Pekan ini banyak orang bicara tentang ibadah — direkam, dibagikan, ditonton ulang. Tapi jauh sebelum ada layar dan status yang bisa dilihat orang banyak, ada satu potret ibadah yang justru paling hidup ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — Fasal tentang Ibadahnya ﷺ dan Kesungguhannya di Dalamnya menghimpun kesaksian 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang malam-malam yang polanya tidak pernah bisa ditebak siapa pun.
Rumah itu kecil, dindingnya dari pelepah kurma yang dilapisi tanah. Madinah pada malam hari nyaris gelap total — hanya cahaya bulan yang menembus celah-celah dinding. Di rumah sederhana itulah 'Aisyah menyaksikan sisi Rasulullah ﷺ yang tidak pernah terlihat oleh orang banyak di masjid.
'Aisyah tinggal paling dekat dengannya. Paling sering menyaksikan — tapi justru paling sering dibuat bingung.
Beliau ﷺ bisa berpuasa berhari-hari berturut-turut. Begitu lama, sampai 'Aisyah dan yang lain berkata dalam hati: sepertinya beliau tidak akan pernah berbuka lagi.
Lalu tiba-tiba berhenti. Berhari-hari tidak berpuasa. Sampai muncul pikiran yang sama, dibalik: sepertinya beliau tidak akan pernah berpuasa lagi.
Malam pun begitu. Tidak ada jadwal tetap yang bisa dihafal orang lain. Kapan pun 'Aisyah ingin melihatnya berdiri shalat malam, ia akan mendapatinya sedang berdiri. Kapan pun ia ingin melihatnya sedang tidur, ia akan mendapatinya sedang tidur. Tidak ada pola yang bisa ditiru, karena polanya bukan jadwal — polanya adalah kepekaan terhadap apa yang paling dibutuhkan malam itu.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah, di bulan apa pun. 'Aisyah bercerita: Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah shalat malamnya lebih dari sebelas rakaat — baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Beliau shalat empat rakaat. Jangan tanya soal keindahan dan panjangnya. Lalu empat rakaat lagi. Jangan tanya soal keindahan dan panjangnya juga. Baru kemudian witir tiga rakaat.
Sebelas rakaat. Angka yang kecil untuk didengar. Tapi 'Aisyah punya cara menjelaskan kenapa angka kecil itu terasa begitu besar. Rasulullah ﷺ, katanya, membaca satu surah dengan tartil — pelan, ditahan di setiap ayat — sampai surah yang pendek terasa lebih panjang dari surah yang sebenarnya lebih panjang darinya. Bukan jumlah rakaat yang membuat malam itu berat. Yang membuatnya berat adalah kedalaman setiap rakaat.
Ada satu kalimat 'Aisyah yang paling menusuk, dan paling sering diulang para ulama setelahnya: sungguh, beliau berdiri sampai ia merasa iba kepadanya, karena begitu lamanya beliau berdiri.
Iba. Bukan kagum, bukan takjub — iba. 'Aisyah, istri yang paling dekat dengannya, sampai merasa kasihan melihat berapa lama suaminya berdiri di kegelapan malam, sendirian, tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang menyaksikan selain Allah dan dirinya sendiri yang diam-diam terjaga dari sudut kamar.
Kesaksian lain datang dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat yang pernah shalat malam bersamanya. Malam itu, di rakaat pertama saja, Rasulullah ﷺ membaca surah Al-Baqarah dan surah An-Nisa — dua surah paling panjang dalam Al-Qur'an, dibaca berurutan, dalam satu rakaat yang sama.
Tidak ada jadwal yang diumumkan. Tidak ada yang menghitung rakaatnya kecuali istrinya sendiri, secara diam-diam, dari sudut kamar. Ibadah yang paling berat justru dilakukan paling sunyi — jauh dari mimbar, jauh dari orang banyak, jauh dari siapa pun yang bisa memberi pujian.
Pelajaran
Yang membuat kisah ini istimewa bukan angka sebelas rakaat, bukan juga durasi puasanya. Yang membuatnya istimewa adalah bahwa semua itu terjadi tanpa penonton. Tidak ada yang merekam malam-malam panjang itu selain kegelapan kamar dan mata 'Aisyah yang diam-diam terjaga. Rasulullah ﷺ tidak sedang membangun reputasi sebagai ahli ibadah — beliau memang seorang ahli ibadah, dan itu terlihat justru karena tidak ada yang perlu ia buktikan kepada siapa pun. Pekan ini, ketika begitu banyak ibadah dibagikan, direkam, dan dihitung berapa yang menonton, kisah ini mengembalikan satu pertanyaan sederhana: seberapa banyak ibadah kita yang masih berani dilakukan di ruang yang benar-benar sunyi, tanpa ada yang tahu selain Allah? Sebelas rakaat yang panjang dan sunyi itu, ternyata, meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada seribu rakaat yang disaksikan dunia.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — فصل في عبادته عليه الصلاة والسلام واجتهاده في ذلك
قَالَتْ عَائِشَةُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَكَانَ لَا تَشَاءُ تَرَاهُ مِنَ اللَّيْلِ قَائِمًا إِلَّا رَأَيْتَهُ، وَلَا تَشَاءُ تَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْتَهُ. قَالَتْ: وَمَا زَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُوتِرُ بِثَلَاثٍ. قَالَتْ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ السُّورَةَ فَيُرَتِّلُهَا حَتَّى تَكُونَ أَطْوَلَ مِنْ أَطْوَلَ مِنْهَا. قَالَتْ: وَلَقَدْ كَانَ يَقُومُ حَتَّى أَرْثِيَ لَهُ؛ مِنْ شِدَّةِ قِيَامِهِ» . وَذَكَرَ ابْنُ مَسْعُودٍ «أَنَّهُ صَلَّى مَعَهُ لَيْلَةً فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَةِ الْأَوْلَى بِالْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ...»
