Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah pada kesempatan yang mulia ini kita panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah mengumpulkan kita kembali di rumah-Nya dalam keadaan sehat, beriman, dan dalam naungan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah — takwa yang bukan sekadar kata yang diucapkan, melainkan kesadaran yang kita hidupkan dalam setiap gerak ibadah kita, termasuk ibadah yang pekan ini justru menjadi bahan renungan bersama.
Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
QS. Al-Ankaboot: 45 — "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini, jamaah yang berbahagia, berbicara tentang dua hal sekaligus: membaca Kitab Allah, dan mendirikan shalat — dan keduanya disatukan oleh satu fungsi yang sama, yaitu mencegah. Shalat mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Dzikir kepada Allah — dan shalat itu sendiri adalah puncak dzikir — disebut sebagai yang paling besar di antara segala keutamaan. Ayat ini turun bukan sebagai hiasan, bukan sebagai jargon rohani, melainkan sebagai penjelasan tentang fungsi ibadah: ibadah yang benar akan selalu menjaga pelakunya, bukan sekadar menjadi rutinitas yang dijalani tanpa makna.
Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita justru menunjukkan betapa relevannya ayat ini dengan keadaan kita hari ini. Ruang-ruang percakapan publik, terutama di kalangan anak muda, dipenuhi oleh perbincangan tentang dzikir, sholawat, dan shalat — jauh lebih ramai dari pekan-pekan biasanya. Banyak yang membagikan potongan dzikir pagi-petang, lantunan sholawat yang menyejukkan, hingga momen keluarga yang menyisipkan doa kecil di sela kesibukan. Ini adalah kabar yang menggembirakan. Ia menunjukkan bahwa hati umat ini, meski hidup di tengah dunia yang serba cepat dan serba layar, masih menyimpan rindu yang dalam kepada Allah.
Pekan ini kita juga menyaksikan sesuatu yang tidak kalah menarik: banyak pertanyaan fiqh keseharian yang sifatnya ringan justru diajukan secara terbuka di ruang publik — pertanyaan yang dahulu mungkin hanya dibisikkan di telinga ustadz terdekat, kini muncul dengan percaya diri di kolom komentar dan status media sosial. Ini pertanda baik, jamaah yang dimuliakan Allah. Ia menunjukkan bahwa rasa segan untuk bertanya soal agama sudah mulai berkurang, digantikan oleh keinginan tulus untuk memahami. Tugas kita sebagai umat yang lebih dahulu belajar adalah menyambut pertanyaan-pertanyaan itu dengan kelembutan, bukan dengan nada menghakimi yang justru membuat orang enggan bertanya lagi di lain waktu.
Kabar baik lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah banyaknya pertanyaan keagamaan yang sifatnya sangat sederhana dan dekat dengan keseharian — pertanyaan yang dahulu barangkali dianggap terlalu remeh untuk ditanyakan di depan umum, kini muncul terbuka di ruang publik tanpa rasa segan. Ada pula kisah-kisah tentang saudara-saudara kita yang baru saja mendapat hidayah, yang baru saja memeluk Islam, yang perjalanannya dibagikan dan disambut dengan haru oleh banyak orang. Semua ini menunjukkan bahwa keingintahuan tentang agama ini masih hidup, dan bahwa pintu hidayah Allah masih terus terbuka bagi siapa saja yang Dia kehendaki, kapan saja Dia kehendaki.
Namun, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pekan ini juga membawa kabar yang mengusik ketenangan hati kita. Kita mendengar tentang sebuah tantangan hafalan Al-Qur'an yang beredar luas, yang dikemas sebagai kompetisi menghibur — dan yang mengusik hati adalah hadiah yang ditawarkan di dalamnya berupa minuman keras. Sebuah ibadah yang mulia, yang Allah muliakan sebagai kalam-Nya sendiri, ditarik masuk ke dalam logika permainan yang justru bertentangan langsung dengan kandungan Al-Qur'an itu sendiri.
Kita tidak perlu mengenal siapa yang berada di balik tantangan itu untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang keliru di sana. Yang perlu kita renungkan bersama bukanlah siapa pelakunya, melainkan pola yang ia perlihatkan kepada kita: bahwa di zaman ini, apa pun — bahkan hal yang paling suci sekalipun — bisa ditarik masuk ke dalam logika viral, logika hiburan, logika "yang penting ramai". Ini kemungkinan besar bukan pertama kalinya pola semacam ini muncul, dan bukan pula yang terakhir. Karena itu, khatib mengajak kita semua untuk tidak larut dalam kemarahan yang tidak produktif, melainkan kembali kepada ayat yang telah kita baca tadi: bahwa shalat dan dzikir seharusnya mencegah dari kekejian dan kemungkaran — termasuk mencegah kita sendiri dari ikut larut dalam candaan atau perdebatan yang meremehkan kehormatan Al-Qur'an.
Di sinilah kita melihat dua benang yang sebenarnya saling terkait erat, jamaah yang dimuliakan Allah. Di satu sisi, ada kerinduan tulus kepada ibadah — dzikir, sholawat, shalat, dan pencarian hidayah. Di sisi lain, ada godaan untuk menjadikan hal yang serupa sebagai bahan hiburan yang kehilangan kehormatannya. Keduanya muncul di pekan yang sama, dari umat yang sama, di ruang digital yang sama. Ini menjadi pengingat bahwa niat dan cara kita memperlakukan ibadah jauh lebih menentukan nilainya di sisi Allah daripada sekadar seberapa ramai ibadah itu diperbincangkan.
Maka pada khutbah kali ini, izinkan khatib mengajak kita semua untuk merenungkan kembali satu pertanyaan mendasar: apakah ibadah yang kita jalankan — shalat kita, dzikir kita, bacaan Qur'an kita — masih menjalankan fungsi aslinya sebagai penjaga? Ataukah ia perlahan bergeser menjadi sekadar penampilan, sekadar rutinitas, sekadar sesuatu yang kita lakukan karena sedang ramai dibicarakan orang? Mari kita telusuri jawabannya bersama-sama, dengan bersandar pada dalil-dalil yang Allah dan Rasul-Nya ﷺ ajarkan kepada kita.
Dalil pertama yang ingin khatib angkat berbicara tentang fondasi ibadah itu sendiri — tentang apa yang menopang seluruh bangunan keislaman kita. Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّد…
Sahih al-Bukhari 8 — "Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar: Rasulullah ﷺ bersabda: Islam dibangun di atas (lima) dasar berikut: 1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ﷺ. 2. Menunaikan salat (wajib berjamaah) dengan tekun dan sempurna. 3. Membayar zakat (yaitu, sedekah wajib). 4. Melaksanakan haji (yaitu, ziarah ke Mekah). 5. Berpuasa selama bulan Ramadan."
Lima dasar ini bukan sekadar daftar administratif, jamaah yang dimuliakan Allah. Ia adalah lima tiang yang menopang bangunan keislaman kita secara utuh — dan perhatikan bahwa shalat berada tepat setelah syahadat, sebelum zakat, sebelum haji, sebelum puasa. Ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai tiang yang paling sering kita dirikan, paling dekat dengan keseharian kita, dan karena itu paling rentan menjadi sekadar gerakan tanpa ruh jika kita tidak menjaga kesadaran di dalamnya. Para sahabat Nabi ﷺ dahulu menjaga kelima tiang ini bahkan dalam kondisi yang jauh lebih berat dari kita — mereka mendirikan shalat di tengah peperangan, berpuasa dalam perjalanan yang melelahkan, menunaikan zakat meski harta mereka terbatas — karena bagi mereka, lima tiang ini bukan beban tambahan, melainkan penopang yang justru meringankan beban hidup yang lain.
Ketika kita melihat betapa ramainya pekan ini orang membicarakan shalat, dzikir, dan sholawat, semestinya kita bergembira, karena ini berarti salah satu dari lima tiang itu sedang mendapat perhatian besar dari umat. Tetapi kegembiraan itu harus disertai kewaspadaan: tiang hanya berguna jika ia menopang, bukan jika ia hanya dipajang. Shalat yang ramai diperbincangkan tetapi tidak menjaga penggunanya dari kekejian dan kemungkaran — sebagaimana disebutkan dalam ayat yang kita baca di awal — belum menjalankan fungsinya secara utuh.
Dalil kedua yang ingin khatib angkat berbicara tentang bagaimana seharusnya kita berdzikir — bukan sekadar menyebut nama Allah dengan lisan yang cepat dan pikiran yang melayang, melainkan dengan ketekunan yang sungguh-sungguh. Allah berfirman dalam QS. Al-Muzzammil: 8:
وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًۭا
"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan."
Ayat ini, jamaah yang dimuliakan Allah, termasuk ayat yang turun pada masa-masa paling awal risalah Nabi ﷺ, ketika beliau baru saja menerima beban dakwah yang sangat berat, dan Allah menyiapkan beliau justru dengan memerintahkan qiyamul lail — bangun malam untuk bermunajat. Perintah tabattul dalam ayat ini bukan sekadar "menyebut", melainkan memutuskan diri sepenuhnya untuk menghadap Allah, mencurahkan hati sepenuh-penuhnya, tanpa terbagi dengan urusan lain. Ini adalah standar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengucapkan lafaz dzikir dengan cepat sambil merekam video, atau membagikan potongan sholawat tanpa benar-benar meresapi maknanya. Dzikir yang tabattul adalah dzikir yang membekas, yang mengubah, yang menjaga — persis seperti fungsi shalat yang kita bahas di awal.
Maka ketika kita melihat betapa banyaknya konten dzikir dan sholawat yang beredar pekan ini, mari kita jadikan itu sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Menonton video dzikir yang menyejukkan itu baik, tetapi ia baru menjadi ibadah yang utuh ketika mendorong kita untuk benar-benar berdzikir dengan hati yang hadir — bukan sekadar menjadi penonton dari kesalehan orang lain di layar ponsel kita.
Di sinilah letak keprihatinan kita terhadap kabar kedua yang khatib sampaikan tadi — tantangan hafalan Al-Qur'an yang berhadiah minuman keras. Al-Qur'an dihafal bukan untuk memenangkan lomba yang hadiahnya justru bertentangan dengan isi Al-Qur'an itu sendiri. Setiap huruf yang dihafal dari Kitab Allah semestinya menjadi bagian dari tabattul — pencurahan diri kepada Allah — bukan bagian dari strategi mengumpulkan tontonan atau menaikkan popularitas. Ketika penghafalan Al-Qur'an dipasangkan dengan hadiah yang justru diharamkan oleh Al-Qur'an, di situlah kita melihat betapa jauhnya jarak yang bisa terjadi antara viralitas dan keikhlasan.
Meski demikian, jamaah yang dimuliakan Allah, khutbah ini tidak dimaksudkan untuk menutup dengan kegusaran. Islam mengajarkan kita bahwa hati manusia — termasuk hati orang yang hari ini keliru memperlakukan Al-Qur'an sebagai bahan tantangan — sepenuhnya berada dalam genggaman Allah, dan bisa berubah kapan saja Allah kehendaki. Inilah dalil ketiga yang ingin khatib bawakan, doa yang biasa dipanjatkan Rasulullah ﷺ sendiri, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2655:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
"Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami kepada ketaatan-Mu."
Doa ini, jamaah yang berbahagia, biasa dipanjatkan Rasulullah ﷺ meskipun beliau adalah manusia yang paling terjaga imannya. Para ulama menjelaskan bahwa jika Rasulullah ﷺ, yang ma'shum, tetap memohon agar hatinya dijaga di atas ketaatan, maka kita yang jauh dari kesempurnaan lebih pantas lagi memanjatkan doa ini setiap hari. Doa ini adalah pengakuan jujur bahwa hati manusia — hati kita sendiri, dan hati siapa pun di luar sana — bisa berubah dalam sekejap. Hati yang hari ini larut dalam candaan yang meremehkan Al-Qur'an, bisa saja esok menjadi hati yang paling mencintai Al-Qur'an, sebagaimana kita menyaksikan pekan ini begitu banyak saudara kita yang baru mendapat hidayah dan memeluk Islam. Karena itu, sikap kita terhadap kekeliruan yang terjadi bukanlah mencaci atau menghakimi pelakunya, melainkan mendoakan agar Allah membalikkan hati mereka kepada ketaatan — persis seperti doa yang Rasulullah ﷺ ajarkan ini.
Doa ini juga mengajarkan kita untuk rendah hati terhadap diri sendiri. Hati kita sendiri, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, tidak pernah sepenuhnya aman dari pergeseran. Hari ini kita mungkin bersemangat mendirikan shalat tepat waktu; besok, tanpa kita sadari, semangat itu bisa mengendur menjadi sekadar rutinitas. Karena itu doa "ya Muqallibal Qulub" semestinya menjadi wirid harian kita, bukan hanya doa yang kita panjatkan untuk mendoakan orang lain.
Di Indonesia hari ini, jamaah yang dimuliakan Allah, kita hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap hari, layar di genggaman kita menyodorkan apa yang paling banyak ditonton, bukan selalu apa yang paling banyak memberi manfaat bagi akhirat kita. Dalam kondisi seperti ini, godaan untuk menjadikan ibadah sebagai konten semata — dan bukan sebaliknya, menjadikan konten sebagai jalan menuju ibadah yang lebih dalam — akan terus datang berulang-ulang. Fenomena tantangan hafalan berhadiah minuman keras hanyalah satu contoh yang paling mencolok pekan ini; bentuk-bentuk yang lebih halus mungkin sudah lama hadir di sekitar kita tanpa pernah kita sadari sepenuhnya. Fenomena ini tidak terbatas pada satu platform atau satu jenis konten saja. Ia hadir setiap kali kita merasa perlu membuktikan keberagamaan kita kepada orang lain sebelum benar-benar meyakininya untuk diri sendiri — entah lewat unggahan, lewat status, atau bahkan lewat obrolan sehari-hari yang sengaja diarahkan supaya orang lain tahu betapa taatnya kita. Islam tidak melarang syiar, tidak melarang dakwah yang terbuka; yang Islam jaga adalah agar syiar itu lahir dari keyakinan yang sudah mengakar, bukan dari kekosongan yang coba ditutupi dengan tampilan luar.
Ada satu hal yang perlu kita akui dengan jujur, jamaah yang dimuliakan Allah: keinginan untuk diketahui, untuk diakui, untuk dilihat baik oleh sesama, bukanlah sesuatu yang harus kita basmi sepenuhnya dari dalam diri. Islam tidak memerintahkan kita menjadi manusia yang menyembunyikan seluruh kebaikan sampai tidak ada jejaknya sama sekali. Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan shalat berjamaah di masjid, terlihat oleh banyak orang, bukan shalat sendirian di kamar gelap supaya tidak dilihat siapa pun. Yang dijaga Islam bukan soal terlihat atau tidak terlihat, melainkan soal ke mana arah hati ketika ibadah itu berlangsung — apakah tetap menghadap Allah meski dilihat orang, atau justru berbelok menghadap penonton begitu ada yang menyaksikan. Ukurannya sederhana: kalau tidak ada satu orang pun yang tahu, apakah ibadah itu tetap kita kerjakan dengan kesungguhan yang sama? Kalau jawabannya ya, insyaallah itu tanda niat yang masih lurus. Kalau jawabannya berubah, di situlah letak pekerjaan rumah kita masing-masing.
Maka pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang orang lain, tetapi tentang diri kita sendiri: ketika kita berdzikir, apakah kita sedang tabattul kepada Allah, atau sedang menunggu respons dari orang yang melihat? Ketika kita membaca Al-Qur'an, apakah kita sedang mendekatkan diri kepada kalam Allah, atau sedang mengejar sesuatu yang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berhenti berbagi kebaikan di ruang digital — berbagi kebaikan tetap dianjurkan — melainkan untuk memastikan bahwa niat kita tetap lurus di sepanjang jalan.
Sebagai penutup bagian ini, khatib mengajak kita semua kepada beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, perbaiki kualitas shalat lima waktu kita pekan ini — bukan sekadar mengejar sahnya gerakan, melainkan menghadirkan hati, memperlambat bacaan, dan meresapi maknanya. Coba, misalnya, satu waktu shalat saja dalam sehari kita kerjakan tanpa terburu-buru, lalu rasakan bedanya dengan shalat-shalat yang biasa kita kerjakan sambil pikiran melayang ke pekerjaan atau notifikasi ponsel. Kedua, luangkan satu waktu khusus setiap hari — pagi atau petang — untuk berdzikir tanpa gawai di tangan, agar dzikir kita benar-benar tabattul, bukan sekadar direkam untuk dibagikan. Ketiga, jika kita mendapati tantangan atau konten yang meremehkan kehormatan Al-Qur'an di lini masa kita, jangan ikut menyebarkannya sekalipun dengan niat mengkritik — cukup laporkan konten itu, lalu alihkan perhatian kita dan orang-orang terdekat kepada konten yang memuliakan Al-Qur'an. Semakin banyak yang berkomentar atau membagikan ulang, semakin besar jangkauan konten itu, sekalipun niatnya mengecam — algoritma tidak membedakan komentar pujian dari komentar kecaman, ia hanya menghitung keterlibatan. Keempat, bagi yang memiliki anak atau adik yang sedang menghafal Al-Qur'an, luangkan waktu pekan ini untuk mengingatkan mereka bahwa hafalan itu bernilai di sisi Allah, bukan karena disaksikan oleh berapa banyak orang. Kelima, sambut dengan hangat saudara-saudara kita yang baru mendapat hidayah — sapa mereka, dampingi mereka, dan jangan biarkan semangat awal mereka padam karena merasa sendirian. Keenam, doakan secara khusus dalam sujud kita pekan ini agar Allah membalikkan hati siapa pun yang hari ini keliru memperlakukan simbol-simbol suci agama ini, kepada jalan yang benar.
Semoga Allah menjadikan shalat dan dzikir kita pekan ini benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya — mencegah kita dari kekejian dan kemungkaran, dan menjaga kehormatan setiap simbol suci yang Allah titipkan kepada umat ini. Semoga pula Allah menjadikan pekan ini titik awal yang baik bagi kita semua — bukan sekadar pekan yang ramai dengan pembicaraan tentang ibadah, melainkan pekan yang benar-benar mengubah cara kita beribadah menjadi lebih dalam dan lebih jujur.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib menegaskan kembali benang merah khutbah pertama tadi dari sisi yang berbeda. Kita telah mendengar bahwa shalat dan dzikir memiliki fungsi mencegah — mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Namun fungsi ini tidak datang secara otomatis hanya karena kita rajin menjalankan gerakannya. Fungsi mencegah itu lahir dari kualitas hati yang hadir di setiap sujud, di setiap dzikir yang kita ucapkan. Maka pekerjaan rumah kita bukan sekadar menambah jumlah rakaat atau jumlah dzikir yang kita ucapkan, melainkan menambah kehadiran hati di dalamnya.
Renungkanlah, jamaah yang dimuliakan Allah, betapa Al-Qur'an yang kita baca setiap hari — atau yang ingin kita hafalkan — adalah kalam Allah yang diturunkan untuk membimbing seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Kemuliaannya tidak berkurang sedikit pun oleh siapa pun yang memperlakukannya dengan sembarangan; yang berkurang justru adalah keberkahan bagi orang yang memperlakukannya demikian. Maka tugas kita, sebagai umat yang mencintai Al-Qur'an, adalah memastikan rumah kita, majelis kita, dan lini masa kita sendiri menjadi tempat di mana Al-Qur'an disebut dengan penuh penghormatan — bukan karena takut disalahkan orang lain, tetapi karena cinta yang tulus kepada firman Allah.
Kepada saudara-saudara kita yang pekan ini merayakan hidayah — yang baru mengucap dua kalimat syahadat, yang baru mulai belajar shalat, yang baru mengenal manisnya iman — khatib mengajak seluruh jamaah untuk menjadi tangan yang menyambut, bukan lisan yang menghakimi kekurangan mereka. Hidayah adalah anugerah paling besar yang bisa diterima seorang manusia, dan cara terbaik menjaga anugerah itu tetap hidup adalah dengan mengelilingi penerimanya dengan komunitas yang hangat.
Akhirnya, jamaah yang berbahagia, mari kita jadikan pekan ini sebagai titik balik kecil: shalat yang lebih khusyuk, dzikir yang lebih hadir, sikap yang lebih lembut kepada mereka yang keliru, dan hati yang terus memohon agar dijaga di atas ketaatan. Semoga Allah menerima seluruh ibadah kita, dan menjadikan kita bagian dari umat yang menjaga kehormatan agama ini di setiap zaman.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَارْحَمْ ضَعْفَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِعُلَمَائِنَا، وَبَارِكْ فِيْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدٰى، وَجَنِّبْهُمُ الْفُرْقَةَ وَالتَّنَازُعَ.
اَللّٰهُمَّ اهْدِ شَبَابَنَا وَشَابَّاتِنَا، وَازْرَعْ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَحَبَّةَ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ، وَجَنِّبْهُمْ فِتْنَةَ الشَّهَوَاتِ وَفِتْنَةَ الشُّبُهَاتِ.
اَللّٰهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا وَقُلُوْبَ إِخْوَانِنَا عَلٰى طَاعَتِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَ مَنْ هَدَيْتَهُمْ حَدِيْثًا مِنْ عِبَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَنِّبْنَا وَذُرِّيَّتَنَا مِنْ كُلِّ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ يُنْقِصُ حُرْمَتَهُ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُمْ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُمْ فِي عَقِبِهِمْ فِي الْغَابِرِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلٰى حُبِّكَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلٰى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
