اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الْإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِيْهَا يَعْمُرُهَا وَلَا يُفْسِدُهَا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى كُلِّ قَضَاءٍ وَقَدَرٍ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di pekan yang baru saja kita lewati, bumi ini seakan berbicara kepada kita lewat berbagai bahasa: asap yang mengaburkan langit pegunungan, api yang melahap gedung di jantung kota, dan guncangan dahsyat yang meruntuhkan bangunan di benua yang jauh. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Haaqqah ayat 14:
وَحُمِلَتِ ٱلْأَرْضُ وَٱلْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ
"Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur." (QS. Al-Haaqqa: 14)
Ayat ini berbicara tentang hari ketika seluruh tatanan bumi yang kita anggap kokoh akan dibenturkan sekali saja, hancur tanpa sisa. Kita membacanya sebagai gambaran akhir zaman, namun pekan ini kita diberi pengingat kecil — bukan yang final, bukan yang menakhiri, tapi cukup untuk membuat hati kita bergetar sejenak — bahwa bumi yang kita pijak ini tidak pernah benar-benar diam.
Dari kabar yang sampai kepada kita, kawasan pegunungan yang selama ini dikenal sebagai tempat wisata dan ibadah alam dilanda kebakaran hutan dan lahan yang meluas. Warga menggambarkannya lewat kata-kata yang dramatis — seolah lautan api menyelimuti lereng gunung, kabut asap membubung tebal menutupi cakrawala. Di tengah kepungan asap itu, muncul pula kabar tentang warga yang hilang, dicari oleh keluarga dan petugas yang bekerja di medan yang tidak mudah. Kita tidak sedang membicarakan angka atau statistik pada saat ini — kita sedang membicarakan seseorang yang ditunggu pulang, sebuah keluarga yang menahan napas menunggu kabar.
Pada pekan yang sama, api juga menjilat ruang yang jauh berbeda dari hutan dan gunung — sebuah gedung perkantoran pemerintah daerah dan kawasan pertokoan di ibu kota dilalap kobaran api hingga menimbulkan duka yang mendalam. Kabar itu menyebar cepat, disertai ungkapan belasungkawa yang memenuhi lini masa kita. Dua peristiwa ini — kebakaran hutan di lereng gunung dan kebakaran gedung di tengah kota — tampak berjauhan letaknya, namun berakar pada persoalan yang sama: api adalah kekuatan yang, begitu lalai kita menjaganya, bisa berbalik menjadi ancaman yang tidak pandang bulu, entah ia membakar pohon atau membakar dinding beton.
Jauh dari negeri kita, sebuah gempa berkekuatan besar mengguncang Kolombia, meruntuhkan bangunan dan merenggut ratusan nyawa. Jasad-jasad dievakuasi dari reruntuhan, dan kabar itu menyayat hati siapa pun yang membacanya — termasuk kita yang berjarak ribuan kilometer dari sana. Ma'asyiral muslimin, kita perlu jujur pada diri sendiri: mengapa kabar dari negeri yang begitu jauh ini terasa begitu dekat di hati kita? Sebagiannya karena kita, sebagai bangsa yang tinggal di atas untaian gunung berapi dan garis patahan aktif, tahu betul bahwa apa yang menimpa mereka bisa saja menimpa kita esok atau lusa. Ini bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan kesadaran yang seharusnya menjaga kita tetap rendah hati di hadapan kekuasaan Allah.
Selain tiga peristiwa besar itu, kabar-kabar yang lebih kecil dan tersebar juga terus mengalir pekan ini — gempa-gempa ringan di berbagai daerah, banjir yang merendam pemukiman, tanah longsor di lereng-lereng yang rapuh, serta kemarau panjang yang mulai mengeringkan sawah dan sumber air di sejumlah wilayah. Peristiwa-peristiwa ini jarang menjadi sorotan utama karena tidak sedramatis kobaran api atau reruntuhan gedung, tetapi penderitaan di baliknya sama nyatanya — petani yang gagal panen, keluarga yang berulang kali mengungsi karena rumah mereka kembali terendam.
Ma'asyiral muslimin, saya ingin kita jujur merenungkan satu hal di sini: mengapa peristiwa yang dramatis dan bergambar mendapat perhatian berlipat-lipat, sementara penderitaan yang berlangsung pelan dan tersebar nyaris tidak pernah kita doakan secara khusus? Padahal, dalam timbangan Allah, satu keluarga yang kehilangan sumber penghidupan karena sawahnya gagal panen akibat kemarau panjang, sama beratnya untuk didoakan dan dibantu dengan satu keluarga yang rumahnya hancur oleh gempa. Kita mudah tergerak oleh apa yang viral, namun mudah lupa pada apa yang sunyi. Ini bukan salah kita sepenuhnya — memang begitu cara perhatian manusia bekerja — tetapi sebagai jamaah yang belajar dari Al-Qur'an dan sunnah, kita dituntut untuk melatih hati agar peka kepada penderitaan yang tidak selalu tampil di layar.
Semua peristiwa ini, besar maupun kecil, dramatis maupun senyap, adalah ayat-ayat kawniyyah — tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar di alam. Ayat yang kita baca tadi tentang bumi yang dibenturkan sekali bentur adalah puncak dari seluruh rangkaian tanda ini, gambaran final yang menanti kita semua. Getaran-getaran kecil yang kita saksikan pekan ini — betapa pun menyakitkan bagi yang mengalaminya — adalah percikan kecil dari kekuasaan yang jauh lebih besar, yang seharusnya melembutkan hati kita, bukan sekadar lewat sebagai berita yang kita scroll lalu lupakan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, dari sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sebagai khalifah yang dititipi bumi ini, apa tanggung jawab kita ketika bumi menunjukkan tanda-tandanya? Saya ingin mengajak kita semua merenungkan dua sisi tanggung jawab itu pada khutbah kali ini — sisi pertama tentang apa yang bisa kita cegah, dan sisi kedua tentang bagaimana kita bersikap terhadap apa yang tidak bisa kita cegah. Kedua sisi ini perlu dibahas bersama, sebab seorang mukmin yang hanya sibuk mencegah tanpa pernah belajar menerima akan mudah putus asa ketika ikhtiarnya belum membuahkan hasil, sementara mukmin yang hanya pasrah tanpa pernah berikhtiar akan mudah lalai terhadap amanah yang sesungguhnya bisa ia jaga. Keseimbangan antara keduanya itulah yang ingin kita bangun bersama pada kesempatan yang mulia ini.
Sisi pertama adalah tentang kerusakan yang lahir dari kelalaian dan keserakahan manusia sendiri. Tidak semua kebakaran lahan turun begitu saja dari langit — sebagian besar bermula dari percikan kecil yang dibiarkan, dari lahan yang dibakar demi jalan pintas membuka kebun, dari puntung rokok yang dibuang sembarangan di musim kering. Allah Ta'ala telah memperingatkan watak semacam ini jauh sebelum musim kemarau ini tiba. Dalam Surah Ash-Syu'ara ayat 152, Allah berfirman tentang mereka yang melampaui batas:
ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Ash-Shu'araa: 152)
Ayat ini adalah bagian dari seruan Nabi Shalih 'alaihissalam kepada kaumnya, Tsamud, agar tidak mengikuti pemimpin-pemimpin yang berlebih-lebihan, yang gemar merusak tanpa pernah berpikir memperbaiki. Empat belas abad kemudian, watak yang sama masih kita jumpai: manusia yang mengambil dari bumi tanpa pernah mengembalikan, yang menebang tanpa menanam, yang membakar demi keuntungan sesaat tanpa menghitung asap yang akan menyesakkan tetangga sekampung bahkan negeri seberang. Islam tidak pernah mengajarkan hubungan manusia dengan bumi sebagai hubungan pemilik dengan miliknya yang bebas diperlakukan semaunya. Kita adalah khalifah — wakil yang dititipi, bukan pemilik mutlak. Amanah khilafah ini berarti setiap keputusan kita atas tanah, air, dan hutan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Ma'asyiral muslimin, amanah ini bukan hanya milik pejabat kehutanan atau pengusaha perkebunan. Amanah ini turun sampai ke tingkat kita masing-masing — bagaimana kita membuang sampah, bagaimana kita menggunakan air, apakah kita membiarkan api unggun menyala begitu saja saat berkemah, apakah kita menegur ketika melihat tetangga membakar sampah di musim kering tanpa pengawasan. Fasad fil ardh, kerusakan di muka bumi, sering kali bukan lahir dari satu keputusan besar, melainkan dari akumulasi kelalaian-kelalaian kecil yang kita anggap remeh.
Menariknya, ma'asyiral muslimin, surah yang sama tempat kita mengambil ayat pembuka khutbah ini — Al-Haaqqah — juga menceritakan bagaimana kaum Tsamud, kaum yang diperingatkan Nabi Shalih 'alaihissalam dalam Surah Ash-Syu'ara tadi, akhirnya benar-benar dihancurkan oleh satu goncangan dahsyat karena terus mendustakan peringatan itu. Ini bukan kebetulan susunan surah semata. Ada benang yang sama antara peringatan terhadap perusak bumi dan goncangan yang menimpa mereka yang mengabaikannya: kerusakan yang dibiarkan berlanjut, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Kaum Tsamud punya waktu bertahun-tahun untuk berubah setelah diperingatkan, namun memilih terus menunda. Kita pun demikian — setiap kali kabar karhutla atau gempa lewat di layar kita, itu adalah kesempatan untuk berubah yang Allah berikan, bukan sekadar informasi yang berlalu begitu saja.
Allah menggambarkan puncak dari kerapuhan bumi ini dalam beberapa ayat lain yang saling menguatkan. Dalam Surah Al-Fajr, Allah berfirman:
كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّۭا دَكًّۭا
"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut." (QS. Al-Fajr: 21)
Dan dalam Surah Al-Waqi'ah, Allah berfirman:
وَبُسَّتِ ٱلْجِبَالُ بَسًّۭا
"Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya." (QS. Al-Waaqia: 5)
Tiga ayat yang kita baca pada khutbah ini — dari Al-Haaqqah, Al-Fajr, dan Al-Waqi'ah — semuanya menggambarkan bumi dan gunung yang selama ini kita anggap sebagai lambang kekokohan, pada akhirnya akan diguncang, dibenturkan, dan dihancurkan menjadi debu. Kalau gunung yang berdiri sejak ribuan tahun saja akan hancur luluh di hadapan kekuasaan Allah, betapa kecilnya keangkuhan kita yang merasa berhak mengeksploitasi bumi tanpa batas, dan betapa kecilnya pula alasan kita untuk berputus asa ketika ditimpa musibah yang jauh lebih ringan dari guncangan yang digambarkan ayat-ayat ini. Tiga ayat ini juga menempatkan gempa yang kita saksikan pekan ini di Kolombia pada proporsi yang benar — bukan untuk mengecilkan duka para korban, sama sekali bukan, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa setiap guncangan di dunia ini, sekeras apa pun, hanyalah bayang-bayang kecil dari guncangan yang jauh lebih dahsyat yang telah Allah janjikan. Kesadaran ini seharusnya melahirkan dua sikap sekaligus dalam diri seorang mukmin: rendah hati di hadapan kekuasaan Allah, dan kasih sayang yang tulus kepada sesama manusia yang tertimpa musibah, siapa pun mereka dan di mana pun mereka berada.
Sisi kedua dari tanggung jawab kita adalah tentang bagaimana bersikap terhadap musibah yang benar-benar di luar kendali manusia — gempa bumi, misalnya, yang hingga hari ini tidak seorang pun mampu meramalkan datangnya dengan pasti. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk memandang setiap tanda-tanda menjelang kematian dan kehidupan dengan sikap waspada yang produktif, bukan ketakutan yang melumpuhkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: الدَّجَّالَ وَالدُّخَانَ وَدَابَّةَ...
"Bersegeralah beramal (sebelum) enam perkara: Dajjal, ad-Dukhan (asap), dabbat al-ardh (binatang bumi), terbitnya matahari dari barat, urusan umum, dan kematian yang menjemput kalian masing-masing." (Sahih Muslim 2947b)
Jamaah yang dirahmati Allah, saya ingin berhati-hati di sini — kita tidak sedang mengatakan bahwa asap yang menyelimuti Bromo pekan ini adalah tanda kiamat yang dimaksud hadits ini. Itu bukan maksud kita, dan kita tidak berhak menuduh sebuah peristiwa alam sebagai kepastian tanda akhir zaman. Yang ingin kita ambil dari hadits ini adalah semangatnya: bahwa asap, kegelapan langit, dan pemandangan yang mengingatkan kita pada kefanaan dunia, seharusnya menjadi pengingat untuk bersegera — bersegera memperbaiki hubungan kita dengan Allah, bersegera menunaikan hak-hak yang tertunda, bersegera meminta maaf kepada yang pernah kita sakiti — sebelum ajal yang memang pasti datang itu benar-benar menjemput kita, entah lewat gempa, kebakaran, sakit, atau sebab lain yang jauh lebih sederhana.
Ma'asyiral muslimin, "bersegera beramal" ini juga punya wajah kolektif, tidak melulu personal. Ketika kita mendengar kabar duka dari kebakaran gedung di Jakarta atau reruntuhan di Kolombia, bersegera beramal berarti tidak menunda uluran bantuan sampai kita merasa "sudah cukup mampu". Sedekah yang dihimpun bersama-sama lewat kotak amal masjid, lewat lembaga yang kita percaya, atau lewat urunan sederhana antar-tetangga, sering kali jauh lebih berdampak dibanding menunggu satu orang kaya yang menyumbang besar sendirian. Inilah keindahan amal jama'i, amal yang dikerjakan bersama: setiap kita menyumbang sedikit, terkumpul menjadi pertolongan yang berarti bagi yang membutuhkan, dan pahalanya pun mengalir kepada setiap tangan yang ikut mengulurkannya, bukan hanya kepada satu orang yang menyalurkannya.
Menariknya, ma'asyiral muslimin, umat ini sejak zaman Rasulullah ﷺ telah diajarkan bahwa musibah alam bukan untuk direnungkan sendirian dalam diam, melainkan untuk dibawa bersama kepada Allah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, suatu ketika Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jumat — sama seperti yang sedang kita jalani sekarang — lalu orang-orang berdiri menghampiri beliau. Riwayat itu menyebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَامَ إِلَيْهِ النَّاسُ
"Nabi ﷺ sedang berkhutbah pada hari Jum'at, lalu orang-orang berdiri menemui beliau." (Sahih Muslim 897c)
Riwayat ini melanjutkan bahwa mereka berseru, "Wahai Nabiyullah, hujan telah terhenti, pohon-pohon menjadi layu kekeringan, dan hewan ternak kami mulai binasa." Mereka tidak memendam kegelisahan itu sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Mereka membawanya ke hadapan pemimpin mereka, di tengah jamaah, secara terbuka. Dan Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan keluhan itu sebagai urusan duniawi yang tidak pantas disampaikan di masjid — beliau justru menjadikannya momentum ibadah, mengangkat tangan berdoa memohon hujan bersama-sama. Dari peristiwa inilah para ulama fiqih kelak menuntunkan shalat istisqa, shalat memohon hujan, sebagai bagian sah dari respons seorang mukmin terhadap kekeringan.
Semangat membawa kesulitan bersama-sama seperti inilah yang juga kita saksikan pada generasi awal Islam, ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah dalam keadaan kehilangan harta dan tempat tinggal, lalu kaum Anshar menyambut mereka dengan berbagi rumah dan penghidupan tanpa diminta. Persaudaraan itu bukan lahir dari kelapangan yang sama-sama dimiliki, melainkan dari kesediaan berbagi di tengah keterbatasan. Ma'asyiral muslimin, prinsip yang sama berlaku hari ini terhadap saudara-saudara kita yang kehilangan rumah karena karhutla, yang kehilangan panen karena kemarau, dan yang kehilangan keluarga karena gempa. Ukhuwah bukan konsep yang hanya indah diucapkan di atas mimbar, melainkan sikap yang teruji justru ketika saudara kita sedang berada dalam kesulitan.
Ma'asyiral muslimin, ada pelajaran besar di sini untuk kita yang hidup di tengah kabar kekeringan, karhutla, dan gempa pekan ini. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk memilih antara berdoa atau berikhtiar — keduanya berjalan beriringan. Ketika lahan kering dan sumber air menipis, kita dianjurkan shalat istisqa sekaligus memperbaiki tata kelola air di lingkungan kita. Ketika api mengancam, kita dianjurkan berdoa memohon perlindungan sekaligus memastikan tidak ada puntung rokok yang kita buang sembarangan di musim kemarau. Ketika gempa mengguncang negeri saudara kita, kita dianjurkan mendoakan mereka sekaligus mengulurkan bantuan nyata sejauh kemampuan kita.
Inilah makna ta'awun, tolong-menolong, yang diperintahkan Allah dalam banyak ayat-Nya. Musibah yang menimpa satu kaum bukan urusan kaum itu sendirian. Ketika saudara kita di negeri jauh kehilangan rumah karena gempa, ketika tetangga kita kehilangan mata pencaharian karena karhutla, ketika petani di pelosok kehilangan panen karena kemarau — semua itu adalah panggilan bagi kita yang masih diberi kelapangan untuk berbagi, sekecil apa pun bentuknya. Fardhu kifayah menjaga keselamatan sesama, menjaga kelestarian bumi, dan meringankan beban yang tertimpa musibah, akan gugur dari pundak kita hanya jika sudah cukup orang yang menunaikannya — dan akan menjadi dosa bersama jika kita semua memilih diam.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita satukan dua sisi tanggung jawab ini dalam kehidupan kita pekan ini dan pekan-pekan mendatang. Sebagai khalifah, tugas kita bukan hanya menghindari kerusakan yang bisa kita cegah, tapi juga menyiapkan hati yang lapang dan sabar menghadapi apa yang telah menjadi ketetapan-Nya. Bumi ini bukan milik kita untuk dieksploitasi sesuka hati, dan bumi ini pula bukan musuh yang harus kita takuti secara berlebihan. Bumi ini adalah amanah — titipan yang akan ditanya kembali kepada kita, bagaimana kita menjaganya, dan bagaimana kita meresponsnya ketika ia menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Penciptanya.
Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang dari mimbar ini pekan ini. Pertama, periksa kembali sumber api di rumah masing-masing malam ini — kompor yang mungkin masih menyala kecil, kabel listrik yang sudah usang dan terkelupas, lilin yang dibiarkan menyala saat tidur. Ini langkah sederhana yang hanya butuh waktu beberapa menit, namun bisa mencegah duka yang jauh lebih besar bagi keluarga kita sendiri. Kedua, jangan pernah membakar sampah atau lahan tanpa pengawasan penuh, terutama di musim kering seperti ini, dan beranikan diri menegur dengan cara yang santun bila melihat tetangga melakukannya — sampaikan dengan nasihat yang baik, bukan dengan nada menghakimi. Ketiga, siapkan tas siaga bencana sederhana di rumah — salinan dokumen penting, obat-obatan pribadi, senter, dan air minum secukupnya — karena kesiapan kecil semacam ini, meski terasa sepele hari ini, bisa menyelamatkan nyawa ketika bencana datang tiba-tiba tanpa peringatan. Keempat, bila kekeringan melanda daerah kita, ajak pengurus masjid menghidupkan kembali shalat istisqa berjamaah, bukan sekadar menunggu hujan turun dengan sendirinya sambil berpangku tangan. Kelima, sisihkan sedekah untuk saudara kita yang tertimpa gempa, kebakaran, atau kekeringan pekan ini, walau jumlahnya kecil menurut kita — salurkan lewat lembaga yang kita percaya, atau titipkan langsung kepada keluarga terdampak yang kita kenal. Keenam, jadikan setiap kabar bencana yang lewat di layar ponsel kita sebagai bahan muhasabah dan bahan doa, bukan sekadar informasi yang kita scroll lalu lupakan begitu saja sebelum jari berpindah ke unggahan berikutnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, izinkan saya menegaskan kembali satu hal dari khutbah pertama tadi, karena inilah yang paling mudah kita lupakan begitu kita melangkah keluar dari masjid ini. Amanah menjaga bumi bukan lagi amanah yang tersembunyi di zaman kita. Dahulu, kelalaian seseorang membakar lahan hanya diketahui oleh tetangga terdekatnya. Hari ini, satu titik api bisa menjadi tontonan jutaan orang dalam hitungan jam, disaksikan, dikomentari, dan — sayangnya — kadang hanya dijadikan hiburan sesaat sebelum jari kita menggeser ke video berikutnya. Ini berarti tanggung jawab kita bertambah berat, bukan berkurang: dunia digital tidak menghapus amanah khilafah, ia hanya membuat kelalaian kita lebih cepat terlihat dan lebih cepat pula dilupakan.
Izinkan saya juga menegaskan makna sabar yang sesungguhnya, karena sabar sering disalahpahami sebagai diam dan menahan diri dari keluhan. Padahal para sahabat yang menghampiri Rasulullah ﷺ di tengah khutbah untuk mengeluhkan kekeringan tidak ditegur karena dianggap kurang sabar. Mereka justru mendapatkan doa dan perhatian penuh dari Nabi mereka. Sabar yang diajarkan Islam bukan berarti memendam kesulitan seorang diri sampai hati kita retak, melainkan menyalurkan kegelisahan itu ke tempat yang benar — kepada Allah lewat doa, dan kepada sesama lewat musyawarah serta gotong royong mencari jalan keluar.
Saya juga ingin menegaskan bahwa jarak tidak pernah menjadi alasan bagi hati seorang mukmin untuk berhenti peduli. Ratusan saudara kita di Kolombia yang kehilangan nyawa mungkin tidak pernah kita kenal namanya, mungkin berbeda keyakinan dari kita, tetapi kemanusiaan yang Allah tanamkan dalam diri kita mewajibkan doa dan keprihatinan tulus untuk mereka. Dan bagi saudara-saudara seiman kita yang tertimpa musibah, baik di dekat maupun jauh, kepedulian ini harus naik satu tingkat lagi — menjadi uluran tangan yang nyata, sekecil apa pun bentuknya.
Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa ajakan "bersegeralah beramal" yang kita bahas tadi bukan pesan yang hanya relevan ketika ada asap atau gempa. Pesan itu berlaku setiap hari, dalam keadaan tenang maupun genting. Musibah pekan ini hanyalah pengingat yang mempertegas apa yang sebenarnya sudah lama kita ketahui: waktu kita terbatas, dan amal yang tertunda belum tentu sempat kita tunaikan esok hari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita jadikan pekan ini sebagai titik balik yang sederhana namun sungguh-sungguh. Bukan dengan tekad besar yang mudah padam dalam beberapa hari, melainkan dengan komitmen kecil yang konsisten kita jaga — satu kebiasaan menjaga bumi, satu kebiasaan menjaga kewaspadaan terhadap api, satu kebiasaan berbagi dengan yang tertimpa musibah. Amanah khilafah yang kita bicarakan sepanjang khutbah ini bukan beban yang harus dipikul sendirian, dan bukan pula tugas yang selesai dalam satu Jumat. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari langkah-langkah kecil yang kita ulangi setiap hari, sampai akhirnya menjadi watak yang melekat pada diri kita dan diwariskan kepada anak cucu kita kelak.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ تَضَرَّرُوْا بِالزَّلَازِلِ وَالْحَرَائِقِ وَالْجَفَافِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالسَّلْوَانَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلضُّعَفَاءِ وَعَوْنًا لِلْمُسْتَغِيْثِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ، اَللّٰهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاحْفَظْ ذُرِّيَّتَنَا وَبُيُوْتَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَآفَةٍ وَنَارٍ وَغَرَقٍ وَزَلْزَلَةٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
