بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini saya membaca banyak potongan cerita kecil — ada yang baru mulai kuliah dan gugup mencari teman shalat berjamaah, ada yang diam-diam mulai belajar mengaji lagi setelah bertahun-tahun absen, ada juga yang rumah tangganya sedang diuji beratnya. Malam ini saya tidak akan bicara tentang mereka. Saya ingin bicara tentang kita — tentang bagaimana reaksi kita ketika kita sendiri yang diberi teguran, karena boleh jadi, cara kita menerima teguran hari ini yang menentukan apakah kisah kecil kita nanti berakhir sebagai kisah yang tumbuh atau kisah yang berhenti di tengah jalan.
Coba kita jujur sebentar. Kapan terakhir kali ada yang menegur kita — soal shalat yang bolong, soal ucapan yang kelewat batas, soal kebiasaan yang sebenarnya kita sendiri tahu salah — dan bagaimana perasaan kita saat itu? Kebanyakan dari kita, jujur saja, akan merasa tersinggung dulu sebelum sempat berpikir jernih. Rasulullah ﷺ sendiri, manusia paling mulia yang pernah hidup, justru mengajarkan sikap yang berlawanan arah dari refleks kita itu.
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Aku hanya seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah)
Bayangkan, jamaah — manusia yang paling berhak dipuji setinggi-tingginya di seluruh alam semesta ini justru menahan pujian yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Beliau tidak marah ketika ditinggikan orang; beliau justru menegur balik dengan lembut: cukup, aku hamba biasa. Kalau manusia semulia ini begitu ringan menerima batasan pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin kita — yang jauh dari sempurna — merasa berat hati hanya karena ditegur satu-dua kali?
Kita ini aneh, jamaah. Ditegur soal dosa besar saja kadang masih bisa berkilah "kan bukan cuma saya yang begitu". Tapi ditegur soal hal kecil — cara bicara yang ketus, jadwal shalat yang mepet-mepet terus — reaksi pertama kita malah "kamu siapa, sok suci amat". Padahal, coba pikir, siapa di antara kita yang benar-benar tidak butuh diingatkan?
Ada penjelasan menarik dalam kitab adab yang membahas hubungan guru dan murid, yang menurut saya pas sekali untuk kita renungkan malam ini.
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim
"...وَيُحَاسِبُ نَفْسَهُ عَلَى ذٰلِكَ وَلَا يَحِلُّ فِيْ نَفْسِهِ إِذَا طُلِبَ مِنْهُ أَوْ وُبِّخَ عَلَيْهِ بَلْ يَعُدُّ ذٰلِكَ نِعْمَةً مِنَ اللهِ تَعَالٰى وَيَشْكُرُهُ عَلَيْهِ..."
"Ia menghisab dirinya sendiri atas kesalahan itu, dan tidak merasa berat bila diminta atau ditegur karenanya — bahkan menganggapnya sebagai nikmat dari Allah Ta'ala, dan bersyukur kepada-Nya." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
Coba kita bayangkan sejenak: bagaimana rasanya kalau setiap teguran yang kita terima — dari pasangan, dari orang tua, dari sahabat sekajian — kita anggap sebagai nikmat, bukan serangan? Bukan berarti kita jadi lemah atau tidak boleh meluruskan kalau memang teguran itu keliru. Yang dimaksud adalah: sebelum kita membela diri, beri jeda dulu satu tarikan napas untuk bertanya pada diri sendiri — jangan-jangan ini justru jalan yang Allah kirim supaya kita berhenti sebelum semakin jauh dari-Nya.
Bayangkan seorang mahasiswa baru yang ditegur temannya karena lalai shalat Jumat — kalau ia menganggapnya sebagai gangguan, ia akan menjauh dari masjid kampus selamanya. Tapi kalau ia menganggapnya sebagai nikmat, bisa jadi itu jadi pintu awal keakrabannya dengan lingkaran pertemanan yang shalih. Bayangkan juga seseorang yang baru saja mulai belajar mengaji lagi, lalu ditegur karena bacaannya masih banyak salah — reaksinya menentukan apakah ia akan terus belajar, atau berhenti karena malu. Dan bayangkan pasangan suami-istri yang rumah tangganya sedang diuji: berapa banyak keretakan yang sebenarnya bermula dari teguran kecil yang direspons dengan ego, bukan dengan syukur. Bayangkan juga seorang anak yang ditegur orang tuanya karena kelamaan main gawai — kalau teguran itu ditangkap sebagai kemarahan semata, hubungannya merenggang; tapi kalau disampaikan dan diterima sebagai bentuk sayang, hubungan itu justru semakin erat.
Saya sendiri, terus terang, tidak selalu berhasil melakukan ini. Ada kalanya ditegur soal hal kecil saja sudah bikin bete seharian — kadang cuma soal salah parkir motor di halaman masjid. Tapi setiap kali saya coba jeda satu tarikan napas itu, hampir selalu saya sadar: yang menegur saya benar, dan saya cuma gengsi mengakuinya.
Itulah kenapa hadits tadi terasa istimewa buat saya. Rasulullah ﷺ tidak butuh alasan untuk menerima batasan pada dirinya — beliau sudah punya kedudukan setinggi mungkin, dan justru dari posisi setinggi itu beliau memilih rendah hati. Kita yang posisinya jauh lebih rendah, harusnya jauh lebih mudah melakukan hal yang sama. Tapi kenyataannya sering terbalik: makin kecil posisi kita, makin besar ego yang kita pertahankan.
Jamaah yang saya hormati, pulang malam ini saya hanya minta satu hal kecil: pekan ini, kalau ada yang menegur kita, tahan dulu refleks membela diri barang satu tarikan napas. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini nikmat yang sedang dibungkus sebagai teguran? Rasulullah ﷺ, manusia paling agung, saja begitu ringan menerima batasan pada dirinya. Masak kita yang jauh di bawahnya merasa terlalu besar untuk ditegur?
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا سَلِيْمًا يَقْبَلُ النَّصِيْحَةَ بِلَا كِبْرٍ وَلَا غُرُوْرٍ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ تَعَامُلَنَا مَعَ النَّصِيْحَةِ سَبَبًا لِقُرْبِنَا مِنْكَ، لَا سَبَبًا لِبُعْدِنَا عَنْ إِخْوَانِنَا. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاغْفِرْ لِمَنْ نَصَحَنَا وَلِمَنْ لَمْ نُحْسِنِ اسْتِقْبَالَ نَصِيْحَتِهِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
