Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumToleransi & Lintas-ImanKamis, 6 Agustus 2026

Kultum — "Ibadah yang Tak Perlu Dipamerkan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai perbincangan yang sebenarnya menyentuh satu hal yang sama: apakah ibadah kita dilihat orang, atau dilihat Allah. Ada yang mempertanyakan nilai ibadah dari sisi biayanya, ada pula yang menyoroti orang yang tiba-tiba rajin beribadah setelah berbuat salah. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak di titik itu.

Siapa di antara kita yang pernah, diam-diam, bertanya dalam hati: ibadah yang saya lakukan ini, sebenarnya untuk siapa? Rasulullah ﷺ pernah memberi jawaban yang sangat sederhana namun dalam, sebagaimana diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin, hadits nomor 682:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

"Iman itu memiliki enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman." (Riyad as-Salihin 682)

Bayangkan rentang cabang iman ini, jamaah — dari kalimat tauhid yang paling agung, sampai hal sesederhana menyingkirkan duri dari jalan yang bahkan tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Itulah kuncinya: cabang iman yang paling rendah dalam hadits ini justru salah satu yang paling tidak mencolok. Tidak ada yang bertepuk tangan untuk orang yang menyingkirkan kerikil dari jalan. Tidak ada yang mengunggah fotonya. Tapi Rasulullah ﷺ menyebutnya bagian dari iman.

Nah, mari kita bandingkan dengan kegelisahan yang berkembang pekan ini. Ada sindiran yang mempertanyakan kenapa orang menghabiskan uang untuk umrah, padahal — katanya — bisa dipakai jalan-jalan keliling dunia. Ada pula yang menyoroti orang yang terlihat rajin ibadah tak lama setelah berbuat salah. Dua-duanya, kalau kita jujur, sebenarnya menyentuh kegelisahan yang sama: kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati orang lain saat mereka beribadah. Yang kita lihat hanya bagian luarnya — jadwal umrahnya, foto sujudnya. Yang tidak kita lihat adalah pergulatan hatinya.

Karena itu hadits ini menempatkan penekanan yang menarik: rasa malu adalah cabang dari iman. Rasa malu di sini bukan malu di hadapan manusia semata, tapi malu di hadapan Allah — malu untuk berbuat maksiat lalu berpura-pura suci di depan orang, dan malu pula untuk sombong ibadahnya lalu meremehkan ibadah orang lain yang caranya berbeda dari kita.

Prinsip yang sama sebenarnya berlaku ketika kita bicara tentang sesama yang berbeda keyakinan. Allah berfirman dalam surah Al-Kaafiruun:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

"Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kaafiroon: 6)

Ayat pendek ini mengajarkan kita bahwa keyakinan tidak perlu dipertontonkan dengan menghakimi keyakinan orang lain, dan tidak pula perlu dibela dengan amarah yang berlebihan setiap kali ada yang menyinggungnya. Iman yang kokoh itu tenang. Ia tidak butuh validasi dari sorakan orang banyak, dan tidak goyah oleh cibiran orang banyak pula.

Jadi, jamaah, mari kita bawa pulang satu latihan sederhana malam ini. Lakukan satu ibadah pekan ini yang benar-benar tidak diketahui siapa pun — salat sunnah yang tidak diceritakan, sedekah yang tidak difoto, doa yang dipanjatkan diam-diam untuk orang yang menyakiti kita. Lalu, sekali lagi, tahan jari kita sebelum mengetik komentar yang menghakimi ibadah orang lain di media sosial. Dua kebiasaan kecil ini, insyaallah, adalah cara paling nyata untuk menjawab keraguan publik tentang keikhlasan — bukan dengan berdebat, tapi dengan konsistensi yang diam-diam disaksikan Allah semata.

Ibadah yang paling berharga, jamaah sekalian, sering kali justru yang paling sepi dari sorotan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang cukup puas ibadahnya dilihat oleh-Nya saja.

اللهم لك سجدت، وبك آمنت، ولك أسلمت، سجد وجهي للذي خلقه وصوره، وشق سمعه وبصره، تبارك الله أحسن الخالقين

"Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku sujud kepada Yang menciptakan dan membentuknya, serta membuka pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta." (Bulugh al-Maram 324)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan