Pekan ini banyak orang bicara soal upah, PHK, dan pekerja yang jauh dari rumah. Empat belas abad lalu, tiga orang paling penting dalam sejarah Islam pernah merasakan lapar yang sama beratnya — dan jalan keluarnya datang dari kebun seorang petani kurma di pinggiran Madinah. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم menghimpun kisah ini dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah ﷺ keluar rumah pada suatu jam yang ganjil. Bukan jam biasa beliau keluar. Tidak ada orang yang biasanya menemuinya di jam itu.
Abu Bakar radhiyallahu 'anhu muncul lebih dulu. "Apa yang membawamu keluar, wahai Abu Bakar?" tanya Nabi ﷺ. "Aku keluar untuk menemui Rasulullah ﷺ, melihat wajahnya, dan mengucap salam," jawabnya.
Tidak lama, Umar radhiyallahu 'anhu datang. Ditanya hal yang sama. Umar tidak berbasa-basi. "Lapar, wahai Rasulullah," katanya. Nabi ﷺ menjawab pendek, "Aku juga merasakan sebagian dari itu."
Tiga orang lapar berjalan bersama menuju rumah Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan, seorang Anshar. Lelaki itu punya banyak pohon kurma dan kambing, tapi tidak punya seorang pun pekerja. Mereka tidak menemukannya di rumah. "Ke mana suamimu?" tanya mereka pada istrinya. "Sedang pergi mengambilkan kami air tawar," jawab sang istri.
Tidak lama, Abu al-Haitsam datang memikul kantong air penuh. Diletakkannya kantong itu, lalu ia memeluk Nabi ﷺ erat-erat, mengucap kalimat penghormatan yang biasa diucapkan sahabat untuk beliau. Ia mengajak ketiganya ke kebunnya, menggelar tikar, lalu pergi ke sebatang pohon kurma dan kembali membawa setandan penuh, diletakkannya di depan mereka.
"Kenapa tidak kau pilihkan untuk kami yang sudah matang saja?" tanya Nabi ﷺ. "Wahai Rasulullah, aku sengaja ingin kalian sendiri yang memilih — mana yang matang, mana yang masih muda," jawab Abu al-Haitsam. Mereka makan kurma itu, minum air tawar tadi.
"Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya," kata Nabi ﷺ, "inilah di antara nikmat yang akan ditanyakan kepada kita pada Hari Kiamat — naungan yang sejuk, kurma yang manis, dan air yang dingin."
Abu al-Haitsam beranjak hendak memasak untuk mereka. "Jangan kau sembelih untuk kami hewan yang sedang menyusui," pesan Nabi ﷺ. Maka disembelihnyalah seekor anak kambing, dibawanya kepada mereka, dan mereka pun makan bersama.
"Apakah kau punya pembantu?" tanya Nabi ﷺ. "Tidak," jawab Abu al-Haitsam. "Kalau begitu, bila ada tawanan datang kepada kami, temuilah kami," kata Nabi ﷺ.
Suatu waktu, tawanan pun datang kepada Nabi ﷺ — dua orang, dengan satu orang lagi bersama mereka. Abu al-Haitsam datang menemui beliau. "Pilihlah salah satu dari dua orang ini," kata Nabi ﷺ. "Wahai Rasulullah, pilihkan untukku," jawab Abu al-Haitsam. Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang diminta pendapatnya adalah orang yang dipercaya. Ambil yang ini — aku melihatnya biasa mengerjakan salat. Perlakukanlah ia dengan baik."
Abu al-Haitsam pulang dan menyampaikan pesan Rasulullah ﷺ itu kepada istrinya. Istrinya menjawab, "Engkau tidak akan bisa menunaikan hak dari apa yang disampaikan Nabi ﷺ tentang dia, kecuali dengan memerdekakannya." Abu al-Haitsam pun berkata, "Kalau begitu, dia merdeka."
Pelajaran
Yang membuat kisah ini istimewa bukan hanya laparnya Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar — tiga orang paling mulia dalam Islam, yang tetap merasakan perut kosong seperti buruh mana pun yang gajinya telat pekan ini. Yang lebih istimewa adalah bagaimana kisah ini berakhir: bukan di meja makan, tapi di rumah tangga Abu al-Haitsam, ketika sepasang suami istri sama-sama berlomba menunaikan hak seorang pekerja yang baru saja datang ke rumah mereka. Nabi ﷺ hanya berpesan "perlakukanlah ia dengan baik" — pesan yang sederhana. Tapi istri Abu al-Haitsam menaikkan standarnya sendiri: baik saja tidak cukup, harus dimerdekakan. Hari ini, kita mungkin tidak lagi bicara soal tawanan dan pembebasan budak, tapi setiap rumah yang mempekerjakan asisten rumah tangga, setiap usaha yang mempekerjakan buruh, setiap keluarga yang mengirim anaknya bekerja ke rumah orang lain, sedang diuji dengan pertanyaan yang sama seperti yang dihadapi Abu al-Haitsam malam itu: cukupkah kita berhenti di "baik saja", atau kita berani menunaikan hak itu sampai tuntas.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
حدثنا محمد بن إسماعيل. حدثنا آدم بن أبي سلمة بن أبي إياس. حدثنا شيبان (أبو معاوية). حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: «خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه، والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال ما جاء بك يا عمر؟ قال الجوع يا رسول لله. قال صلى الله عليه وسلم وأنا قد وجدت بعض ذلك. فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيّهان الأنصاريّ وكان رجلا كثير النخيل والشاء ولم يكن له خدم فلم يجدوه فقالوا لامرأته: أين صاحبك؟ فقالت: انطلق يستعذب لنا الماء فلم يلبثوا أن جاء أبو الهيثم بقربة يزعبها فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي صلى الله عليه وسلم ويفديه بأبيه وأمّه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا تنقّيت لنا من رطبه؟ فقال يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء. فقال صلى الله عليه وسلم هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألونا عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيّب، وماء بارد.»
«فانطلق أبو الهيثم ليصنع لهم طعاما فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا تذبحنّ لنا ذات درّ، فذبح لهم عناقا أو جديا، فأتاهم بها، فأكلوا، فقال صلى الله عليه وسلم: هل لك خادم؟ قال لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأتى صلى الله عليه وسلم برأسين معهما ثالث. فأتاه أبو الهيثم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اختر منهما. فقال يا رسول الله اختر لي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن المستشار مؤتمن، خذ هذا، فإنّي رأيته يصلي، واستوص به معروفا، فانطلق أبو الهيثم الى امرأته فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حقّ ما قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم إلّا بأن تعتقه، قال فهو عتيق.»
