Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita buka khutbah pekan ini dengan satu ayat pendek yang akan menjadi pintu masuk seluruh renungan kita hari ini.
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
Allah berfirman dalam QS. Al-Haaqqa: 39: "Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Ayat pendek ini, jamaah sekalian, adalah bagian dari sebuah sumpah agung yang menegaskan bahwa pengetahuan Allah meliputi yang tampak oleh mata kita dan yang tidak pernah bisa kita lihat sekaligus. Kita hanya diberi akses pada sepotong kecil dari yang tampak; yang tidak tampak sepenuhnya milik-Nya.
Pembagian ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini, di zaman yang sebagian besar harinya kita habiskan menatap layar. Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, sekelompok mahasiswa yang hendak menjalankan kuliah kerja nyata membagikan pemandangan sebuah kabupaten yang mereka lalui — hamparan yang begitu indah sampai yang melihatnya bertanya-tanya sendiri: ini asli, atau buatan kecerdasan buatan? Pertanyaan itu sendiri sudah menjadi tanda zaman. Dahulu kita mempertanyakan kebenaran sebuah cerita; sekarang kita mulai mempertanyakan kebenaran sebuah pemandangan.
Yang lebih menarik, pertanyaan itu tidak berhenti pada soal asli atau tidaknya gambar. Orang yang sama juga menyuarakan kegelisahan lain: bukankah kecerdasan buatan ini punya dampak pada alam? Kabar yang sampai kepada kita ini kecil, hanya secuil komentar di media sosial, tetapi ia menyentuh sesuatu yang jarang kita bahas di mimbar — bahwa di balik setiap gambar yang dihasilkan mesin, di balik setiap jawaban yang diberikan sebuah aplikasi pintar, ada perangkat-perangkat besar yang bekerja siang-malam, menghabiskan listrik dan sumber daya dalam jumlah yang tidak kita lihat, di tempat yang tidak pernah kita kunjungi.
Pekan ini kita juga menyaksikan pola lain: sebuah kabar dibungkus dengan gaya mendesak — "baru saja terjadi", "saksikan sekarang juga" — lalu diulang oleh beberapa akun sekaligus tanpa jeda. Publik yang sama, yang tadi begitu jeli mempertanyakan satu foto pemandangan, pada saat lain meneruskan kabar semacam ini tanpa pertanyaan yang sama. Ada yang kita curigai, dan ada yang kita telan begitu saja — dan yang menentukan sering kali bukan akal sehat kita, melainkan kemasan yang paling meyakinkan.
Di sisi lain, ramai pula pekan ini seorang pembuat konten yang dengan sabar menjawab satu per satu mitos dan fakta seputar kesehatan yang beredar di kalangan warganet. Ini kabar baik yang layak kita catat: di tengah derasnya informasi yang tidak jelas asalnya, ada juga yang memilih meluangkan waktu untuk meluruskan, bukan sekadar menambah kebisingan. Sikap semacam ini — memeriksa dahulu, baru berbicara — adalah persis apa yang hendak kita dalami pagi ini.
Jamaah yang dirahmati Allah, seluruh peristiwa kecil ini — pertanyaan tentang keaslian gambar, kekhawatiran tentang jejak lingkungan, kabar yang menyebar lebih cepat dari kebenarannya, dan usaha kecil meluruskan mitos — sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sama: batas antara yang tampak dan yang tidak tampak semakin kabur di tangan kita, dan kita belum cukup terlatih untuk berjalan di atasnya dengan hati-hati.
Sebagian dari kita mungkin bertanya, apa hubungan urusan algoritma dan kecerdasan buatan ini dengan iman kita? Jawabannya, jamaah sekalian, justru sangat dekat. Islam tidak pernah memandang teknologi sebagai sesuatu yang berdiri sendiri di luar hukum agama. Setiap alat yang diciptakan manusia — mulai dari pena, mesin cetak, radio, sampai kecerdasan buatan hari ini — tunduk pada pertanyaan yang sama: siapa yang mengendalikannya, untuk apa ia dipakai, dan apakah pemakaiannya menjaga atau justru mengikis apa yang wajib kita jaga dalam syariat, terutama agama dan akal kita.
Untuk memahami ini lebih dalam, mari kita kembali sejenak ke ayat pembuka tadi. "Dan dengan apa yang tidak kamu lihat" — Allah menegaskan bahwa pengetahuan-Nya meliputi yang tampak dan yang tersembunyi sekaligus. Ini bukan sekadar pernyataan teologis yang jauh dari keseharian kita; ini pengingat yang sangat relevan untuk zaman ketika begitu banyak keputusan tentang hidup kita — apa yang muncul di beranda media sosial kita, produk apa yang direkomendasikan untuk kita, bahkan wajah siapa yang dikenali kamera — ditentukan oleh sistem yang bekerja di balik layar, yang cara kerjanya tidak kita lihat dan sering kali tidak sepenuhnya dipahami bahkan oleh yang menciptakannya sendiri.
Di sinilah letak godaan pertama yang perlu kita waspadai bersama, jamaah sekalian: godaan untuk memperlakukan sistem yang tidak kita pahami ini seolah ia mengetahui yang gaib. Ketika sebuah aplikasi mampu menjawab hampir semua pertanyaan kita dalam hitungan detik — soal kesehatan, soal hukum, bahkan soal makna hidup — ada bahaya halus yang menyusup ke hati: kita mulai menaruh kepercayaan yang seharusnya hanya untuk Allah kepada sebuah program. Bukan dalam bentuk penyembahan yang kasar, tetapi dalam bentuk yang lebih lembut dan karena itu lebih berbahaya: ketergantungan mutlak, tanpa jeda untuk bertanya, tanpa ruang untuk merujuk kepada Al-Qur'an, sunnah, atau ulama yang kita percaya.
Islam mengajarkan batas ini dengan sangat tegas sejak dasar-dasar akidah yang paling awal kita pelajari. Thalathat al-Usul menjelaskan makna kalimat la ilaha illallah — bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan kalimat ini meniadakan segala bentuk penyembahan atau penyandaran mutlak kepada selain-Nya. Risalah ini bahkan mengutip firman Allah tentang sikap Nabi Ibrahim 'alaihissalam kepada kaumnya:
Allah berfirman, sebagaimana dikutip dalam risalah ini: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'"
Nabi Ibrahim melepaskan diri dari segala sesuatu yang oleh kaumnya dijadikan sandaran mutlak — bukan karena benda-benda itu buruk secara zat, melainkan karena kaumnya telah menaruh kepercayaan yang seharusnya hanya untuk Allah kepada benda-benda itu. Prinsip yang sama berlaku bagi kita hari ini menghadapi kecerdasan buatan. Aplikasi, algoritma, dan mesin pintar bukan berhala dalam bentuk fisik, tetapi ia bisa menempati posisi berhala dalam hati kita jika kita menjadikannya rujukan akhir untuk pertanyaan-pertanyaan besar hidup — pertanyaan tentang halal-haram, tentang arah hidup, tentang siapa diri kita — yang jawabannya seharusnya kita cari dari wahyu dan bimbingan orang-orang yang berilmu, bukan dari prediksi statistik sebuah mesin.
Godaan kedua yang perlu kita waspadai bersama adalah hilangnya kebiasaan memverifikasi. Ma'asyiral muslimin, di zaman ketika siapa pun bisa membuat gambar, suara, bahkan video yang tampak begitu meyakinkan hanya dengan beberapa ketikan, kemampuan membedakan yang benar dari yang direkayasa menjadi kewajiban baru yang belum pernah dituntut seberat ini kepada generasi sebelum kita. Dan yang mengkhawatirkan, jamaah sekalian, kita justru sering terbalik: curiga pada hal-hal yang remeh, tetapi lengah pada kabar yang dibungkus dengan kesan mendesak dan meyakinkan.
Islam sesungguhnya sudah membangun tradisi panjang tentang pentingnya memeriksa sebelum memutuskan. Fath al-Qarib, salah satu kitab fikih yang menjadi rujukan banyak pesantren kita, menjelaskan prinsip ini dalam konteks pengadilan: seorang hakim yang menerima bukti dari penggugat tidak langsung memutuskan berdasarkan bukti itu semata — ia mendengarkan bukti tersebut, lalu memutuskan dengannya jika keabsahannya ('adalah) sudah diketahui; jika belum, ia meminta klarifikasi lebih lanjut sebelum bukti itu dijadikan dasar keputusan. Prinsip ini dikenal sebagai hukm bil bayyinah — memutuskan berdasarkan bukti yang telah diverifikasi, bukan berdasarkan klaim yang datang begitu saja.
Bayangkan, jamaah sekalian, betapa berbedanya keadaan kita bila prinsip ini kita bawa ke kehidupan sehari-hari di depan layar. Setiap video yang tampak mengejutkan, setiap kabar berjudul "baru saja terjadi", setiap gambar yang terlalu indah untuk dipercaya — semuanya diperlakukan seperti bukti di pengadilan: didengar dahulu, diperiksa keabsahannya, baru kemudian dipercaya atau dibagikan. Bukan berarti kita menjadi orang yang serba curiga dan tidak percaya siapa pun; justru sebaliknya, kehati-hatian semacam ini adalah bentuk amanah kita menjaga akal dari kabar dusta yang bisa merusak pikiran, memecah ukhuwah, bahkan menzalimi orang lain yang namanya tercatut dalam kabar yang belum tentu benar.
Godaan ketiga, dan barangkali yang paling halus dari ketiganya, adalah bagaimana layar yang selalu menyala ini perlahan menjauhkan kita dari mengingat Allah tanpa kita sadari. Bukan karena kita berniat menjauh dari-Nya, tetapi karena waktu kita habis, perhatian kita terserap, dan hati kita menjadi terlalu penuh untuk menyisakan ruang bagi dzikir dan muhasabah. Ini bukan persoalan baru dalam sejarah umat manusia — hanya wujudnya yang berganti dari zaman ke zaman.
Dalam Nashaihul Ibad, kitab yang menghimpun nasihat-nasihat untuk mendekatkan hati kepada Allah, dikutip sebuah munajat dari sebagian ahli ibadah yang menggambarkan keadaan ini dengan sangat jujur:
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh pada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku menuju kemaksiatan. Maka tolonglah aku, wahai sebaik-baik penolong bagi yang meminta tolong, karena jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau."
Perhatikan, jamaah sekalian, satu frasa dalam munajat ini: "teman yang buruk telah membantuku menuju kemaksiatan". Dalam bahasa aslinya, ini merujuk pada sahabat pergaulan yang mengarahkan kepada keburukan. Tetapi renungkanlah bersama saya: bukankah beranda media sosial yang kita buka puluhan kali sehari, yang dirancang untuk terus-menerus menawarkan konten yang membuat kita betah berlama-lama, juga bekerja seperti "teman" semacam ini? Ia tidak memaksa kita berbuat dosa secara langsung, tetapi ia menyita waktu kita, memperpanjang angan-angan kita akan dunia, dan pelan-pelan menjauhkan kita dari hal-hal yang sebenarnya lebih berhak atas perhatian kita — keluarga, ibadah, dan muhasabah diri.
Untuk melihat bahwa persoalan mesin yang meniru kemampuan manusia ini bukan sesuatu yang asing sama sekali bagi kerangka berpikir kita, mari kita lihat sejenak bagaimana ulama kita menjaga garis pembatas antara satu jenis makhluk dengan makhluk yang lain. 'Aqidat al-'Awam, nazham yang mengajarkan dasar-dasar akidah kepada anak-anak kita di banyak pesantren dan TPA, menjelaskan sifat-sifat malaikat dengan jernih:
وَالـمَـلَكُ الـذي بـلا أبٍ وأمْ ۞ لا أَكْـلَ لا شُـرْبَ ولا نومَ لَهُمْ
"Dan malaikat — yang tercipta tanpa ayah dan ibu — tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur."
Bait ini mengajarkan bahwa ada makhluk-makhluk yang berbeda secara mendasar dari manusia: mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan mereka adalah makhluk gaib ciptaan Allah yang taat sepenuhnya kepada-Nya. Kecerdasan buatan yang kita gunakan hari ini juga tidak makan, tidak minum, tidak tidur — tetapi di sinilah letak perbedaan yang harus kita pegang erat: kecerdasan buatan bukan malaikat, bukan makhluk gaib, dan tidak memiliki kaitan apa pun dengan alam gaib yang hanya diketahui Allah. Ia adalah ciptaan manusia, dari kode dan data yang disusun manusia, sehebat apa pun ia tampak. Menyamakan kedudukannya dengan sesuatu yang memiliki otoritas gaib — sekecil apa pun bentuknya, termasuk mempercayai ramalannya tentang masa depan kita melebihi ikhtiar dan doa — adalah kekeliruan akidah yang perlu kita luruskan sejak dini, kepada diri kita sendiri maupun kepada anak-anak kita yang tumbuh berdampingan dengan teknologi ini.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, tiga hal yang telah kita bahas ini — batas ketergantungan yang hanya boleh untuk Allah, kebiasaan memverifikasi sebelum mempercayai, dan kewaspadaan terhadap apa yang mencuri waktu serta perhatian kita — sesungguhnya bermuara pada satu kata yang sudah sering kita dengar tetapi jarang kita hayati sepenuhnya: amanah. Teknologi yang kita pegang di tangan kita adalah amanah, sebagaimana harta dan jabatan adalah amanah. Kita akan diminta pertanggungjawaban atasnya di hadapan Allah — bukan tentang seberapa canggih alat yang kita pakai, melainkan tentang bagaimana kita memakainya: apakah ia mendekatkan kita kepada Allah, ataukah pelan-pelan menggantikan tempat yang seharusnya hanya untuk-Nya.
Sebelum kita tutup khutbah pertama ini, izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai pekan ini.
Pertama, biasakan diri dan keluarga bertanya "ini asli atau buatan mesin?" sebelum membagikan gambar atau video yang mencolok — jadikan pertanyaan yang muncul spontan pada satu unggahan pekan ini sebagai kebiasaan tetap, bukan reaksi sesekali saja.
Kedua, beri jeda sebelum membagikan kabar yang datang dengan kemasan mendesak. Luangkan beberapa menit mencari sumber lain yang menguatkan atau justru membantahnya, sebelum jari kita menekan tombol bagikan.
Ketiga, tetapkan satu waktu setiap hari — misalnya sesudah shalat Maghrib — untuk meletakkan gawai dan duduk bersama keluarga tanpa layar sama sekali, sebagai latihan kecil melawan tarikan yang menjauhkan kita dari dzikir dan kebersamaan.
Keempat, bila ada pertanyaan besar tentang hidup, tentang halal-haram, tentang arah keputusan penting, jangan berhenti pada jawaban sebuah aplikasi. Bawa pertanyaan itu kepada ustadz, kepada orang tua, atau kepada majelis ilmu terdekat.
Kelima, bagi yang bekerja atau belajar menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat bantu, niatkan penggunaannya untuk mempercepat kebaikan dan meringankan kewajiban — bukan untuk menipu, memalsukan, atau mencurangi orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan saya mengulang satu hal dari khutbah pertama tadi dengan penekanan yang berbeda. Ketika kita bicara tentang menjaga batas antara pertolongan Allah dan ketergantungan pada mesin, ini bukan ajakan untuk menjauhi teknologi. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk lari dari zaman. Yang diajarkan adalah menempatkan setiap alat pada posisinya yang benar — sebagai sarana, bukan sandaran; sebagai pembantu ikhtiar, bukan pengganti tawakal.
Renungkan juga, jamaah sekalian, betapa besar nilai yang tersimpan dalam kebiasaan kecil memverifikasi sebelum berbicara atau membagikan. Di zaman ketika satu ketikan bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik, menjaga lisan dan jari kita dari menyebarkan yang belum pasti kebenarannya adalah bentuk perjuangan kecil yang setiap hari bisa kita lakukan, tanpa perlu pergi ke medan yang jauh.
Dan tentang waktu yang tersita oleh layar — jamaah sekalian, cobalah sesekali menghitung dengan jujur berapa lama kita menatapnya dalam sehari, lalu bandingkan dengan berapa lama kita duduk bersama Al-Qur'an, berapa lama kita bersujud tanpa tergesa-gesa. Bukan untuk membuat kita bersedih, melainkan untuk membangunkan kita, karena Allah tidak menuntut kita meninggalkan dunia — Dia hanya meminta kita tidak tenggelam di dalamnya.