Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanKamis, 6 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Kursi Kecil, Amanah yang Besar"

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَرْضَ لِلْعِبَادِ أَمَانَةً، وَاسْتَخْلَفَ الْإِنْسَانَ فِيهَا لِيَعْمُرَهَا بِالْعَدْلِ لَا بِالطُّغْيَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ كُلَّ أَمَانَةٍ فِي أَيْدِيكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْهَا يَوْمَ تَقُومُ الْأَشْهَادُ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah pada kesempatan yang mulia ini kita menundukkan hati untuk mendengar satu ayat pendek namun tajam, yang Allah letakkan di antara kisah-kisah kaum terdahulu.

ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ

"(yaitu) yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri," (QS. Al-Fajr: 11)

Ayat ini adalah satu potongan dari rangkaian panjang surah Al-Fajr, di mana Allah mengingatkan kita tentang kaum 'Ad, kaum Tsamud, dan Fir'aun — tiga kekuatan besar di zamannya masing-masing, yang runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, bukan karena kalah perang, tetapi karena satu penyakit yang sama: mereka "thaghau fil-bilad", melampaui batas dalam mengelola negeri yang mereka kuasai. Setelah menyebut ketiganya, Allah menutup dengan pertanyaan yang menggetarkan: bahwa Tuhan kita senantiasa mengintai dan mengawasi. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun bukan untuk sekadar cerita sejarah. Ia turun sebagai cermin — dan pekan ini, cermin itu kembali kita hadapi dengan wajah yang lebih modern.

Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, perbincangan tentang susunan kabinet dan siapa yang layak menjabat kembali ramai diperbincangkan, sampai muncul istilah "kabinet bayangan" di ruang-ruang diskusi publik. Istilah semacam ini biasanya muncul justru ketika kepercayaan pada kabinet yang berjalan mulai retak — ketika publik merasa perlu membayangkan susunan alternatif karena yang ada dirasa belum menjawab harapan. Ini bukan fenomena baru, jamaah, tetapi ia adalah tanda yang harus kita baca dengan jernih: kepercayaan itu barang yang mahal, dan sekali retak, ia butuh waktu panjang untuk kembali utuh.

Kabar lain yang sampai kepada kita adalah tentang program makan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah kita — program yang lahir dari niat yang sangat baik: memastikan anak-anak bangsa ini tidak berangkat sekolah dengan perut kosong. Pekan ini, program tersebut disorot bersamaan dengan sebuah putusan Mahkamah Konstitusi, dan pimpinan badan yang menjalankannya tampak gerah menghadapi narasi publik yang menyertainya. Jamaah, perhatikanlah — inilah persoalan yang sering terjadi pada setiap amanah besar: niatnya boleh mulia dari awal, tetapi begitu memasuki ranah pelaksanaan, ia langsung berhadapan dengan pertanyaan paling klasik dalam amanah — siapa yang memegang kendali harian, dan apakah kendali itu dijaga sebagaimana mestinya.

Kabar yang lain lagi menyangkut sorotan pada anggaran daerah dan operasi tangkap tangan yang dilakukan lembaga antirasuah kita. Kabar semacam ini datang berulang, pekan demi pekan, dari daerah yang berbeda-beda — dan setiap kali ia datang, ia meninggalkan pertanyaan yang sama di benak masyarakat: uang yang dikumpulkan dari keringat rakyat, ke mana sesungguhnya ia mengalir? Bersamaan dengan itu, ramai pula perbincangan tentang kredibilitas proses hukum dalam kasus-kasus besar, termasuk kegelisahan tentang keselamatan pihak-pihak yang menjadi saksi kunci. Jamaah yang dimuliakan Allah, yang diuji di sini bukan sekadar nasib satu-dua orang yang sedang diproses hukum — yang diuji adalah kepercayaan kita semua pada proses hukum itu sendiri, apakah ia benar-benar berjalan lurus atau justru dibiarkan bengkok oleh kekuasaan yang melampaui batas.

Ada juga kabar yang lebih dekat dengan meja makan dan ruang periksa kita sehari-hari. Pekan ini muncul keluhan tentang empati tenaga kesehatan dalam melayani pasien, berdampingan dengan perbincangan tentang jaminan kesehatan nasional yang kita semua bergantung padanya. Muncul pula kecemasan anak-anak muda kita tentang lapangan kerja setelah lulus kuliah, sementara di sisi lain publik bernostalgia pada program-program pemerintah di masa lampau yang disebut masih dirasakan manfaatnya hingga hari ini. Jamaah, dua kabar ini menyentuh dua amanah yang paling mendasar dalam Islam: menjaga jiwa (hifz an-nafs) lewat layanan kesehatan yang manusiawi, dan menjaga akal generasi muda (hifz al-'aql) lewat pendidikan dan lapangan kerja yang bermakna. Program Sekolah Rakyat dan masa penerimaan mahasiswa baru yang juga ramai dibicarakan pekan ini adalah wajah lain dari amanah yang sama: bagaimana institusi menyambut generasi baru, dengan penghormatan atau dengan aturan yang justru menekan.

Ma'asyiral muslimin, dari rangkaian kabar ini kita bisa menarik satu benang yang sama: kekuasaan, ketika tidak diawasi — baik oleh hukum di luar dirinya maupun oleh iman di dalam dirinya — memiliki kecenderungan alami untuk melampaui batas. Inilah yang disebut Al-Qur'an dengan kata "thughyan". Dan hari ini, izinkanlah saya mengajak kita semua merenungkan satu hal yang sering terlewat: thughyan ini bukan penyakit yang hanya menjangkiti presiden, menteri, atau kepala daerah. Ia adalah godaan yang mengintai siapa pun yang diberi kendali — sekecil apa pun kendali itu.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan saya menyebut dua hal yang sesungguhnya dipertaruhkan di balik seluruh kabar pekan ini, dengan bahasa yang lebih dalam dari sekadar "isu ekonomi" atau "isu sosial" semata. Yang pertama adalah hifz al-mal — menjaga harta, bukan hanya harta pribadi kita, tetapi harta bersama yang dititipkan lewat pajak, zakat, dan anggaran publik. Setiap kali anggaran daerah diduga diselewengkan, setiap kali dana bantuan tidak sampai ke yang berhak, yang terluka bukan sekadar angka di laporan keuangan — yang terluka adalah amanah yang Allah perintahkan untuk dijaga. Yang kedua adalah hifz an-nafs — menjaga jiwa, yang tercermin langsung dalam program makan bergizi gratis yang kita bicarakan pekan ini: gizi anak bukan perkara sepele, karena ia menentukan apakah generasi mendatang tumbuh dengan tubuh dan pikiran yang kuat atau lemah. Kedua amanah ini, jamaah, bukan proyek yang menunggu selesai lalu kita lupakan. Ia adalah fardh kifayah — kewajiban kolektif atas umat, yang gugur dari pundak seseorang hanya jika sudah cukup banyak orang yang benar-benar menanganinya dengan serius, dan berubah menjadi dosa bersama jika dibiarkan terbengkalai oleh semua pihak. Maka ketika kita mendengar kabar tentang dapur gizi yang disorot atau anggaran yang diduga diselewengkan, pertanyaan yang seharusnya muncul di hati kita bukan sekadar "siapa yang salah di sana", melainkan "sudahkah aku, di posisiku sendiri, menjalankan bagian fardh kifayah ini — sekecil apa pun bagian itu?" Sebab pada hari perhitungan nanti, kita tidak akan ditanya tentang keputusan presiden atau menteri yang jauh dari kendali kita; kita akan ditanya tentang bagian yang benar-benar ada dalam kendali kita sendiri.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya membawa kita mundur empat belas abad, ke hari ketika Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu baru saja dibaiat sebagai khalifah, pemimpin pertama umat ini setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Di hadapan kaum muslimin yang baru saja membaiatnya, beliau tidak berkhutbah tentang kehebatan dirinya. Beliau justru berkata kepada mereka, kurang lebih demikian: "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpin atas kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat salah, betulkanlah aku. Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada lagi kewajiban bagi kalian untuk menaatiku." Jamaah, perhatikan susunan kalimat itu: seorang yang baru saja diberi kekuasaan tertinggi di kalangan umat Islam, kalimat pertamanya bukan pujian atas dirinya, melainkan undangan terbuka untuk dikoreksi. Itulah lawan dari thughyan — itulah amanah yang dijalankan dengan kesadaran bahwa kekuasaan bisa ditarik kembali, oleh manusia hari ini dan oleh Allah kelak di hari perhitungan.

