Pekan ini, di tengah derasnya kabar tentang siapa yang menzalimi dan siapa yang berhak dibela, ada satu babak dari sirah yang layak dikenang kembali — bukan tentang penguasa yang memutus perkara, tapi tentang seorang sahabat yang memilih membela mereka yang paling tidak berdaya, tanpa berharap balasan apa pun dari mereka. Kisah ini datang dari Sirah Ibnu Hisyam, jilid pertama, dari bab yang mencatat permusuhan kaum musyrikin Mekah terhadap kaum lemah yang baru memeluk Islam.
Mekah, tahun-tahun awal dakwah. Di kota itu, memeluk Islam bukan perkara aman. Bagi kalangan bangsawan Quraisy, iman baru mereka masih ditopang oleh perlindungan keluarga dan suku. Tapi bagi budak dan orang-orang lemah yang tak punya suku untuk berlindung, memeluk Islam berarti membuka diri pada siksaan yang nyaris tanpa batas.
Abu Bakr, waktu itu belum bergelar ash-Shiddiq, adalah seorang saudagar Quraisy yang dihormati. Hartanya luas, namanya bersih, relasinya kuat di seluruh penjuru kota. Dan ia memilih memakai semua itu untuk satu urusan yang, di mata banyak orang Quraisy, terasa aneh: membeli kebebasan budak-budak lemah yang disiksa karena keimanan mereka.
Transaksi semacam ini biasanya terjadi di tengah pasar kota, di bawah terik matahari Mekah yang menyengat, disaksikan orang-orang yang lalu-lalang di antara kios-kios dagang. Bagi kebanyakan yang menyaksikan, pemandangan seorang saudagar kaya menukar dirham demi membebaskan budak yang tubuhnya babak belur disiksa tentu terlihat ganjil — sebuah transaksi yang, dari sisi mana pun dihitung, tidak menguntungkan bagi yang membayarnya.
Ayahnya, Abu Quhafah — yang saat itu belum masuk Islam — mengamati kebiasaan anaknya dengan bingung, bahkan gelisah. Bagi seorang tua yang memahami betul logika kekuasaan Quraisy, tindakan anaknya terasa seperti pemborosan. Di Mekah, kekuatan seseorang diukur dari berapa banyak orang yang bisa berdiri di belakangnya. Budak yang lemah, yang baru dibebaskan, tidak punya suku, tidak punya senjata, tidak punya apa pun untuk dipersembahkan kembali kepada orang yang membebaskannya.
Suatu hari, Abu Quhafah tidak menahan diri lagi. Ditemuinya anaknya, lalu ia bertanya — pertanyaan yang, menurutnya sendiri, penuh kasih sayang seorang ayah yang mengkhawatirkan masa depan anaknya:
يَا بُنَيَّ، إِنِّيْ أَرَاكَ تُعْتِقُ رِقَابًا ضِعَافًا، فَلَوْ أَنَّكَ إِذَا مَا فَعَلْتَ أَعْتَقْتَ رِجَالًا جُلْدًا يَمْنَعُونَكَ وَيَقُومُونَ دُونَكَ؟
Abu Quhafah pun berkata kepada Abu Bakr, "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihatmu membebaskan budak-budak yang lemah. Kalau saja, setiap kali kau melakukan itu, kau membebaskan orang-orang kuat yang bisa melindungimu dan membelamu — bukankah itu lebih pantas?"
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dari sudut pandang untung-rugi duniawi, jawabannya sudah jelas: seorang saudagar yang cerdik semestinya menanam modal pada orang-orang yang bisa membalas budi. Bukan pada mereka yang, begitu dibebaskan, hanya bisa pulang dengan tubuh penuh bekas siksaan dan tidak punya apa pun untuk ditawarkan kembali.
Abu Bakr radhiyallahu 'anhu mendengarkan pertanyaan ayahnya, lalu menjawab:
قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: يَا أَبَتِ، إِنِّيْ...
Di titik itulah, riwayat yang tercatat terhenti. Kalimat balasan Abu Bakr kepada ayahnya terpotong dalam catatan Ibnu Ishaq yang dihimpun Ibnu Hisyam — kelanjutan kata-katanya tidak tersimpan secara utuh dalam fasal ini.
Tapi barangkali kelanjutan kalimat itu tidak benar-benar dibutuhkan untuk memahami jawabannya. Jawaban Abu Bakr sudah tertulis jauh sebelum pertanyaan itu diajukan — tertulis dalam setiap budak yang telah ia bebaskan, dalam setiap dirham yang ia keluarkan bukan untuk memperkuat posisinya sendiri, melainkan untuk mematahkan rantai orang-orang yang tidak punya siapa pun lagi untuk membela mereka. Bagi Abu Bakr, hitungan untung-rugi ayahnya sudah lama tidak relevan. Ia tidak sedang membeli pengawal pribadi. Ia sedang menunaikan sesuatu yang lain — sesuatu yang tidak pernah dihitung dari berapa banyak perlindungan yang akan kembali kepadanya.
Pelajaran
Ada satu hal yang membuat kisah pendek ini terasa berat justru karena kesederhanaannya. Abu Bakr tidak membela orang-orang lemah itu karena mereka kelak bisa membalas budi. Ia membela mereka justru karena mereka tidak bisa membalas apa pun — dan di titik itulah keadilan yang sesungguhnya diuji: bukan pada saat menolong orang yang kelak berguna, tapi pada saat menolong orang yang sama sekali tidak punya apa pun untuk ditawarkan kembali. Pertanyaan Abu Quhafah, walau terdengar seperti nasihat seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya, sebetulnya menyingkap logika dunia yang sering dipakai orang tanpa sadar: menolong yang menguntungkan, mengabaikan yang tidak. Abu Bakr membalik logika itu sepenuhnya. Bagi siapa pun yang pekan ini merasa lelah melihat begitu banyak kezaliman yang tampak tidak tersentuh hukum, sementara yang lemah terus terpinggirkan, kisah ini menjadi pengingat bahwa membela yang lemah tidak pernah butuh alasan strategis. Cukup satu alasan: karena mereka berhak dibela.
Sumber Asli
Sirah Ibn Hisham — Jilid Pertama, Dzikr 'Udwan al-Musyrikin 'ala al-Mustadh'afin
أَبُو قُحَافَةَ يَلُومُ أَبَا بَكْرٍ: قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: وَحَدَّثَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِيْ عَتِيْقٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ بَعْضِ أَهْلِهِ، قَالَ: قَالَ أَبُو قُحَافَةَ لِأَبِيْ بَكْرٍ: يَا بُنَيَّ، إِنِّيْ أَرَاكَ تُعْتِقُ رِقَابًا ضِعَافًا، فَلَوْ أَنَّكَ إِذَا مَا فَعَلْتَ أَعْتَقْتَ رِجَالًا جُلْدًا يَمْنَعُوْنَكَ وَيَقُوْمُوْنَ دُوْنَكَ؟ فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: يَا أَبَتِ، إِنِّيْ...
