Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatToleransi & Lintas-ImanKamis, 6 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Teguh Beriman, Lapang Berdampingan"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita kembali menata niat, meluruskan langkah, dan menyegarkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Di tengah kesibukan pekan yang baru saja kita lalui, mimbar ini mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, sebelum kita kembali melangkah ke pekan berikutnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an, surah An-Naas, ayat ketiga:

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

"Sembahan manusia." (QS. An-Naas: 3)

Satu penggalan ayat yang pendek, namun menyimpan makna yang luas bagi kita semua. Allah menyebut diri-Nya di sini sebagai Ilah bagi an-naas — bagi manusia secara umum, bukan hanya bagi orang beriman, bukan hanya bagi umat tertentu. Klaim ketuhanan yang Allah nyatakan bersifat universal: Dialah satu-satunya yang berhak disembah oleh seluruh manusia, di mana pun mereka berada, apa pun latar belakang mereka. Justru karena klaim ini universal, dakwah yang mengajak manusia kepada-Nya semestinya berjalan dengan cara yang lapang — sebuah ajakan, bukan sebuah paksaan. Inilah pintu masuk yang ingin kita renungkan bersama pekan ini: bagaimana kita menjaga keyakinan yang kokoh, sekaligus sikap yang lapang kepada sesama manusia yang berbeda jalan.

Jamaah yang dirahmati Allah, dari perbincangan yang berkembang di ruang publik pekan ini, kita mendengar dua nada yang saling bersahutan. Satu nada mempertanyakan keikhlasan di balik ibadah — ada yang bertanya, buat apa jauh-jauh beribadah ke tanah suci dengan biaya besar, kalau uang yang sama bisa dipakai berkeliling dunia. Ada pula yang menyoroti, dengan nada antara heran dan gemas, orang-orang yang terlihat rajin beribadah tidak lama setelah melakukan kesalahan — seolah ibadah hanya menjadi tambal sulam yang dipasang setelah noda dibuat. Nada lain yang kita dengar pekan ini justru sebaliknya: ada yang marah dan menuntut supaya siapa pun yang menjadikan agama sebagai bahan candaan segera ditangkap dan diadili. Dan ada pula sebuah pernyataan yang beredar luas, menyebutkan bahwa orang baik akan tetap baik walau tanpa agama, orang jahat akan tetap jahat walau beragama, dan yang paling berbahaya adalah ketika orang baik berubah menjadi jahat justru dengan berlindung di balik dalih agama.

Kabar-kabar ini, jamaah sekalian, bukan sekadar keributan di layar ponsel yang lewat begitu saja. Ia menyingkap sebuah pertanyaan yang sudah setua peradaban manusia: apa sebenarnya yang membuat keberagamaan seseorang itu sah dan bermakna? Apakah cukup dengan menjalankan ritualnya, ataukah harus dibuktikan lewat akhlak yang nyata? Dan bagaimana kita, sebagai orang yang meyakini kebenaran agama ini dengan sepenuh hati, meresponsnya — dengan kemarahan yang menyala-nyala, ataukah dengan ketenangan yang justru lebih meyakinkan?

Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita renungkan satu ayat yang menjadi salah satu prinsip terpenting dalam Islam mengenai hubungan dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan. Allah berfirman dalam surah Al-Kaafiruun, ayat keenam:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

"Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kaafiroon: 6)

Para ulama tafsir menerangkan bahwa ayat ini turun ketika sebagian tokoh Quraisy menawarkan semacam jalan tengah kepada Rasulullah ﷺ: mereka akan menyembah Allah setahun, dengan syarat Nabi ﷺ dan para sahabat mau menyembah berhala mereka setahun berikutnya secara bergantian. Allah menolak tegas tawaran mencampur akidah semacam itu — dan penolakan itu ditutup dengan kalimat yang justru terasa lapang: "untukmu agamamu, untukkulah agamaku." Perhatikan baik-baik, jamaah sekalian: ayat ini bukan pernyataan bahwa semua agama sama benarnya. Ayat ini adalah penegasan bahwa akidah tidak boleh dicampur, tidak boleh ditawar, tidak boleh dikompromikan — tetapi pada saat yang sama, tidak ada satu kata pun dalam ayat ini yang memerintahkan kekerasan atau paksaan terhadap orang yang berbeda keyakinan. Yang diperintahkan adalah keteguhan pada diri sendiri, dan sikap tidak memaksakan diri pada orang lain. Inilah yang disebut sebagian ulama sebagai koeksistensi yang jujur — hidup berdampingan tanpa berpura-pura sepakat pada hal yang paling mendasar.

Dalam sirah Nabi ﷺ, kita mengenal sosok-sosok generasi awal yang mempraktikkan keteguhan semacam ini dengan harga yang tidak murah. Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, misalnya, tercatat sebagai salah satu dari kalangan pertama yang memilih Islam di tengah masyarakat Makkah yang saat itu belum menerima dakwah secara terbuka. Ia tidak memaksa orang lain mengikuti pilihannya, dan ia juga tidak mundur dari pilihannya sendiri meski tekanan sosial di sekelilingnya begitu besar. Itulah wajah asli dari keyakinan yang kokoh: teguh pada diri, lapang pada orang lain, dan sabar menanggung konsekuensinya.

Prinsip yang sama, jamaah sekalian, sesungguhnya sudah disinggung Rasulullah ﷺ ketika berbicara tentang cabang-cabang iman. Beliau bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin, hadits nomor 682:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Rasulullah ﷺ bersabda: "Iman itu memiliki enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman." (Riyad as-Salihin 682)

Perhatikan rentang yang luar biasa ini, jamaah sekalian: dari kalimat tauhid yang paling agung, sampai perkara sesederhana menyingkirkan duri dari jalan yang dilewati orang banyak. Iman, dalam pandangan hadits ini, bukan hanya soal ritual besar yang terlihat — ia mencakup akhlak-akhlak kecil yang bahkan tidak disaksikan siapa pun. Orang yang menyingkirkan duri dari jalan tidak butuh penonton untuk merasa perbuatannya sah; ia melakukannya karena itu bagian dari imannya. Bandingkan ini dengan kegelisahan yang berkembang pekan ini tentang ibadah yang dipertanyakan keikhlasannya — bukankah jawabannya justru ada di hadits ini? Ibadah yang paling murni sering kali adalah yang paling tidak mencolok. Dan rasa malu yang disebut sebagai cabang iman di penghujung hadits ini adalah rem alami yang menahan kita dari perbuatan yang bertentangan dengan iman, baik saat dilihat orang maupun saat sendirian.

Lalu bagaimana kita menyikapi kemarahan yang wajar ketika agama dijadikan bahan olok-olok? Di sinilah kita perlu belajar dari adab menjaga majelis yang diajarkan ulama kita. Disebutkan dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, tentang bagaimana seorang alim menjaga majelisnya dari keributan dan dari suara yang meninggi:

أَنْ يَصُونَ مَجْلِسَهُ عَنِ اللَّغَطِ، وَعَنْ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ وَاخْتِلَافِ جِهَاتِ الْبَحْثِ

Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan: seorang alim hendaknya "menjaga majelisnya dari laghath (keributan), dan dari mengangkat suara serta bercabangnya arah pembahasan." Bahkan dicontohkan bagaimana Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, ketika seseorang mendebatnya pada satu masalah lalu melompat ke masalah lain, beliau berkata dengan tenang: "Mari selesaikan masalah ini dulu, baru kita beralih ke yang engkau mau." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Jamaah sekalian, betapa banyak perdebatan di ruang digital pekan ini — tentang agama yang dijadikan bahan candaan, tentang moralitas yang dilepaskan dari agama — yang sebenarnya tidak butuh kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan seperti yang dicontohkan Imam Asy-Syafi'i: menyelesaikan satu perkara dengan jernih, sebelum berpindah ke perkara berikutnya. Kemarahan yang menuntut "tangkap dan adili" untuk setiap candaan yang menyinggung mungkin lahir dari kepedulian yang tulus, tetapi kepedulian itu akan lebih berbuah jika disalurkan lewat jalur yang tenang dan sah, bukan lewat reaksi masa yang justru menambah kegaduhan.

Jamaah yang dimuliakan Allah, dari tiga dalil yang telah kita renungkan bersama — tentang Allah sebagai sembahan seluruh manusia, tentang prinsip "untukmu agamamu, untukkulah agamaku," tentang cabang iman yang merentang dari tauhid sampai akhlak sehari-hari, dan tentang adab menjaga ketenangan majelis — kita diajak pada satu kesimpulan yang sama: iman yang kokoh tidak pernah butuh kegaduhan untuk membuktikan dirinya.

Maka izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata untuk pekan ini. Pertama, jaga lisan dan jari kita ketika melihat konten yang menyinggung agama — pilih klarifikasi yang tenang dan argumen yang jernih, bukan makian yang justru ikut viral dan memperkeruh suasana. Kedua, tunjukkan keikhlasan ibadah kita lewat konsistensi yang tidak perlu disaksikan orang lain; salat yang ditunaikan sendirian di rumah sama berharganya di sisi Allah dengan salat yang terlihat ramai. Ketiga, ketika berbincang dengan tetangga atau kerabat yang berbeda keyakinan, pegang teguh prinsip "untukmu agamamu, untukkulah agamaku" — hormati pilihan mereka tanpa perlu mengorbankan keyakinan kita sendiri. Keempat, jadikan akhlak sebagai bukti hidup dari iman kita, supaya klaim bahwa "agama tidak menjamin akhlak" tidak menemukan pembenaran dari perilaku kita sendiri. Kelima, redam dorongan untuk menghakimi sendiri; serahkan pada jalur yang sah dan berwenang bila memang ada pelanggaran yang perlu ditindak.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali satu hal yang menjadi inti khutbah kita: keyakinan yang benar-benar kokoh tidak pernah gentar oleh candaan, dan tidak pernah butuh amarah untuk mempertahankan dirinya. Semakin dalam iman seseorang tertanam, semakin tenang pula ia menghadapi dunia yang meragukannya.

Kita juga diingatkan bahwa akhlak adalah bukti hidup dari iman, bukan pelengkapnya. Ketika ada yang berkata bahwa orang baik akan tetap baik tanpa agama dan orang jahat tetap jahat meski beragama, tugas kita bukan membantahnya dengan emosi, melainkan menjawabnya dengan kehidupan yang menunjukkan sebaliknya — bahwa agama yang dihayati dengan benar justru mempertajam akhlak, bukan sekadar menempel sebagai identitas.

Semoga Allah menjadikan kita golongan yang teguh dalam akidah, lapang dalam sikap kepada sesama, dan tenang dalam menghadapi setiap ujian keyakinan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ. اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ يَسْتَخِفُّ بِأَمْرِ دِينِنَا، وَأَلْهِمْنَا الْحِكْمَةَ فِي الرَّدِّ عَلَيْهِمْ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ وَارْحَمْ ضَعْفَهُمْ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan