Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsInspirasi & Kisah PribadiKamis, 13 Agustus 2026

Kisah Pendek — "Jalan yang Dipilihnya Sendiri"

Pekan yang dipenuhi kisah-kisah kecil dan senyap ini punya satu induk cerita yang jauh lebih tua, tersimpan dalam kitab Ash-Syama'il al-Muhammadiyyah karya Imam at-Tirmidzi rahimahullah, tepatnya di bab yang menghimpun riwayat-riwayat tentang tawadhu' — kerendahan hati — Rasulullah ﷺ. Salah satu riwayat di bab itu, disampaikan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bercerita tentang seorang perempuan biasa dari Madinah, dan satu permintaan yang ia bawa kepada manusia paling sibuk di seluruh kota.

Madinah pada masa itu ramai. Rasulullah ﷺ memimpin umat, menerima delegasi, mengatur shalat berjamaah, menjawab pertanyaan sahabat yang datang silih berganti. Waktunya nyaris tidak pernah kosong.

Di antara rumah-rumah bata dan pohon kurma, orang-orang datang bergiliran membawa persoalan masing-masing — perselisihan warisan, pertanyaan tentang shalat, keluhan tentang tetangga. Beliau menjawab semuanya, satu demi satu, tanpa terlihat tergesa.

Di antara kesibukan itu, seorang perempuan Anshar mendekat. Sebagian riwayat menyebut ia datang bersama anaknya yang masih kecil, digendong atau dituntun di sampingnya. Wajahnya menyimpan sesuatu yang ingin disampaikan, tapi belum sempat ia ucapkan.

Perempuan itu berhenti tepat di hadapan beliau. "Sesungguhnya aku punya keperluan kepadamu," katanya.

Kalimat itu sederhana. Tidak ada penjelasan lebih jauh tentang apa keperluannya — mungkin sebuah pengaduan, mungkin sebuah permintaan, mungkin sesuatu yang berat untuk diucapkan di tengah keramaian. Yang jelas, ia butuh didengar, dan ia memilih mendatangi sendiri orang yang paling sibuk di kota itu untuk menyampaikannya, bukan menitipkannya lewat orang lain.

Di sekelilingnya, mungkin ada yang menoleh sejenak, penasaran apa yang hendak disampaikan perempuan itu. Tapi tidak ada yang tahu isi hatinya selain dirinya sendiri — sampai jawaban yang keluar dari mulut Rasulullah ﷺ membuat semuanya terasa berbeda.

Rasulullah ﷺ tidak menyuruhnya menunggu. Beliau tidak berkata, "nanti saja, aku sedang sibuk." Beliau juga tidak memanggil seseorang untuk mewakilkannya. Jawaban beliau justru mengejutkan.

اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ

"Duduklah di jalan mana saja di Madinah yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu di sana." (Ash-Syama'il al-Muhammadiyyah)

Bukan perempuan itu yang diminta menyesuaikan diri dengan jadwal beliau. Bukan pula ia yang harus menunggu giliran di antara para pembesar dan utusan. Rasulullah ﷺ menyerahkan pilihan tempat sepenuhnya kepadanya — jalan mana pun di seluruh kota, sesuka hatinya.

Naskah yang sama mencatat satu tambahan penting: beliau kemudian menyendiri bersamanya di salah satu sudut jalan itu, sampai perempuan tadi selesai menyampaikan keperluannya. Tujuannya sederhana — supaya tidak ada orang lain yang mendengar keluh kesahnya selain beliau sendiri.

Tidak ada juru catat yang mendampingi. Tidak ada pengawal yang menjaga jarak orang-orang. Hanya pemimpin umat dan seorang perempuan biasa, duduk di jalan yang ia pilih sendiri, membicarakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar siapa pun selain mereka berdua.

Tidak ada yang mencatat berapa lama percakapan itu berlangsung. Yang jelas, perempuan itu pulang dengan keperluannya telah didengar tuntas — bukan setengah-setengah di sela kesibukan, bukan pula dengan wajah yang menoleh ke arah lain.

Sebagian catatan pinggir menyebut nama perempuan itu adalah Ummu Zufar, perias rambut Khadijah radhiyallahu 'anha — meski riwayat utama yang dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab ini sendiri tidak menyebutkan nama itu secara pasti. Yang tercatat jelas hanyalah adegan itu: seorang perempuan yang datang membawa keperluan, dan seorang Rasul yang tidak menyuruhnya menunggu.

Pelajaran

Yang membuat kisah ini terasa dekat sampai sekarang bukan kehebatan retorika atau mukjizat besar. Yang membuatnya dekat adalah satu keputusan sederhana: memilih hadir sepenuhnya untuk satu orang, di tengah kewajiban yang menumpuk kepada banyak orang. Rasulullah ﷺ adalah pemimpin sebuah kota, penerima wahyu, rujukan hukum bagi seluruh umat — dan di tengah semua itu, seorang perempuan biasa yang namanya sendiri tidak tercatat pasti tetap mendapat waktu penuh, di tempat yang ia pilih sendiri, tanpa didengar orang lain. Pekan-pekan seperti sekarang, ketika begitu banyak kisah pribadi tersebar kecil-kecil dan tidak mengumpul jadi satu cerita besar, kisah ini menjadi pengingat sederhana: seseorang yang datang membawa keperluannya tidak butuh audiens yang ramai untuk merasa didengar — ia hanya butuh satu orang yang bersedia berhenti sejenak, duduk, dan benar-benar mendengarkan sampai selesai.

Sumber Asli

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً، فَقَالَ: اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ.

وَفِي رِوَايَةٍ زِيَادَةُ: فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطَّرِيقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan