بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita mendengar kabar tentang pabrik yang berpindah provinsi, buruh yang was-was soal PHK, dan pekerja migran yang menyuarakan nasibnya sampai ke negeri seberang. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak dari kecemasan itu, dan menengok bagaimana orang-orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dulu menjalani hari-hari yang jauh lebih sulit dari kita — tetapi hatinya tidak pernah sesempit keadaannya.
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah bercerita tentang dirinya sendiri.
«لَقَدْ رَأَيْتُنِيْ وَإِنِّيْ لَأَخِرُّ فِيْمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَحُجْرَةِ عَائِشَةَ رضي الله عنها مَغْشِيًّا عَلَيَّ، فَيَجِيْءُ الْجَائِيْ فَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلٰى عُنُقِيْ، يَرٰى أَنَّ بِيْ جُنُوْنًا، وَمَا بِيْ جُنُوْنٌ وَمَا هُوَ إِلَّا الْجُوْعُ»
"Sungguh aku pernah roboh pingsan di antara mimbar Rasulullah ﷺ dan kamar Aisyah radhiyallahu 'anha. Orang yang lewat meletakkan kakinya di leherku, mengira aku kerasukan, padahal aku tidak kerasukan — itu hanya lapar" (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم). Ini bukan cerita pengemis di pinggir jalan, jamaah. Ini Abu Hurairah — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, yang memilih tinggal di serambi masjid Nabi ﷺ demi menuntut ilmu, sampai laparnya membuat orang mengira ia kerasukan.
Kenapa saya mulai dengan kisah lapar ini? Karena pekan ini, ketika kita mendengar kabar PHK atau upah yang tak kunjung naik, ada godaan untuk merasa bahwa kesulitan ekonomi adalah tanda Allah sedang tidak sayang kepada kita. Kisah Abu Hurairah membalik anggapan itu. Beliau termasuk sahabat yang paling dicintai Nabi ﷺ, paling dekat majelisnya, tetapi juga paling akrab dengan lapar. Kedekatan dengan Allah dan kesempitan rezeki bisa berjalan beriringan, dan itu bukan kontradiksi — itu ujian yang sama yang pernah dilalui orang-orang pilihan.
Ada satu nasihat dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang saya kira pas untuk hati kita malam ini.
حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلَى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوْعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُوْرِ
"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina atas mulia, tawadhu atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira" (Nashaihul Ibad — باب السباعي). Ini bukan ajakan untuk mencintai kemiskinan atau menolak ikhtiar mencari kerja yang layak — jangan salah paham. Ini nasihat tentang urutan hati: ketika pilihan datang antara harga diri yang terjaga dengan penghasilan kecil, atau harga diri yang tergadai demi penghasilan besar, orang yang berakal tahu mana yang lebih layak dipilih. Buruh yang di-PHK tetapi tetap jujur mencari kerja baru, lebih mulia di sisi Allah daripada yang mendapat posisi lewat cara yang tidak halal.
Saya sering merasa, kita ini lebih cepat mengukur diri dari saldo rekening daripada dari kejujuran cara kita mencarinya. Padahal Abu Hurairah yang pingsan karena lapar itu, hari ini namanya disebut jutaan kali setiap salat lima waktu lewat hadits-hadits yang ia riwayatkan. Lapar hari itu tidak pernah mengurangi kemuliaannya — justru meneguhkannya sebagai orang yang memilih ilmu dan kedekatan dengan Nabi ﷺ ketimbang mengejar dunia lebih dulu.
Maka pulang dari sini malam ini, saya mengajak kita melakukan tiga hal kecil. Pertama, kalau di antara kita ada yang pekan ini sedang menghadapi PHK atau usaha yang seret, jangan ukur diri dari keadaan itu — ukur dari kejujuran ikhtiar yang sedang dijalani. Kedua, mari kita tanya kabar tetangga atau kerabat yang kita tahu sedang mencari kerja, sekadar menanyakan tanpa menghakimi. Ketiga, sisihkan sedikit apa pun yang kita punya malam ini untuk mereka yang lebih sempit rezekinya — karena kelapangan hati Abu Hurairah dulu justru lahir dari keakraban dengan kekurangan, bukan dari kelimpahan.
Semoga Allah menjaga hati kita tetap lapang sekalipun rezeki sedang sempit, dan menjaga rezeki kita tetap berkah sekalipun datangnya sedikit demi sedikit.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَقَنِّعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا لَا تَتَعَلَّقُ إِلَّا بِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
