Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPatologi Sosial DigitalKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Angan Panjang yang Memperdaya Kita"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar begitu banyak cerita tentang orang-orang yang tertipu, terjerat pinjaman, atau tergoda taruhan digital. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini: tentang bagaimana angan-angan panjang bisa menipu kita sendiri, bahkan sebelum orang lain sempat menipu kita.

Coba jujur pada diri sendiri sejenak: berapa kali kita membuka aplikasi hanya untuk "lihat-lihat", lalu tanpa sadar satu jam berlalu, dan kita masih meyakinkan diri sendiri bahwa sebentar lagi akan berhenti? Angan-angan seperti itu—rasa yakin bahwa kita bisa mengendalikan sesuatu yang sebenarnya perlahan mengendalikan kita—adalah pintu masuk yang dipakai hampir semua jerat digital yang kita dengar pekan ini, entah itu pinjaman online, judi digital, atau sekadar kebiasaan mudah percaya pada kabar yang belum pasti.

قُتِلَ ٱلْخَرَّٰصُونَ

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." (QS. Adh-Dhaariyat: 10)

Ayat ini pendek, tapi tajam. Al-kharrasun—orang-orang yang menduga-duga lalu menyampaikannya seolah pasti, yang berbicara tanpa dasar yang jelas. Ayat ini turun untuk menegur kebiasaan berbicara sembarangan tentang perkara besar, tapi jamaah, coba kita renungkan: bukankah ini persis yang terjadi setiap kali kita meneruskan kabar yang judulnya bikin kaget tanpa tahu benar-salahnya? Kita ikut menjadi bagian dari al-kharrasun itu, hanya dengan satu ketukan jari.

Yang membuat ayat ini terasa begitu dekat dengan pekan kita adalah karena kedustaan hari ini jarang datang dengan wajah yang jujur mengaku dusta. Ia datang dengan wajah yang meyakinkan: testimoni yang kelihatan asli, tangkapan layar yang kelihatan resmi, judul yang kelihatan seperti berita. Kita, yang menerimanya, sering tidak sedang berbohong secara sengaja—kita hanya malas memverifikasi, lalu terburu-buru membagikan. Tapi ayat ini tidak membedakan siapa yang membuat dusta pertama kali dan siapa yang menyebarkannya untuk kedua, ketiga, keseratus kalinya. Keduanya berdiri di jalur yang sama.

Pekan ini kita dengar kabar yang belum jelas kebenarannya tentang nasib seseorang dalam sebuah kasus hukum besar, beredar cepat sebelum ada kepastian. Kita dengar juga cerita orang-orang yang baru sadar tertipu oleh tawaran yang kelihatannya masuk akal—pinjaman yang cepat cair, ajakan taruhan yang dibungkus sebagai hiburan semata. Semua ini punya satu kesamaan: seseorang, di suatu titik, memilih percaya lebih cepat daripada memverifikasi lebih dulu.

Ada yang membagikan pengalamannya tertipu untuk pertama kali dalam hidupnya—rasa kaget itu bukan karena dia bodoh, tapi karena tipuan hari ini dirancang oleh orang-orang yang mempelajari kelemahan manusia lebih dalam daripada kebanyakan kita mempelajari diri sendiri. Ada pula yang menjadikan ajakan berjudi sebagai bahan candaan di linimasa, seolah keseriusan hanya pantas untuk hal-hal besar, bukan untuk kebiasaan kecil yang pelan-pelan menumpuk jadi kebiasaan besar.

Di sisi lain, kabar tentang jaringan narkoba yang terbongkar pekan ini membuat banyak orang bereaksi dengan kekagetan yang tulus—bagaimana mungkin operasi sebesar itu berjalan tanpa disadari lingkungan sekitarnya? Jawabannya mungkin sederhana dan menyakitkan: karena kita semua, termasuk saya, cenderung tidak curiga pada sesuatu yang datang dengan wajah yang biasa saja, yang berbaur dengan keseharian, yang tidak terlihat jahat sampai buktinya tidak bisa dibantah lagi.

Ada satu munajat yang saya suka sekali, dari kitab Nashaihul Ibad, yang isinya seperti curahan hati seorang hamba kepada Allah:

إِلَهِي طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِيْ، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِيْ، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِيْ، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِيْ، وَقَرِيْنُ السُّوْءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِيْ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku pada kemaksiatan." (Nashaihul Ibad)

Coba dengarkan lagi kalimat itu satu per satu: angan-angan panjang, cinta dunia, bisikan setan, nafsu yang membenarkan, dan teman yang buruk. Bukankah itu persis peta jalan yang membawa seseorang dari sekadar iseng mencoba, menjadi kecanduan yang sulit dihentikan? Angan-angan panjang berkata, "sekali ini saja, nanti berhenti." Cinta dunia berkata, "aku pantas mendapat lebih." Nafsu berkata, "toh semua orang juga begini." Dan teman yang buruk—termasuk teman di grup yang menormalkan semua ini—memberi keberanian terakhir yang dibutuhkan untuk melangkah.

Yang menarik dari munajat ini, ia tidak berhenti pada keluhan. Ia diakhiri dengan permintaan tolong: "maka tolonglah aku, wahai penolong bagi orang-orang yang meminta tolong." Ini mengajarkan sesuatu yang penting: mengenali kelemahan diri bukan untuk menyerah padanya, tapi untuk tahu ke mana harus meminta pertolongan. Orang yang merasa dirinya kebal dari jerat semacam ini biasanya justru yang paling mudah terjerat, karena ia tidak pernah berjaga-jaga.

Kita semua, jamaah, punya titik lemah masing-masing. Bagi sebagian kita, itu rasa ingin tahu terhadap kabar viral tanpa mau repot memverifikasi. Bagi yang lain, itu tekanan finansial yang membuat tawaran pinjaman cepat terasa seperti jawaban doa. Bagi yang lain lagi, itu kebosanan yang membuat aplikasi judi terasa seperti hiburan yang tidak berbahaya. Titik lemah itu bukan aib yang harus disembunyikan—ia pintu yang harus kita jaga lebih ketat daripada pintu-pintu lain di rumah kita.

Malam ini, sebelum tidur, coba lakukan tiga hal kecil. Pertama, buka kembali satu pesan atau kabar yang tadi hampir kita bagikan tanpa mengecek sumbernya—putuskan sekarang juga apakah itu layak dibagikan atau layak dihapus. Kedua, kalau ada aplikasi di ponsel yang kita tahu punya unsur taruhan atau bunga yang tidak jelas, luangkan waktu sebentar untuk membaca ulang syaratnya dengan mata yang lebih sadar. Ketiga, kirim satu pesan singkat kepada teman atau anggota keluarga yang kita curigai sedang bergumul dengan salah satu jerat ini—bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengatakan bahwa kita ada, dan siap membantu tanpa menuduh.

Angan-angan panjang akan selalu berbisik bahwa jalan pintas kali ini berbeda, bahwa kita cukup pintar untuk berhenti kapan saja kita mau. Tapi kejujuran yang sesungguhnya dimulai dari mengakui bahwa kita tidak sekuat itu sendirian, dan itulah sebabnya kita punya Allah untuk bersandar, dan punya sesama untuk saling menjaga. Semoga pekan ini menjadi pekan ketika kita berhenti sejenak, sebelum angan-angan panjang itu berhasil memperdaya kita sekali lagi.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا

"Ya Allah, jadikanlah di hatiku cahaya, di penglihatanku cahaya, di pendengaranku cahaya, dan agungkanlah cahaya bagiku." (Sahih Muslim 763a)

اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَخِدَاعِ الشَّيْطَانِ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى الْحَقِّ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan