بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini harga emas naik-turun begitu cepat sampai jadi bahan obrolan di mana-mana — dari grup keluarga sampai warung kopi dekat rumah. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini soal ketenangan hati di tengah angka yang terus berubah.
Siapa di sini yang pekan ini ikut mengecek harga emas, walau sebenarnya tidak sedang berencana jual-beli apa pun? Saya juga begitu. Rasanya seperti menonton pertandingan yang taruhannya isi tabungan sendiri.
Kitab Fath al-Qarib, salah satu kitab fiqih yang dipelajari di banyak pesantren, punya jawaban yang menenangkan soal emas — bukan soal kapan harus jual-beli, tapi soal kewajiban yang menyertainya:
وَمَا اسْتُخْرِجَ مِنْ مَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ يُخْرَجُ مِنْهُ، إِنْ بَلَغَ نِصَابًا، رُبُعُ الْعُشْرِ فِيْ الْحَالِ
Artinya kurang lebih: emas dan perak yang digali dari tambang, apabila telah mencapai nishab, dikeluarkan zakatnya sebesar satu per empat puluh, seketika itu. Fiqih kita sudah punya sistem yang jelas soal emas sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum ada aplikasi trading. Emas bukan sekadar aset yang harganya dipantau setiap hari, tapi harta yang ada haknya untuk dikeluarkan. Artinya, emas yang kita simpan bukan murni milik kita sendiri. Ini juga menjelaskan kenapa Islam tidak pernah anti terhadap kepemilikan harta — yang dijaga adalah supaya harta tidak berhenti sebagai milik pribadi semata, tapi terus mengalir memberi manfaat lewat zakat, sedekah, dan muamalah yang sehat.
Kenapa fiqih repot-repot mengatur zakat emas begini detail? Karena emas, sejak dulu, mudah membuat hati lupa diri — mengkilap, dianggap aman, jadi ukuran status. Islam tidak melarang memiliki emas, tapi menaruh rem di dalamnya, supaya kepemilikan tidak diam-diam berubah jadi ketamakan yang tidak pernah dibagi.
Pekan ini rem itu terasa relevan. Harga emas naik-turun tajam, sampai orang yang biasanya tidak peduli investasi pun ikut membicarakannya. Di saat yang sama kita dengar kabar harga bahan bakar yang juga naik-turun, dan jerat pinjaman ilegal serta judi berkedok daring yang masih terus memakan korban — godaan jalan pintas yang justru datang ketika orang sedang paling cemas soal uang. Semakin cemas seseorang soal harta, semakin gampang ia tergoda jalan pintas yang merusak hartanya sendiri lebih parah.
Coba renungkan bedanya dua orang yang sama-sama punya emas. Orang pertama menyimpannya sebagai tabungan, menunaikan zakatnya setiap tahun, dan tenang menyaksikan harga naik-turun karena dia tahu emas itu bukan sumber kecemasan, melainkan amanah yang sudah dijaga haknya. Orang kedua terus-menerus memantau harga tiap jam, ikut jual-beli cepat demi selisih untung kecil, sampai lupa waktu karena keasyikan menatap grafik. Bukan berarti jual-beli emas dilarang — hanya saja ketenangan hati orang pertama jauh lebih murah harganya dibanding tegangnya orang kedua.
Ada satu munajat jujur yang dicatat dalam kitab Nashaihul Ibad, diucapkan seorang ahli ibadah yang mengakui pergulatan hatinya sendiri:
إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي. فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ
Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang mengajak keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku dalam maksiat. Maka tolonglah aku, wahai penolong orang-orang yang meminta pertolongan — jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?
Munajat ini jujur sekali, tidak berpura-pura kuat atau sok tenang di depan orang lain. Ia mengakui bahwa panjangnya angan-angan dan cinta dunia bisa membinasakan diri sendiri — pas sekali dengan yang kita rasakan pekan ini: cemas soal harga, tergoda ikut-ikutan investasi, merasa selalu kurang. Yang menarik, munajat ini tidak berhenti di pengakuan — ia langsung berlanjut ke permohonan pertolongan. Mengakui kelemahan diri soal harta bukan aib; justru itu awal perbaikan. Yang paling berbahaya bukan yang mengaku sering tergoda dunia, tapi yang merasa sudah kebal dari godaan itu.
Malam ini, coba lakukan tiga hal kecil. Cek apakah emas atau tabungan yang kita simpan sudah mencapai nishab dan waktunya dizakati — kalau belum yakin, tanyakan ke ustadz atau amil zakat terdekat pekan ini juga. Kalau ada aplikasi pinjaman atau investasi yang selama ini bikin dada berdebar tiap kali notifikasinya bunyi, tanyakan jujur pada diri sendiri: ini menenangkan, atau menambah cemas? Dan kalau ada tetangga atau saudara yang kita tahu sedang berat karena PHK atau usahanya lesu, kirim satu pesan singkat malam ini juga — tidak perlu menunggu punya solusi besar, cukup tanyakan kabarnya.
Jamaah, harga emas akan terus naik-turun, entah sampai kapan — itu di luar kendali kita. Yang ada dalam kendali kita adalah bagaimana hati menyikapinya: ikut naik-turun mengejar setiap pergerakan angka, atau tetap tenang karena yakin rezeki sudah dijamin, tinggal dijemput dengan cara halal dan disyukuri dengan menunaikan haknya. Kalau kita masih deg-degan setiap kali notifikasi harga emas muncul, mungkin itu tanda hati kita perlu diperiksa ulang — jangan sampai logam yang mestinya jadi alat, malah balik menguasai pemiliknya. Itulah bedanya orang yang memiliki emas dengan orang yang dimiliki oleh emas.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
