بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita sama-sama menyaksikan kabut asap tebal dari kebakaran hutan di Gunung Bromo, kebakaran gedung di Jakarta, dan kabar gempa besar yang meruntuhkan Kolombia. Ada satu pertanyaan kecil yang ingin saya ajak kita renungkan malam ini: pernahkah kita membayangkan bahwa di dasar laut yang tampak paling tenang sekalipun, ternyata Allah menyimpan api?
Allah berfirman dalam Surah At-Tur ayat 6:
وَٱلْبَحْرِ ٱلْمَسْجُورِ
"Dan laut yang di dalam tanahnya ada api." (QS. At-Tur: 6)
Coba kita bayangkan, jamaah. Laut yang kita pandang dari tepi pantai terlihat begitu tenang, birunya menenangkan mata, ombaknya berirama teratur. Tapi Allah membocorkan satu rahasia dalam ayat ini: di balik ketenangan itu, ada api yang tersimpan. Persis seperti Gunung Bromo yang selama ini kita kenal sebagai tempat orang berburu foto matahari terbit — ternyata menyimpan api yang, ketika lengah kita menjaganya, meluas menjadi kebakaran hebat yang mengepulkan asap ke seluruh penjuru. Persis seperti lempeng bumi yang kita injak setiap hari, yang tampak diam dan kokoh, ternyata menyimpan tegangan yang bisa lepas kapan saja menjadi gempa yang meruntuhkan sebuah negeri dalam hitungan detik, seperti yang terjadi di Kolombia pekan ini.
Pola ini bukan kebetulan, jamaah. Allah seperti sedang menunjukkan kepada kita sebuah prinsip yang berlaku di banyak tempat: yang tampak tenang di permukaan belum tentu tenang di dalamnya. Dan kalau ini berlaku untuk laut, gunung, dan lempeng bumi, saya kira ini juga berlaku untuk hati kita masing-masing. Berapa banyak dari kita yang di luar terlihat baik-baik saja, murah senyum, rajin ke masjid, tapi menyimpan bara di dalam dada — dendam yang belum reda, iri yang belum diakui, kebiasaan buruk yang kita sembunyikan rapat-rapat dari orang sekitar? Kita pandai menjaga permukaan tetap tenang, tapi seberapa sering kita memeriksa apa yang tersimpan di bawahnya?
Kabar-kabar pekan ini sebenarnya sedang menegur kelalaian kita bersama. Kita rajin mengisi ulang power bank sebelum listrik padam, tapi seberapa sering kita mengisi ulang cadangan iman sebelum ujian benar-benar datang? Kita sigap memeriksa notifikasi ponsel setiap beberapa menit, tapi kapan terakhir kali kita memeriksa isi hati kita sendiri? Ghaflah, kelalaian, adalah penyakit yang paling nyaman diderita justru karena ia tidak terasa sakit — sampai tiba-tiba sesuatu meletus dan kita baru sadar sudah terlalu lama tidak menjaga diri.
Coba kita bayangkan sebentar, jamaah. Petugas pemadam yang berjibaku di lereng Bromo tidak menunggu api membesar dulu baru bergerak — begitu ada asap kecil, mereka sudah siaga. Tapi kita, untuk urusan hati sendiri, sering menunggu sampai "asapnya" benar-benar tebal — sampai hubungan dengan orang tua benar-benar renggang, sampai utang benar-benar menumpuk, sampai shalat benar-benar bolong berhari-hari — baru kita mulai panik dan mencari jalan keluar. Padahal, sama seperti api yang lebih mudah dipadamkan saat masih kecil, hati yang bermasalah juga jauh lebih mudah diperbaiki saat masalahnya masih ringan. Ini bukan ajakan untuk hidup dalam kecemasan terus-menerus, jamaah, melainkan ajakan untuk lebih sering "ronda" memeriksa hati sendiri, sebagaimana kita ingin selalu waspada terhadap titik api di sekitar rumah.
Ada satu dzikir indah yang biasa dibaca sehabis shalat, yang menurut saya sangat pas untuk kita renungkan malam ini. Rasulullah ﷺ mengajarkan dzikir ini sebagaimana disebutkan dalam Riyad as-Salihin:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak berguna kekayaan seseorang di hadapan-Mu." (Riyad as-Salihin 1416)
Dzikir ini seperti sedang berbicara langsung kepada peristiwa pekan ini. Yang membuat laut tenang dan yang membuat laut menyimpan api adalah Dzat yang sama. Yang membuat gunung berdiri kokoh selama ratusan tahun dan yang mengizinkannya meletus adalah Dzat yang sama. Tidak ada satu pun kejadian di bumi ini yang lepas dari kendali-Nya, dan tidak ada satu pun usaha manusia yang bisa mencegah kalau Allah sudah berkehendak. Ini bukan alasan untuk pasrah tanpa ikhtiar, jamaah — justru sebaliknya, kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita rajin menjaga apa yang bisa kita jaga, sambil tetap rendah hati bahwa hasil akhirnya selalu di tangan Allah.
Jamaah yang saya cintai, mari kita bawa pulang tiga hal sederhana malam ini. Pertama, luangkan lima menit sebelum tidur untuk memeriksa hati sendiri — adakah bara yang selama ini kita simpan dan perlu segera dipadamkan lewat istighfar atau permintaan maaf? Kedua, kalau di lingkungan kita ada yang terdampak asap, kekeringan, atau kabar duka pekan ini, hubungi mereka malam ini juga, jangan tunggu besok. Ketiga, jadikan setiap kabar bencana yang kita baca sebagai pengingat untuk memperbaharui niat, bukan sekadar berita yang lewat begitu saja di layar.
Yang tampak tenang di permukaan tidak selalu tenang di dalamnya — begitu laut, begitu gunung, begitu juga hati kita. Malam ini, mari kita jujur memeriksa apa yang kita simpan di dalam, sebelum Allah yang membukanya untuk kita dengan cara yang tidak kita duga.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَأَهْلَنَا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ وَلَيْسَتْ لَاهِيَةً غَافِلَةً، اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ تَضَرَّرُوْا بِالْحَرَائِقِ وَالزَّلَازِلِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ عِبْرَةً لَنَا لَا غَفْلَةً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
