Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKesehatan & KehidupanKamis, 13 Agustus 2026

Kultum — "Sehat itu Nikmat yang Dilupakan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak kabar tentang layanan kesehatan dan program gizi anak-anak yang ramai diperbincangkan di sekitar kita. Di tengah semua itu, ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini — sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan diri kita masing-masing, tapi sering luput dari perhatian.

Pernahkah kita membayangkan detik ketika tubuh yang selama ini kita andalkan tiba-tiba kehilangan kendali sepenuhnya?

وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ

Allah berfirman dalam QS. Al-Qiyaama: 29: "dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)."

Ayat ini menggambarkan detik-detik sakaratul maut, ketika sakit yang berat bertaut dengan kematian yang mendekat, dan tubuh yang biasa kita perintah dengan mudah tiba-tiba tidak lagi menuruti kita. Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti kita malam ini, melainkan untuk membangunkan kita dari satu anggapan keliru yang diam-diam kita percayai: bahwa sehat adalah keadaan default, dan sakit hanyalah gangguan sementara yang akan lewat begitu saja.

Coba kita balik cara pandang itu. Sebenarnya, tubuh yang bisa bangun pagi tanpa nyeri, yang bisa berjalan tanpa tertatih, yang bisa makan tanpa rasa sakit di perut, adalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja oleh Yang meminjamkannya. Kita hanya jarang menyadarinya, karena pinjaman ini terlalu lama menempel pada kita sehingga terasa seperti hak milik.

Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita justru menjadi pengingat yang keras tentang hal ini. Kita mendengar keluhan seputar layanan jaminan kesehatan nasional, tentang tenaga kesehatan yang bekerja tanpa henti melayani begitu banyak orang, tentang kata kunci penyakit menular yang kembali muncul di percakapan publik. Berapa banyak dari kita yang baru benar-benar menghargai keberadaan sistem kesehatan itu ketika kita sendiri, atau keluarga kita, yang membutuhkannya?

Kabar lain yang sampai ke kita pekan ini adalah tentang program pemberian makan bergizi gratis untuk anak-anak — niat yang sangat baik, memuliakan tubuh generasi muda kita. Tapi kabar itu juga menyebutkan adanya kasus keracunan yang berkaitan dengan program ini, dan sanksi yang dijatuhkan kepada satuan-satuan penyedia gizi yang bertugas. Saya tidak sedang mengajak kita menghakimi siapa pun malam ini. Saya hanya ingin kita merenung sejenak: niat baik saja ternyata tidak cukup. Ia butuh kehati-hatian, pengawasan, dan tanggung jawab yang sepadan — baik dari yang mengelola program besar, maupun dari kita sendiri yang setiap hari menyiapkan makanan untuk anak-anak di rumah.

Ada satu doa yang saya suka renungkan setiap kali merasa lupa akan kerapuhan diri sendiri, tercatat dalam kitab Nashaihul Ibad.

إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي، فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ

Munajat ini, sebagaimana tercatat dalam Nashaihul Ibad, berbunyi kurang lebih: "Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh pada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku dalam maksiat. Maka tolonglah aku, wahai penolong bagi yang meminta tolong, jika Engkau tidak merahmatiku, maka siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau."

Perhatikan, jamaah — munajat ini bukan doa tentang tubuh yang sakit, melainkan tentang jiwa yang lupa diri. Dan justru di situlah letak keterkaitannya dengan tema kita malam ini. Kesehatan yang sebenarnya bukan hanya soal tubuh yang bebas dari penyakit, tapi juga jiwa yang jujur mengakui kerapuhannya sendiri di hadapan Allah. Orang yang sehat jiwanya adalah orang yang berani berkata seperti munajat tadi — mengakui panjang angan-angannya, mengakui cintanya yang berlebihan pada dunia — bukan orang yang selalu merasa baik-baik saja.

Kalau kita jujur, banyak dari kita baru mengingat Allah dengan sungguh-sungguh ketika sakit datang. Baru banyak berdoa ketika di ruang tunggu rumah sakit, baru banyak bersyukur ketika sembuh dari flu yang berat. Ini bukan sesuatu yang perlu kita sesali habis-habisan, tapi perlu kita jadikan bahan muhasabah: kenapa kesadaran ini harus menunggu sakit dulu? Kenapa nikmat sehat yang sedang kita nikmati sekarang, detik ini, tidak cukup untuk membuat kita bersyukur dengan sungguh-sungguh?

Saya percaya, jamaah, kalau kita mau jujur pada diri sendiri, kita semua pernah merasakan ini: sehat itu terasa "biasa saja" sampai ia diambil. Begitu juga dengan sistem yang menjaga kesehatan kita — terasa "biasa saja" sampai kita sendiri yang membutuhkannya dan mendapati ada yang kurang. Padahal, baik nikmat sehat maupun sistem yang menjaganya, keduanya adalah titipan yang pantas kita syukuri sebelum diminta pertanggungjawabannya.

Ada satu kebiasaan kecil yang bisa mengubah cara kita melihat ini semua: setiap kali mendengar kabar tentang layanan kesehatan atau program gizi yang bermasalah, coba tahan diri sejenak sebelum ikut mengeluh atau membagikan kekesalan. Tanyakan dulu pada diri sendiri: apa yang sebenarnya bisa aku lakukan dari posisi ini, sekecil apa pun? Kadang jawabannya sesederhana mendoakan, kadang seaktif menawarkan bantuan langsung kepada tetangga yang membutuhkan. Yang penting, jangan berhenti di keluhan saja, karena keluhan yang tidak diikuti langkah apa pun hanya menambah beban di dada tanpa mengubah apa pun di lapangan.

Maka malam ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk tiga hal kecil saja. Pertama, sebelum tidur nanti, ucapkan syukur secara sadar — bukan sekadar refleks — atas satu bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik hari ini. Kedua, besok pagi, hubungi satu orang yang kita tahu sedang sakit, sekadar menanyakan kabarnya. Ketiga, periksa kembali apa yang kita berikan kepada anak-anak kita untuk dimakan hari ini — apakah kita benar-benar memperhatikannya, atau menyerahkannya begitu saja pada kebiasaan.

Semoga Allah menjaga tubuh dan jiwa kita, dan menjadikan kita hamba yang bersyukur sebelum diuji, bukan hanya sesudahnya.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي أَبْدَانِنَا وَقُلُوْبِنَا، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلٰى مَا أَعْطَيْتَنَا، اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا مِمَّا يَضُرُّهُمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan