بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita menyaksikan hal kecil yang sebenarnya besar maknanya: sebuah foto pemandangan yang begitu indah sampai orang yang melihatnya bertanya-tanya sendiri, ini asli atau buatan mesin? Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini.
Pernahkah kita berhenti sejenak di depan sebuah foto yang terlalu indah, lalu bertanya dalam hati: ini betulan, atau rekayasa? Pertanyaan sederhana itu, jamaah sekalian, muncul dari salah satu unggahan pekan ini — seorang mahasiswa yang melihat pemandangan indah dalam perjalanan KKN-nya, sampai ia sendiri ragu apakah itu asli atau buatan kecerdasan buatan.
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
Allah berfirman dalam QS. Al-Haaqqa: 39: "Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Ayat ini bagian dari sumpah Allah yang menegaskan bahwa pengetahuan-Nya meliputi yang tampak dan yang tersembunyi. Kita, sebaliknya, hanya diberi akses pada sebagian yang tampak — dan pekan ini, bahkan yang tampak itu pun sudah mulai kita ragukan keasliannya. Ini bukan alasan untuk putus asa, melainkan pengingat bahwa hanya Allah yang benar-benar tahu segalanya; tugas kita berhati-hati dengan apa yang bisa kita periksa.
Jamaah yang saya hormati, ayat tadi mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: ada dua jenis realitas dalam hidup kita — yang bisa kita lihat, dan yang tidak bisa kita lihat. Selama ini kita pikir masalahnya sederhana: yang kita lihat itu nyata, yang tidak kita lihat itu gaib, dan Allah tahu keduanya. Tapi zaman kita punya lapisan ketiga yang tidak dikenal generasi sebelumnya: sesuatu yang kelihatan nyata di layar kita, padahal sama sekali tidak nyata.
Inilah yang membuat pertanyaan seorang mahasiswa tadi — "ini asli atau AI?" — begitu penting untuk kita renungkan bersama. Bukan karena jawabannya rumit, tapi karena pertanyaan itu sendiri adalah kebiasaan baik yang mestinya kita rawat, bukan hanya muncul sesekali ketika kebetulan ada yang mencolok.
Sayangnya, jamaah sekalian, kebiasaan bertanya ini belum merata. Pekan ini kita juga melihat sebuah kabar dibungkus dengan gaya yang sangat meyakinkan — "baru saja terjadi, sore ini, jam sekian" — lalu diulang oleh beberapa akun berbeda seolah saling menguatkan. Orang yang sama, yang tadi begitu jeli meragukan satu foto pemandangan, pada saat lain justru meneruskan kabar semacam ini tanpa jeda yang sama untuk bertanya.
Mengapa bisa begitu? Karena kemasan yang meyakinkan sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada isi yang benar. Sebuah foto pemandangan yang "terlalu indah" memicu kecurigaan karena keindahannya sendiri terasa mencolok. Tapi kabar yang dibungkus kata "baru saja terjadi" dan jam yang presisi justru terasa meyakinkan karena detailnya — padahal detail bukan bukti kebenaran.
Islam sesungguhnya sudah lama mengajarkan cara berpikir yang benar tentang ini. Dalam kitab fikih Fath al-Qarib, dijelaskan prinsip yang dipegang seorang hakim ketika menerima bukti dari orang yang mengadu: bukti itu didengar, lalu baru dijadikan dasar keputusan setelah keabsahannya diketahui — bukan diterima begitu saja hanya karena disampaikan dengan yakin. Prinsip inilah yang disebut hukm bil bayyinah, menghukumi dengan bukti yang sudah diverifikasi. Kalau seorang hakim saja tidak boleh memutuskan hanya berdasarkan klaim yang meyakinkan tanpa memeriksa keabsahannya, kenapa kita begitu mudah mempercayai dan meneruskan kabar yang sama-sama belum jelas asal-usulnya?
Renungkan sejenak, jamaah sekalian: setiap kali kita membagikan sesuatu yang ternyata keliru, kita bukan hanya salah — kita ikut menyebarkan kekeliruan itu kepada orang lain, yang mungkin mempercayai kita karena selama ini kita dikenal jujur. Amanah menjaga jari kita sama beratnya dengan amanah menjaga ucapan kita.
Ada satu hal yang menghibur dari semua ini. Pekan ini juga ada seorang pembuat konten yang justru mengambil peran sebaliknya — meluangkan waktu menjawab satu per satu mitos kesehatan yang beredar, meluruskan yang keliru dengan sabar. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan memeriksa dan meluruskan itu bukan sesuatu yang mustahil dilakukan — ada yang sudah memulainya, tinggal kita yang ikut merawatnya.
Maka pulang dari sini malam ini, coba tiga hal kecil. Pertama, sebelum membagikan kabar yang terasa mengejutkan, tahan dulu selama lima menit dan cari sumber lain. Kedua, kalau ada anak atau keponakan di rumah, ajak mereka bermain tebak-tebakan kecil — ini asli atau buatan mesin — sambil menjelaskan kenapa itu penting. Ketiga, kalau kita pernah terlanjur membagikan sesuatu yang ternyata keliru, jangan gengsi meralatnya; itu bukan aib, itu amanah yang kita tunaikan.
Jamaah yang saya hormati, dunia kita hari ini penuh dengan yang tampak tapi tidak nyata, dan yang nyata tapi tidak tampak. Allah mengetahui keduanya dengan sempurna; kita hanya diminta berhati-hati dengan yang bisa kita periksa. Bukan untuk menjadi curiga pada semua orang, tapi untuk menjaga amanah ilmu yang ada di ujung jari kita setiap kali kita menekan tombol bagikan.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الصِّدْقَ فِي الْقَوْلِ، وَالتَّثَبُّتَ قَبْلَ النَّقْلِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ قُلُوْبَنَا وَعُقُوْلَ أَبْنَائِنَا مِنَ الْغَفْلَةِ وَالشُّبُهَاتِ، وَاجْعَلْ مَا سَخَّرْتَ لَنَا مِنَ التِّقْنِيَةِ عَوْنًا لَنَا لَا فِتْنَةً عَلَيْنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
