Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanKamis, 13 Agustus 2026

Kultum — "Sembilan Orang dan Satu Rencana Jahat"

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kabar tentang kekerasan datang bertubi-tubi — kasus pembunuhan, mutilasi, perampokan di beberapa daerah, ditambah pengungkapan jaringan narkotika yang terus berjalan. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu ayat yang, menurut saya, menggambarkan dengan sangat tepat bagaimana kejahatan semacam ini biasanya bekerja — bukan sebagai tindakan spontan satu orang gelap mata, tapi sering kali sebagai rencana yang disusun bersama, dirapikan, bahkan dianggap wajar oleh pelakunya sendiri.

Allah Ta'ala berfirman:

وَكَانَ فِى ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍۢ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan." (QS. An-Naml: 48)

Ayat ini bercerita tentang kaum Nabi Saleh 'alaihissalam. Sembilan orang ini bukan orang biasa yang lepas kendali sesaat — mereka adalah kelompok yang punya reputasi, yang dikenal kotanya sebagai pembuat onar, dan yang pada akhirnya bersepakat merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Saleh dan keluarganya. Yang menarik dari ayat ini bukan hanya kejahatannya, tapi angka dan kata "rahth" — semacam kelompok kecil yang solid, saling menguatkan satu sama lain dalam kejahatan. Saya kira ini pola yang tidak asing bagi kita hari ini. Jaringan kejahatan — baik itu perampokan terorganisir maupun peredaran narkotika — hampir selalu bekerja dengan pola yang sama: sekelompok kecil orang yang saling menguatkan, saling menutupi, sampai kejahatan mereka membesar dan sulit dihentikan sendirian.

Yang perlu kita garis bawahi, jamaah, peredaran narkotika yang terus dibongkar pekan demi pekan itu jarang sekali berdiri sendiri. Ia menciptakan lingkaran yang menyeret banyak pihak sekaligus — kurir yang direkrut karena himpitan ekonomi, pengedar kecil yang merasa "cuma jalan pintas sementara", sampai jaringan yang lebih besar yang mengatur semuanya dari balik layar. Semakin lama sebuah kejahatan dibiarkan berjalan tanpa ada yang berani bersuara, semakin banyak orang biasa yang tanpa sadar tertarik masuk ke pusarannya, entah sebagai pelaku kecil atau sekadar pihak yang menutup mata.

Siapa di sini yang pernah merasa was-was mendengar kabar kekerasan di berita, lalu bertanya dalam hati, "bagaimana bisa manusia setega itu?" Saya kira pertanyaan itu wajar. Tapi Al-Qur'an mengajari kita untuk tidak berhenti di rasa ngeri saja — ayat berikutnya dalam kisah kaum Nabi Saleh menunjukkan bagaimana rencana jahat sembilan orang ini pada akhirnya berbalik menghancurkan mereka sendiri. Rencana rapi mereka tidak menyelamatkan mereka dari kehancuran — justru mempercepatnya. Ini pola yang berulang dalam Al-Qur'an: kejahatan yang direncanakan serapi apa pun, pada waktunya, akan dibongkar dan dibalas.

Saya sendiri kadang bertanya-tanya, jamaah, kenapa Al-Qur'an repot-repot menyebut angka "sembilan orang" ini secara spesifik, bukan sekadar "sekelompok orang jahat". Mungkin supaya kita ingat bahwa kejahatan yang tampak besar dan menakutkan itu, kalau ditelusuri sampai ke akarnya, seringkali hanya berasal dari segelintir orang saja — tidak sebanyak yang kita bayangkan. Ini kabar yang melegakan sekaligus kabar yang menuntut keberanian: melegakan karena berarti kejahatan itu sebenarnya bisa dihentikan kalau segelintir orang itu dihadapi bersama-sama, menuntut keberanian karena berarti dibutuhkan orang-orang yang mau bersuara, bukan sekadar diam menyaksikan.

Allah menegaskan pola ini dalam ayat lain:

كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِٱلْمُجْرِمِينَ

"Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa." (QS. Al-Mursalaat: 18)

Ayat pendek ini seperti palu yang diketuk setelah sidang selesai — tegas, tanpa banyak kata. Bagi kita yang mendengar kabar kekerasan dan kejahatan hampir tiap pekan, ayat ini sebenarnya membawa dua pesan sekaligus. Pertama, pesan peringatan bagi siapa pun yang masih berpikir kejahatannya akan lolos selamanya — tidak ada yang benar-benar lolos dari hukum Allah, walau ia lolos dari hukum manusia untuk sementara. Kedua, dan ini yang sering kita lupakan, ayat ini juga pesan penenang bagi kita yang merasa gentar melihat kejahatan seolah merajalela — Allah tidak diam, Allah tidak lengah, dan keadilan-Nya tidak pernah benar-benar absen, walau prosesnya kadang tidak secepat yang kita harapkan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan malam ini, setelah pulang dari sini? Saya kira ada dua hal sederhana. Pertama, jangan biarkan rasa ngeri terhadap berita kekerasan berhenti jadi keluhan di grup WhatsApp saja — ubah jadi kepedulian nyata terhadap keamanan lingkungan kita sendiri: kenali tetangga, aktifkan lagi ronda malam yang mungkin sudah lama vakum, dan jangan ragu melapor kalau ada tanda-tanda mencurigakan di sekitar rumah atau sekolah anak-anak kita. Kedua, mari kita jaga diri kita sendiri dan keluarga kita dari menjadi bagian — sekecil apa pun — dari lingkaran yang menoleransi kejahatan: menutup mata terhadap tetangga yang mulai bergaul dengan jaringan mencurigakan, membiarkan anak muda menganggur tanpa arah sehingga mudah direkrut, atau sekadar diam ketika melihat sesuatu yang janggal karena merasa "bukan urusan saya".

Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup malam ini dengan satu keyakinan: kejahatan yang tampak besar dan menakutkan di berita, sesungguhnya selalu kalah oleh keadilan Allah yang jauh lebih besar. Tugas kita bukan menjadi penakut yang mengunci pintu rapat-rapat, tapi menjadi warga yang aktif merawat keamanan bersama — karena itu juga bagian dari ibadah. Rasa aman sebuah kampung, sebuah RT, sebuah kompleks, tidak pernah datang dari satu orang hebat yang menjaga semuanya sendirian — ia datang dari banyak orang biasa yang masing-masing menjaga bagian kecil yang menjadi tanggung jawabnya, lalu saling menyambung menjadi satu jaring yang kuat.

Sebelum kita pulang, coba tanyakan pada diri sendiri malam ini: apakah saya sudah kenal nama tetangga tiga rumah dari rumah saya? Apakah saya tahu siapa yang keluar-masuk gang kita larut malam? Pertanyaan sederhana ini, kalau kita jawab jujur, akan menunjukkan seberapa jauh kita sudah berperan menjaga lingkungan kita sendiri — atau justru selama ini hanya menumpang aman tanpa ikut merawatnya.

Marilah kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَجِيْرَانَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَشَرٍّ، وَأَصْلِحْ شَبَابَنَا وَاجْعَلْهُمْ بَعِيْدِيْنَ عَنْ كُلِّ رَفْقَةِ سُوْءٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan