Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأَكْرَمَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang." (QS. Al-Mutaffifin: 1)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat pendek yang baru saja kita dengar ini membuka salah satu surah paling tajam dalam Al-Qur'an. Hanya beberapa kata dalam bahasa Arabnya, tapi ancamannya begitu berat: kecelakaan besar—wail—diperuntukkan bagi orang yang curang. Yang menarik, ayat ini tidak diturunkan untuk perampok bersenjata atau pembunuh. Ia diturunkan untuk pedagang biasa di pasar Madinah, orang-orang yang tampak baik-baik saja, yang hanya melakukan satu hal kecil: mengurangi timbangan ketika menjual, dan melebihkan takaran ketika membeli. Kecurangan yang nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk mengundang ancaman seberat itu.
Kita membawa ayat ini ke pekan yang baru saja kita lalui, karena pola yang sama sedang berulang, hanya berpindah wajah. Dari berita pekan ini kita ketahui, obrolan warga di ruang digital dipenuhi cerita tentang pinjaman online, paylater, dan judi digital—persoalan yang paling ramai dibicarakan pekan ini di antara seluruh persoalan sosial yang mengemuka. Ada yang berbagi cerita mengalami penipuan untuk pertama kali dalam hidupnya, terkejut menyadari betapa mudahnya jalan pintas yang tadinya terlihat menjanjikan berubah menjadi jerat. Ada pula konten yang menormalkan taruhan sebagai gurauan santai, seolah mengajak berjudi hanyalah candaan pertemanan biasa, tanpa beban apa pun.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini juga membawa berita tentang pengungkapan jaringan narkoba dalam skala yang mengejutkan banyak orang. Reaksi yang muncul sebagian besar adalah ketidakpercayaan—bagaimana mungkin operasi sebesar itu bisa berjalan di depan mata kita, jauh dari radar keluarga biasa. Ramai pula diperbincangkan pekan ini kabar seputar penegakan hukum sebuah kasus besar yang sebagian masih simpang siur kebenarannya, serta pertanyaan publik tentang bagaimana anggaran daerah dikelola. Semua ini, ma'asyiral muslimin, bermuara pada satu benang yang sama: kepercayaan yang sedang diuji, dan jalan pintas yang menawarkan diri sebagai pengganti kepercayaan yang retak itu.
Yang membuat ayat pembuka Surah Al-Mutaffifin ini terasa begitu relevan adalah karena ia tidak berbicara tentang kejahatan besar yang jarang kita temui. Ia berbicara tentang kecurangan kecil yang dianggap wajar—mengurangi sedikit di sini, melebihkan sedikit di sana—yang kalau dibiarkan, tumbuh menjadi budaya. Pinjaman daring yang menampilkan angka cicilan kecil di iklan tapi menyembunyikan bunga sesungguhnya di halaman syarat yang jarang dibaca, aplikasi judi yang menampilkan tangkapan layar kemenangan orang lain sementara menyembunyikan berapa banyak yang kalah, adalah wajah baru dari mutaffifin yang disebut Al-Qur'an: mengambil penuh, memberi kurang.
Ulama tafsir menjelaskan bahwa larangan dalam ayat ini tidak berhenti pada timbangan pasar. Ia mencakup setiap bentuk pertukaran yang tidak jujur—janji yang dilebihkan, risiko yang disembunyikan, informasi yang ditahan agar pihak lain tidak bisa mengambil keputusan dengan mata terbuka. Sesuatu yang tampak sepele karena hanya berupa aplikasi di layar ponsel, sesungguhnya menjalankan mekanisme kecurangan yang sama persis dengan yang membuat Allah mengancam neraka wail bagi pelakunya.
Kita, jamaah yang dimuliakan Allah, hidup di zaman ketika transaksi tidak lagi terjadi di pasar dengan timbangan yang bisa kita lihat langsung. Transaksi kita terjadi di layar kecil, dengan syarat yang ditulis kecil-kecil, dengan tombol "setuju" yang kita tekan tanpa membaca. Justru karena itulah, kewaspadaan terhadap kecurangan hari ini menuntut usaha yang lebih besar, bukan lebih kecil, dibandingkan pedagang pasar zaman dahulu yang setidaknya bisa melihat timbangan dengan mata kepala sendiri.
Ma'asyiral muslimin, jika kita bertanya mengapa jalan pintas ini begitu memikat, jawabannya sudah lama dijelaskan oleh ulama kita. Imam Al-Ghazali rahimahullah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, menggambarkan satu jenis manusia yang olehnya disebut layak menjadi bahan tertawaan—bukan karena jahat, tapi karena logikanya yang keliru.
Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد
يُرِيدُ مَالًا فَتَرَكَ الْحِرَاثَةَ وَالتِّجَارَةَ وَالْكَسْبَ وَيَتَعَطَّلُ، وَقَالَ: إِنَّ اللهَ كَرِيمٌ رَحِيمٌ وَلَهُ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُطْلِعَنِي عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِهِ أَسْتَغْنِي بِهِ عَنِ الْكَسْبِ...
"[Ada seorang yang] menginginkan harta, lalu meninggalkan bercocok tanam, berdagang, dan segala bentuk usaha, kemudian duduk berpangku tangan. Ia berkata, 'Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi, dan Dia Maha Kuasa memperlihatkan kepadaku salah satu simpanan-Nya sehingga aku tidak perlu lagi bekerja...'" (Imam Al-Ghazali rahimahullah, Bidayatul Hidayah)
Ma'asyiral muslimin, Imam Al-Ghazali menyebut orang semacam ini layak ditertawakan—bukan karena keliru tentang kemurahan Allah, sebab kemurahan Allah memang benar adanya, tapi karena keliru menyimpulkan bahwa kemurahan itu berarti ia boleh berhenti berusaha dan menunggu keajaiban jatuh dari langit begitu saja. Gambaran ini terasa begitu akrab dengan logika yang dipakai judi digital hari ini: berharap kaya dalam sekali putaran, tanpa bekerja, tanpa berdagang, tanpa usaha yang wajar. Bedanya, berabad-abad lalu orang seperti ini kita tertawakan karena jarang kita temui. Hari ini, logikanya sama persis, hanya saja dibungkus rapi dalam ikon aplikasi berwarna cerah, dan kita tidak lagi menertawakannya—kita mengunduhnya.
Sebelum diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad ﷺ dikenal seluruh penduduk Makkah dengan gelar Al-Amin, yang tepercaya. Gelar itu bukan diberikan karena Beliau tidak pernah berdagang, justru karena Beliau berdagang dengan kejujuran yang tidak pernah goyah, bahkan ketika kejujuran itu berarti keuntungan yang lebih kecil. Khadijah radhiyallahu 'anha mempercayakan modal dagangnya kepada Nabi ﷺ bukan karena kedekatan keluarga, melainkan karena reputasi kejujuran yang sudah terdengar jauh sebelum wahyu pertama turun. Kejujuran, ma'asyiral muslimin, bukan produk sampingan dari iman—ia adalah salah satu bukti paling nyata dari iman itu sendiri, dan itulah yang dicontohkan Nabi kita jauh sebelum Beliau diangkat menjadi nabi.
Riyad as-Salihin 1807
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa bersumpah lalu tanpa sengaja mengucapkan, 'Demi Lata dan 'Uzza,' hendaklah ia segera mengucapkan, 'Laa ilaaha illallah.' Dan barangsiapa berkata kepada temannya, 'Ayo kita berjudi,' hendaklah ia bersedekah sebagai kafarat." (Riyad as-Salihin 1807, Muttafaq 'alaih)
Perhatikan baik-baik apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ di sini. Beliau tidak sedang berbicara tentang orang yang sungguh-sungguh berjudi dan kehilangan harta. Beliau berbicara tentang orang yang sekadar mengucapkan ajakan berjudi—bahkan mungkin sambil bercanda, sambil tertawa dengan temannya. Namun ucapan itu saja sudah cukup berat sehingga Rasulullah ﷺ mewajibkan sedekah sebagai penebus. Bandingkan ini dengan budaya kita hari ini, ketika ajakan "yuk coba slot, kan cuma iseng" atau "ikutan taruhan bola bareng grup" diucapkan begitu ringan, bahkan dianggap lucu, tanpa ada seorang pun yang merasa perlu menebusnya dengan apa pun. Bukan berarti hukumnya lebih ringan hari ini dibanding empat belas abad lalu; yang berubah hanyalah kepekaan kita.
QS. Al-An'aam: 123
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya." (QS. Al-An'aam: 123)
Ayat ini berbicara tentang pola yang berulang di setiap zaman: selalu ada "akabir mujrimiha"—penjahat-penjahat besar, dalang di balik layar—yang merancang tipu daya di tengah masyarakat. Di balik pinjaman ilegal yang bunganya mencekik, di balik aplikasi judi yang dirancang membuat penggunanya merasa "hampir menang" agar terus mencoba, di balik jaringan narkoba yang terungkap pekan ini, ada tangan-tangan yang sengaja merancang sistem itu untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Yang luar biasa dari ayat ini adalah penutupnya: mereka mengira sedang menipu orang lain, padahal yang tertipu paling dalam adalah diri mereka sendiri, dan mereka bahkan tidak menyadarinya. Betapa pun besar keuntungan yang mereka kumpulkan hari ini, ada perhitungan yang menanti di hari ketika seluruh tipu daya itu dibuka sejelas-jelasnya.
Ma'asyiral muslimin, apa yang bisa kita simpulkan dari ayat pembuka Surah Al-Mutaffifin, nasihat Imam Al-Ghazali, sabda Rasulullah ﷺ tentang penebusan ajakan judi, dan peringatan Al-Qur'an tentang penjahat-penjahat besar di setiap negeri? Semuanya menunjuk pada satu akar yang sama: keinginan mendapatkan sesuatu secara instan, tanpa proses yang wajar, dan kesediaan menipu diri sendiri untuk percaya bahwa jalan pintas itu aman. Ini bukan penyakit orang lain. Ini adalah godaan yang bisa menyapa siapa saja di antara kita—pedagang yang tergoda melebihkan harga sedikit karena pembeli tidak akan tahu, pegawai yang tergoda memoles sedikit laporan karena atasan tidak akan memeriksa, orang tua yang tergoda menerima pinjaman cepat karena anak butuh biaya sekolah esok pagi.
Yang membedakan seorang mukmin bukanlah dia tidak pernah tergoda, sebab godaan itu manusiawi dan akan selalu ada. Yang membedakan adalah kesediaannya berhenti sejenak sebelum menekan tombol "setuju", sebelum mengirim uang ke rekening yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal, sebelum membagikan kabar yang belum ia pastikan kebenarannya. Berhenti sejenak itu, dalam bahasa agama kita, adalah bagian dari takwa—kesadaran bahwa ada Yang Maha Melihat setiap transaksi, setiap ketikan, setiap keputusan kecil yang kita ambil di layar ponsel kita sendirian, jauh dari pengawasan siapa pun kecuali Allah subhanahu wa ta'ala.
Bagi generasi muda kita, jamaah yang dimuliakan Allah, godaan ini datang dalam kemasan yang lebih halus lagi: permainan yang menyisipkan mekanisme mirip judi di dalamnya, konten yang menormalkan taruhan sebagai hiburan biasa, ajakan investasi cepat kaya dari senior atau teman yang terlihat meyakinkan. Tanggung jawab kita sebagai orang tua dan sebagai jamaah bukan hanya melarang, tetapi mendampingi—duduk bersama anak-anak kita, bertanya apa yang mereka mainkan, apa yang mereka lihat, dan menjelaskan dengan bahasa yang mereka pahami mengapa jalan pintas itu berbahaya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebagai penutup bagian pertama khutbah ini, izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai pekan ini juga.
Pertama, periksa kembali aplikasi keuangan yang biasa kita gunakan. Baca ulang syarat dan ketentuan yang selama ini kita lewati begitu saja, terutama soal bunga dan denda keterlambatan.
Kedua, luangkan waktu berbicara dengan anak atau adik kita tentang mekanisme "putaran" atau "kotak hadiah" yang ada di banyak permainan digital—jelaskan bahwa itu dirancang dengan logika yang sama dengan judi, meskipun namanya berbeda.
Ketiga, jika ada tetangga atau kerabat yang kita ketahui sedang tertekan kebutuhan finansial mendesak, tawarkan bantuan atau pinjaman tanpa bunga sebelum mereka mencari jalan ke pinjaman ilegal.
Keempat, biasakan menahan diri sejenak sebelum membagikan kabar yang viral namun belum jelas sumbernya—satu jeda kecil bisa mencegah fitnah menyebar lebih jauh.
Kelima, bagi yang memiliki kemampuan lebih, mulai gagas atau dukung koperasi simpan-pinjam syariah di lingkungan tempat tinggal, sebagai alternatif nyata bagi tetangga yang membutuhkan dana cepat tanpa terjerat riba.
Semoga langkah-langkah kecil ini menjadi jalan bagi kita untuk keluar dari lingkaran jalan pintas yang menjerat, dan kembali kepada jalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala—jalan yang mungkin lebih lambat, tapi tidak pernah mengkhianati.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada satu hal yang perlu kita renungkan lebih dalam sebelum khutbah ini kita tutup. Dunia digital memberi kita ilusi anonimitas—perasaan bahwa apa yang kita lakukan di balik layar, dengan akun tanpa nama asli, tidak akan pernah diketahui siapa pun. Ilusi inilah yang membuat sebagian orang merasa aman mengunduh aplikasi judi, mengetikkan komentar kebencian, atau menyebarkan kabar bohong, karena mengira jejak digital itu bisa dihapus dan dilupakan begitu saja.
Kitab Tsalatsatul Ushul yang diajarkan kepada anak-anak kita sejak dini mengandung satu peringatan yang justru menjawab ilusi ini secara langsung. Di dalamnya dikutip firman Allah, "Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu mudah bagi Allah.'" (QS. At-Taghabun: 7, sebagaimana dikutip dalam Tsalatsatul Ushul). Ayat ini awalnya menjawab keraguan tentang hari kebangkitan, tapi prinsipnya berlaku persis untuk kegelisahan zaman kita: tidak ada anonimitas di hadapan Allah. Setiap transaksi pinjaman ilegal, setiap putaran judi digital, setiap kabar bohong yang kita sebar, tercatat dengan sempurna meski dunia tidak pernah tahu siapa pelakunya.
Justru karena itu, ma'asyiral muslimin, kesadaran ini semestinya membebaskan kita, bukan menakut-nakuti kita. Ia membebaskan kita dari godaan untuk berpikir bahwa dosa kecil di dunia maya "tidak akan ketahuan" sehingga boleh dilakukan. Ia juga meneguhkan kita bahwa kebaikan kecil yang kita lakukan diam-diam—mengingatkan teman yang mulai kecanduan judi, membantu tetangga lepas dari jerat pinjaman ilegal tanpa memberi tahu siapa pun—juga tercatat sempurna di sisi Allah, meski tidak pernah viral, meski tidak pernah mendapat pengakuan siapa pun di dunia.
Marilah kita jadikan pekan-pekan ke depan sebagai kesempatan memperbaiki apa yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita—transaksi yang belum kita periksa kejujurannya, kabar yang pernah kita sebar tanpa verifikasi, atau kelalaian kita mendampingi anak-anak menghadapi godaan digital yang mereka temui setiap hari. Semoga Allah mengampuni kekhilafan kita dan menuntun kita kembali ke jalan yang lurus.
فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَادْعُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالظُّلْمَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرِ وَشُرُوْرِ الْمُخَدِّرَاتِ، وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَحْفَظَ شَبَابَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتَنِ الشَّاشَاتِ وَخِدَاعِ الْقُلُوْبِ، وَاجْعَلْ أَمْوَالَنَا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى الصِّدْقِ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَتِنَا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرٍ وَخِدَاعٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
