Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumSosial & KeluargaKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Rumah yang Ramai, Hati yang Sepi Didengar"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ramai sekali cerita tentang rumah tangga — ada yang curhat kelelahan, ada psikolog yang membagikan pola berulang dari pengalamannya, ada pula rumah tangga orang lain yang jadi tontonan bersama di linimasa. Ada satu hal kecil yang ingin saya bagikan malam ini, sesuatu yang sederhana tapi jujur kalau direnungkan bisa menampar kita semua.

Coba kita tanya diri sendiri malam ini: kapan terakhir kali kita benar-benar berhenti, menoleh, dan menjawab penuh ketika anak atau pasangan kita memanggil — bukan sambil terus memegang ponsel, bukan sambil menjawab "iya sebentar" yang ternyata tidak pernah benar-benar sebentar? Kita hidup di rumah yang ramai: ramai orangnya, ramai notifikasinya, ramai jadwalnya. Tapi ramai bukan berarti didengar. Justru sering kali di rumah yang paling ramai, ada satu-dua hati yang paling sepi karena merasa panggilannya tidak pernah benar-benar dijawab.

أصواتهما، ويلبي دعوتهما، ويحرص على مرضاتهما، ويخفض لهما جناح الذل، ولا يمن عليهما بالبر لهما ولا بالقيام لأمرهما، ولا ينظر إليهما شذراً، ولا يقطب وجهه في وجههما، ولا يسافر إلا بإذنهما

(Bidayatul Hidayah — Imam al-Ghazali, pembahasan adab kepada kedua orang tua)

"...suaranya melebihi suara keduanya, segera memenuhi panggilan keduanya, bersungguh-sungguh mencari ridha keduanya, dan merendahkan sayap ketundukan kepada keduanya. Janganlah ia mengungkit-ungkit kebaikan yang telah ia berikan, memandang dengan sinis, mengerutkan wajah, atau bepergian tanpa izin keduanya."

Imam al-Ghazali menuliskan nasihat ini untuk anak yang beradab kepada orang tuanya, tapi coba kita rasakan satu frasa di dalamnya: "segera memenuhi panggilan keduanya". Bukan menunda, bukan setengah hati, bukan sambil tetap menatap layar. Segera. Ini bukan hanya soal anak kepada orang tua — ini soal setiap kita yang ada di rumah, kepada siapa pun yang memanggil dengan tulus butuh didengar: anak kepada orang tuanya, orang tua kepada anaknya yang memanggil "Bunda, lihat ini," pasangan kepada pasangannya yang bicara sambil lelah sepulang kerja.

Pekan ini kita melihat sendiri apa yang terjadi kalau panggilan itu tidak pernah benar-benar dijawab di rumah: orang mencari didengar ke tempat lain, ke linimasa, ke ribuan orang asing yang tidak mengenalnya, hanya supaya keluhannya akhirnya ada yang membaca. Itu bukan salah orangnya sepenuhnya — itu tanda bahwa rumah sudah lama tidak lagi jadi tempat pertama untuk didengar. Kita tidak sedang menyalahkan siapa pun yang curhat di media sosial pekan ini; kita sedang mengoreksi diri kita sendiri, jangan sampai rumah kita yang membuat orang terdekat kita mencari telinga di tempat yang jauh.

Ada juga satu kabar hangat pekan ini yang saya suka: seorang bapak penjual es krim yang sepi pembeli, begitu kesulitannya terlihat, langsung dibantu oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. Itu indah. Tapi bayangkan kalau kepekaan yang sama — melihat, lalu bergerak — juga kita berikan kepada orang yang setiap hari tidur satu atap dengan kita. Kita gampang tergerak oleh kesulitan orang yang viral, tapi kadang lupa bahwa istri atau anak kita di kamar sebelah sudah lama menunggu lima menit perhatian penuh yang sama.

Malam ini, sebelum tidur, coba lakukan satu hal kecil ini: pilih satu orang di rumah, taruh ponsel di tempat lain, lalu dengarkan apa yang ingin mereka sampaikan sampai selesai, tanpa menyela dan tanpa buru-buru memberi solusi. Itu saja. Rumah yang menjawab panggilan dengan segera tidak akan pernah kehilangan penghuninya ke linimasa.

Ya Allah, jadikan rumah kami tempat yang pertama kali mendengar, sebelum tempat mana pun yang lain.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَسَاجِدَ سَكِيْنَةٍ لِقُلُوْبِنَا قَبْلَ أَنْ تَكُوْنَ لِغَيْرِنَا، وَارْزُقْنَا أُذُنًا تَسْمَعُ أَهْلَنَا قَبْلَ أَنْ تَسْمَعَ ضَجِيْجَ النَّاسِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan