بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Para jamaah yang saya hormati, pekan ini bumi seperti sedang berbicara keras kepada kita. BMKG memantau gempa, banjir, dan kekeringan hampir berbarengan. Sebuah kapal feri terbakar di perairan Sumenep. Dan sebuah kabar lama tentang kebakaran pesantren di Lombok yang merenggut nyawa satu santri kembali ramai dibicarakan pekan ini. Malam ini saya ingin mengajak kita merenung satu hal sederhana yang sering kita lewatkan.
Berapa lama jarak antara "aman" dan "bencana"? Sering kali, jaraknya cuma satu malam. Satu percikan di ruang mesin kapal yang tadinya berlayar tenang. Satu kompor yang lupa dimatikan.
وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ
"Dan apabila lautan dijadikan meluap," (QS. At-Takwir: 6)
Ayat ini bagian dari rangkaian tanda hari kiamat di awal Surat At-Takwir: matahari digulung, bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan — dan lautan yang selama ini kita kenal luas dan tenang, tiba-tiba "meluap", mendidih, bergerak liar. Kalau lautan seluas itu bisa berubah rupa dalam sekejap atas kehendak Allah, kejadian-kejadian yang kita saksikan pekan ini — kapal yang terbakar, gempa yang mengguncang — sebenarnya cuma percikan kecil dari kekuasaan yang sama.
Saudara-saudara, saya ingin kita jujur sejenak. Kapal Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan Sumenep itu, sebelum apinya menyala, pasti berlayar dengan tenang. Penumpangnya duduk santai, mungkin ada yang tertidur, ada yang menikmati angin laut. Tidak ada yang membayangkan bahwa dalam hitungan jam keadaan berubah drastis, sampai tim pencarian dan pertolongan harus turun tangan. Ketenangan yang kita nikmati hari ini — di rumah, di kendaraan, di tempat kerja — sebenarnya berada dalam kerentanan yang sama, hanya kita tidak menyadarinya karena belum terjadi apa-apa.
Hal yang sama terjadi pada pesantren di Lombok itu. Mungkin bertahun-tahun berjalan normal — santri belajar, mengaji, tidur di asrama — sampai satu malam api datang dan merenggut satu nyawa, melukai tiga lainnya. Kabar itu baru ramai dibicarakan sekarang, padahal kejadiannya sudah lama berlalu. Ini mengajarkan satu hal yang menyakitkan: keselamatan yang tampak stabil bertahun-tahun tidak menjamin apa-apa untuk esok hari, kalau kewaspadaan kita berhenti bergerak.
Allah juga berfirman tentang kenikmatan yang serupa — kelancaran yang sering kita anggap wajar saja:
فَٱلْجَٰرِيَٰتِ يُسْرًۭا
"Dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah." (QS. Adh-Dhaariyat: 3)
Ayat ini bagian dari rangkaian sumpah Allah di awal Surat Adh-Dhariyat, menyebut kapal yang berlayar dengan mudah sebagai satu tanda kebesaran-Nya. Coba renungkan: kapal yang melaju mulus, angin yang bersahabat, ombak yang tenang — semua itu bukan hal biasa, itu kemudahan yang Allah titipkan, yang bisa Dia cabut kapan saja Dia kehendaki. Kita berangkat ke masjid tadi dengan lancar, kita masak di dapur tanpa insiden, kita tidur semalam tanpa gempa — semua itu "yusra", kemudahan gratis yang jarang kita syukuri sampai ia hilang.
Nah, di sinilah masalahnya, jamaah. Kita cenderung baru waspada setelah bencana menimpa orang lain, bukan sebelum. Kita ramai membicarakan kapal yang terbakar, tapi berapa dari kita yang malam ini benar-benar memeriksa instalasi listrik di rumah sendiri? Kita iba mendengar santri yang wafat karena api, tapi berapa dari kita yang sudah mengecek alat pemadam di masjid lingkungan sendiri? Ada jarak psikologis: bencana itu terasa "terjadi di sana", bukan "bisa terjadi di sini" — padahal hukum alam yang sama berlaku untuk kita semua, tanpa kecuali.
Ini bukan soal kurang beriman kepada takdir — justru sebaliknya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa api adalah musuh yang harus dipadamkan sebelum kita tidur, bukan dibiarkan atas nama tawakal. Iman yang benar adalah iman yang membuat kita lebih waspada, bukan lebih santai. Orang yang benar-benar yakin bahwa Allah bisa mengambil nikmat kapan saja justru yang paling rajin menjaga apa yang masih dititipkan kepadanya hari ini.
Ada juga sisi yang lebih hangat dari pekan ini yang layak kita renungkan. Sekelompok mahasiswa yang justru mengagumi keindahan bumi dalam perjalanan mereka, dan seorang mahasiswa lain yang bertanya jujur apakah teknologi yang mereka pakai justru menambah beban bagi alam. Pertanyaan semacam itu, sejujurnya, seharusnya lebih dulu keluar dari mulut kita yang mengaku umat yang diberi amanah menjaga bumi ini — bukan dari mereka yang baru belajar peduli.
Saudara-saudara, saya sengaja tidak memakai bahasa mimbar yang berat malam ini, karena pelajaran ini sesederhana kebiasaan harian. Tapi jangan salah — kebiasaan kecil yang kita jaga atau kita abaikan setiap malam itulah yang menentukan apakah rumah, masjid, dan lingkungan kita termasuk yang dijaga Allah dari bencana yang sebenarnya bisa dicegah, atau dibiarkan lalai sampai menyesal di kemudian hari. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan kita untuk takut berlebihan pada alam. Beliau mengajarkan kewaspadaan yang tenang, yang berjalan seiring dengan dzikir, bukan menggantikannya.
Maka pulang dari kultum ini, mari kita bawa tiga hal kecil saja. Pertama, periksa satu titik di rumah kita — kompor, kabel listrik, charger yang masih nyantol walau HP sudah penuh dari semalam — sebelum kita tidur malam ini juga; cabut saja, itu bukan ibadah, itu cuma lupa. Kedua, kalau ada anggota keluarga yang bekerja di laut, di kapal, atau di tempat ramai orang seperti hotel dan sekolah, tanyakan malam ini: apakah jalur keselamatan di tempat kerjanya sudah jelas. Ketiga, sisihkan sedikit rezeki untuk keluarga yang terdampak kebakaran pekan ini, sekecil apa pun jumlahnya.
Bencana tidak menunggu kita siap. Tapi kesiapan kita tidak harus menunggu bencana datang lebih dulu.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هٰذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْحَرَائِقِ وَالْكَوَارِثِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ الْحَافِظِيْنَ لِأَمَانَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
