Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatSosial & KeluargaKamis, 6 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Rumah yang Menaungi, Bukan Rumah yang Ditonton"

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبُيُوتَ سَكَنًا وَالْأُسَرَ أَمَانًا، وَجَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، وَأَمَرَنَا بِالرِّفْقِ بِالضُّعَفَاءِ مِنْ عِبَادِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَخَسِرَ الظَّالِمُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita membuka hati dengan satu ayat yang tegurannya terasa langsung menohok, meski turun berabad-abad lalu.

كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ

(QS. Al-Fajr: 17)

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,"

Allah berfirman menegur manusia yang sibuk mengejar kemuliaan dunia — harta, kedudukan, pengakuan — tetapi lalai pada satu ukuran kemuliaan yang sesungguhnya: bagaimana kita memperlakukan pihak yang paling lemah posisinya di sekitar kita. Bukan kemuliaan di mata orang banyak, melainkan kemuliaan di hadapan Allah, yang diukur dari kepedulian kita kepada yang tidak berdaya membela dirinya sendiri.

Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita banyak berbicara tentang rumah tangga dan keluarga. Ramai diperbincangkan sebuah keluhan tentang kelelahan mengurus rumah yang akhirnya meluap menjadi curahan hati terbuka, dibaca dan dikomentari oleh ratusan ribu orang yang sama sekali tidak mengenal keluarga tersebut. Dari arah yang lebih profesional, seorang yang berprofesi menangani persoalan rumah tangga membagikan simpulannya dari pengalaman menemani banyak keluarga yang retak, dan simpulan itu pula yang paling banyak dibicarakan ulang pekan ini — tanda bahwa banyak dari kita diam-diam mencari penjelasan yang sama untuk keresahan yang sama.

Namun pekan ini kita juga mendengar kabar yang menghangatkan hati: seorang bapak penjual es krim yang berjualan sepi di depan sebuah sekolah, yang dagangannya nyaris tidak laku, digerakkan hatinya oleh warganet yang melihat perjuangannya lalu turun tangan membantu. Bapak ini bukan sekadar pedagang kecil — ia adalah kepala keluarga yang sedang berjuang menafkahi rumah tangganya, dan pekan ini, untuk sesaat, ia dimuliakan sebagaimana mestinya seorang yang berjuang untuk keluarganya dimuliakan.

Di sisi lain, kabar yang juga ramai pekan ini adalah perselisihan rumah tangga seorang figur publik yang ditonton dan diperdebatkan oleh jutaan pasang mata — sebuah konflik yang semestinya menjadi urusan pribadi dua orang dewasa dan anak-anak mereka, berubah menjadi tontonan berseri yang dikuliti habis oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Kita, jamaah yang dimuliakan Allah, barangkali termasuk yang ikut menonton, ikut berkomentar, ikut memihak — tanpa sadar bahwa yang sedang kita saksikan adalah aurat rumah tangga orang lain yang semestinya tertutup.

Empat kabar ini — keluhan yang jadi konten, psikolog yang bicara pola berulang, pedagang kecil yang dimuliakan warganet, dan rumah tangga figur publik yang jadi tontonan — sesungguhnya menenun satu benang yang sama: pekan ini adalah pekan di mana ruang privat keluarga, dalam berbagai bentuknya, terus-menerus ditarik ke ruang publik. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini akan terjadi — sudah terjadi, dan akan terus terjadi selama linimasa ada di genggaman kita — melainkan bagaimana kita, sebagai umat yang mengaku beriman, meresponsnya. Apakah kita menjadi pihak yang menaungi yang lemah, ataukah kita ikut serta menelanjanginya lebih jauh demi tontonan sesaat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Menjaga keturunan dan rumah tangga — yang dalam bahasa ulama disebut hifz an-nasl — adalah satu dari lima kebutuhan pokok yang syariat Islam datang untuk melindunginya. Ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ketika Allah menegur "kamu tidak memuliakan anak yatim" dalam surah Al-Fajr, teguran itu tidak berhenti pada anak yatim secara harfiah saja. Ia menyentuh setiap pihak yang posisinya lemah dan bergantung pada perlindungan kita — anak-anak kita sendiri, pasangan kita saat lelah, tetangga yang usahanya sedang goyah, bahkan keluarga orang lain yang sedang diuji di hadapan mata publik.

Allah menegaskan lebih jauh dalam surah lain tentang siapa yang gagal memuliakan yang lemah.

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

(QS. Al-Maa'un: 2)

"Itulah orang yang menghardik anak yatim,"

Kata "menghardik" dalam ayat ini — yadu'u — bermakna mendorong dengan kasar, mengusir tanpa belas kasih. Allah tidak sedang berbicara tentang orang yang berbuat jahat secara aktif kepada anak yatim, tetapi tentang orang yang mengabaikannya, yang tidak peduli, yang membiarkannya terpinggirkan begitu saja. Ini teguran yang jauh lebih halus dan karena itu lebih berbahaya: banyak dari kita merasa aman karena tidak pernah secara aktif menzalimi siapa pun, padahal pengabaian terhadap yang lemah — membiarkan pedagang kecil terus dipalak tanpa ada yang membela, membiarkan rumah tangga yang goyah tanpa ada yang menawarkan pendampingan, membiarkan sebuah keluarga ditelanjangi ramai-ramai di linimasa tanpa ada yang mengingatkan — adalah bentuk "menghardik" versi zaman ini.

Dalam sejarah kepemimpinan umat ini, dikenal luas bagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memiliki kebiasaan berkeliling malam hari memeriksa sendiri keadaan rakyatnya, mendengar langsung keluhan yang tidak sempat sampai ke telinganya di siang hari. Beliau tidak menunggu laporan resmi; beliau turun langsung mendengar, termasuk kepada perempuan-perempuan yang keluh kesahnya jarang didengar orang-orang berkedudukan. Kebiasaan ini bukan sekadar gaya kepemimpinan, melainkan cerminan dari pemahaman bahwa mendengar yang lemah adalah bagian dari amanah, bukan pekerjaan tambahan yang bisa ditunda.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa memuliakan yang lemah dimulai dari rumah sendiri, bukan dari jauh.

وعن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏"‏ مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها، وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع‏"‏

(Riyad as-Salihin 301)

"Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan perempuan)."

Rasulullah ﷺ bersabda demikian bukan untuk mengajarkan kekerasan, melainkan untuk mengajarkan bahwa mendidik anak adalah proses bertahap yang membutuhkan kehadiran orang tua secara sadar dan terjadwal — bukan sekadar menyediakan makan dan sekolah lalu menyerahkan sisanya kepada gawai. Tujuh tahun untuk mulai membiasakan, sepuluh tahun untuk mulai menegakkan disiplin dengan tegas namun terukur, dan pengaturan tempat tidur yang menunjukkan betapa detailnya perhatian yang diminta syariat kepada urusan rumah tangga kita. Kita hidup di zaman ketika anak-anak lebih mudah mendapat perhatian dari layar ketimbang dari orang tuanya sendiri; hadits ini mengingatkan bahwa kehadiran orang tua yang aktif dan terjadwal tidak pernah tergantikan oleh kemudahan apa pun.

Dikenal pula secara luas dalam riwayat-riwayat sejarah bahwa Rasulullah ﷺ, di tengah kesibukan memimpin umat dan menghadapi tekanan dari segala arah, tetap dikenal sebagai suami dan ayah yang tidak segan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Kebesaran kedudukan seseorang, dalam teladan beliau, tidak pernah menjadi alasan untuk lepas tangan dari tanggung jawab di dalam rumah. Ini teguran halus bagi kita yang kadang beralasan sibuk bekerja, sibuk berdakwah, sibuk mengurus orang lain, sementara rumah sendiri yang paling dekat justru paling jarang mendapat kehadiran penuh kita.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada satu sisi lagi dari amanah menjaga keluarga yang perlu kita renungkan bersama: menjaga lisan kita ketika berbicara tentang rumah tangga orang lain, termasuk rumah tangga yang sedang ramai dibicarakan publik pekan ini.

لسانك منه، في الجد والهزل؛ فإنه يريق ماء الوجه ويسقط المهابة، ويستجر الوحشية، ويؤذي القلوب، وهو مبدأ اللجاج والغضب والتصارم، ويغرس الحقد في القلوب؛ فلا تمازح أحدا؛ فإن مازحك أحد فلا تجبه، وأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره…

(Bidayatul Hidayah — Imam al-Ghazali)

"Jagalah lisanmu dari hal itu, baik dalam kesungguhan maupun dalam gurauan. Sesungguhnya senda gurau itu meluruhkan air muka, menjatuhkan kewibawaan, menarik permusuhan, melukai hati, dan ia adalah pangkal pertengkaran, kemarahan, serta perpecahan. Ia juga menanamkan dengki di dalam hati. Maka janganlah engkau bersenda gurau dengan siapa pun secara berlebihan; apabila ada orang yang mencoba menggodamu, jangan kau layani, berpalinglah dari mereka hingga mereka beralih kepada pembicaraan lain."

Imam al-Ghazali rahimahullah menasihatkan dalam kitab ini bahwa lisan yang tidak dijaga — bahkan dalam bentuk gurauan atau komentar ringan — bisa menjadi pangkal permusuhan dan menanam dengki. Nasihat ini terasa sangat relevan dengan kebiasaan kita berkomentar di media sosial tentang rumah tangga orang lain, termasuk rumah tangga figur publik yang sedang berselisih. Ikut mengomentari, apalagi menghakimi tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, bukan sekadar hiburan yang tidak berdosa — ia adalah bentuk lisan yang tidak dijaga, yang bisa melukai hati orang yang sedang diuji dan menanamkan permusuhan yang tidak perlu.

Marilah kita tutup renungan ini dengan kembali kepada ayat yang membuka khutbah kita, agar pesannya tertanam kuat dalam hati.

فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

(QS. Ad-Dhuhaa: 9)

"Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang."

Allah berfirman dengan bahasa yang sangat lugas: jangan sewenang-wenang kepada yang lemah. Bapak penjual es krim yang dagangannya sepi, anak-anak yang tumbuh di tengah rumah tangga yang lelah, pedagang kecil yang diperas preman jalanan, keluarga yang sedang diuji di hadapan publik — semuanya berada dalam kategori yang sama di mata syariat: mereka yang posisinya lemah, dan karena itu berhak atas perlindungan kita, bukan sewenang-wenang kita, baik dalam bentuk tindakan maupun dalam bentuk ucapan dan tontonan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebagai penutup bagian pertama khutbah ini, izinkan saya mengajak kita semua kepada beberapa langkah konkret pekan ini. Pertama, menahan diri sebelum membagikan cerita rumah tangga sendiri atau rumah tangga orang lain secara rinci ke ruang publik, sekalipun diniatkan untuk mencari dukungan. Kedua, menjadwalkan waktu mendengar penuh tanpa gawai di tangan untuk anggota keluarga yang paling bergantung pada kita, minimal sepuluh menit setiap malam. Ketiga, menegur dengan lembut secara pribadi — bukan menyebarluaskan — ketika kita mengetahui tetangga sedang mengalami tekanan rumah tangga. Keempat, mendukung atau merintis jalur pendampingan keluarga sederhana di tingkat masjid atau majelis taklim kita, agar yang kesulitan punya tempat mengadu selain linimasa. Kelima, membela pedagang kecil di lingkungan kita melalui jalur yang sah — melapor kepada RT atau pihak berwenang — bukan mengambil alih peran penegak hukum sendiri. Keenam, mendoakan keluarga yang sedang berselisih di ruang publik dengan kebaikan, bukan ikut serta menghakiminya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Izinkan saya menegaskan kembali inti khutbah pertama dari beberapa sisi. Pertama, kemuliaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita disorot, melainkan dari seberapa jauh kita menaungi yang lemah ketika tidak ada yang melihat. Rumah tangga kita, anak-anak kita, tetangga yang usahanya goyah — semuanya adalah amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar bahan obrolan yang lewat begitu saja di linimasa.

Kedua, kita perlu jujur mengakui bahwa era digital telah mengubah cara kita bersentuhan dengan rumah tangga orang lain. Dahulu, aurat sebuah keluarga hanya diketahui oleh tetangga terdekat; kini, sepotong video atau utas bisa membuat jutaan orang merasa berhak menilai, bahkan menghakimi, keluarga yang bahkan tidak pernah mereka temui. Kita dituntut lebih berhati-hati dari generasi sebelum kita, karena godaan untuk ikut menonton dan berkomentar begitu dekat, hanya sejauh layar di genggaman.

Ketiga, menjaga keluarga bukan hanya tugas kepala rumah tangga semata, melainkan tugas kolektif kita sebagai jamaah. Ketika ada keluarga di lingkungan kita yang goyah, ketika ada pedagang kecil yang tertindas, ketika ada anak yang butuh didengar — tanggung jawab itu jatuh kepada siapa pun dari kita yang lebih dahulu mengetahuinya, bukan hanya kepada pihak yang bersangkutan.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar rumah tangga kita, anak-anak kita, dan umat ini dijaga dari segala keburukan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ وَارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحِيْمِيْنَ بِرَعِيَّتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَأَذًى، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَسَاكِنَ سَكِيْنَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَبَيْنَ أَزْوَاجِنَا وَأَهْلِيْنَا. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ كُلَّ طِفْلٍ مَظْلُوْمٍ وَكُلَّ امْرَأَةٍ مُتْعَبَةٍ فِيْ بَيْتِهَا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ وَفَرِّجْ هَمَّهُمْ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا وَصِغَارَ الْكَاسِبِيْنَ فِيْ أَسْوَاقِنَا، وَيَسِّرْ لَهُمْ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَادْفَعْ عَنْهُمْ كَيْدَ الظَّالِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan