwa gempa, banjir, dan kekeringan dipantau berbarengan pekan ini — belum lagi kabar tentang kebakaran hutan dan lahan yang turut masuk dalam daftar pemantauan. Ini bukan satu bencana tunggal yang berdiri sendiri, ma'asyiral muslimin, melainkan sebuah rangkaian yang datang hampir bersamaan, seolah bumi ini sedang berbicara dari berbagai penjuru dalam waktu yang sama.

Dari berita pekan ini kita juga mengetahui sebuah kabar yang menyentuh hati banyak orang: sebuah kapal feri penumpang, Mutiara Sentosa II, mengalami kebakaran di perairan Sumenep. Tim pencarian dan pertolongan dikabarkan turun tangan menangani kejadian ini. Sebuah kapal yang seharusnya membawa manusia dengan selamat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, tiba-tiba menjadi sumber ancaman bagi penumpangnya sendiri. Hampir bersamaan, kabar yang sampai kepada kita juga menyebutkan kebakaran di area parkir sebuah hotel di Jakarta — pihak hotel mengonfirmasi kejadian itu terjadi di kawasan parkirnya. Dua latar yang sangat berbeda — laut lepas dan gedung bertingkat di kota besar — didatangi oleh ancaman yang sama: api.

Ada satu kabar lagi, ma'asyiral muslimin, yang barangkali paling menyentuh hati kita hari ini. Pekan ini beredar klarifikasi bahwa sebuah kebakaran di sebuah pondok pesantren di Lombok, yang merenggut nyawa satu orang santri dan melukai tiga santri lainnya, sesungguhnya telah terjadi jauh sebelum pekan ini — dan baru sekarang kabar itu kembali ramai dibicarakan. Bayangkan, saudara-saudaraku: seorang santri yang dikirim orang tuanya ke pesantren untuk belajar agama, untuk dijaga dan dididik, justru kehilangan nyawanya karena api yang seharusnya bisa dicegah. Ini adalah kabar yang menampar kesadaran kita — bahwa tempat yang kita anggap paling aman sekalipun tidak otomatis aman, kecuali ada kewaspadaan yang dijaga terus-menerus oleh manusia yang mengelolanya.

Namun tidak semua kabar pekan ini datang dengan wajah gelap. Dari kalangan mahasiswa, kita mendengar cerita yang lebih ringan: sekelompok mahasiswa yang hendak menjalani pengabdian masyarakat di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, membagikan pemandangan alam yang mereka lewati sepanjang perjalanan — hamparan bumi yang indah, yang mengingatkan kita bahwa bumi yang sama yang bisa mengguncang dan membakar, juga menyimpan keindahan yang menenangkan jiwa siapa pun yang memandangnya dengan mata yang bersyukur. Dan dari kalangan muda yang peduli pada isu konservasi, muncul pula pertanyaan yang jujur: apakah teknologi kecerdasan buatan yang kini digunakan luas justru menambah beban bagi lingkungan yang ingin mereka jaga? Pertanyaan semacam ini, ma'asyiral muslimin, sesungguhnya adalah pertanyaan yang baik — pertanyaan yang seharusnya lebih dahulu muncul dari umat yang mengaku dirinya khalifah di bumi ini, bukan dari mereka yang baru mengenal Islam dari luar.

Semua kabar ini — gempa dan banjir yang dipantau berbarengan, kapal yang terbakar di laut, hotel yang terbakar di kota, pesantren yang kehilangan seorang santrinya, mahasiswa yang mengagumi keindahan bumi, dan anak muda yang mempertanyakan dampak teknologi pada alam — sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sama: hubungan kita dengan bumi ini, dan amanah yang dibebankan Allah kepada kita di atasnya.

Inti Khutbah

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa bencana adalah alasan untuk berhenti berpikir dan berhenti berjaga. Justru sebaliknya. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita cara memandang salah satu bahaya yang paling akrab dengan kehidupan manusia — api — dengan cara yang sangat tajam. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa sebuah rumah di Madinah terbakar pada malam hari bersama para penghuninya.

Sahih Muslim 2016 — Abu Musa meriwayatkan bahwa sebuah rumah terbakar di Madinah pada malam hari bersama para penghuninya. Ketika hal itu dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Api ini adalah musuh bagi kalian. Maka apabila kalian hendak tidur, padamkanlah ia."

Perhatikan, ma'asyiral muslimin, bagaimana Rasulullah ﷺ tidak menyebut kejadian itu sekadar sebagai "takdir" yang tidak bisa dihindari. Beliau justru menamai api sebagai musuh — 'aduwwun — sebuah kata yang tegas, yang menuntut kita untuk waspada, bukan pasrah tanpa usaha. Musuh tidak dibiarkan berkeliaran bebas di rumah kita sebelum kita tertidur. Musuh dijaga, diwaspadai, dan bila memungkinkan, dipadamkan sebelum ia berbuat celaka. Ini adalah pelajaran keselamatan yang sangat sederhana, namun berapa banyak dari kita yang benar-benar memeriksa kompor, memeriksa aliran listrik, memeriksa charger yang masih menyala, sebelum kita memejamkan mata setiap malam? Kebakaran kapal, kebakaran hotel, dan kebakaran pesantren yang kita dengar pekan ini adalah pengingat keras bahwa hadits pendek ini bukan nasihat kuno yang kadaluwarsa — ia adalah petunjuk yang relevan pada setiap zaman, termasuk zaman kita hari ini.

Di sinilah letak keseimbangan yang diajarkan Islam antara takdir dan usaha. Kita meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan ketentuan Allah — tidak ada satu daun pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Namun keyakinan ini tidak pernah dimaksudkan untuk melumpuhkan ikhtiar kita. Sebaliknya, iman yang benar justru mendorong kita untuk semakin berhati-hati, semakin waspada, semakin bersiap — karena Allah menilai bukan hanya hasil akhir, tetapi juga usaha yang kita curahkan untuk menjaga amanah yang dititipkan kepada kita. Seorang mukmin yang memeriksa kompornya sebelum tidur bukan sedang meragukan takdir Allah; ia sedang menjalankan perintah Allah untuk menjaga dirinya sendiri, sebagaimana Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan hal itu secara eksplisit dalam hadits yang baru kita bacakan.

Sejarah Islam sendiri mencatat bagaimana Rasulullah ﷺ menanggapi fenomena alam yang mengejutkan umatnya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari terjadi gerhana matahari di Madinah, bersamaan dengan wafatnya salah seorang putra beliau. Sebagian orang saat itu mengira gerhana itu adalah tanda kesedihan alam atas wafatnya sang bayi. Rasulullah ﷺ segera meluruskan pemahaman yang salah ini: gerhana matahari dan bulan bukanlah pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan semata tanda kekuasaan Allah. Namun beliau tidak berhenti pada koreksi akidah semata — beliau segera mengumpulkan sahabat dan mendirikan shalat khusus karena fenomena itu, sebuah praktik yang hingga hari ini terjaga dalam fikih sebagai shalat kusuf dan khusuf, dengan tata cara bacaan yang tetap dijaga oleh para ulama sampai ke rincian sirr dan jahr-nya. Yang ingin kita renungkan dari kisah ini bukan sekadar hukum fikihnya, tetapi sikap Nabi ﷺ: setiap fenomena alam yang mengguncang hati umat dijawab dengan dua hal sekaligus — kejernihan akidah, dan tindakan nyata berupa ibadah serta kewaspadaan. Bukan kepanikan tanpa arah, dan bukan pula sikap acuh yang menyepelekan tanda-tanda itu.

Mari kita bawa perhatian kita kepada satu lagi ayat yang sangat relevan dengan kekeringan yang tengah dipantau pekan ini. Allah Ta'ala berfirman dalam kisah dua orang pemilik kebun di dalam Surat Al-Kahf:

أَوْ يُصْبِحَ مَآؤُهَا غَوْرًۭا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبًۭا

"Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi." (QS. Al-Kahf: 41)

Ayat ini adalah bagian dari kisah seorang pemilik kebun yang begitu bangga dengan kekayaannya, hingga ia yakin kebunnya tidak akan pernah binasa, dan ia meragukan datangnya hari kiamat. Saudaranya yang beriman mengingatkannya bahwa segala kenikmatan datang dari Allah, dan Allah kuasa untuk mengambilnya kembali — termasuk air yang mengalir di kebun itu, yang bisa saja surut ke dalam tanah hingga tak seorang pun mampu menemukannya lagi. Ma'asyiral muslimin, kekeringan yang kita dengar dipantau pekan ini bukan sekadar berita cuaca. Ia adalah pengingat yang hidup dari ayat ini: air yang kita anggap akan selalu ada, yang kita gunakan tanpa berpikir dua kali untuk mencuci, untuk menyiram, untuk mandi, sesungguhnya adalah pemberian yang bisa ditarik kembali oleh Pemiliknya kapan saja Dia kehendaki. Kesombongan pemilik kebun dalam ayat ini adalah kesombongan yang sama dengan kita, tatkala kita merasa berhak atas nikmat air tanpa pernah bersyukur atasnya.

Sekarang mari kita alihkan perhatian kepada laut, karena laut adalah tempat di mana kabar paling menyentuh hati kita pekan ini terjadi — kebakaran kapal feri di Sumenep. Dalam Surat Al-Kahf, Allah menceritakan sebuah episode dari perjalanan Nabi Musa 'alaihissalam bersama seorang hamba yang saleh, yang oleh sebagian ulama disebut Nabi Khidir. Di tengah perjalanan mereka menaiki sebuah perahu, sang hamba saleh itu melakukan sesuatu yang tampak merusak — melubangi perahu itu. Musa terkejut dan menegurnya. Tetapi kemudian dijelaskan alasannya:

أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌۭ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًۭا

"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera." (QS. Al-Kahf: 79)

Perhatikan, ma'asyiral muslimin, siapa yang disebut secara khusus dalam ayat ini: orang-orang miskin yang bekerja di laut. Bukan pedagang kaya, bukan pejabat, melainkan pekerja laut yang hidupnya bergantung pada satu bahtera sederhana. Allah menceritakan bagaimana perlindungan terhadap mereka datang dalam bentuk yang, sekilas, tampak seperti kerusakan — namun sebenarnya adalah penyelamatan dari ancaman yang jauh lebih besar. Ayat ini mengajarkan kita dua hal sekaligus. Pertama, bahwa orang-orang yang bekerja di laut — nelayan, awak kapal, pekerja pelabuhan — memiliki kedudukan khusus dalam perhatian syariat sebagai pihak yang rentan dan harus dilindungi, bukan diabaikan. Kedua, bahwa di balik kejadian yang tampak sebagai bencana, seringkali tersembunyi hikmah yang belum kita pahami sepenuhnya — namun hikmah itu tidak boleh membuat kita berhenti mengambil pelajaran keselamatan yang nyata dari setiap kejadian yang menimpa saudara kita.

Ma'asyiral muslimin yang dimuliakan Allah, air sesungguhnya bukan hanya sumber ancaman. Ia juga adalah nikmat yang paling mendasar bagi kehidupan. Allah menggambarkan salah satu kenikmatan surga dengan firman-Nya:

وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ

"Dan air yang tercurah," (QS. Al-Waaqia: 31)

Ayat pendek ini menggambarkan salah satu nikmat yang dijanjikan Allah bagi penduduk surga — air yang mengalir dengan mudah, tanpa perlu diperjuangkan, tanpa perlu dikhawatirkan akan habis. Bandingkan ini dengan kondisi kekeringan yang sedang dipantau pekan ini, di mana air justru menjadi barang yang harus diperjuangkan, dicari, dan dihemat. Kontras ini seharusnya menumbuhkan dua sikap sekaligus dalam hati kita: rasa syukur yang mendalam ketika air masih mengalir dengan mudah di rumah kita, dan kesadaran bahwa kemudahan itu tidak abadi, sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakannya.

Ma'asyiral muslimin, kita hidup di Indonesia tahun ini, sebuah negeri yang Allah letakkan di atas cincin api Pasifik, dikepung lautan luas, dan diberkahi hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Kedudukan geografis ini bukan kebetulan — ia adalah amanah berlapis. Gempa yang kita rasakan, banjir yang menggenangi sebagian wilayah, kekeringan yang mengancam wilayah lain, serta kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap musim kering, semuanya adalah konsekuensi hidup di negeri yang kaya sekaligus rawan. Bagi jamaah yang tinggal di perkotaan, amanah ini berwujud kewaspadaan pada instalasi listrik dan gas di rumah serta tempat kerja. Bagi jamaah yang tinggal di pesisir atau dekat aliran sungai, amanah ini berwujud kesiapan menghadapi banjir dan mengenali jalur evakuasi. Bagi jamaah yang menggantungkan hidup dari laut sebagai nelayan atau pekerja pelayaran, amanah ini berwujud memastikan setiap keberangkatan dilengkapi standar keselamatan yang tidak dikorbankan demi kecepatan atau biaya. Kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini — dari kapal yang terbakar di laut hingga kekeringan yang dipantau di darat — adalah ilustrasi hidup dari kondisi geografis yang kita warisi ini, bukan kejadian yang terjadi di negeri jauh dan asing bagi kita.

Ulama-ulama kita mengajarkan bahwa syariat ini datang untuk menjaga lima hal mendasar bagi manusia — agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sebagian ulama masa kini menambahkan satu penegasan yang sesungguhnya sudah tersirat sejak awal: menjaga bumi dan lingkungan, karena tanpa bumi yang terjaga, keempat yang lain sulit ditegakkan dengan baik. Bagaimana kita menjaga jiwa manusia, jika air yang menghidupinya tercemar atau habis? Bagaimana kita menjaga keturunan, jika anak-anak kita dibesarkan di lingkungan yang rawan bencana tanpa kesiapan apa pun? Karena itu, menjaga jiwa manusia dari bahaya yang bisa dicegah dan menjaga bumi dari kerusakan bukanlah dua agenda yang berlainan — keduanya berdiri di atas fondasi yang sama, yaitu kesadaran bahwa kita adalah khalifah, pengelola sementara, bukan pemilik mutlak atas apa yang kita pijak dan kita hirup setiap hari.

Ma'asyiral muslimin, kalau kita menenun semua dalil yang telah kita bahas — laut yang menyimpan api, api yang disebut sebagai musuh yang harus dipadamkan, kebun yang kehilangan airnya karena kesombongan pemiliknya, perahu yang dijaga demi melindungi pekerja miskin di laut, dan air surga yang mengalir sebagai nikmat — kita akan menemukan satu benang merah yang sama: bumi ini, dengan segala isinya, adalah amanah yang dipercayakan Allah kepada kita, bukan milik yang bisa kita perlakukan sesuka hati. Inilah yang disebut dalam bahasa syariat sebagai amanah khilafah fil-ardh — amanah kekhalifahan di muka bumi. Menjaga jiwa manusia dari bahaya yang bisa dicegah (hifz an-nafs) dan menjaga bumi dari kerusakan serta kelalaian (hifz al-bi'ah) bukan dua kewajiban yang berbeda, melainkan satu amanah yang sama, yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kita semua dikumpulkan.

Sebagian ulama mengingatkan bahwa amanah ini disebut dalam Al-Qur'an dengan bahasa yang sangat tegas — bahwa langit dan bumi bahkan menolak untuk memikul amanah itu karena beratnya, namun manusia yang justru bersedia memikulnya, meski sering kali dengan kezaliman dan kebodohan pada dirinya sendiri. Amanah ini bukan sesuatu yang ringan untuk dipandang sebelah mata. Ia mencakup amanah terhadap diri sendiri untuk menjaga keselamatan, amanah terhadap keluarga untuk memastikan mereka terlindungi, amanah terhadap tetangga untuk saling mengingatkan, dan amanah terhadap bumi itu sendiri untuk tidak merusaknya lebih jauh dari yang sudah ada. Setiap kali kita menunda memeriksa hal-hal kecil yang bisa mencegah bencana, sesungguhnya kita sedang menggadaikan sebagian dari amanah besar ini, sedikit demi sedikit, tanpa kita sadari.

Kejadian-kejadian pekan ini — kapal yang terbakar, hotel yang terbakar, pesantren yang kehilangan seorang santrinya, gempa dan banjir yang dipantau berbarengan, kekeringan yang mengancam — bukanlah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri secara kebetulan. Ia adalah panggilan bagi kita, umat Islam Indonesia hari ini, untuk tidak memisahkan antara iman dan kewaspadaan, antara doa dan ikhtiar, antara tawakal dan tindakan konkret menjaga keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita.

Oleh karena itu, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita tutup bagian ini dengan beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai hari ini juga:

Pertama, periksa kembali kompor, aliran listrik, dan charger di rumah kita sebelum tidur malam ini — sekecil apa pun kelalaian pada titik ini, ingatlah sabda Rasulullah ﷺ bahwa api adalah musuh yang harus dipadamkan sebelum kita lengah.

Kedua, siapkan atau perbarui tas siaga sederhana untuk keluarga kita — dokumen penting, obat-obatan, sedikit uang tunai, dan nomor kontak darurat — sebagai bentuk ikhtiar nyata menghadapi kemungkinan gempa atau banjir, bukan sebagai tanda kurang percaya pada takdir Allah.

Ketiga, hematlah air mulai hari ini, terutama saat berwudhu dan di rumah, sebagai wujud syukur atas nikmat yang bisa ditarik kembali kapan saja oleh Pemiliknya.

Keempat, bagi yang bekerja atau memiliki kerabat yang bekerja di sektor transportasi laut, pelayaran, atau perhotelan, jadikan pekan ini momentum untuk mengecek ulang standar keselamatan kebakaran di tempat kerja masing-masing — bukan menunggu inspeksi dari pihak lain.

Kelima, mari kita sisihkan sedikit rezeki kita untuk membantu keluarga yang terdampak kebakaran pekan ini, baik keluarga santri yang wafat dan terluka di Lombok, maupun pihak-pihak lain yang kehilangan harta karena api — sebagai wujud ukhuwah yang nyata, bukan sekadar simpati di media sosial.

Keenam, jadikan momen ini kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir dan istighfar yang lebih rutin, khususnya di waktu-waktu genting seperti angin kencang atau cuaca ekstrem, mengikuti keteladanan Rasulullah ﷺ yang senantiasa berlindung kepada Allah dari keburukan yang mungkin datang bersama fenomena alam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita perdalam sekali lagi apa yang telah kita bahas pada khutbah pertama. Amanah menjaga bumi bukanlah beban tambahan di luar keimanan kita — ia adalah bagian dari keimanan itu sendiri. Ketika kita memeriksa kompor sebelum tidur, ketika kita menghemat air, ketika kita menyiapkan tas siaga untuk keluarga, kita sesungguhnya sedang menjalankan fardhu kifayah yang dibebankan kepada umat ini secara kolektif — kewajiban yang gugur dari kita bila cukup orang menjalankannya, namun menjadi dosa bersama bila kita semua sama-sama mengabaikannya.

Kita juga perlu merenungkan kembali bahwa kejadian-kejadian pekan ini menimpa orang-orang dari berbagai latar: penumpang kapal, tamu dan pekerja hotel, santri di pesantren. Tidak ada satu golongan pun yang kebal dari risiko bencana dan kelalaian. Justru karena itu, tanggung jawab menjaga keselamatan tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada pihak lain — kepada pengelola kapal saja, kepada manajemen hotel saja, atau kepada pengurus pesantren saja. Setiap kita, di rumah masing-masing, memiliki bagian amanah yang sama yang harus kita tunaikan.

Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hamba-Nya yang bersyukur atas nikmat air dan udara yang kita hirup setiap hari, yang waspada terhadap bahaya api tanpa jatuh pada rasa takut yang berlebihan, dan yang senantiasa mengingat bahwa kekhalifahan kita di bumi ini akan dimintai pertanggungjawaban pada hari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kelalaian kita.

Ma'asyiral muslimin, ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan bersama. Ketika berita kebakaran kapal, hotel, dan pesantren datang berurutan pada pekan yang sama, sebagian dari kita mungkin merasa lelah mendengar kabar yang terus berdatangan, hingga tergoda untuk berhenti peduli dan menganggapnya "sudah biasa terjadi di negeri ini". Sikap semacam ini, ma'asyiral muslimin, adalah bentuk kelalaian yang justru harus kita lawan bersama. Islam mengajarkan kita untuk tetap peka terhadap penderitaan sesama, betapa pun sering ia terjadi, karena hati yang mengeras terhadap musibah orang lain adalah salah satu tanda yang paling dikhawatirkan oleh para ulama kita.

Kita juga perlu mengingat bahwa amanah menjaga bumi ini tidak hanya berbentuk aksi individu, tetapi juga aksi bersama. Fardhu kifayah yang kita sebutkan tadi terlaksana ketika ada cukup orang di tengah kita — di masjid ini, di lingkungan tempat tinggal kita, di tempat kerja kita — yang bersedia mengambil peran menjaga keselamatan bersama: memeriksa instalasi listrik masjid secara rutin, mengorganisir simulasi evakuasi sederhana, atau sekadar mengingatkan tetangga yang lalai mematikan kompor sebelum tidur. Bila tidak ada seorang pun yang mengambil peran ini, kelalaian itu menjadi tanggungan bersama seluruh jamaah, bukan hanya tanggungan satu pihak yang dianggap paling bersalah.

Semoga Jumat ini menjadi titik balik kecil bagi kita semua — bukan sekadar rutinitas ibadah pekanan yang berlalu tanpa bekas, tetapi momentum nyata untuk pulang ke rumah dengan niat yang lebih kuat: memeriksa apa yang perlu diperiksa, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, dan menghubungi siapa yang perlu dibantu. Amanah menjaga bumi dan menjaga keselamatan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu khutbah, melainkan kebiasaan yang harus kita rawat setiap hari, sehingga ketika kita berdiri di hadapan Allah kelak, kita bisa menjawab dengan tenang bahwa kita telah menjaga sebaik yang kita mampu.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ تُوُفِّيَ مِنْ إِخْوَانِنَا فِي الْحَرَائِقِ وَالْكَوَارِثِ هٰذَا الْأُسْبُوْعَ، وَاغْفِرْ لَهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا، وَفَرِّجْ عَنْ أَهْلِيْهِمْ وَعَزِّهِمْ بِالصَّبْرِ وَالسَّلْوٰى.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَوْنًا فِيْ حِفْظِ الْأَرْضِ وَحِفْظِ النَّاسِ مِنَ الْكَوَارِثِ وَالْحَرَائِقِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هٰذِهِ الْأَرْضِ وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ النَّارِ إِذَا اسْتَعَرَتْ، وَمِنْ شَرِّ الْمَاءِ إِذَا طَغٰى، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ، الْحَافِظِيْنَ لِأَمَانَتِكَ فِيْ أَرْضِكَ، الْمُبَادِرِيْنَ إِلٰى دَفْعِ الضَّرَرِ عَنْ أَنْفُسِنَا وَعَنْ جِيْرَانِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan