بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ السَّكِيْنَةَ تَنْزِلُ عَلٰى قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَمَرَ بِالْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ دَعَا إِلَى السَّلَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang penuh kabar tentang Hormuz yang menegang dan Gaza yang terus berjuang, ada satu godaan kecil yang sering luput dari perhatian kita: godaan untuk ikut memanas hanya karena kita duduk di depan layar, jauh dari tempat kejadian, tapi merasa harus punya sikap paling keras tentangnya.
Ada satu hadits yang menarik untuk kita renungkan bersama.
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ زَيْنَبَ، بِنْتِ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُولُ " لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ…
Rasulullah ﷺ dalam riwayat ini (Sahih Muslim 2880a) terbangun dari tidurnya seraya bersabda, "La ilaha illallah, celaka bagi bangsa Arab dari keburukan yang telah dekat! Hari ini telah terbuka dari penghalang Ya'juj dan Ma'juj sebesar ini." Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa padahal di tengah kami ada orang-orang saleh?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, apabila kekejian telah merajalela."
Saya tidak sedang mengajak kita menebak-nebak apakah pekan ini adalah tanda hari kiamat sudah dekat — itu urusan Allah, bukan urusan kita menerka-nerka. Yang ingin saya ajak kita renungkan adalah satu bagian dari jawaban Rasulullah ﷺ yang sering terlewat: bahwa keberadaan orang-orang saleh di tengah masyarakat tidak otomatis membuat masyarakat itu aman dari akibat buruk, selama kekejian dibiarkan merajalela tanpa ada yang menahannya.
Pekan ini kita mendengar kabar tentang ketegangan yang kembali menajam di Selat Hormuz — sebuah titik gesekan yang, kalau dibiarkan memanas oleh kata-kata yang saling menekan, bisa berdampak jauh melampaui dua negara yang bertikai. Kita juga mendengar kabar yang tak kunjung reda dari Gaza, Palestina, dan Tepi Barat, tentang saudara-saudara kita yang terus menjalani hari-hari sulit. Dua kabar ini punya bobot yang berbeda, tapi keduanya sama-sama menguji satu hal pada diri kita: bagaimana cara kita menyalurkan kegelisahan yang kita rasakan.
Siapa di sini yang pekan ini pernah merasa jarinya bergerak lebih cepat daripada pikirannya saat membaca kabar-kabar semacam ini? Mengetik komentar yang lebih pedas dari yang sebenarnya kita maksudkan, membagikan sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami, atau menyindir seseorang yang pendapatnya berbeda dari kita — semua itu terasa ringan dilakukan karena layar memberi jarak antara kita dan wajah orang yang kita sakiti. Inilah salah satu bentuk "kekejian" kecil yang bisa merajalela tanpa kita sadari: bukan kekerasan fisik, tapi kekerasan lisan yang kita anggap remeh karena hanya berupa ketikan.
Ada satu nasihat dari kitab adab yang, saya kira, sangat relevan untuk kita bawa pulang pekan ini.
لسانك منه، في الجد والهزل؛ فإنه يريق ماء الوجه ويسقط المهابة، ويستجر الوحشية، ويؤذي القلوب، وهو مبدأ اللجاج والغضب والتصارم، ويغرس الحقد في القلوب؛ فلا تمازح أحدا
Dalam Bidayatul Hidayah, dijelaskan bahwa senda gurau yang berlebihan — termasuk sindiran yang kita anggap sekadar bercanda — "meluruhkan air muka, menjatuhkan kewibawaan, menarik permusuhan, melukai hati, dan menjadi pangkal pertengkaran, kemarahan, serta perpecahan," bahkan "menanamkan dengki di dalam hati." Perhatikan bahwa nasihat ini bukan hanya soal ucapan serius yang menyakiti, tapi juga soal candaan dan sindiran yang kita kira tidak berbahaya. Berapa banyak dari kita yang, saat berdiskusi soal Hormuz atau Gaza di grup keluarga atau kolom komentar, menyelipkan sindiran tajam kepada sesama Muslim yang berbeda sudut pandang, lalu membenarkannya dengan alasan "kan cuma bercanda" atau "kan dia yang mulai duluan"?
Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya bagi kita pekan ini. Bukan ujian untuk menyelesaikan Hormuz atau Gaza — itu di luar kemampuan kita. Ujian yang benar-benar ada di tangan kita adalah: mampukah kita menahan lisan dan jari kita sendiri agar tidak ikut menyuburkan kekejian dalam skala kecil, di lingkaran kita sendiri, sementara dunia besar sedang bergejolak? Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kehancuran bisa datang bukan karena tidak ada orang saleh, tapi karena orang-orang saleh pun ikut diam saat kekejian merajalela — atau, lebih buruk lagi, ikut menyumbang sedikit demi sedikit tanpa sadar.
Saya pribadi sering merasa ini juga — pas baca berita yang bikin emosi naik, rasanya pengin langsung balas komentar yang pedas, biar orang tahu kita "peduli" dan "punya sikap". Padahal kalau ditelaah lagi, komentar pedas itu jarang sekali mengubah apa pun di lapangan sana; yang berubah hanya suasana hati kita sendiri jadi makin panas, dan hubungan kita dengan orang yang kita balas jadi makin renggang. Rasanya seperti kita memindahkan api dari satu tempat ke tempat lain, bukan memadamkannya. Saudara-saudara sekalian, mungkin ini juga yang dialami banyak dari kita: merasa sudah "berbuat sesuatu" hanya karena sudah mengetik komentar keras, padahal yang sebenarnya kita lakukan hanyalah menambah kekejian kecil versi kita sendiri.
Maka pekan ini, mari kita bawa pulang dua langkah sederhana. Pertama, sebelum membagikan atau mengomentari kabar tentang konflik dunia, tarik napas sebentar dan tanyakan: apakah ini akan menyejukkan atau memanaskan? Kedua, ganti energi yang biasanya kita pakai untuk berdebat di kolom komentar dengan doa singkat untuk saudara-saudara yang tertindas — doa jauh lebih produktif daripada perdebatan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Kekejian merajalela bukan karena satu peristiwa besar saja, tapi karena kita — satu per satu — membiarkan diri kita menambahkan sedikit demi sedikit ke dalamnya. Mari pekan ini kita menjadi bagian dari yang menahan, bukan bagian dari yang menambah. Sekecil apa pun peran kita di tengah dunia yang luas ini, menjaga lisan dan menyalurkan kepedulian lewat doa adalah kontribusi yang nyata — bukan kontribusi yang kecil, hanya kontribusi yang sunyi.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ لَا بِالْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْكَرْبَ وَالْبَلَاءَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
