بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru kita lewati, linimasa kita ramai sekali dengan kabar tentang siapa yang pantas duduk di kursi kekuasaan — dari susunan kabinet sampai dapur gizi anak sekolah, dari anggaran daerah sampai kasus hukum yang saksinya sendiri dipertanyakan keselamatannya. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, tentang kekuasaan yang jauh lebih dekat dengan kita daripada yang kita kira.
Pernah tidak, kita ikut-ikutan emosi membaca berita pejabat yang kena kasus, sampai lupa memeriksa amanah kita sendiri yang jauh lebih kecil, tapi jauh lebih dekat dan jauh lebih sering kita pegang setiap hari? Saya sendiri sering begitu. Kita ini jago sekali menghakimi kekuasaan yang jauh, tapi kadang lupa bahwa kita juga sedang memegang kekuasaan — sekecil apa pun bentuknya.
لِيَوْمِ ٱلْفَصْلِ
"Sampai hari keputusan." (QS. Al-Mursalaat: 13)
Jamaah, ayat ini pendek, hanya tiga kata dalam bahasa Arabnya, tapi bebannya berat. Allah mengingatkan kita bahwa segala urusan yang hari ini terasa membingungkan — siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang pantas dihukum dan siapa yang harus dibela — semuanya akan sampai pada satu hari yang disebut "yaumul fashl", hari keputusan. Ayat ini bukan alasan untuk kita diam saja di depan kezaliman yang nyata. Tapi ia pengingat bahwa kita tidak perlu memaksakan diri jadi hakim atas segala hal yang belum jelas hari ini juga.
Coba kita lihat, pekan ini saja setidaknya ada dua kabar yang membuat kita gemas. Satu, soal program makan bergizi gratis yang disorot bersamaan dengan putusan Mahkamah Konstitusi — sampai pimpinan lembaganya sendiri tampak gerah menanggapi omongan publik. Dua, soal anggaran daerah dan operasi tangkap tangan yang datang lagi, dari daerah yang berbeda, membawa pertanyaan yang sama tuanya: uang rakyat, ke mana sebenarnya mengalir? Jamaah, kedua kabar ini punya satu lapisan yang sama: keduanya adalah amanah yang besar, disorot banyak mata, dan gampang membuat kita — yang hanya menonton dari jauh — merasa berhak menjatuhkan penilaian final dalam hitungan menit setelah membaca judul beritanya.
Ada satu lagi yang bikin saya berpikir pekan ini: ramai juga obrolan soal kemungkinan "kabinet bayangan" — semacam bayangan susunan pemerintahan alternatif yang didiskusikan orang-orang yang gerah dengan yang berjalan sekarang. Jamaah, saya tidak akan berkomentar politik praktis di sini, itu bukan tempatnya. Tapi ada satu hal yang menarik untuk kita renungkan: kita ini pandai sekali membayangkan versi ideal dari orang lain — kabinet ideal, pemimpin ideal, pengurus RT ideal — tapi jarang membayangkan versi ideal dari diri kita sendiri, di posisi yang kita pegang sekarang. Coba dibalik sebentar: kalau ada "bayangan diri kita" yang menjalankan amanah yang kita pegang hari ini dengan lebih jujur, lebih rajin, lebih rendah hati — seberapa jauh jarak antara bayangan itu dengan diri kita yang sebenarnya sekarang?
Ada satu dalil lagi yang ingin saya sampaikan, yang justru bukan soal hukum, tapi soal sikap hati.
وعن ابن عباس رضي الله عنهما: حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع: الفقر على الغني، والذل على العز، والتواضع على الكبر، والجوع على الشبع، والغم على السرور، والدون على المرتفع، والموت على الحياة.
Nashaihul Ibad — "Hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh atas tujuh: kefakiran atas kekayaan, kehinaan atas kemuliaan, ketawadhuan atas kesombongan..." dan seterusnya. Jamaah, nasihat ini sebenarnya bukan cuma untuk pejabat yang lagi disorot. Ia juga untuk kita yang duduk di sini malam ini. Setiap kita punya "wilayah kecil" yang kita kuasai — meja kerja, dapur rumah, grup WhatsApp yang kita moderasi, bahkan remote TV di ruang keluarga. Pertanyaannya sama: apakah di wilayah kecil itu kita memilih rendah hati, atau justru diam-diam kita juga suka "berbuat sewenang-wenang", cuma skalanya kecil sehingga tidak ada yang menyorot?
Saya kira, jamaah, kita menghakimi kekuasaan besar dengan begitu cepat karena itu memberi rasa kontrol — rasanya enak, seolah kita berdiri di sisi yang benar. Tapi kontrol yang sesungguhnya, yang menentukan siapa benar dan siapa salah pada akhirnya, ada di tangan Allah, pada hari keputusan itu. Tugas kita bukan berhenti peduli — tugas kita adalah memindahkan sebagian energi menghakimi itu untuk memeriksa wilayah kecil kita sendiri.
Saya juga sering merasa, jamaah, bahwa lebih mudah marah pada admin grup WA tetangga yang dianggap pilih-pilih menyebarkan info, daripada memeriksa apakah kita sendiri, saat jadi admin di grup keluarga atau grup kelas anak, sudah adil membagikan informasi ke semua anggota tanpa pandang bulu. Wilayah kecil itu nyata, jamaah, walau sering tidak kita sadari sebagai "kekuasaan" — karena kita terlalu biasa dengan bentuknya yang kelihatan sepele.
Maka malam ini, sebelum tidur, coba tiga hal saja. Pertama, cek satu klaim yang hampir kita bagikan hari ini — sudah benar-benar jelas sumbernya, atau baru ramai saja? Kedua, di grup atau lingkungan kecil yang kita pegang, sudahkah kita bersikap adil, atau kita juga sedang "menikmati" sedikit kekuasaan itu dengan cara yang tidak kita sadari? Ketiga, ganti satu menit mencaci pejabat di status media sosial dengan satu menit mendoakan perbaikan untuk mereka.
Jamaah, hari keputusan itu pasti datang untuk semua orang — untuk pejabat yang hari ini disorot, dan untuk kita yang hari ini menyorot. Yang bisa kita siapkan hanyalah wilayah kecil yang kita kuasai sendiri.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَثَبَّتُ قَبْلَ أَنْ يَحْكُمَ، وَيَتَوَاضَعُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَبَّرَ، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَأَصْلِحْ بِهِمُ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