Sirah lain yang layak kita ingat pekan ini datang dari masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki kebiasaan berkeliling kota Madinah di malam hari, sendirian, tanpa pengawal, untuk memeriksa langsung keadaan rakyatnya — bukan lewat laporan bawahan yang bisa saja dipoles sebelum sampai ke tangannya. Pada satu malam, beliau mendengar tangisan anak-anak dari sebuah kemah di pinggir kota. Beliau mendekat dan mendapati seorang ibu sedang memasak batu di dalam periuk, menghibur anak-anaknya yang menangis kelaparan dengan berpura-pura memasak, agar mereka tertidur karena mengira makanan sedang disiapkan. Umar tidak pulang untuk mengutus orang lain. Beliau sendiri berjalan ke Baitul Mal, memanggul sendiri sekarung gandum dan minyak samin di pundaknya, membawanya kembali ke kemah itu, dan memasakkan makanan untuk keluarga tersebut dengan tangannya sendiri, sambil berkata kepada dirinya sendiri — dalam riwayat yang kita kenal — bahwa dialah yang harus mempertanggungjawabkan kelaparan itu di hadapan Allah, bukan orang lain. Jamaah, perhatikan: seorang kepala negara yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Jazirah Arab hingga Persia, memilih untuk memanggul sendiri karung gandum itu di pundaknya, bukan mendelegasikannya. Itulah wajah amanah yang tidak "thaghau" — kekuasaan yang justru membuat pemiliknya lebih dekat kepada rakyatnya, bukan lebih jauh, dan lebih merasa bertanggung jawab, bukan lebih merasa berhak.

Dari sinilah kita masuk ke dalil kedua yang ingin saya bawakan pekan ini, yang berbicara tentang bagaimana Rasulullah ﷺ sendiri menjaga proses sebelum memutuskan sebuah perkara.

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَضَى بِالْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Sahih Muslim 1711b — Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan suatu perkara berdasarkan sumpah dari pihak yang mengingkari tuduhan (tergugat).

Jamaah yang dimuliakan Allah, hadits ini berbicara tentang satu mekanisme fikih yang teknis — tentang beban sumpah dalam persengketaan — namun di baliknya ada satu pelajaran besar: Rasulullah ﷺ, manusia paling adil yang pernah hidup, tetap menjalankan sebuah proses sebelum mengambil keputusan. Beliau tidak memutuskan perkara hanya karena satu pihak berteriak lebih kencang, atau karena tuduhan itu sudah ramai dibicarakan orang. Ada tata cara, ada pembuktian, ada proses yang harus dilalui. Nabi kita mengajarkan bahwa keadilan tidak pernah lahir dari ketergesaan. Pekan ini, ketika sebuah klaim yang mengutip tayangan televisi asing menyebar cepat lintas akun tanpa pernah benar-benar jelas isinya, atau ketika sebuah kasus besar diperbincangkan dengan penuh spekulasi sebelum prosesnya selesai — hadits ini mengajak kita mengambil jarak sejenak. Bukan berarti kita diam saja di hadapan kezaliman yang nyata; tetapi kita dituntun untuk tidak ikut menjadi bagian dari kegaduhan yang justru merusak proses pencarian kebenaran itu sendiri. Prinsip ini juga menuntun sikap kita terhadap pihak yang baru diangkat menjabat suatu posisi: selama belum ada bukti nyata dari perbuatannya sendiri, seseorang tidak boleh dibebani label buruk hanya karena posisinya sensitif atau karena ia menggantikan seseorang yang bermasalah. Adil dalam menilai berarti menilai orang dari perbuatannya sendiri, bukan dari posisi yang ia duduki atau dari siapa yang mendahuluinya.

Ma'asyiral muslimin, ada satu dalil lagi yang ingin saya bawakan, yang justru datang bukan dari kitab hukum, melainkan dari kitab akhlak — sebuah pengingat tentang apa yang sesungguhnya pantas dipilih oleh orang yang berakal.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما: حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع: الفقر على الغني، والذل على العز، والتواضع على الكبر، والجوع على الشبع، والغم على السرور، والدون على المرتفع، والموت على الحياة.

Nashaihul Ibad — Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh atas tujuh: kefakiran di atas kekayaan, kehinaan di atas kemuliaan, ketawadhuan di atas kesombongan, kelaparan di atas kekenyangan, kesedihan di atas kesenangan, kerendahan di atas ketinggian kedudukan, dan kematian di atas kehidupan."

Jamaah, nasihat ini terdengar berat, bahkan mungkin terasa aneh bagi telinga zaman kita yang mengejar kenaikan pangkat, kenaikan jabatan, kenaikan pengikut di media sosial. Tetapi renungkanlah maksudnya: bukan berarti kita dilarang punya kedudukan atau harta — banyak sahabat Nabi yang kaya dan berkedudukan tinggi. Yang diajarkan di sini adalah sikap hati: seorang yang berakal tidak boleh menjadikan kedudukan sebagai identitas dirinya, sehingga ia rela melakukan apa saja — termasuk melampaui batas amanahnya — demi menjaga kedudukan itu. Justru orang yang siap kehilangan kedudukan demi kebenaran adalah orang yang paling aman dari godaan thughyan. Pejabat yang siap mundur demi kebenaran tidak akan mudah tergoda menyalahgunakan anggaran. Pengurus yang siap dianggap "tidak penting" tidak akan sibuk membangun pencitraan di atas program yang seharusnya untuk rakyat.

Jamaah yang dimuliakan Allah, izinkan saya berhenti sejenak untuk berbicara tentang zaman kita secara khusus — Indonesia hari ini, tahun 2026. Kita hidup di zaman ketika setiap kursi kekuasaan disorot kamera ponsel dari segala penjuru, setiap kebijakan dibedah dalam hitungan jam oleh jutaan pasang mata di media sosial. Ini punya dua sisi. Di satu sisi, thughyan lebih sulit disembunyikan hari ini dibanding zaman kaum 'Ad dan Tsamud — seorang pejabat yang melampaui batas akan lebih cepat terekam dan tersebar. Namun di sisi lain, zaman ini juga melahirkan godaan baru: pencitraan yang tampak baik di depan kamera, tetapi kosong di baliknya; kesibukan membangun citra rendah hati di media sosial, sementara amanah yang sesungguhnya justru diabaikan. Jamaah, jangan sampai kita — sebagai umat yang mengaji ayat ini pekan ini — hanya pandai menuntut ketawadhuan dari para pejabat, tetapi lupa memeriksa apakah kita sendiri, di depan pengikut media sosial kita yang mungkin hanya puluhan orang, juga sedang membangun citra tanpa substansi yang sama.

Jamaah yang dimuliakan Allah, jangan pula kita mengira bahwa mimbar ini hanya berbicara kepada mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Di antara kita yang hadir di masjid ini pekan ini, ada yang menjabat bendahara koperasi, ada yang menjadi ketua RT, ada yang memegang kas organisasi alumni atau arisan, ada yang menjadi pengurus yayasan pendidikan, dan ada pula yang di kantornya dipercaya menyetujui pengeluaran, menandatangani laporan, atau mengelola gudang barang milik bersama. Semua posisi ini, sekecil kelihatannya dibandingkan kursi menteri, adalah "wilayah kekuasaan" dalam bahasa ayat yang kita baca hari ini. Godaan untuk "thaghau" — melampaui batas — hadir dalam bentuk yang lebih halus di level ini: memakai fasilitas kantor untuk keperluan pribadi tanpa izin, menunda laporan keuangan organisasi karena merasa "toh cuma organisasi kecil, tidak ada yang memeriksa", atau memberi perlakuan berbeda kepada kerabat sendiri dibanding anggota lain saat mengelola sesuatu yang sifatnya bersama. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam banyak riwayat bahwa setiap dari kita adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya — sekecil rumah tangga sendiri sekalipun. Maka pekan ini, jamaah, mari kita jadikan momentum introspeksi ini bukan hanya untuk menilai kursi-kursi besar yang jauh dari jangkauan kita, tetapi juga untuk memeriksa kursi-kursi kecil yang justru paling sering kita duduki, dan paling mudah kita lupakan bahwa ia juga sebuah amanah yang dicatat.

Jamaah yang dimuliakan Allah, amanah semacam ini juga tidak pandang usia maupun jenis kelamin. Ibu-ibu yang mengelola uang belanja rumah tangga, remaja yang menjadi bendahara OSIS atau panitia acara sekolah, anak muda yang dipercaya memegang kas organisasi kemahasiswaan — semuanya sedang berlatih pada skala yang sama dengan yang sedang kita bicarakan di mimbar ini hari ini. Bahkan boleh saya katakan, kebiasaan menjaga amanah kecil sejak usia muda dan sejak lingkup rumah tangga inilah yang, jika dirawat terus, kelak melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang tidak mudah tergoda thughyan ketika amanahnya membesar. Sebaliknya, siapa yang sudah terbiasa longgar dengan amanah kecil sejak muda, jangan berharap ia akan tiba-tiba berubah menjadi lurus ketika amanahnya membesar puluhan kali lipat.

Dan pada akhirnya, jamaah yang dirahmati Allah, semua amanah ini — besar atau kecil, nasional atau di tingkat RT — akan berujung pada satu titik yang sama: hari ketika setiap kita dibangkitkan dan diberitahu tentang apa yang telah kita perbuat.

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Thalathat al-Usul (mengutip QS. At-Taghabun: 7) — "Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah."

Ayat ini ditempatkan oleh para ulama sebagai salah satu dalil pokok keimanan kepada hari akhir — bahwa tidak ada satu amal pun, sekecil apa pun, yang akan hilang begitu saja. Jamaah, terapkan ini pada amanah kekuasaan yang sedang kita bicarakan pekan ini: seorang menteri yang menandatangani anggaran, seorang kepala dapur gizi yang menakar porsi makan anak-anak, seorang bendahara RT yang memegang kas warga, seorang admin grup WhatsApp yang menyebarkan sebuah klaim — semuanya akan "diberitakan" kembali pada hari itu, dengan detail yang tidak mungkin lagi bisa diselewengkan atau dibantah dengan argumen yang meyakinkan di dunia. Ini bukan ancaman untuk membuat kita takut berlebihan, jamaah, tetapi undangan untuk hidup dengan kesadaran: setiap kursi yang kita duduki, sekecil apa pun, adalah amanah yang berat, karena ia akan ditanya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita bawa renungan ini pada langkah-langkah konkret yang bisa kita ambil pekan ini. Pertama, periksa amanah kecil yang kita pegang hari ini — uang kas, kunci fasilitas bersama, data yang dipercayakan kepada kita, jam kerja yang kita gunakan — dan tanyakan pada diri sendiri dengan jujur, apakah kita sudah "thaghau" di dalamnya tanpa kita sadari. Kedua, ubah kebiasaan menyebarkan klaim yang belum jelas kebenarannya; sebelum meneruskan sebuah kabar tentang pejabat atau kasus hukum, tanyakan dulu sumbernya, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan proses sebelum keputusan. Ketiga, doakan para pemimpin kita secara spesifik di dalam sujud kita, bukan hanya mencaci mereka di linimasa — karena doa yang tulus punya kemungkinan mengubah keadaan, sementara caci-maki hanya menambah kegaduhan. Keempat, jika di lingkungan kita ada program yang menyentuh masyarakat langsung — dapur gizi, bantuan sosial, dana masjid — ikutlah mengawasi dengan cara yang membangun, bukan sekadar menyebar keluhan tanpa solusi. Kelima, ajarkan kepada anak-anak dan keluarga kita bahwa jabatan sekecil apa pun — ketua kelas, bendahara arisan, admin grup keluarga — adalah amanah yang dicatat oleh Allah, bukan sekadar status sosial yang membanggakan. Keenam, bangun kebiasaan rendah hati dalam melayani orang lain, di kantor, di rumah, maupun di media sosial, karena kerendahan hati adalah benteng pertama melawan thughyan yang mengintai siapa saja yang diberi sedikit kendali.

Jamaah yang dirahmati Allah, sebelum saya tutup, satu kabar baik juga sampai kepada kita pekan ini: para kiai dan pengurus pesantren tengah berkumpul dalam sebuah muktamar besar, menegaskan kembali peran pesantren sebagai penjaga ilmu dan perekat kebangsaan. Ini pengingat penting — bahwa di tengah lembaga-lembaga yang sedang diuji kepercayaan publik, ada juga lembaga-lembaga yang terus bekerja sunyi menjaga amanahnya, tanpa perlu disorot kamera setiap hari. Semoga kita semua, di posisi masing-masing, bisa menjadi bagian dari yang terakhir ini — bukan yang pertama.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita jadikan pekan ini sebagai pekan muhasabah tentang kekuasaan-kekuasaan kecil yang kita pegang, sebelum kita terlalu sibuk menghakimi kekuasaan besar yang jauh dari jangkauan kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya mempertegas satu hal: amanah tidak pernah memandang skala. Seorang menteri yang mengelola anggaran triliunan dan seorang bendahara RT yang mengelola kas ratusan ribu rupiah, keduanya berdiri di depan pertanyaan yang sama beratnya di hadapan Allah — apakah yang dipegang itu dijaga atau justru dikhianati. Jangan biarkan skala kecil membuat kita lengah, seolah hanya amanah besar yang dihisab.

Pertegas juga bahwa di zaman ini, amanah bukan hanya soal harta dan jabatan, tetapi juga soal lisan dan jari-jari kita di atas layar telepon. Setiap kali kita menekan tombol "bagikan" untuk sebuah klaim yang belum kita periksa kebenarannya, kita sedang menambah beban amanah kita — karena kata-kata yang kita sebarkan juga akan ditanya kelak, sama seperti uang yang kita kelola.

Pertegas pula bahwa mendoakan pemimpin bukan tanda ketidakpedulian, melainkan tanda kematangan iman. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk terus mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, sekalipun pemimpin itu belum sempurna — karena kebaikan seorang pemimpin adalah kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Sikap mencaci tanpa henti hanya melahirkan kelelahan batin, sementara doa yang istiqamah membuka pintu perbaikan yang kita sendiri tidak selalu bisa melihatnya.

Dan pertegas yang terakhir: hari perhitungan itu pasti datang, sebagaimana ditegaskan dalam dalil yang telah kita dengar tadi. Maka jadikanlah kesadaran akan hari itu sebagai pengingat yang lembut, bukan ancaman yang menakutkan — pengingat yang mendorong kita mengelola setiap amanah, sekecil apa pun, dengan lebih berhati-hati sejak hari ini.

Jamaah, saya ingin mengakhiri penegasan ini dengan satu permohonan: jangan jadikan mimbar ini sebagai tempat kita pulang dengan hati yang lebih sinis kepada pemerintah, kepada pejabat, atau kepada sesama saudara kita. Islam mengajarkan kritik yang membangun, bukan sinisme yang melumpuhkan harapan. Kritik yang membangun selalu disertai doa dan langkah nyata; sinisme hanya melahirkan ketidakpedulian yang dibungkus kata-kata pedas. Semoga kita pulang dari sini bukan dengan tambahan kemarahan, melainkan dengan tambahan kesadaran tentang amanah yang ada di tangan kita masing-masing, dan dengan harapan yang tetap terjaga bahwa perbaikan itu mungkin, selama kita masing-masing memulainya dari diri sendiri.

Marilah kita tutup pertemuan ini dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلْمُسْلِمِينَ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ، وَأَلْهِمْهُمُ الْعَدْلَ فِي الرَّعِيَّةِ وَالْأَمَانَةَ فِي الْوِلَايَةِ.

اَللّٰهُمَّ مَنْ وَلَّيْتَهُ أَمْرًا مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فَأَعِنْهُ عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْهُ رَقِيبًا عَلَى نَفْسِهِ قَبْلَ أَنْ يَكُونَ رَقِيبًا عَلَى غَيْرِهِ، وَبَارِكْ فِي كُلِّ جُهْدٍ يُبْذَلُ لِإِطْعَامِ أَطْفَالِنَا وَعِلَاجِ مَرْضَانَا وَتَعْلِيمِ أَجْيَالِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِي الْحُكْمِ عَلَى الْأُمُورِ، فَلَا نَتَسَرَّعُ فِي الظَّنِّ وَلَا نُصَدِّقُ كُلَّ مَا يَشِيعُ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَثَبَّتُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan