Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Warisan Nabi Bukan Panggung Peresmian"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar sebuah sekolah rakyat diresmikan, dan anak-anak yang hadir diminta berterima kasih kepada pemimpin yang meresmikannya. Ada satu pertanyaan sederhana yang ingin saya ajak renungkan malam ini: kepada siapa sebenarnya rasa syukur itu pertama-tama harus kita arahkan, ketika sebuah tempat belajar baru saja berdiri?

Siapa di sini yang pernah merasa bahwa guru ngaji, ustadzah, atau dosen yang membimbing kita dulu, jasanya jauh lebih besar daripada gelar yang akhirnya kita pegang sekarang? Ada satu sabda Rasulullah ﷺ yang saya kira perlu kita dengar ulang malam ini:

العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

"Para ulama itu adalah pewaris para nabi." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Pewaris, jamaah — bukan sekadar pegawai atau pemegang profesi. Kalau begitu, bayangkan betapa besar kedudukan seorang guru ngaji yang mengajar tanpa gaji tetap, atau seorang ustadzah yang membimbing majelis kecil di kampung, dibandingkan dengan seorang pejabat yang hanya datang untuk menggunting pita dan berfoto di depan gedung sekolah baru. Bukan berarti kita meremehkan pejabat yang memang berjasa membangun gedung itu — itu juga amal baik yang pantas diapresiasi. Tapi mari kita jujur pada diri sendiri: siapa yang lebih pantas menerima "warisan kenabian" itu — orang yang menyediakan bangunannya, atau orang yang menanamkan ilmu di dalamnya?

Pekan ini ramai juga pujian untuk seorang mahasiswi yang diterima di kampus teknik paling top di negeri kita — dipuji cantik sekaligus pintar, seolah dua hal itu harus digabung supaya prestasinya terasa lengkap. Saya tidak sedang bilang pujian semacam itu jahat. Tapi coba kita amati kebiasaan kita sendiri: kita lebih sering memuji hasilnya — kampusnya, wajahnya, atau jurusan yang gampang cari kerja — daripada bertanya soal niatnya, soal prosesnya, soal apakah ilmu itu nanti akan membawanya lebih dekat kepada Allah atau justru menjauh.

Ada satu munajat yang saya suka baca dalam kitab Nashaihul Ibad, tentang seorang hamba yang berbisik jujur kepada Allah:

إِلَهِي طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِيْ، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِيْ، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِيْ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-anganku telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku." (Nashaihul Ibad)

Angan-angan panjang — termasuk angan-angan tentang gengsi, tentang validasi, tentang karier yang aman — bisa menjadi jalan yang perlahan menjauhkan kita dari niat awal kita menuntut ilmu. Bukan berarti kita tidak boleh bercita-cita, jamaah. Tapi kalau cita-cita itu sudah menggeser Allah dari urutan pertama, munajat ini mengajak kita berhenti sebentar dan mengaku jujur pada diri sendiri.

Coba kita tanya diri sendiri malam ini: waktu kita bangga pada anak, pada murid, atau pada diri sendiri karena satu pencapaian pendidikan, siapa yang lebih dulu kita ingat — Allah yang memberi kemampuan itu, atau orang-orang yang akan memuji kita karenanya? Ini bukan pertanyaan yang harus dijawab sekali lalu selesai. Ini pertanyaan yang perlu kita ulang setiap kali kita, atau orang yang kita cintai, meraih sesuatu.

Saya sendiri kadang menangkap diri saya begini, jamaah — bangga cerita ke tetangga tentang anak yang masuk sekolah favorit, tapi lupa duluan bilang alhamdulillah di dalam hati sebelum bercerita ke mana-mana. Saya kira kita semua pernah begini, cepat atau lambat. Bukan dosa besar memang, tapi kalau dibiarkan terus, kebiasaan kecil semacam ini yang lama-lama menggeser Allah dari tempat pertama dalam hati kita, digantikan oleh rasa bangga yang menunggu tepuk tangan orang lain.

Malam ini, sebelum tidur, coba lakukan satu hal kecil: sebut satu pencapaian pendidikan — milik sendiri, anak, atau murid kita — dan ucapkan alhamdulillah dengan sadar sebelum menceritakannya ke orang lain. Besok, kalau ada kesempatan berterima kasih kepada guru yang berjasa, jangan ditunda-tunda. Dan kalau kita seorang pengajar dalam bentuk apa pun, luangkan satu menit sebelum mengajar untuk meniatkannya karena Allah semata.

Jamaah yang saya hormati, warisan kenabian dalam ilmu bukanlah gelar atau jabatan; ia adalah niat yang dijaga, karakter yang tumbuh bersamanya, dan kerendahan hati yang tidak butuh panggung untuk merasa berarti. Sekolah boleh diresmikan dengan seremoni, kampus boleh punya gengsi, jurusan boleh dipilih dengan pertimbangan karier — tapi jangan biarkan Allah tergeser ke urutan terakhir dalam daftar alasan kita menuntut dan mengajarkan ilmu.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَمَنْ عَلَّمَنَا خَيْرًا، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا لَنَا وَلِمَنْ حَوْلَنَا. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّةَ كُلِّ مُعَلِّمٍ وَمُتَعَلِّمٍ فِيْ بِلَادِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِوَجْهِكَ لَا لِيُقَالَ عَالِمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan